“Berapa lama lagi kita harus menunggu? Katanya akan ada pertunjukan bagus jika, yang dimaksud hanya melihat pertarungan mereka seperti itu aku sudah bosan,” ujar Neron, dia melirik Abram yang sibuk dengan ranting dan pisaunya.
Abram membalas tatapannya dengan mata tidak percaya, bagaimana ada bocah yang tidak tertarik dengan perkelahian. Yah, sebenarnya dia juga bosan makanya dirinya sudah menyibukkan diri sendiri dengan memahat ranting. “Tunggu saja sebentar, kamu bisa melihatnya sendiri, kan. Mereka belum mati.”
“Mereka masih bergulat, sepertinya belum mau mati.” Itulah yang dilihat Neron monster macan beberapakali masih bisa lepas dari cengkeraman ular piton dan bahkan, berhasil merobek-robek kulit sang Ular, yang katanya dikenal sangat tebal dan kuat. “Jadi, kalau mereka mati baru nanti ada pertunjukan besar, begitu?”
“Yah, tapi apa kamu benar-benar gak tertarik dengan pertarungan mereka, anak lain pasti menganggap pertunjukan seru. ”
“ Aku tahu, awalnya sangat seru tapi, mereka sungguh sangat kuat, ini bukannya sudah lebih dari satu jam. Mereka sama sekali belum selesai.”
“Oh, ah… berarti level mereka lebih tinggi daripada yang kusangka tapi, apa kamu sungguh bodoh seperti ini!”
Neron rasanya jadi sakit kepala mendengar jawaban Abram yang selalu sesederhana itu. Mungkin, lebih baik dia tidak mengatakan apapun lagi dan focus melihat pertarungan kedua monster itu tetapi, menjadi tidak sabar saat harus menontonya tanpa mengetahui alasan jelas kenapa mereka hanya diam menunggu seperti ini.
“Aku lapar lagi,” ujar Neron setelah setengah jam kemudian sejak terakhir kali dia berbicara. Pertarungan dua monster itu masih berlangsung sekarang tidak lagi sengit sepertinya keduanya sudah tampak lelah dan kepayahan. Neron bisa melihat monster macan bahkan, sudah tidak bisa berdiri tegak dan si ular tidak lagi bisa mengangkat kepalanya ke atas. Di sekujur tubuh mereka pun jelas penuh luka. “Sepertinya, ini akan berakhir, Tuan.”
“Oh, bagus!” jawab Abram santai lalu, tiba-tiba bangun berdiri di atas ranting pohon yang cukup kuat menahan beban mereka berdua.
“Anda mau apa?” tanya Neron penasaran dan ikut berdiri mengikuti langkahnya.
“Waktunya membunuh mereka.”
“Benarkah? Jadi, Anda bisa membunuh mereka? Aku kira Anda lemah makanya, menunggu mereka mati karena satu sama lain,” ujar Neron terlalu jujur bahkan, nada suaranya pun jelas tengah kesal.
“Dasar bocah bodoh! Perhatikan ini.” Abram mengeluarkan stick kayu, yang sejak tadi dibuatnya.
“Jadi, Anda membuat itu untuk hal ini?!”
Abram tidak menjawabnya dan hanya menunjukannnya secara langsung. Dari ujung tangannya di mengeluarkan aliran Mana langsung pada stick kayu yang sudah sangat runcing tersebut sampai menyelimuti semuanya hingga penuh bahkan, dengan mata telanjang Neron bisa melihat warna element tersebut. Biru, baru saja kagum Neron masih dibuat tercengan ketika dua stick kayu itu terbang tepat melesat ke arah dua monster yang sudah kehabisan tenaga tersebut.
Swiiing!
Crattt!
Dua kepala binatang monster itu hancur berantakkan dalam satu kali tembakan. Neron berseru keras sampai lupa dia sedang berdiri di mana dan hampir saja terpeleset jatuh jika, tidak cepat kerah lehernya dicengkeram meski, sangat sesak tapi, itu lebih baik daripada jatuh ke bawah sana.
“Terimaaaaaaaaa!”
Sebelum Neron berhasil mengucapkan terima kasih Abram langsung membawanya terbang, pergi menuju tempat mayat para monster itu berada dengan menjinjingnya seperti sebuah kantong.
Brugh!
Tubuh Neron jatuh begitu saja dia juga, terbatuk-batuk terasa lehernya baru saja tercekik. “Uhuk!uhuk… sial!” marahnya dengan mata berair.
Abram tidak peduli dengan u*****n kecil seperti itu, focusnya ada pada dua tubuh mayat monster. Dia menginjak kepala macam yang hancur lebih hancur lagi lalu, akhirnya menemukan apa yang dia cari. Benda berkilau orang-orang menyebutnya Kristal monster, yang jika diserap bisa memberikan kekuatan pada si penyerapnya tetapi, juga bisa mempunyai efek samping jika salah mengkonsumsinya seperti menghancurkan aliran mana si penyerapnya sehingga, mungkin si Penyihir mati atau gila.
Yang ditemukan Abram adalah Kristal kuning milik monster macan levelnya cukup tinggi dan tampak bersih tetapi, untuk lebih aman menyerapnya. Abram biasanya akan meleburnya dengan bahan-bahan lain membuatnya lebih mudah diserap juga lebih kuat tanpa efek samping apapun. Penyihir sekaligus Alkemis sepertinya jarang terjadi sehingga, dia adalah orang yang tak ingin dikekang dunia luar dan memilih tetap berada di pulau berkabut ini.
“Apa itu?” tanya Neron yang ternyata sudah berdiri di samping Abram, memerhatikan Kristal ditangannya.
“Kristal kehidupan monster. Kamu pernah mendengarnya?”
“Tidak, boleh aku melihatnya?”
Sudut mata Abram mendelik berpikir sebentar sebelum memberikannya, dia sendiri kembali berjalan ke arah tubuh ular. Sama seperti sebelumnya Abram menginjak kepala ular dan kali ini menemukan Kristal berwarna merah. Semerah delima. Di setiap kepala monster beragam warna Kristal mereka.
“Wah, yang itu…warna kristalnya merah. Cantik sekali!”
“Kamu bilang ini cantik?”
“Yah, cantik! Kekasihku pasti bakal suka kalau aku memberinya itu.”
“Untuk apa memberi kekasihmu?”
“Yah, untuk kuhadiahkanlah. Gadis-gadis itu, kan sangat suka dengan warna-warna cantik apalagi perhiasan-perhiasan yang cantik. Boleh itu untukku? Marvella ku sangat suka warna merah juga, itu sangat sempurna untuknya.”
“Bocah bodoh.” Abram menoyor kepala Neron cukup keras. “Kamu pikir seberharga apa kekasihmu itu, hah? Benda-benda Kristal ini lebih berharga lebih dari Kristal biasa.”
“Itu, kan cuman dari kepala monster,” ujar Neron sambil mengusap-ngusap dahinya yang ditoyor.
“Karena sebab itu, ini dari kepala monster dan juga … berapa banyak pacarmu bisa menyerapnya bisa-bisa dia mati eh, atau …kekasihmu bukan penyihir, kan?”
“Jangan salah dia calon penyihir hebat,” ucap Neron bangga sambil mengingat bagaimana Marvella sangat luar biasa bertarung.
“Jadi, dia seorang penyihir dan kamu bukan? Bukankah berarti dia, gadis menyedihkan karena punya pacar sepertimu.”
“Tuan! Memangnya aku seperti apa? Kekuranganku cuman tidak bisa menggunakan sihir apa itu salahku, hah?!” salak Neron marah, dia juga berani melempar Kristal kuning ditangannya lalu, berbalik. Dia benar-benar tersinggung.
Abram terkejut tetapi, semua tidak masuk matanya. Dia tidak peduli dengan kemarahan Neron dengan santai dia mengambil Kristal kuning. Di tangannya kini ada Kristal yang cukup untuk membuat ramuan penyelamat jiwa. Abram pun masih berkeliaran di sana dan tidak salah sesuai firasatnya dia menemukan gua di mana tersembunyi sebuah tanaman whitefir . tanaman langka berbunga putih yang bila di makan bisa memulihkan kekuatan sihir sampai tujuhpuluh persen.
“Ular itu bodoh jika, dia memakan saja bunga ini dia mungkin berhasil menang tapi, jika begitu… aku juga yang kalah …ha ..ha..” tawanya menggelegar di antara keheningan hutan.
Neron bersandar di depan sebuah pohon sambil melipat kedua tangannya di depan dadaa. Matanya tajam masih memerhatikan Abram yang malah tertawa-tawa setelah memegang sebuah tanaman. Neron bukannya tidak mau pergi dan meninggalkan tuan pemilik rumah itu tapi, dialah yang jika pergi sendiri bukan tidak mungkin dia tersesat dihutan lalu siapa yang mau mencarinya. “Kenapa dia tiba-tiba tertawa, sih? Apa dia punya penyakit gila?”
Berhasil membawa barang-barang berharga Abram hendak berjalan pergi mencari hal lainnya lagi. Dia juga sudah menyuruh Taemu, si Kodok berisik itu berkeliling ke tempat lain selama dia mengawasi pertarungan dua monster tadi tetapi, tidak disangka dia masih melihat Neron berada di sekitar itu. “Kamu masih di sini?” tanyanya heran.
“Memangnya aku mau pergi ke mana,” jawab Neron ketus.
“Aku tidak peduli kamu mau pergi ke mana, terserah … selamat tinggal!”
“Yah, Tuan Abram bawa aku pergi juga,” sahut Neron sambil mengejarnya.
“Untuk apa kamu mengikutiku! Pergi sana! Bukannya kamu marah, hah?”
“Yah, tentu saja aku marah tapi, bukan berarti aku mau pergi sendiri dan berkeliling hutan mencari kematian.”
“Ho ho … sungguh pemikiran licik dan pengecut!”
Neron kali ini memilih menutup mulutnya, tidak ingin semakin terpojok dan yah, sepertinya dia memang licik juga pengecut. Sungguh kehidupan yang malang bagi orang biasa sepertinya, di mana di dunia ini hanya orang yang berbakat sihirlah yang diberkahi keberuntungan yang banyak.
“Kwok, T-tuan!” datang tiba-tiba jelas, si pemilik suara adalah si Kodok, yang berjalan menghampiri mereka, menggunakan lompatannya keempat kaki amfibinya.
“Apa yang kamu dapetin?” tanya Abram setelah Taemu berdiri di sampingnya.
“Kwok! Susah sekali … kwok menemukan tumbuhan itu …Kwok!”
Abram mendengus kasar lalu, mendorong tubuh Taemu dengan kakinya. “Tidak berguna, apa tidak ada yang bisa kuandalkan. Kamu Taemu sudah mengikutiku bertahun-tahun tapi, masih saja bodoh.”
“Uhh, Kwok! Maafkan aku, Tuan.”
“Sudahlah berisik! Hari ini kita pulang lebih awal saja …aku mendapat banyak barang berharga.”
“Yah, kita pulang saja! Nanti, aku siapakan makanan buat kita semua.” Tambah Neron, dia sudah ingin pulang dan beristirahat tetapi, mengingat kondisi makanan mereka yang kurang variasi. Dia yakin dua makhluk berbeda jenis ini tidak tahu apa-apa soal jenis makanan tetapi, hanya sibuk dengan benda-benda yang bisa meningkatkan aktifitas sihir saja. “Tapi, kita harus cari jenis makanan lain dulu, aku sangat ingin makan daging. Apa kalian tidak punya daging yang bisa kita makan di sini? Aku akan buat barbeque nanti … kalian pasti tidak akan menyesal memakannya.”
Abram dan Taemu saling berpandangan. Keduanya tidak pernah makan hal seperti itu. Biasanya entah itu binatang atau tumbuhan disekitar hutan kabut cukup beracun tetapi, sebenarnya jauh di kedalaman hutan tersembunyi dalam gua ada tempat lain yang dipenuhi kehidupan bersih tanpa kabut hitam dan juga monster-monster yang berevolusi.
“Kwok! Tuan … apa kita harus ke sana?”
Abram menoleh setengah berpikir sebenarnya dia juga bosan dengan hal-hal makanan yang hanya itu-itu saja. Sayuran-sayuran yang mereka makan selama ini juga dialah yang menanamnya dengan bantuan sihirnya semua itu tumbuh tiap hari meski, hanya cukup untuk mereka makan di hari itu juga. Tentang Daging, bahkan daging monster tidak bisa di makan padahal beberapa hari sekali selalu ada bangkai daging monster bekas pertarungan. “Kamu mau pergi ke sana?”
“Kwok! Ya, Tuan …kwok! Kenapa tidak? Kita juga bisa meminta biji tumbuhan lagi pada si kelinci merah itu.”
“Hah, benar juga … sudah lama kita tidak pergi ke sana.”
“Sebnarnya kita akan pergi ke mana?” tanya Neron mulai penasaran.
“Kamu hanya tinggal ikut saja dan menyiapkan makanannya, tidak usah banyak bertanya,” tukas Abram yang langsung memimpin jalan.
“Tuan Taemu, apa benar nanti kita bisa menikmati daging, hah?”
Splurrt…
Taemu menjulurkan lidah panjangnya untuk memukul kaki Neron sayang tidak berhasil. Sayang tidak berhasil, Neron dengan cekatan melompat menghindar. “Tuan Taemu! Kamu ingin membunuhku? Kenapa menyerangku?”
“Kwok! Tidak berguna membunuh … Kwok, bocah lemah sepertimu, Kwok!”
“Terus kenapa menyerangku?”
Tidak ada yang menjawab, Neron hanya bisa berteriak-teriak tak jelas karena kesal dengan kedua tuan rumahnya yang terkadang sangat aneh. Yah, memangnya siapa yang tidak akan menjadi orang aneh jika, hidup berdua di pulau tak berpenghuni seperti ini. Sepertinya kabel-kebel di otaknya juga akan sedikit berubah jika, terlalu lama berada di sini berasa mereka.
“Apa kita sudah sampai?” tanya Neron setelah memastikan Abram dan Taemu tiba-tiba saja berhenti berjalan dan tengah memandangi pintu gua, yang dari luar saja Neron bisa tahu itu sangat gelap. Sama sekali tidak terlihat, ada cahaya yang masuk.
“Kita harus masuk ke dalam?”
“Tuan Abram, apa di sana lebih berbahaya daripada di sini?”
“Di mana pun , di dunia ini berbahaya.”
“Kalau begitu, kita kembali saja… biar aku makannsaja sayuran-sayuran itu,” ujar Neron sambil hendak berbalik. Dia memang tidak dalam bahaya tetapi, juga tidak mau mencari bahaya. Dia masih harus kembali ke dunia atas lagi dan menemui Marvella juga orang tuanya. Biar saja dia tidak punya Mana, yang terpenting masih bisa hidup.
“Tidak bisa!”
Langkah Neron terhenti, cukup terkejut dengan suara keras Abram yang tampaknya sudah bertekad. Selama perjalanan ini Abram sudah banyak berpikir untuk merasakan hal-hal lain seperti yang dikatakan Neron. Daging barbeque seperti itu… sudah sangat lama. Dia tidak pernah makan-makanan hal lain, waktunya untuk berubah jadi, dia segera menoleh dan mengulurkan tangan panjangnya ke kerah baju Neron menggiringnya untuk masuk ke dalam gua.
“Ayo, Kita masuk!”