“Aaaah!”
“Rasakan! Berani sekali menipu kami.” Kemudian ke tiga murid berseragam itu pergi dengan senyum puas dan menyeringai.
Noren masih merasa tubuhnya jatuh tetapi, tidak lagi bisa menjerit. Semburang angina hampir saja menyumbat mulutnya bahkan, wajahnya hingga hidung dan matanya terasa pekak. Masih dengan posisi menukik, Neron melihat jika seharusnya menurut kecepatannya dia akan segera tersungkur jatuh tetapi, beberapa saat menunggu dia belum juga sampai di darat.
‘Sudah berapa lama, ini? Kenapa lama sekali jatuhnya,’ keluh Neron dalam hati merasa kebosanan. Dirinya tidak tahu jika, hal seperti ini pun termasuk sebagai hukumannya. Kemudian entah, bisa sesantai apa. Neron merasa pegal dan letih jika menghadap terus ke bawah, mencoba bergerak akhirnya dirinya benar-benar bisa mengubah posisi tanpa kesulitan. Dengan Neron berbaring matanya melihat ke atas langit biru penuh awan juga tidak berbatas.
“Aah, anginnya tidak juga berkurang,” ujarnya sambil lalu. Neron kini lebih santai dari sebelumnya dan bahkan bisa-bisanya menguap, hingga mulai merasakan kantuk. ‘Siall sekali kenapa harus ketahuan, sih. Jika saja tidak ada bola Kristal itu tidak akan ada yang tahu, hah?! Marvella… dia tadi hampir menangis saat melihatku diseret. Huh, kasian sekali gadisku. Tenang, Sayang. Aku pasti kembali ke sisimu gak akan aku biarkan mereka mengeluarkanku.’
“T-tapi?” Noren menoleh ke samping, dirinya sendiri masih mengambang seperti ini, apa yang harus dilakukannya?!. “Y-yah! Siapapun… sampai kapan aku menggant—uhkk hukk gantung di …sini. Kapan aku turun!”
“Bagaimana bisa ada seorang murid yang berani menipu kita?” Seorang guru dengan rambut berwarna hijau terang dan berkaca mata, Filscane obay. Pria itu berbicara sambil mendengus keras dihadapan teman sejawatnya sebagai guru.
Guru-guru yang lain pun sama mereka berwajah masam dan tak senang, kemudian serempak semua menoleh melihat kepala sekolah mereka Demian Oblicate, yang akan mengambil keputusan hukuman seperti apa yang diberikan.
“Murid itu kini sedang dihukum,” ujarnya dengan tenang, melihat semua orang di ruangan rapat tersebut. “Dia akan merenungkan kesalahannya baru nanti kita lihat apa yang selanjutnya.”
“Anak itu tidak akan menjadi murid di sini,kan?” tanya seorang guru wanita bertubuh tambun dengan mata jelas khawatir karena tidak senang.
“Kalian tidak mendengar, dia sudah terikat menjadi murid di sini.”
“Tapi, jelas sekali dia tidak punya kemampuan apapun.”
“Tidak masalah, dia masih bisa belajar banyak hal lain.”
“Belajar apa?” tanya guru yang terkenal paling Killer di Academi, Gurdogh. Pemilik elementalis angin. “Dia cuma anak biasa tidak akan bisa melakukan apapun lebih baik batalkan bonding-nya. Kita tidak membutuhkan murid sepertinya.”
“Aku juga setuju. Kepala sekolah. Dan jangan biarkan juga orang luar tahu jika, kita hampir ditipu oleh anak ingusan itu.”
Demian sebagai kepala sekolah terdiam cukup lama hanya melihat dan mendengar para guru di depannya saling sahut menyahut. Mendengar mereka dirinya tahu jika, tidak ada satu pun dari mereka setuju untuk membaiarkan anak yang tak memilki Manaa tetapi, sayangnya dia sudah melakukan perjanjian dengan makhluk abadi academi, Spinxtra. Sehingga dia mempunyai hak untuk mendapatkan pengajaran di academi.
Tuk!Tuk!
Dua ketukan palu kecil dari Demian dengan cepat bisa menghentikan keriuhan suasana di ruangan tersebut dengan semua mata menatap ke arahnya. “Aku sudah mengambil keputusan,” ujarnya menatap semua orang.
*
“Sampai kapan!” Noren mulai merasa lelah. Dia masih berada terbang tanpa tahu mendarat. “Ibu,ayah! Aku lapar,” rengeknya menyedihkan karena entah sudah berapa jam lamanya dia seperti ini tidak ada sesuatu yang bisa mengukurnya.
Kini Noren sudah bisa bergerak ke sana kemari tetapi, sayang ia hanya tidak merasakan menginjak bumi. Semua melayang, tidak bisa berlari juga. “Tolong!” teriaknya berulang kali meski, tahu tidak ada yang mendengar atau menjawabnya di sini hanya terlihat langit biru dengan gumpalan awan dingin. Selama hampir satu jam lebih lagi Noren masih melayang sampai terdengar suara gemuruh.
Perlahan tapi, pasti awan gelap mulai berarak angin terasa semakin kencang seakan menyeretnya. Noren bahkan, berguling-guling. Suara gemuruh terdengar lagi, kini dengan sambaran cahaya kilat. Wajah Noren seketika berubah lebih pucat, berpikir bagaimana jika dia mati tersambar petir. Rasa takut mulai merongrongnya, membuat kepanikan yang tidak ada ujungnya.
Suara gemuruh petir kali ini lebih keras sampai Noren merasa tubuhnya menggeleyar, setengah terkoyak. Gerakan gravitasinya terasa lebih cepat, membuatnya seakan ingin tak sadarkan diri karena rasa pusing dan mual yang tak tertahankan beruntung, hal itu tidak berlangsung lama atau dia ingin mati saja dan … Dbam! Seketika rasa nyeri menyengat di punggung tanpa, disadari ternyata dirinya jatuh dengan punggung yang terlebih dulu mendarat.
“Aaakh!” ringisnya hampir tanpa suara lalu, kemudian berhenti bergerak, lama dia hanya bisa meratapi nasibnya dalam hati. Dia tidak merasakan apapun lagi seakan mati, Neron hanya terlentang dengan napas masih memburu dari cepat dan perlahan melambat lalu, kembali normal. Noren pingsan.
“Heh, kenapa ada manusia di sini?” Seorang pria membungkuk kea rah Neron, memerhatikan wajahnya lalu menoleh pada bawahannya seekor kodok yang bisa berbicara. “Kau tahu kenapa dia ada di sini?”
“Kwok! Dia baru saja jatuh dari langit! Kwok! Sepertinya academi sedang menghukumnya. Kwok!” Suara kodok itu bergema diselingi suara manusia, yang cukup dimengerti.
Pria itu menoleh lagi, mengusap dagunya sambil berpikir. “Padahal sudah lama academi tidak pernah mengirimkan muridnya lagi untuk dihukum kemari. Apa yang sudah bocah ini lakukan, sampai dilempar kemari?”
“Kwok… haruskah kita bawa? Kwok!”
“Bawa ke mana maksudmu?”
“Tentu saja, Rumah Tuan. Kwok!”
“Taemu. Kamu pikir rumahku itu penginapan. Tidak! Untuk apa aku membawanya. Merepotkan, biar saja di sini! Ayo, kita pergi!” Pria itu benar-benar berbalik pergi tanpa melirik lagi berbeda, dengan si Kodok yang masih menatap sosok Noren yang tidak bergerak merasa kasihan tetapi, dia tidak berani melawan tuannya dan akhirnya memilih untuk pergi juga meninggalkan Noren sendiri.
Aaaumm!
Suara auman bangsa serigala terdengar kerasa seakan mendekat. Pria tadi yang belum berjalan terlalu jauh segera berbalik melihat kea rah Noren kembali. Hanya dengan suara dengusan kerasnya, jarak yang begitu lebar terlewati dengan sekejap saja. Dengan sihirnya, tubuh Noren terangkat tiba-tiba bergerak ke lengan si Penyihir. “Merepotkan! Awas saja Demian… kamu mengirim seorang anak ke sini lagi! Akan kubiarkan dia mati.”
“Kwok! T-tuan, Anda mau menyelamatkannya?”
“Diam!”
**
Penyihir lembah dan sang Kodok, Taemu membawa Noren ke kastilnya di daerah paling tinggi di sana. Bangunan kastil mereka tidak tampak besar dari luar tetapi, salah. Sang pemilik, si Penyihir lembah membuat bangunan dengan ruangan bawah tanah yang lebih tinggi dan luas. Berkumpul di salah satu kamar yang disediakannya biasanya hanya untuk tamu, tamu yang jarang ada.
Luas kamar tidak lebih besar dengan asrama anak-anak di academi tetapi, sungguh sangat buruk. Semua kain-kain menggantung tidak lagi berwarna semua hampir berwarna hitam gelap penuh debu. Sepertinya sudah puluhan tahun tempat itu tak pernah dibersihkan. Bahkan, mungkin lebih lama karena dinding kastil pun tidak terselamatkan karena begitu banyak jamur dan lumut yang tumbuh di sisi batu bata.
“Apa di tidur atau mati? Kenapa dia tidak bangun juga?”
“Kwok! Tidur, aku masih melihat dia bernapas.”
Ditengah-tengah pembicaraan dua orang asing itu sebenarnya Noren sudah terbangun cukup lama, dia hanya enggan membuka mata dan hanya mampu mengintai sesuat melalui pendengarannya. Jujur saja Noren tidak percaya masih bisa hidup, setelah bagaimana dia merasakan jatuh begitu keras dirinya masih hidup. Dewa sepertinya sangat menyayanginya. ‘Apa aku harus buka mata sekarang? Sepetinya tidak masalah. Mereka terdengar seperti manusia, jelas ini bukan akhirat berarti!”
“Sampai kapan pura-pura terus! Buka matamu… bugh!”
“Ssst! Aakh ..” Neron meringis sebuah gumpalan kain kotor dan kumal baru saja mendarat di wajahnya. “Kalian siapa?” tanyanya langsung sambil menyingkirkan gumpalan kain itu, merasa jijik karena baunya yang tercium.
“Y-yah, bocah! Pantas kau dihukum dilempar ke lembah ini ternyata kau memang anak tidak sopan.”
“Kwok! Y-yah, tidak sopan kwok! Sebutkan namamu dulu bocah.”
Mendengar teguran itu buru-buru Neron mendongkak lalu, sedetik kemudian Neron menjerit terlalu terkejut melihat seekor kodok bisa bicara dan membuat kepalanya bergoyang dan kembali pinsan.
“Kwok, ada apa dengannya?”
“Kamu tidak lihat!? Dasar bocah lemah. Kenapa, kamu harus pingsan lagi.”
“Apa dia takut padamu, Tuan.”
Si Penyihir mendelik, menendang kodok peliharaanya hingga terlentang berkotek-kotek lagi minta kembali dibangunkan. “T-tuan,tuan. Ampuni aku! Tidak lagi, kumohon tolong.”
“Aku tidak akan menolong, makhluk seperti mu! Renungkan lagi saja kesalahanmu.”
“T-tuan, tuan jangan tinggalkan aku! Kumohon.”