“Aku tidak mau masuk ke dalam!”
Tidak ada yang mau mendengarkan teriakan Neron. Abram masih dengan santainya menarik kerah bajunya setengah menggiringnya masuk ke dalam gua. Di sana benar-benar gelap tetapi, dengan cepat Abram menjentikan jarinya sehingga ada cahaya kecil di telapak tangannya yang cukup untuk menerangi sekitar meski, tidak lebih dari satu langkah kaki mereka. Cahaya itu berwarna merah menyala seperti api yang berkobar.
“Apa cahayanya tidak bisa lebih banyak, di sini masih terlalu gelap.”
“Apa kamu masih tidak bisa diam? Jika bisa lakukanlah sendiri.”
“Y-yah, yah, Anda sangat tahu … aku tidak berguna makanya, aku tidak akan bicara lagi,” ketus Neron sebal sambil tetap berjalan di sisi Abram yang lebih dekat dengan cahaya sedangkan, Taemu lebih kesulitan lagi tetapi, tetap santai dengan cara melompat ke sembarang arah.
“Kwok! Tuan.”
“Ada apa, Taemu?” tanya Abram balik seraya melirik kesana kamari seolah mengingat-ingat jalan mana yang harus mereka lalui.
Bugh!
Taemu belum lagi menjawab suara hantaman terdengar seolah sesuatu telah menabrak dinding batu gua. Suara jeritan nyaring khas kodok pun sama-sama terdengar dan memperihatinkan. Abram dan Neron sama-sama terkejut keduanya berpandangan sesaat sebelum berjalan ke arah asal suara.
“Taemu kamu tidak apa-apa?”
“Kwok…,” jawabnya merintih sedih.
Mereka sudah berdiri di depan sang Kodok yang terlentang, membengkak seperti ayam yang siap dibelah pikir neron dengan tawa terkikik yang tidak disembunyikannya. Biar saja gua ini terlalu gelap, untuk melihat ekspresi orang lain. “Anda sungguh hebat, kepalamu tidak pecah setelah menghantam batu, Sir.”
“Kwok! Diam,” balasnya marah karena jelas-jelas mendengar suara ejekan dari nada Neron. Abram sendiri hanya berdiri di samping, menggaruk rambutnya yang kusut melihat kebodohan Taemu. Temannya ini terkadang bisa jadi cukup pintar tetapi, lebih banyak bodohnya jika, sudah seperti ini siapa yang mau membantunya.
“Apa kamu bisa bangun, Taemu?”
“Kwok! Tidak… Kwok, sulit sekali.”
“Hah, tidak mungkin? Sir. Taemu kamu tidak bisa bangun, eoh?” Neron mendekati kepala Sir Taemu menggosoknya di sana-sini. Taemu sudah mencoba bergerak ke sana kemari. “Tidak apa-apa, Sir. Taemu tenang saja.”
“Neron, Kamu bisa mencoba mengangkatnya?”
“Hah, A-aku harus mengangkatnya?” tanya Neron sendiri, bagaimana juga dia bisa membangunkan kodok raksasa yang terlentang kalau, semisal kodok itu hanya sebesar telapak tangannya saja seribu persen dia mampu melakukannya tetapi, kali ini! Bukankah itu membebaninya?! Sosok monster Sir Taemu itu cukup setinggi rumahnya di desa entah berapa beratnya jadi, bagaimana caranya dia bisa membangunkan kodok raksasa ini. “Rasanya aku tidak yakin, Sir.”
“Kwok! Tuan!”
“Oke-oke, tenanglah Taemu.” Abram merapalkan matanya perlahan lalu menerapkan sapuan angin yang cukup dipunggung si Kodok ,Sir Taemu hingga, dia bisa bangkit ke posisi semula dan berdiri tegak dengan keempat kaki binatangnya. Neron sendiri yang tidak bisa melihat apapun memilih mundur dan tidak bergerak sedikitpun sambil berpikir ternyata ada hal-hal sulit dengan kekuatan sihir semua menjadi mudah. Begitu Irinya Neron akhirnya.
“Kwok! Sir, Anda … Kwok! Majikan luar biasa.Kwok!”
“Berisik Taemu! Cepat berjalan lagi, aku tidak butuh basa-basimu.”
“Sir,” panggil Neron yang kini berjalan di sisi Abram. Ada pertanyaan yang mengganjal di dalam hatinya, sesuatu yang mungkin akan menjadi harapannya tetapi, ragu untuk mengatakannya bagaimana jika, dirinya berharap terlalu banyak.
“Kenapa diam ada apa?”
“Tidak ada, hanya berapa lama lagi kita sampai? Di sini terlalu gelap, apa kalian sungguh tahu jalannya ? Kita tidak akan tersesat, kan?”
Bugh! Abram meninju kepala Neron dengan kepalan tangannya. “Kamu pikir aku sudah berapa lama di sini, hah?”
“Ukhh!” Neron meringis takjub sampai tumpah kedua air matanya. Biji kepala satu-satunya itu berdenyut sakit sekali. “Sialan! Sakit sekali.”
Abram tidak memerdulikan u*****n Neron dia maju sedikit lebih ke depan dan mengetuk-ngetuk dinding batu lalu tanpa peringatan apapun tanah dibawah kakinya amblas membawa turun ke bawah dan … pluk. Sekejap mata dia sudah kembali menginjak tanah tetapi, keadaan tak berbentuk jatuh terlentang di darat. Berbeda dua makhluk lainnya dengan santai masih berdiri tegap di tempatnya.
“Puah!,huk!huk …” Neron sedikit terbatuk-batuk sesaat tadi terjun bebas, sepertinya menjerit hingga bukan hanya angin tetapi, pasir juga terasa masuk mulutnya.
“Mau sampai kapan di sana?! Ayo, cepat bangun.”
“Kwok! Dasar payah… kwok!”
“Y-yah!” teriak Neron kesal mendengar omelan dua makhluk berbeda jenis tersebut. dengan susah payah Neron tetapi, untuk hari ini, Inilah sesuatu yang tidak pernah disesalinya dikejauhan terdapat ujung gua yang terlihat bersinar. “Apa kita sudah sampai?”
“Kwok, ayo, jalan!” Taemu si Kodok melompat dengan penuh semangat seolah tidak asing lagi di berjalan di depan.
Untuk hari ini Neron harus berkali-kali takjub sesaat di sampai di mulut gua sungguh, pemandangan yang indah yang sangat luar biasa dilihat. Bukan hanya rasa hangat dari sinar matahari terasa menyenangkan dikulit setelah beberapa hari dia tinggal di daerah lembab dan gelap. Ini tampak seperti surga. “Di sini Indah sekali, ternyata di dalam pulau gelap blackfog masih ada tempat penuh cahaya seperi ini.”
“Yah, di sini cukup nyaman.”
“Sir, kenapa Anda tidak tinggal di sini saja? Di atas sana, terkadang semua gelap dan berkabut dan penuh monster juga tampaknya di sini lebih aman, kan?”
“Apa kamu pikir, aku yang hebat ini selemah kamu yang cuman senang dalam keadaan aman?”
Jleb..jleb … rasanya jawaban Abram menusuk tempat sakit Neron berkali-kali lagi. “Tidak ada perkataanku bermaksud seperti itu.”
Abram mengabaikan perkataan Neron kali ini dan berjalan maju ke depan dan melihat Taemu yang sudah menyapa teman binatangnya tetapi, seperti yang sudah-sudah tidak semua binatang di sana menjadi ramah. “Taemu, apa si Kelinci itu ada?” tanyanya setelah jarak mereka dekat.
“Kwok! Tuan… dia ada di rumahnya”
“Ayo, tunggu apa lagi kita temui dia.” Abram menoleh tidak mendengar langkah kaki yang mengikuti. “Bocah, itu… apa yang dia lakukan? Neron?”
“Sir!” Balas Neron hanya melambai dia menjadi sibuk setelah tanpa sengaja melihat sayuran hijau di ladang seberang. “Lihatlah di sini, ini ladang sayuran seperti yang ditanam di desaku.”
“Aku tidak akan melihatnya,” sahut Abram dan menjauh mencari si Kelinci pemilik ladang.
Dibelakang Neron mencebik sebal lalu, memilih berjalan mengikuti. Seperti yang Neron lihat tampak di sini hanyalah hewan monster sederhana seperti Sir Taemu, si Kodok. Di sini terdapat hewan monster lainnya meski, tidak semua sebesar sir Taemu, Neron melihat mereka bisa berbicara dan jauh dari kata lemah dan ramah. Hewan-hewan itu seperti menatap Neron langkah demi langkah sungguh membuat tidak nyaman.
Tampak di depannya seperti rumah berdinding gua. Abram berdiri di sana mengetuk pintu lalu, seekor kelinci putih setinggi sir Taemu menatap tajam sir Abram dengan mata merahnya yang menyala. “Sudah lama sekali seorang penyihir datang kemari? Apa kita punya urusan?”
“Hanya sedikit, aku butuh sesuatu dari ladangmu?”
Kelinci itu melompat, menjauh dengan nada tidak senang. “Aku tidak punya apapun yang kamu butuhkan. Kalian bisa pulang saja atau cari di tempat lain.”
“Oh, Sir tidak perlu khawatir,” tukas Neron menyela pembicaraan mereka. “Aku sudah melihat banyak hal di ladang! Kita hanya perlu beberapa ragam macam bahan makanan yang bisa kita olah.”
Mendengar itu, si Kelinci merasa tersinggung. Dia mengangkat kakinya dan mulai menginjak bumi beberapakali menjelaskan dia tersinggung dan marah. “Apa yang kamu maksud ingin mengambil bahan makanan kita? Tidak akan kuberikan.”
“Anda memang sangat pelit, sama sekali tidak berubah,” ujar Abram dengan muramnya.
“Kwok! Selamat siang… Miles!”
“Aku tidak ingin menyapa kalian pergi dari sini!”
“Kwok! Miles , bantu kami Kwok! Sedikit saja.” si Kelinci itu masih saja menggeleng dia melompat menjauh, si Kodok Taemu tidak menyerah dan mulai mengikutinya. Neron dan Abram hanya memerhatikan mereka berdua saja.
“Sir, apa tidak ada yang bisa kita mintai lagi? Jika, si Kelinci itu tidak mau memberi kita cari warga lain… Dan, kenapa rasanya sangat aneh, ya, seolah banyak mata melihat ke arahku?”
“Bukan rasanya tetapi, memang iya … kenapa kita tidak bisa di sini karena kita berbeda terlebih lagi makhluk-makhluk itu penuh kecurigaan dan kewaspadan yang tinggi. Tidak ada yang bisa di sini kecuali, semua orang di sini setuju dan yang terpenting …”
“Apa yang terpenting? Apa haruslah itu seekor hewan?”
“Bukan.” Abram menggeleng. “Taemu juga, seekor hewan monster tetapi, dia tidak bisa tinggal di sini… ini tempat kelahirannya tetapi, setelah membuka mata pertama kali dia langsung …swiiing! Di lempar ke lembah hitam. Aku memunngutnya seperti aku memungutmu.”
“Anda tidak perlu memperjelas soal, ‘memungut’ itu … Anda tahu aku hanya dihukum dan ada waktunya aku akan kembali ke academi.”
Abram kali ini bertampang serius, kedua tangannya berada di depan dadanya. “Untuk apa kamu kembali ke sana? Kamu tidak punya bakat sihir memangnya apa yang bisa kamu lakukan di sana?’
Jleb!
“Oh! Anda menyakiti hatiku lagi. Lukaku mungkin semakin parah. Apa Anda tidak bisa berbicara lebih hati-hati padaku?”
“Ah, berhati-hati seperti apa? Tidak menyebutkanmu tidak bisa menggunakan sihir?”
Neron memalingkan wajahnya lagi, tidak ingin menjawab. “Kembali lagi saja dengan yang tadi, kenapa kita tidak bisa tinggal di sini bahkan, Sir Taemu sendiri?”
“Itu, mudah … perhatikanlah! Jawabannya sangat mudah, kamu akan menemukan jika teliti mencermati.”
Meskipun, sebal karena tidak langsung dijawab Neron masih melakukan apa yang diperintahkan dan mulai mengamati apa yang ada disekitar. Awalnya sulit sampai tatapan tajam yang menatapnya balik ke arahnya. “Mata Merah!”
“Yah, hanya hewan-hewan monster yang bermata merah yang bisa hidup di sini selain itu, mereka tidak akan menerimamu … apalagi membiarkanmu tinggal di wilayah ini,” papar Abram sambil menunjukan sebenarnya wilayah itu tidak terlalu luas untuk didiami hewan-hewan yang sudah berevolusi menjadi monster.