Oris datang ke Academi

1726 Kata
Tidak terasa tiga hari berlalu setelah burung-burung pembawa pesan itu datang membawa surat undangan masuk untuk Oris. Kali ini hari itu tidak sebising biasanya.. Filothea lebih banyak diam dari biasaaaa dan bahkan, lebih sangat pengecut sejak tadi diam-diam memerhatikan putranya yang sedang mengepak pakaiannya untuk dibawa di balik pintu kamar. “Oris, kamu sedang bersiap?” “Oh, Ibu.” Oris berbalik melihat ibunya tengah berdiri di depan pintu dengan wajah sedih. Tidak seperti sebelumnya dia akan selalu berwajah ceria saat teringat jika anak satu-satunya akan pergi ke academi sihir impiannya tetapi, lain waktu dia akan berwajah muram dan marah ketika teringat Neron yang sudah mencuri posisi Oris sebelumnya dan baru kali ini, dia berwajah sedih setelah diumumkannya Oris akan pergi ke academi. “Ada apa dengan wajah Ibu?” “Ah, ini..” Filothea berjalan masuk ke dalam. “Akhirnya ibu merasa benar-benar sedih. Sebentar lagi kamu berangkat pergi …” “Liburan nanti, aku pasti kembali, Bu!” “Iya, itu hampir satu tahun. Kita hanya akan bertemu tahun depan. Ibu akan sendirian di rumah ketika, ayahmu bekerja.” “Lalu, apa yang harus kulakukan? Apa aku tidak bisa pergi?” “Oris!” Filothea berteriak menarik lengan putranya. “Tentu saja, kamu harus tetap pergi seberapa besar Ibu bersedih pun.” “Jika begitu Ibu tidak perlu sedih.” “Ah,ya. Ibu malah sangat bangga padamu… “ Filothea terdiam sejenak memandang putranya. “Oris, maafkan Ibu sebelumnya seringkali memukulmu. Kamu mau memaafkan Ibu, kan?” Oris sedikit terkejut mendengar Ibunya meminta maaf biasanya mereka hanya melupakannya seolah hal-hal itu tidak pernah terjadi. “Aku sudah memaafkannya, Bu. Ibu tidak usah khawatir …aku tahu Ibu sangat menyayangiku.” “Hm, Ibu juga sadar jika selama ini Ibu itu terlalu keras tapi, sungguh Ibu sangat sayang kamu, Oris.” Oris tersenyum, memeluk Ibunya. Ibunya memang sangat keras ketika itu menyangkut tentang pencapaian academis sudah seperti ini sejak kecil. Dia selalu tidak ingin melihat Oris berada dibawah orang lain bahkan, saat tahu jika Neron anak teman baiknya sendiri ternyata tidak memiliki Manaa di usianya yang kedua belas tahun diam-diam Filothea begitu sangat bangga dan senang pada putranya yang bahkan lebih baik dari anak-anak lain di desa mereka. “Ayo, sekarang! Kita harus berangkat jangan sampai tertinggal,” ujar Filothea yang sudah menghapus titik air matanya. “Iya, Bu. Kita pergi sekarang.” “Oh, satu lagi.” Filothea memegang tangan Oris erat. “Jika kamu bertemu Neron di sana, jangan pernah berteman dengannya lagi. Tidak bisa bahkan jangan mendekatinya… menjauhlah darinya. Kamu bisa janji?” “Bu.” Oris berpikir sejenak meski, sebenarnya dalam hati dia berniat seperti itu tetapi kenyataan dia tidak tahu apa yang bakal terjadi. “Aku janji.” Akhirnya, Oris memilih untuk menenangkan hati ibunya saja. Untuk ke depannya satu yang pasti dia harus menanyakan apa alasan Neron, melakukan hal itu padanya. Mencuri hal penting darinya. ** Perjalanan yang dilakukan Oris tidak jauh berbeda seperti siswa-siswa yang lainnya tetapi, jika yang lain menggunakan kereta kuda api. Dia dijemput dengan burung besar yang hanya bisa diduduki tidak lebih dari lima orang dan seorang pengawas datang menemaninya sampai tepat, di depan gerbang Academi. Perjalanan penuh berangin tetapi, tidak membuat Oris surut dari rasa bangga dan senangnya. Ekspresi yang dilakukan dari awal sampai akhir adalah tercengah dan setengah tidak percaya. “Apa di sini Academi itu? Sir, sungguh aku sudah sampai, kan? Ya, Tuhan … apa aku bermimpi.” “Yah, sekarang masuklah! Kamu tidak bermimpi,” ujar Hilio si Penjaga gerbang. “Cari guru bernama Sir. Pato dia akan membawamu pada HeadMaster.” “Oh, haruskah aku masuk sendiri? Anda tidak mengantar saya ke dalam.” “Aku tidak bisa. Tugasku hanya mengantarmu sampai ke sini,” jawabnya seraya menaiki kembali burung tungganggannya . “Aku pergi! Semoga sukses.” “Sir. Terima kasih!” teriak Oris sambil melambaikan tangannya dan berjalan masuk melewati gerbang utama Academi BigTunes. “Aku tidak percaya, akhirnya aku bisa berdiri di sini?! Semua akan baik-baik saja, kan?” Sekali lagi Oris harus terkejut, semakin lebih dekat dengan bangunan academi semakin dia terkagum-kagum. Gerbang kedua yang dia lihat adalah di depan matanya dan di sana langkah kakinya akan memulai memasuki academi yang sebenarnya. Dari Luar saja Oris bisa melihat dan mendengar banyak suara. “Itu pasti siswa-siswa di sini… oh, aku tidak percaya! Akhirnya …” Oris melangkah masuk dengan wajah ragu-ragu dari lirikan matanya dia bisa melihat semua orang juga melihat ke arahnya. Mereka berbisik-bisik di antara kerumunan teman-teman mereka, yang banyak tanpa ragu langsung menunjuknya. Saat ini tentu saja kondisi Oris berbeda dari yang lain karena masih tampak dengan pakaian biasanya sedangkan, siswa-siswa lain sudah tampil dengan pakaian dan jubah khas element yang mereka miliki. “Eum, maaf, boleh aku bertanya?” dengan kepercayaan dirinya Oris berani bertanya pada orang yang melewatinya begitu saja. “Yah, ada apa?” jawab siswa itu, yang masih tampak sibuk sesekali memerhatikan buku di tangannya. “Kamu pasti sangat sibuk, yah?” “Tidak masalah. Apa kamu cuma mau bertanya itu?” Kali ini anak itu mendongak melihat jelas penampilan Oris. Oris balik tersenyum ketika mereka bertatapan dan tanpa ragu mengulurkan tangannya. “Boleh, aku berkenalan. Namaku Oris Darel aku baru saja masuk sini.” “Ooh, Oris? Namaku Alvaro Damian, tapi, Oris? Sepertinya aku pernah mendengarnya di mana, ya?” Alvaro berpikir sejenak, dia menggunakan otaknya untuk berpikir sedikit. “Benarkah? Kamu mengenalku padahal, aku pertama kali melihatmu,” sahut Oris antusias. “Ah, iya! Aku ingat … kamu siswa yang tertinggal itu, kan? Yang surat undanganmu di curi?” “Oh!” Oris cukup terkejut dengan berita ini. Dia tidak tahu jika, ada orang lain yang tahu tentang masalah ini. “Jangan terkejut seperti itu semua siswa di sini sangat tahu cerita itu. Oh, ya orang yang bernama Neron dia juga sudah di hukum tetapi… dia akan tetap jadi siswa academi. Oh, ya. Lalu apa yang mau kamu tanya?” Senyum Oris kembali lagi, dia akan menyimpan berita tentang ke belakang pikirannya dulu. Saat ini yang paling penting adalah menemui headmaster agar dia bisa benar-benar yakin sudah menjadi bagian dari siswa BigTunes. “Tadi orang yang mengantarku menyuruhku mencari Sir. Pato biar aku bisa menemui HeadMaster di sini.” “Ah, seperti itu! Apa tidak apa-apa jika, aku saja yang mengantarmu ke ruangan HeadMaster? Aku juga tidak tahu di mana sekarang Sir. Pato.” “Benarkah? Tidak merepotkanmu, kan? Aku senang sekali!” “Ha…ha.. aku juga. kalo begitu sini, ikuti aku!” “Alvaro kita bisa jadi teman, kan?” tanya Oris ketika berjalan beriringan. Entah, kenapa rasanya dia nyaman dengan Alvaro yang baru dikenalnya. Yah, sejak dulu dia sudah bertekad jika, memasuki academi dia akan menjalin banyak pertemanan meski, saat ini juga dia pernah dikhianati teman yang sudah seperti saudara sendiri tetapi, hal itu tidak membuat dia menolak hubungan dengan yang lain. “Tentu saja, ayo berteman.” Alvaro berbalik dan mengulurkan tangannya kali ini dan mereka banyak mengobrol menghabiskan perjalanan sampai ke kantor kepala sekolah. “Kita sudah sampai. Ini ruangan kepala sekolah?!” “Terima kasih. Alvaro, setelah ini ayo, bertemu lagi?” “Tentu saja..oh,ya . aku ada di ruangan barat asrama Nero, tempat para penyihir element air jadi, kesanalah. Jika sudah selesai dengan semuanya.” Oris mengangguk setuju, dia juga akan bertanya-tanya pada yang lain jika, tidak menemukan tempat yang dikatakan Alvaro tersebut. Setelah, itu Alvaro melambaikan tangannya dan pergi. Oris sendiri masih terpaku di depan pintu besar kepala sekolah, memandangi tanpa berani mengetuk pintu sampai… seseorang yang berada di dalam sana memanggilnya. “Kamu bisa masuk, Nak?!” Wajah terkejut Oris tidak bisa disembunyikan begitu saja, dia benar-benar terkejut tetapi, secara refleks tangannya pun bergerak meraih handle pintu dan membukanya. “Permisi!” “Masuk, Nak.” Demian tersenyum hangat di wajah tuanya yang penuh keriput. “Aku sudah menunggumu? Siapa yang mengantarmu.” “Oh, itu … a-aku tidak bisa bertemu dengan sir Pato lalu, teman yang baru kutemui mengantarkanku ke sini.” “Ah, begitu! Bagus sekali… duduklah di sini! Kita masih perlu bicara.” Meskipun, ragu-ragu Oris tetap maju dan duduk di depan kepala sekolah. ”Terima kasih, n-namaku Oris Darel!” “Hm, aku kepala sekolah Demian Oblicate. Kamu bisa bersikap senyaman mu. Jangan terlalu gugup di depan orang tua ini.” “Terima kasih,” ujar Oris untuk kesekian kalinya. “Tidak perlu sungkan.” “I-iya tapi, aku sangat berterima kasih karena diberikan undangan untuk kedua kalinya,” ungkap Oris, dia sangat bersyukur untuk hal ini. “Yah, seharusnya kamu bisa masuk lagi ditahun ke depan tetapi, temanmu Neron … dia mencuri tempatmu tetapi, dia tidak bisa dikeluarkan begitu saja sampai akhir tahun nanti dan melihat prestasimu… sepertinya terlalu sayang untuk menunggumu masuk sampai tahun depan.” “Apa Neron sungguh bisa tinggal di sini meski, tidak punya kekuatan.” “Seperti itu! Karena semua orang yang memasuki wilyah BigTunes itu sudah terkena sihir pengenalan diri mereka, tidak bisa pergi ke tempat lain selama satu tahun penuh sampai penggunaan sihirnya memudar …dan penjahat-penjahat kecil yang perlu dihukum tidak akan digiring keluar kecuali, dihukum di tempat ini.” “Jadi, Neron masih tinggal di sini?” “Dia sedang menjalani hukumannya saat ini,” jawab Demian yang kini sambil bergerak ke belakang menuju lemari rak-nya dan mengambil bola Kristal yang kini sudah berpendar-pendar seolah ingin di sentuh. “cobalah taruh tangamu di sini. Benda ini akan menentukan kamu masuk ke kelas mana.” Mata bulat Oris terbuka lebar di depannya Kristal Mana, tangannya sudah meremas-remas tampak terganggu ingin langsung mencoba. Sudah sejauh apa kekuatannya berada meski, dia sudah tahu tetapi sudah setengah tahun dia tidak mengeceknya. “Saya coba, ya?!” “Hm.” Oris segera meletakkan tangannya dan sinar putih berkabut mengubah reaksi sekitar dengan cepat. Demian tersenyum puas. “Element angin dengan tingkat level yang lumayan tinggi di awal semester sungguh bagus.” Helaan napas Oris bersamaan dengan meredanya kabut putih masuk kembali ke dalam bola Kristal. “Apa sungguh itu sangat bagus?” tanyanya dengan rasa bangga ada pada tiap-tiap sel di tubunya. Baru saja kepala sekolahnya mengatakan dia luar biasa sangat baik, menyenangkan sekali rasanya saat mendengar seseorang memuji keahlianmu. “Tentu saja, di luar dugaan. Aku akan memanggil seseorang untuk mengantarmu ke asrama dan kamu bisa masuk kelas mulai besok.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN