Melihat Dunia yang baru

2166 Kata
“Apa kesalahanmu sampai dilemparkan ke sini?” Neron menoleh lalu, menunduk sambil mengaduk buburnya berpikir harus menjawab seperti apa. “Hm, jadi seperti itu … “ “Jadi seperti apa? Apa kamu membakar jengggot marlin Demian,hah?” “Demi—an? Itu nama kepala academi. Kenapa Anda menyebutnya dengan santai?” “Terserah aku, aku bisa memanggilnya sesuai keinginanku.” “Oh.” “Jadi, kenapa kamu dihukum?” tanyanya lagi masih penasaran. Otak Neron masih kosong, dia tidak tahu bagaimana jika jawabannya kali ini juga bisa menghancurkan nasibnya kedua kalinya tetapi, tidak ada untungnya jika kali ini berbohong. “Aku…aku masuk tanpa undangan j-juga … aku tidak punya Mana yang berarti tidak bisa menggunakan sihir.” Abram terpaku, matanya melihat bocah di depannya lamat-lamat dalam hati tengah berseru tidak percaya. Ada manusia bodoh yang tidak punya kekuatan sihir berani masuk sarang sihir. “Apa kamu memang siap mati, hah?” “Tentu saja tidak!” salak Neron, bibir mencebil marah sekaligus ketakutan bakalan mati. “A-apa aku bakalan mati, Tuan?” “Kamu pikir, kenapa kamu dilemparkan ke sini sebagai hukuman?” Tentu saja Neron tidak tahu kenapa dia dilempar ke sini bukannya dikembalikan lagi ke Fugheri saja. Neron menyuap sesendok bubur labunya meski, sedikit panas itu tidak buruk sama sekali daripada sup buatan Abram yang benar-benar kacau dan rasanya Neron jamin semakin tak jelas. “Tuan, boleh aku bertanya?” “Apa?” jawaban Abram sedikit kasar entah, kenapa setelah dia melihat apa yang di makan Neron meski, hanya bubur labu tapi,wanginya cukup enak berbeda dengan sup yang dibuatnya, kenapa hanya wangi tak jelas yang tercium. “Apa ada orang lain yang dihukum dijatuhkan kemari selain aku?” “Tentu saja…kwok!” Abram ikut mengangguk tetapi, matanya sulit diatur sangat menghianati dirinya berkali-kali mengintip mangkuk makan Neron. “Buat apa kamu menanyakan mereka? Apalagi mereka dihukum hanya karena terlalu nakal. Tidak ada yang lebih dari tiga hari dan sepertinya keputusan Taemu untuk membawamu ke sini tepat …karena kamu gak akan bisa bertahan hidup satu hari pun di hutan sana.” Neron menghela napas. “Sepertinya begitu, aku sangat berterima kasih pada kalian berdua jadi, … maukah kalian makan bubur labu buatanku anggap ini sebagai hadiah karena kalian sudah menyelamatkanku,” ujarnya bukan tanpa sebab, karena Neron yakin jika, Abram maupun si Kodok besar dari tadi terus melirik ketel bubur labunya. “Kwok, benarkah?” “Tentu saja, lihat. Bubur labu buatanku cukup banyak jika, kalian tidak kenyang boleh makan bubur buatanku ini.” Neron sudah bergerak ke arah ketel buburnya, melihat isinya yang dirasanya cukup untuk mereka berdua. Di bawanya dua mangkuk baru yang diserahkannya pada mereka berdua. Taemu, si Kodok tidak ragu untuk mengambil mangkuk yang disodorkan Neron. Abram bertindak hati-hati dan seolah dirinyalah yang bermurah hati. “Oke, ini untuk kebaikan kami dan keberuntunganmu.” “Oke!” jawab Neron bersemangat dan tidak salah lagi bubur buatannya lebih baik daripada sup ‘asal’ buatan Abram. Mereka juga akhirnya bercerita hanya ada beberapa orang yang pernah dilemparkan ke balckfog, itupun tidak semuda Neron. Mereka lebih tua dengan kemampuan sihir memadai sehingga, mereka bisa bertahan sampai diketemukan olehnya. Bahkan, tidak jarang pernah ada yang juga mati karena serangan monster. Kesalahan mereka pun tidak ada yang separah dan segila Neron. Orang-orang itu dihukum hanya karena terlalu mengganggu atau sekadar melakukan kekerasan yang tidak bisa dicegah lagi oleh para pembimbing biasanya dan mereka pun tidak akan berada di Pulau ini terlalu lama. Sedangkan, Neron masih harus berpikir dengan nasibnya. Apa yang akan terjadi padanya dan berapa lama dia harus di sini, tidak ada yang dia tahu. Jika mengingat hari ketika dia di introgasi rasanya sangat menakutkan meski, tidak sampai membuatnya mati berdiri. Hanya sosok Demian Obligate dalam benak Neron masihlah sosok yang berkharisma dan tegas. Sorot matanya tajam tetapi, juga memancarkan rasa hangat dan belas kasih begitu juga sosoknya yang tengah berdiri tegap bagai titan meski, ciri-ciri menua sudah terlihat tetapi tidak meninggalkan sisi kerapuhan sama sekali. “Bagaimana kamu bisa masuk kemari?” Pertanyaan langsung yang membuat Neron menahan napasnya. Memikirkan berapa banyak dan berat hukuman yang diterimanya jika, sejak awal dia melakukan kesalahan dari awal dengan mencuri. Neron akhirnya memberanikan diri untuk bicara, sayang ternyata hanya bibirnya yang bergerak tanpa mengeluarkan suara. Demian masih sangat sabar dengan tenang menunggu lalu, dia merubah pertanyaanya . “Untuk apa kamu datang ke mari? Apa kamu ingin belajar atau ada hal lain yang kamu cari di sini?” Neron menelan ludah, pikirannya masih berputar-putar tetapi dia ingat dengan kata-kata Marvella jika, alasannya datang untuk bertemu gadis itu bukan cuma dia tetapi juga Marvella akan terseret. ‘A-aku sangat ingin bisa menggunakan sihir… mungkin saja aku bisa melakukan hal itu jika belajar diam-diam di sini.’ “Kamu yakin dengan jawabanmu?” “I-ya!” kali ini Neron mengangguk cepat dan kuat. “Bagaimana kamu bisa belajar di sini jika, kamu sendiri tidak mempunyai Mana? Bukankah kamu sudah tahu tentang hal itu?” “Ya, aku sudah tahu tapi, … aku masih ingin bisa menggunakan sihir!” “Anak ini tidak berotak sama sekali,” sahut seorang guru pria dengan kacamata bulatnya, dia bertumbuh pendek dan botak. “seharusnya kita langsung lempar dia ke area terlarang sangat merepotkan untuk menginterograsi anak tidak berguna seperti dia.” “Sir Edmund, Anda bisa beristirahat terlebih dulu begitu juga yang lain … tidak ada yang melarang kalian untuk pergi! Biar aku sendiri, yang menginterograsinya.” Begitulah jawaban tenang dari Demian sang HeadMaster yang akhirnya membuat semua guru bungkam. Tidak berkasak-kusuk dan tidak menunjuk-nunjuk Neron si Pelaku kesalahan. “Maad, Master! Aku hanya tidak mengerti dengan jawaban bodohnya. Kita semua bahkan, orang awam tahu jika tidak ada yang bisa menggunakan sihir tanpa Mana dalam dirinya.” “Aku juga tahu, sir Edmund tapi, tidak ada yang salah jika anak ini bertekad untuk mempelajarinya … kita bahkan, belum melihat apa yang terjadi.” “Master!” Semua orang tampak terkejut dengan jawaban Demian, seolah dia sama sekali tidak keberatan dengan ada anak lain yang tidak punya kekuatan tinggal di academi dan ternyata bukan hanya mereka tapi, juga Neron sendiri. “Yah, aku akan membiarkan dia tinggal selama satu tahun pertama sebagai uji coba jika, dia tidak berhasil! Dia akan pergi… “ “Master, itu tidak mungkin!” “Tapi, sebelumnya aku akan menghukumnya karena sudah lancang memasuki Academi tanpa undangan resmi! Dia akan dihukum di pulau Blackfog.” Setelah itu ingatan Neron terhantam oleh ketakutan mendengar dia akan di hukum, dia hanya bisa pasrah dan tidak tahu apa-lagi yang dikatakan para oran tua itu. sungguh sangat tidak jelas, hatinya masih bertanya-tanya apa dia bisa tinggal di academi setelah waktu hukumannya selesai. “Aku selesai!” Abram mengahabiskan bubur labu buatan Neron tak bersisa, dia harus mengakui jika makanan yang dibuat anak itu memang sangat enak. Perutnya sangat nyaman lebih dari sebelumnya. “Aku akan pergi bekerja. Jangan ada yang menggangguku … kamu, Taemu! Tidak boleh ada yang mendekat keruanganku.” “Baik/Kwok,” jawab mereka serempak. Setelah melihat kepergian Abram, Neron berbalik pada Taemu. “Tuan Kodok, aku ingin tanya? Sebenarnya Tuan Abram itu penyihir apa?” “Kenapa, kamu …kwok! Ingin tahu …kwok?” “Memangnya kenapa aku tidak boleh tahu?” “Kwok! Jangan balik bertanya…kwok.” “Apa dia setua … Master Demian?” “Kwok! Aku tidak tahu ..kwok.” Setelah mengatakan itu Taemu si Kodok berbalik, meloncat-loncat pergi tidak mau lagi mendengar hal lain dari Neron. “Yah, Tuan Taemu …Anda mau ke mana? Bekas peratalan kalian siapa yang mau mencucinya? Apa harus aku lagi?” Berapakali pun Neron berseru Tuan kodok itu sama sekali tidak berbalik. “Benar-benar tidak berguna, apa si Kodok itu cuman bisa makan. Tuan Abram baik sekali, selalu berbagi makan dengannya sedangkan kodok itu, kan tidak punya tangan untuk mencuci piring... hah. harus aku lagi yang membersihkan." ** Pagi hari, di Wilayah Blackfog tidak ada sinar matahari yang biasanya akan bersinar dengan hangatnya. Di wilayah ini malam menjadi sangat dingin begitu juga di pagi hari bahkan, kabut hampir menutupi semua wilayah dan semua pandangan ke depan tidak bisa lebih dari setengah meter. Cuaca akan sedikit lebih baik di siang hari dan akan lebih baik lagi di musim panas. Neron saat ini bangun dengan keadaan sangat menggigil tidak ingin melepas selimut apeknya. “Bocah, kamu belum bangun?” “Oh,Tuan,” sahut Neron sambil setengah duduk dan melihat si Penyihir Blackfog dari ranjang hangatnya. “Ada apa? Rasanya hari ini aku tidak bisa bangun, cuaca hari ini lebih dingin dari kemarin.” “Nanti, kamu akan terbiasa cepat bangun! Kita memasak lagi.” “Aku tidak mau memasak, masih terlalu pagi …nanti saja sedikit lebih lama,” jawab Neron sambil meringkuk lagi. “Yah! Bocah , aku menyuruhmu bangun!” kali ini Abram berteriak keras, memangnya siapa Tuan di sini. Kenapa dia harus mendengarkan bocah bodoh yang sedang kena hukuman itu. “kalau tidak aku akan menyihirmu jadi batu, yang akan terus berbaring di atas ranjang sana.” Mendengar ancaman Abram baru Neron bersedia bangkit dengan keadaan sedikit panic. “Baik-baik, Tuan Abram aku bangun!” “Bagus! Cepat pergi ke dapur ajari aku memasak bubur labu seperti kemarin.” Dibelakang langkah Abram, Neron menghela napas lelah. Kemarin dia benar-benar sibuk berbenah rumah juga memasak makan malam lalu, mencuci bekas peralatan masak dan di malam hari dia kesulitan tidur karena terlalu banyak suara-suara binatang malam yang mengganggu termasuk suara dengkuran si Tuan Kodok, Taemu yang hampir terdengar sampai ke penjuru rumah. Pagi itu mereka kembali makan bubur labu buatan Neron, yang hari ini ditambah dengan roti bantal yang masih keras saat dikunyah, entah dari mana mereka mendapatkannya Neron tidak peduli. “Kami mau pergi ke hutan? Kamu bisa tinggal di sini terserah mau melakukan apa tapi, hati-hati jangan pernah mendekati kamarku…mengerti!?” “Aku tahu tapi, apa boleh aku ikut ke luar saja? Sepertinya hari ini aku malas untuk bersih-bersih.” “Kwok, untuk apa ikut? Kwok…kamu tidak akan bisa melakukan apapun.” “Meski tidak bisa melakukan apapun, aku kan perlu tahu seperti apa diluar sana.” “Terserah, kalau mau pergi bersiaplah!” “Tuan!” “Diam, Taemu! Bocah itu sebenarnya sedang dihukum … untuk apa dia hanya tinggal di rumah, dia harus menjalani hukumannya dengan melewati semua rintangan di hutan ini.” Ketika melangkah ke hutan berkabut Neron segera menjadi was-was jarak pandangnya benar-benar menjadi sempit dia harus berjalan terseok-seok takut jika langkahnya akan membuatnya terjerembab. “Apa kalian tidak apa-apa? Di sini sangat berkabut… Tuan Abram, Tuan Taemu!” “Kwok! kamu berisik sekali, Kwok.” “Sebentar lagi kabut bakal menghilang jadi, nanti kamu bisa melihat lebih jelas.” Abram dengan baik hati memberi perhatian pada Neron. Dan, benar saja tidak sampai setengah jam cuaca mulai berubah. Kabut yang tebal mulai memudar dan menghilang sedikit demi sedikit. Senyuman puas terukir di bibir Neron ketika pandangannya terbuka melihat alam sekitar yang luas. “Ternyata hutan itu seperti ini?!” Pepohonan begitu rimbun, di setiap ujung daun menetes air embun yang bening. Baru sekarang saat itu juga Neron bisa mendengar suara air terjun yang bersahutan dengan suara burung, sayang pemandangan indah itu hancur tiba-tiba saat terdengar suara auman keras dibarengi pekikan kuat suara binatang lain. Tanah yang mereka pijak pun sedikit bergetar. “Apa itu?” tanya Neron takut-takut dan berjalan mendekati Tuan Abram. Abram dan Taemu pun sama-sama waspada tetapi, tidak tampak panic seperti wajah Neron. “Sepertinya ada Monster binatang yang sedang bertarung.” “Kita harus bagaimana? Apa mereka akan melukai kita?” “Kwok! Bodoh… tentu saja, Kwok! Jika kamu mendekat,” sahut Taemu sedikit menyebalkan. “Tenang saja, kita akan pergi ke arah lain,” jawab Abram sambil berjalan ke arah jalan tertentu menyembunyikan smirknya. “Tuan,Kwok! Tuan… Tuan! Itu bukan jalan arah yang benar.” Bingung Taemu melihat ke arah mana tuannya berjalan tetapi, setelah itu dia tidak keberatan dan berjalan mengikuti. Neron pu melakukan hal yang sama, dia tidak ingin kalah cepat mengimbangi langkah lompatan Taemu si Kodok juga langkah panjang dan cepatnya Tuan Abram. “Kenapa kita kemari, bukannya kita mau menghindari monster?” tanya Neron saking terkejutnya melihat pemandangan di depan. Mereka bertiga, berlindung di balik pohon paling lebar yang bisa menyembunyikannya dengan Abram sedangkan Taemu berdiri di balik pohon sendiri. “Kwok! Haha… kenapa harus menghindar kwok!” Neron tidak sanggup menjawab meski, jantungnya berdebar kencang tetapi hatinya juga terpukau melihat dua binatang raksasa macan tutul dan ular raksasa tengah bergelut di tanah saling menerkan dan melukai. Setengah merendam suaranya Neron beberapakali terpekik terkejut saat mendengar salah satu dari dua binatang itu mendapat serangan. “Bagaimana perasaanmu? Apa kamu sangat ketakutan?” tanya Abram seolah tengah meneror mental Neron. Neron sedikit terengah, karena melihat pertempuran dua monster itu. mendengar pertanyaan Abram, Neron berhasil mengalihkan perhatiannya. “Sedikit tapi, apa mereka tidak akan menyerang kita karena berdiri di sini?” “Nikmati saja! Pertunjukan yang lebih baik akan muncul.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN