Tes Mana 2

2018 Kata
"Oris Darel" Panggilan nama itu membuat Neron terkejut bukan kepalang, tergesa akhirnya dia memalingkan wajahnya lagi pada Orion. "Apa saat ke depan tadi namamu juga dipanggil?" "Yah, memangnya kenapa? Namamu belum disebut, kan?" Neron menggeleng dan meraih lengan Orion. "Kamu mau ke toilet, kan? Ayo,pergi! " Sambil mengerutkan kening Orion tidak mengatakan apapun hanya mengikuti langkah Neron. Tidak mengerti seberapa anehnya tetapi, sesampai di toilet akhirnya Orion tidak tahan melihat tingkah Neron yang tampak kebingungan. "Hey, kamu itu kenapa?" "Heh?" "Aku tanya kamu kenapa?" "Tak ada apapun," sahutnya mengelak. "Kamu sudah selesai? Kenapa tidak masuk lagi, mungkin saja perutmu jadi sakit dan ingin buang besar.. .cepat aku tungg--" "Berhenti!" sela Orion sebal, menutup mulut Neron dengan tangannya. "aku tidak mau buang air besar! Sudah Ayo, kembali ke alam. "Tidak mau." "Ada apa denganmu?" "Maaf, haha... tidak apa-apa kamu bisa pergi duluan ke sana." Sudut-sudut bibir Orion berkedut tidak mengerti apa yang diinginkan Neron. "Jangan bicara omong kosong, aku tidak tahu jalan kembali ke sana. ayo,cepat pergi denganku!" "Tidak mau!" tolak Neron sambil memerankan opera, berpegangan erat pada westafel tetapi, sayang Orion lebih kuat darinya dan berhasil menyeretnya. Tidak sampai sana Neron masih berusaha memegang sisi bilik toilet. "Lepas! Ayo, pergi!" "Tidak mau!" "Neron!" teriak Orion hampir habis kesabaran. "Aku tidak bisa, biar aku di sini saja," rengek Neron dengan mata berkaca-kaca sedih. “Sebenarnya ada apa denganmu?” kesal Orion sambil berkacak pinggang menghadapi Neron yang tiba-tiba berulah di kamar mandi. Tangan Neron masih memeluk tiang penyelamat terakhirnya. Raut wajahnya tidak terkatakan tetapi, Neron sangat berupaya memasang wajah paling menyedihkan “A-aku hanya tidak bisa kembali ke aula.” “Beri alasan!” “Tak ada alasan,” jawab Neron yang hampir saja membuat tendangsn kaki Orion melayang ke arahnya karena kesal mendengar jawabannya. “Beri aku alasan yang benar, kenapa kamu tidak mau pergi ke tes Mana?” “Wow, kamu tahu ternyata aku tidak mau melakukan tes itu?” Neron tampak terkejut mendengar Orion bisa menebak tentang hal itu. “Apa kamu pikir aku ini bodoh, huh?” Balas Orion lagi lalu, kemudian tiba-tiba dia mengerutkan kening. Mengamati Neron dengan seksama berpose seolah tengah berpikir dengan keras , mengusap dagu ala professional sambil melihat ke atas langit. “Yah, kamu pasti punya sesuatu sampai kamu tidak mau kembali ke aula? … Itu! Kamu penyusup,kan?” Neron terpaku, bertampang wajah kosong dan bodoh. Matanya bergulir ke sana kemari penuh kekhawatiran. “Seperti itu?” “Gila! Kamu benar-benar menyusup ke academi? Apa yang mau kamu lakukan, hah?” “Aku mau tinggal di sini?” “Kamu tidak punya tempat tinggal, hah?!” Orion menariknya bangun, berpikir Neron harus tetap melakukan tes mana-nya terlebih dulu baru dia bisa tingga kita harus kembali ke aula dulu untuk menunjukkan kemampuannya selama itu memuaskan academi, Neron pasti bisa tinggal di sini. Seperti itulah pikiran polos Orion, yang tidak diketahui Neron. Keduanya berhasil masuk kembali ke dalam aula tes, di mana tes masih berlangsung. “Kamu duduk!” paksa Orion dan yang kemudian duduk di samping Neron. “Lihat ke depan! Kamu hanya tinggal maju ke depan nanti pas bagian terakhir bilang saja namamu, tidak disebutkan atau namamu terlewat.” Neron melihat ke samping pada orang itu dengan tampang gelap. “Apa guru-guru di sini se bodoh itu, hah?” “Terus, kenapa kamu bisa berhasil masuk kemari? Karena kamu sudah ada di sini berarti mereka bodoh.” “Wow, kata-katamu luar biasa sekali! Aku menyebutnya mulut si pemberani dan si Otak udang.” Mata Orion melotot tidak senang dengan sebutannya tetapi, kemudian mendengus berbalik tidak ingin mempermasalahkannya saat ini. “Terserah kamu urus-urusanmu sendiri kalau begitu.” ‘Y-yah, memang bakal kuurus – urusanku sendiri tapi, masalahnya … apa yang harus kulakukan? Otakku stuck di sini! Sepertinya memang aku harus mati di sini. Ayah, Ibu … apa aku bisa melihat kalian lagi,’ curhat Neron dalam hatinya sendiri. Setelah hanya sibuk dengan pikirannya Neron mulai kembali memfokuskan pandangannya ke depan dia tidak punya jalan keluar, yang paling bagus hanya diam memerhatikan sebelum akhirnya dia kena siding juga jika, berpikir dari awal seharusnya dia tidak berkenalan sama sekali dengan orang lain hingga, saat kabur sesaat tidak akan ada yang menyeretnya ke sana-kemari. “Miriam sloty, element api!” teriakan itu menggema di seluruh ruangan bersamaan dengan riuh tepuk tangan. Neron masih diam dengan pandangan ke depan melihat bola Kristal sebesar bola sepak masih berputar dengan warna merah. Dulu sepertinya dia juga pernah melakukan hal sama persis kecuali saat itu, hanya dengan menggunakan Kristal sebesar kepalan tangan. Yah, saat umurnya duabelas tahun di mana biasanya anak-anak akan membangkitkan Mana-nya jika dia memang seorang penyihir bahkan, Oris saat itu lebih muda darinya dan sudah sangat luar biasa. Kristal itu bersinar putih kabut menyelimuti sekitar dirinya katanya itu type angin tingkat tinggi sedangkan, milik Neron sendiri saat itu, tidak terjadi apapun menjelaskan ternyata dia gak memilki bakat sihir. Mengecewakan. Mempelajari kembali soal element mana, ternyata itu banyak tingkatan juga type-nya. Neron sungguh sangat pusing saat menerima informasi –informasi itu seperti type Api yang dimiliki Miriam tadi, warna merah dengan element api yang dimiliki remaja bernama torsi sangat berbeda merah dalam bola Kristal itu lebih pekat tampak lebih seperti darah. Mereka disebut pengguna kekuatan api darah dan sangat cocok dijadikan prajurit. Dan, type element angin milik Oris sangat special juga jika, tidak salah. Neron tidak begitu mengingatnya tetapi, yang jelas bukan hanya Oris tetapi anak-anak di sini dengan kemampuan mereka sudah sangat luar biasa apalagi selah belajar di sini bisa dijamin kemampuan mereka akan jauh lebih meningkat namun, sayang itu tidak berlaku untuknya. ‘Kenapa, cuman aku yang gak punya Mana? Kenapa cuman aku yang gak bisa sihir. Sial! Rasanya hidup itu gak adil padahal kedua oran tuaku itu penyihir tapi, aku bukan. s**t!” “Kamu kenapa?” “Tidak ada,” jawab Neron pada pertanyaan Orion. “Oh, ya, apa elementmu.” “Aku!” tunjuk Orion pada dirinya lalu, bibirnya terangkat di satu sisi membentuk smirk kebanggaan. “Api level 3.” “Oh!” “Kamu sendiri?” “Aku gak punya,” jawab Neron yang kini bisa lebih santai. Dia pikir dia tidak punya harapan jika, tahu aka nada tes untuk melalui tingkatan belajar mungkin dia akan berpikir ulang untuk mencuri atau bahkan, berani datang ke sini tanpa persiapan apapun. “Apa kamu tahu cara mengelabui bola Kristal itu?” lanjut Neron bertanya pada Orion yang masih lekat memandangnya. “Barusan tadi apa yang kamu bilang.” “Yang mana? Soal aku gak punya Mana ….” Suara Neron tiba-tiba saja terendam oleh suara penonton seseorang di atas platform yang baru saja menyentuh bola Kristal terjadi tembakan indah. Itu element alam berwarna hijau dan membentuk aura disekitar pemiliknya seorang wanita. Bahkan, Neron termasuk yang terpukau sebaliknya Orion masih menatap Neron tanpa berubah sedikit pun. “Aku tidak mendengar apa yang tadi kamu katakan? Ucapkan sekali lagi padaku dengan jelas,” ujarnya dengan penuh tekanan ditiap kata-katanya. Neron menoleh lalu, menghela napas. “Aku tidak punya Mana jadi, aku tidak bisa menggunakan sihir. Aku juga bertanya padamu? Apa kamu tahu caranya memanipulasi bola Kristal itu?” Beberapa saat Orion tidak bisa berkata-kata, rasanya kelu tetapi, dengan cepat juga ia pulih. “Kamu sungguh mencari kematian,” dengusnya marah sambil memalingkan wajah. Dia tidak ingin bicara lagi dan tidak berniat lagi menjadikannya temannya. Awalnya entah kenapa, dia tertarik pada orang ini meski, dia terlihat miskin dengan baju lusuhnya tetapi, terpancar kekuatan besar yang menariknya untuk mendekat tetapi, sepertinya itu hanya angan-angan saja. Remaja di sampingnya tidak punya kekuatan dan berpotensi menimbulkan masalah. “Hah, jadi kamu juga seperti ini,” ujar Neron tidak membuat masalah berlebihan setelah melihat sikap Orion. Sambil bersandar pada punggung kursi, Neron melipat kedua tangannya di depan dadaa seolah tengah berpikir. “Kamu benaran gak mau bantuin aku!” rengeknya tiba-tiba sambil meraih ujung jubah Orion yang ternyata sudah berganti merah maroon. “Ck, lepas!” marah Orion menyingkirkan tangan Neron pada jubahnya. “O—oo,” ‘Ah, sial! Siapa namanya kenapa tiba-tiba lupa. Ini karena kebiasaan memannggil kamu saja,sih’. “ kamu teman pertamaku, yang manis dan ganteng. Bantu aku biar selamat!” “Aku bukan temanmu, Bodoh! Kalau aku temanmu sebutkan namaku?” Orion sedikit mendorong Neron sebal. ‘Teman pertama apa? Bukan karena aku sedikit tertarik awalnya aku mau jadi temannya,’ cibirnya dalam hati. “Namamu yah? Olis, Oris … itu nama temanku di kampung halaman. Orlin, Osin… maaf, otakku memang bodoh sampai tidak menyimpan namamu yang berharga.” “Orion namaku Orion Gerda.” “Ah, baik Orion Gerda. Jadi, bantulah aku!” “Tidak ada yang bisa kulakukan. Hadapi saja sendiri, kamu paling hanya akan dihukum lalu, ditendang dari sini tidak akan sampai mati.” … ‘yah, mungki! Bisa jadi hanya dipenjara di bawah tanah selama bertahun-tahun. Bagaimana bisa si Bodoh ini masuk ke sini jika, begitu?” “Benarkah? Ah, tidak apa-apa jika dihukum saja. Asal aku tidak mati dan bisa kembali ke kampung halamanku saja aku sudah bersyukur.” Orion memutar bola matanya mendengar ucapan Neron. “Lalu, bagaimana kamu bisa ke sini? Kamu dapat pass undangan masuk dari mana?” “A-aku mencurinya!” “Oh, s**t! Luar biasa.” Orion terjaget-kaget mendengar jawaban Neron. “Sudah berakhir. Aku tidak mau mengenalmu sama sekali!” Sakit kepala Neron semakin menjadi-jadi, Orion mengabaikannya sama sekali tidak mengatakan apapun, hanya sesekali meliriknya sebelum akhirnya mendesah dan berjalan pergi lalu, sebelum semakin jauh dia akhirnya berbalik menatapnya. “Aku tidak tahu caranya menolongmu tapi, kuharap semoga kamu selamat dan beruntung. Dasar gila!” Mendengar itu Neron cukup bisa tersenyum, tidak apa-apa jika bocah usil itu tidak membantunya dengan keusilannya sebelumnya lumayan membuat Neron tidak kesepian. “Baiklah, apapun yang terjadi, nyatanya aku sudah sampai di sini.” Tak terasa waktu berputar semakin cepat, semua orang yang duduk disekitarnya mulai berkurang karena semua orang sudah di tes lalu, kemudian duduk di antara kelompok mereka. Yang terakhir benar-benar dia. Neron terpaku terkejut dengan dirinya sendiri lupa untuk melarikan diri. Sayang, sungguh sangat terlambat untuk pergi sekarang. “Kamu, siapa namamu?” yang bertanya adalah kepala academi langsung yang berarti adalah Demian Oblicate. Penyihir agung yang bahkan, dihormati oleh kerajaan negeri ini. “Tapi di sini sudah tidak nama lain … ah, kecuali.” Pria yang bertanggung jawab dengan menga-absen nama para siswa itu mulai menggulir lembaran halaman dengan telunjuknya yang cekatan penuh energy sihir. “Itu dia, Oris Darel! Kamu, d-dia, kan? Majulah cepat.” Neron masih mematung, tidak berani menjawab apapun keringat dingin sudah membasahi punggungnya yang tegak karena gugup. “Guru, sepertinya dia bukan Oris Darel.” Fred dengan baik hati mengangkat tangannya dan menjelaskan. ‘Oh, sial!’ Fred tersenyum pada Neron, tidak mengerti jika bibir Neron sudah kembang kuncup menyuruhnya untuk diam. Fred memang benar-benar tidak mengerti dengannya dan malah semakin bersemangat membuka mulutnya. “Namanya Neron Clemen, guru. Tolong cek lagi namanya di table mungkin terlewat.” ‘Berakhir sudah. Tamat!’ Nama Neron nyatanya memang tidak pernah ada meskipun, begitu akhirnya Neron tetap melangkah ke depan. Berdiri di depan bola Kristal itu dan sebelum meletakkan tangannya Neron sempat menutup matanya dan berdoa pada dewa-dewa di atas langit meminta sebuah keajaiban sebagai meski pudar bola lampu itu harus menyala agar dia selamat. “Cepat letakkan tanganmu di sana!” Tidak bisa lagi menunda-nunda, Neron hanya bisa pasrah! Semua orang diam taka da yang bersuara apapun seolah, ada hal yang menakjubkan yang baru saja terjadi. “Apa kamu tidak meletakkan tanganmu di sana?” tanya Felix salah satu guru sihir di sana. “A-aku sudah… “ Neron mengangkat tangannya lalu, meletakkannya lagi di atas bola tersebut dan sungguh … luar biaasa! Tidak ada yang terjadi. Dewa tidak menjawab permintaanya. “Bagaimana bisa?!” akhirnya suara-suara itu mulai berseru heboh dan bersahutan. Tidak percaya jika, diantara mereka ada yang tidak memilki Mana jikalau, begitu bagaimana dia berada di academi sihir. Demian menatap Neron beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya pada kerumunan siswa yang sedang heboh berbisik. Sebagai kepala academi, dia dengan cepat segera bisa menenangkan semua orang dan bahkan, menyuruh semua murid kembali ke tempat-tempat sebelum mulai mengintrogasi Neron.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN