Abram lincone, si Penyihir hitam. Si Penyendiri yang memilih hidup kesepian disebuah pulau yang disebut Blackfog, wilayah yang hanya diselimuti kabut hitam, suhunya selalu lembab jarang sekali ada sinar matahari yang bisa sampai wilayah tersebut. Letak pulau tersebut berada di balik gunung tertinggi tepat dibalik castle academi BigStone.
Wilayah Blackfog terhalang oleh tingginya gunung juga, terhalang sihir kuat dan hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk. Orang-orang di lemparkan ke pulau ini biasanya adalah anak-anak yang dibuang dan dihukum. Mereka akan dibuat untuk menjadi tangguh atau … dibuat tidak bernyawa karena di makan monster. Seperti halnya Neron, mereka yang dilemparkan ke sini adalah orang-orang yang pantas mendapatkan hukuman berat dan jarang kembali dipulihkan menjadi siswa atau pekerja di Academi tetapi, tidak sedikit juga yang tetap berada di academi karena kemampuanya.
Pria dengan rambut panjang, kumis lebat dan janggut yang tak terawatt itu adalah Abram, penyihir satu-satunya tinggal di sana masih sangat baik-baik saja. Dia hanya tinggal bersama Taemu, si Kodok yang memiliki mulut lebar dan sangat banyak bicara. Sudah bertahun-tahun lamanya Demian sang Pemilik academi BigStone, yaitu sejak kepemimpinannya tidak pernah melempar siswa-siswa kemari untuk mendapatkan hukuman. Kecuali hari ini tiba-tiba saja, dia melihat seorang anak remaja tergeletak dirumput dengan penampilan berantakkan.
“Makan ini!” Abram menyorongkan semangkuk hangat sup buatannya yang terdiri dari beberapa pecahan kecil daging dan potongan sayuran seperti wortel, kentang serta beberapa potongan sayuran hijau. Setelah melihatnya pingsan kedua kalinya dan memeriksa dengan pasti. Abram mulai bersimpati sekaligus bingung karena bagaimana pun di academi ada seseorang yang tidak memilki Mana atau tidak dapat menggunakan sihir.
“Terima kasih,” sahut Neron senang melihat di depannya ada makanan hangat sungguh, dia sudah sangat kelaparan. Sayang, setelah dia baru saja menyuap satu sendok makan, rasa mual beranjak naik. Sup itu tidak enak, rasanya tak karuan dan demi kesehatan perutnya Neron tidak bisa membuka mulutnya lagi untuk bisa menghabiskan sup tawar rasa tawar ini.
“Kenapa kamu tidak makan lagi, hah?”
“Tuan, apa kamu sungguh bisa memakan sup ini?!” Tunjuk Neron. “Apa Anda tidak punya indera pengecap?”
“Apa yang kamu katakan, hah?” Marah Abram memasang mata ularnya yang tajam dan sengit untuk menakuti Neron dan benar saja.
Neron langsung terjengat terkejut melihat mata itu. “Maaf, maafkan aku!”
“Bocah bodoh! Tidak tahu sopan santun, berani sekali mencemooh makanan yang kubuat bahkan mengatakan aku tidak punya lidah. Apa kamu memang sudah siap mati, hah?”
Tangan Neron terangkat ke atas tanda menyerah. “A-aku tidak sengaja tapi, makanan ini memang sangat hambar dan berbau.”
“Kwok, pembohong! Makanan yang dibuat Tuan itu sangat… kwok, enak.”
“Aku tidak bohong.”
“Kamu pembohong, kwok!”
“Aku tidak!”
“Kwok, pembohong,” balas si Kodok tidak mau kalah.
Abram sakit kepala mendengar dua makhluk tidak berotak di depannya. “Berhenti bicara atau kusumpal mulut kalian dengan batu bara di sana.”
Akhirnya Neron dan si Kodok berhenti bicara. si Kodok kemudian melanjutkan makan malamnya lagi sedangkan, masih tidak bisa melanjutkan makannya meski tengah kelaparan jadi, dia hanya bisa mengambil roti yang juga sama tak enaknya tetapi, mungkin ini sedikit lebih baik daripada rasa sup yang seperti air kobokan. Neron kemudian melanjutkan dengan memerhatikan sekitar sebelum si Kodok mengambil atensinya lagi.
Sebelumnya dia benar-benar pingsan lagi setelah melihat seekor kodok yang cukup besar dan bisa berbicara juga. Jujur saja meski, Neron tahu bahwa di dunia ini ada banyak makhluk lain selain manusia bahkan, ada yang namanya monster di luar kerajaan Hyberia yang bisa membunuh ratusan manusia sekali tebas atau ada makhluk bernama peri dan drawf yang tinggal di kedalam hutan yang tiba tersentuh manusia juga, termasuk para Penyihir manusia yang tidak kalah dengan para makhluk tersebut.
“Sepertinya hidupku dulu begitu sederhana, ternyata, … banyak hal aneh yang belum pernah kulihat sama sekali,” ujar Neron menatap jauh ke depan. Dia berpikir karena kurang belajar dirinya tidak banyak tahu tentang apapun di dunia ini. ‘Mungkin, inilah waktunya aku perlu belajar.’
“Apa yang kamu gumamkan, hah? Jangan membuatku marah lagi, kau tahu?” tanya Abram dengan perasaan sebal.
“Aku tidak mengatakan apa-apa, Tuan,” jawab Neron cepat. “Tuan boleh aku bertanya sesuatu?”
“Apa?”
“Kita sedang berada di mana? Apa hanya Anda yang berada di sini dan si Kodok? Apa Anda dewa ular?”
“Aku bukan! Dan, apa itu Dewa Ular ?”
“Anda tidak tahu dewa ular, bagaimana saya tahu tapi, tadi mata Anda seperti ular?”
“Bodoh!Kwok … itu Ilusi. Hal mudah untuk menakuti… kwok… mu… kwok!” Kali ini si Kodok yang menyahut karena terkadang terkena kejahilan Abram dengan menakut-nakuti siapapun yang dia suka.
Mendengar jika Taemu yang menjawab pertanyaanya, Abram bangkit dari kursinya setelah mengosongkan isi mangkuknya begitu juga si Katak, Taemu si cerewet mengikuti langkah tuannya. Makhluk yang tidak pernah membiarkan Abram sendiri ke mana pun. Makhluk setengah monster itu, sangat setia sejak mengenal Abram setelah sebelumnya dia diselamatkan dari ular raksasa yang akan menelannya hidup-hidup.
“Kalian mau pergi ke mana?” tanya Neron berjalan mengikuti dibelakang mereka. “Apa aku boleh mengikuti kalian?”
“Kwok! Tidak boleh.”
“Kenapa?”
Syutttt…. Tanpa di duga sebuah angin berhembus menerbangkan tubuh kurus Neron sampai menghantam tembok hampir beberapa meter sampai terdengar jeritan terendamnya. Setelahnya, Abram meliriknya dengan setengah lirikan. “Jangan lagi bicara apa? Kenapa? Mengapa atau hal laiinnya. Kamu tinggal di sini semua karena hukumanmu bahkan, aku bisa melemparku langsung ke hutan dan academi tidak akan peduli tetapi, karena rasa kasihan aku dengan baik menampungmu di sini tetapi, jika kamu terus mengganggu lain kali aku serius melemparmu ke sana.”
Neron mengangguk dengan lirikan mata takut-takut. Perutnya sangat sakit seolah dari dorongan angin itu berasal dan bisa membuatnya terpental. “Maafkan, aku.”
“Aku tidak butuh permintaan maaf.” Setelah mengatakan hal itu Abram dan Taemu benar-benar pergi menyisakan Neron seorang diri.
Menghela napas, akhirnya Neron bisa jatuh terduduk sambil memandangi yang lain saat berlalu pergi. Tidak hanya sambil menghapus keringat, setelah mengalami ketakutan dia juga tidak lupa mengkhawatirkan hal lain. Matanya berotasi memindai seluruh ruangan yang benar-sudah usang di makan usia. Entah sudah berapa lama tirai-tirai yang bergelantungan di bawah pilar tidak pernah dicuci. ‘Bukannya dia itu penyihir apa sulitnya menggunkan sihirnya untuk membersihkan seluruh castle.’
Mendesah berat, Neron kembali berdiri setelah mulai merasa tubuhnya jauh lebih baik. “Tidak apa-apa, ini lebih baik ,” ujarnya tenang sebisa mungkin sampai sebuah pikiran melintas. “Sampai kapan aku bisa berada di sini? Kepala sekolah tua itu juga tidak mengatakan berapa lama akan di sini? Eh, ah, bukannya satu atau dua bulan ya atau … tidak akan ke dunia tas lagi. Sendiri menemani penyihir itu dan kodoknya..aish,ah!”
Sambil berbicara sendiri, Neron memukul kepalanya karena gemas dengan kebodohannya. Melihat keadaan sekitar Neron, yang merasa akan tinggal di tempat itu mulai bergerak untuk melakukan sesuatu. Bangunan itu mungkin bukan castle yang sangat besar dan luas seperti di academi tetapi, itu sudah bisa dianggap lumayan. “Ok, di mana dulu aku harus mulai?” tanya Neron pada dirinya sendiri.
Yang pertama kali dia bereskan adalah tempat termudah. Yaitu, kain-kain kotor di atas langit-langit, dia menarik semua rumbai-rumbai warna-warni tersebut dan melemparkannya itu keluar halaman dan sekejap saja di dalam rumah menjadi penuh debu berhamburan tetapi, setelah mereda hal itu tidak terlalu buruk. Di dalam ruangan tampak lebih lapang dari sebelumnya.
Tidak sampai sana Neron mulai membawa ember dan mengepel seluruh ruangan utama terlebih dulu sebelum ke arah lainnya. Tidak lupa dengan kamar yang akan ditempatinya mulai sekarang. Semalam dia cukup sesak dan gatal-gatal tidak tahu diri karena dua makhluk itu hanya sekadar melemparkannya ke kamar ini tanpa melakukan pembersihan apapun. Beruntung dia hanya gatal-gatal biasa bukan alergi yang mungkin saja membuat dia mati.
“Lelahnya!” Neron menghapus keringat di keningnya. Bangga dengan hasil kerja kerasnya setelah memerhatikan seluruh ruangan yang memang masih kusam tetapi, tidak lagi seperti sebelumnya. Kruyukkk…kruyukk… “Perutku lapar, waktunya makan siang terlebih dulu atau aku bakal mati lemas di sini.”
Neron turun ke dapur mencari-cari bahan makanan yang bisa ia masak. Daripada itu sungguh sangat mengkhawatirkan banyak hal tidak tersedia bagaimana seseorang bisa bertahan hidup di sini. Neron itu sangat benci jika tidak bisa makan, dia sangat suka makan hidupnya untuk mengisi perut makanya, sedari kecil dia juga sangat tertarik memasak dan mulai membantu ibunya.
“Apa yang sudah terjadi di sini?!” teriakan itu terdengar dari luar ruangan. Abram dan Taemu yang baru saja datang dikejutkan dengan suasana rumah yang mereka tinggali tampak sedikit berubah meski, masih tampak kusam ini jauh lebih bersih sebelum mereka pergi.
Neron datang menghampiri dengan wajah kusut, terseok-seok. “Tuan Penyihir sudah kembali. Aku sudah melakukan apa yang kubisa meski, belum sepenuhnya lain hari aku akan lebih rajin tapi, sekarang yang paling penting. Aku sangat lapar! Tidak ada makanan yang bisa kumakan… apa kalian membawa hewan buruan? Kita bisa memanggangnya.”
“Kwok! Kamu banyak bicara…kwok! Tidak ada hewan di sini.”
“Kalau tidak ada hewan lalu, kamu itu apa?”
Splash! Dengan tampang marah yang tak bisa terlihat karena kulit seluruh tubuhnya berwarna hijau, Taemu baru saja melepaskan lidah panjangnya untuk memukul Neron yang baru saja membuatnya kesal.
Abram sendiri tidak peduli, dia melihat langkah Neron yang gesit dan bisa menghindar dari serangan lidah cepat Taemu. Padahal hewan-hewan tercepat di sini pun jarang sekali bisa melewati lidah panjangnya. “Taemu berhenti,” ujarnya melihat Taemu yang tidak bisa berhenti ingin menangkap tubuh Neron yang cekatan.
Neron terengah-engah lelah, hampir saja mati rasanya jika tidak menghentikan Taemu, Si Katak pasti bisa menangkapnya lalu menggulungnya sebelum dimasukan ke dalam tubuhnya meski, tidak yakin apa tubuhnya bisa masuk ke sana. “Uhuk…uhuk…a-aku h-hanya bercanda, Tuan Kodok. Maafkan akuuuu…” Tubuh Neron jatuh ke lantai saking lelahnya.
“Taemu, bawa dia ke ruang tamu. Aku akan memasak! Dia jatuh pasti sangat kelaparan.”
“T-tidak tidak, biar aku yang memasak,” usul Neron dengan setengah membatin, dia tidak bisa membiarkan si Penyihir ini memasak lagi atau tidak, dia tak akan bisa makan jika hanya tersedia sup rasa kobokan.
“Kamu memasak? Jangan bicara omong kosong darimana kamu bisa memasak.”
“A-aku yakin. Aku pasti bisa asal ada bahan-bahan yang tersedia di dapur,” jawab Neron percaya diri.
“Kamu yakin?” tanya Abram sambil mengerutkaan keningnya.
“Tentu saja, aku selalu disamping ibuku jika dia sedang memasak. Aku adalah asisten nomor satunya.”
“Tidak! AKu yang akan memasak dan kali kamu harus memakannya.”
“Tidak bisa ,aku saja yang memasak. Anda adalah tuannya, aku Cuma seorang tamu biar aku memasak.” Neron sangat menolak usulan Abram, dia dengan mudahnya memegang kakinya memohonnya dengan sangat untuk tidak memasak.
“Aish, menyingkir dari kakiku!”
“Ayolah, Tuan penyihir biar aku yang memasak! Berikan saja bahan-bahannya akan kubuat makanan itu enak.”
“Yah, bagaimana bisa aku percaya kamu bisa memasak? Lepas, aku saja yang memasak.”
Sang Kodok menjadi bingung, dua manusia di depannya tengah berlomba-lomba untuk bisa memasak sungguh aneh baginya yang cuman tahu cara makan. “Kwok, Kenapa kalian …kwo, tidak memasak berdua saja,Kwok … aku akan menunggu …kwok, kalian di ruang makan.”
Abran dan Neron langsung menoleh, mata mereka sangat tajam seakan bisa membelah angin. “Berani sekali kamu menyuruh kami, hah?” sahut mereka kompak.
“Kwok, aku …tidak, kwok!”
Akhirnya, jadilah keduanya yang berada di dapur. Memasak adalah kesenangan kecil bagi Abram selain membuat ramuan ajaib dan bertarung dengan para monster di dalam hutan sana jika, dengan memasak dia merasa bisa merasakan dunia atas sana. Puluhan tahun berlalu, dia tidak lagi tahu apa yang dia ingat tentang dunia sana kecuali, memasak. Entah, siapa yang mengajarinya saat itu tetapi, itu merupakan ilmu yang berharga baginya jadi, dia tidak perlu makan-makanan mentah lagi.
“Apa seperti itu?” tanya Neron dengan wajah tak percaya. baru saja Abram dengan asal memotong sayuran seperti wortel, lobak dan kentang bahkan tanpa mencucinya, mengupas kulitnya saja tidak. Betapa tidak hiegenis –nya dengan santainya langsung menjatuhkannya dikuali. “Bagaimana bisa memasak sup dengan cara seperti itu?”
“Memangnya apa yang kamu tahu? Lihat! Apa yang sedang kamu buat?”
“Ini bubur labu cuman ini … yang Anda beri tapi, lihat saja makanan ini lebih baik daripada punya Anda.”
“Bagimana bisa punyaku akan lebih enak dan kali ini aku akan menambahkan rempah yang membuat makanan seribu persen lebih enak. Aku dan Taemu akan menghabiskannya dan kamu hanya bisa melihat saja.”
Neron tidak lagi membalasnya, lebih baik dia pura-pura kalah dan membiarkan mereka makan-makanan itu sendiri. Melihat jika, Neron diam. Abram bangga karena merasa memang makanan yang dihasilkannya akan lebih baik dari sekadar bubur labu berwarna orange itu. “Aku belum bertanya apapun padamu, kan?”
“Yah?”
“Apa kesalahamu sampai kamu dilemparkan ke sini?”