Saat ini dua orang yang hendak berduel sudah berdiri di atas panggung berbentuk kotak dengan ukuran 4x4 kubik, lantainya terbuat dari marmer yang mengkilap dengan setiap ujung terdapat panji ramping di mahkotai tanda empat element utama sihir seperti Air, Api, Angin dan Tanah. Semua hal itu kini membentuk garis melintang di setiap sisi panggung jelas, mencegah orang lain untuk masuk dan mengganggu duel.
“Kalian sudah siap?” tanya Willian, remaja berjubah hijau itu dari luar area pertarungan. “Ingat hanya tiga kali serangan yang bisa dilakukan, orang yang terpukul lebih banyak adalah yang kalah. Satu lagi tidak diizinkan untuk melukai sampai membahayakan nyawa lawan… anggaplah ini duel persahabatan.”
Bibir Neron sungguh gatal, entah keberanianya sebesar apa tiba-tiba saja tangannya terangkat begitu saja. “Aku ingin bertanya?” ujarnya lantang sambil menyembunyikan wajahnya di dalam jubah kusam miliknya.
Suara besar Neron benar-benar cukup untuk menarik perhatian semua orang bahkan, Sir Mony yang tengah duduk bersantai dengan tangan yang memegang cangkir sampai lupa untuk meminum minumannya. Matanya jelas mengikuti arah asal suara milik Neron.
“Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Willian masih penuh senyum dan kesabaran seolah tidak terganggu dengan suara Neron yang menyelanya.
“A-aku hanya ingin bertanya? Untungnya dari duel ini bagi kami yang baru saja datang? Apa itu penyambutan atau hanya ingin menjadikan kami tontonan bodoh saja karena tidak bisa melawan senior kelas tinggi? Atau mencari musuh setelah dari kami bisa mengalahkan salah satu dari kalian.”
‘Bagus, Neron! Pertanyaan bagus! Jika dengan hal ini selamat … kamu tidak akan terekspos!’ ujar Neron dalam batinnya yang puas dengan kepasihannya berbicara yang jarang sekali terjadi.
Begitu mendengar pertanyaan Neron, banyak diantara mereka pun mulai berbisik dan bertanya-tanya keharusan mereka untuk berduel. Bukankah sudah jelas mereka datang untuk mulai belajar dan berlatih sihir, bukan untuk langsung berduel dan terluka pada akhirnya. Belum lagi mereka baru saja sampai dan perjalanan ke sini sudah cukup melelahkan dan menguras energy. Ditambah rasa lapar yang akan semakin mengikis tenaga mereka … di mana mereka bisa menang jika seperti ini!.
Bagaimana menjawabnya? William sendiri malah tertegun. Ada siswa baru yang mempertanyakan keputusannya dia sebagai Student Council President untuk melakukan hal ini saja dia sudah mempersiapkan baik-baik beberapa bulan lalu. Baginya tidak ada yang salah dengan melakukan duel untuk menyambut anak-anak baru saat pertama kalinya dia masuk senior-senior lain pun melakukan hal sama. Ini juga bagus untuk mengukur seberapa besar dan banyaknya kekuatan para Junior.
“Apa maksudnya itu, setiap tahun kita melakukan hal ini? Tidak akan ada yang bertanya, semuanya patuh,” sahut William akhirnya. Kemudian dia juga melihat Sir Mony yang sedang minum dengan santainnya seolah tidak terganggu dengan apa yang dilakukan murid-muridnya. “ Sir?!”
Sir Mony meletakkan gelas minumnya dengan santai meluruskan pakaiannya terlebih dulu. “Seperti yang sudah-sudah duel ini hanyalah bentuk pertandingan persahabatan juga perkenalan yang intens antara senior dan Juniornya. Setelah pertandingan, yang menang tidak bisa terlalu bangga dan yang kalah tidak usah menyimpan dendam… semua orang jangan terluka terlalu banyak karena setelah ini akan ada pertemuan dengan kepala academi dan para staf guru lainnya.”
William puas, dia bisa tersenyum lagi dan melempar tatapan bangga pada para Junior-nya. “Kalian sudah mendengarnya!? Duel ini hanya sekadar pelatihan untuk kita semua, tidak perlu dijadikan beban hanya lakukan dengan santai. Jadi, ayo, mulai!”
“Tunggu dulu!” Neron masih belum puas, dia masih cukup khawatir harus beradu duel seperti ini. Bagaimana dia bisa menunjukkan kemampuannya.
“Yah! Kamu sangat mengganggu sekali, aku sudah ingin bertanding jika, kamu tidak mau bertanding diamlah dan jangan mengganggu. Dasar pengecut!” Kali ini kata-kata itu keluar dari mulut Tulois, yang sudah berdiri di depan panggung jelas menunjukkan wajah kesal.
William mengabaikan kemarahan Tulois. Dia juga sama kesalnya karena terus diganggu tetapi, demi imej sebagai President Counsil yang baik hati juga toleran tidak mungkin dia bersikap kasar seperti yang dilakukan Tulois barusan. “Jadi sekarang apa lagi?” tanyanya sambil mengangkat dagunya pada Neron.
“Kami di sini banyak apa harus satu persatu duel? Lalu, kapan selesainya?”
“Iyah, itu akan memakan waktu lalu,”ujar anak-anak lain yang mulai saling menyahut.
Di balik tudungnya Neron tersenyum puas tetapi, juga mendongak melihat sisi Tulois. Orang itu terlalu menyebalkan untuknya berharap dia bakal kalah dan tersungkur di atas panggung sana. ‘Bocah sombong! Harusnya mulutmu dijahit saja jika, membuka mulut saja sudah sangat busuk.’
William menggaruk rambut di kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal dan diam-diam melirik Sir Mony. Takut gurunya akan marah karena situasi ini. Jujur saja baru pertama kali ada seorang murid baru yang terus-menerus mengintrupsi kegiatan gelaran penyambutan padahal tahun-tahun sebelumnya tidak pernah ada murid baru berani membuka mulutnya hanya untuk protes ini-itu. “Kegiatan ini tidak akan memakan waktu lama juga, bukankah jelas yang berduel hanya bisa menggunakan tiga tricknya … lalu, yang merasa tidak bersedia untuk berduel. Tidak perlu melakukannya.”
Jantung Neron berdetak kencang menunjukkan kepuasan setelah mendengar kalimat William diakhir. Jika sudah seperti itu tentu saja dia tidak perlu ikut berduel jadi, kali ini Neron tidak lagi berbicara. Begitu juga anak-anak lainnya, melihat hal itu juga William bisa memusatkan lagi perhatiannya lagi ke atas panggung tetapi, yakinlah dalam hatinya dia sudah menandai Neron secara diam-diam.
Ternyata, Bukan hanya William ada juga Fred yang tersenyum senang melihat Neron sejak tadi sedangkan, satu orang lagi adalah Marvella. Sejak mendengar suaranya di awal dia sudah cukup curiga karena tentu saja pemiliknya bukanlah orang asing meski, tidak melihat jelas karena Neron menyembunyikan wajahnya dengan tudung tetapi hanya dengan melihat postur tubuhnya juga suaranya. Marvella bisa menebak-nebak siapa anak laki-laki itu.
‘Neron seharusnya dia Neron tapi, kenapa dia ada di sini? Apa yang mau dilakukannya?’ Marvella bertanya-tanya dalam hati dengan perasaan sedikit khawatir. ‘Jangan bilang dia nekat hanya karena aku minta putus darinya? Apa dia sudah gila? Apa yang akan dilakukan Academi pada seorang penyusup? Oh, Neron kamu sudah buat masalah besar!?’
Percaya atau tidak Marvella merasakan perasaan was-was jika sesuatu terjadi pada Neron kemungkinan dia juga akan terseret. Karena mungkin saja jika, bukan karena dia, Neron tidak akan nekat untuk berada di sini. ‘Sial! Neron kumohon jaga dirimu dan mulutmu itu nantinya—‘
Bugh!
Terdengar suara tubuh menghantam lantai cukup keras untuk menarik perhatian semua orang. Tulois baru saja mendapat serangan sihir element tanah, dia terpental cukup jauh setelah terjadi sapuan gelombang tanah di bawah kakinya. Ternyata lawannya adalah pemilik mana sihir tanah, Dulos. senior dua tingkat di atasnya. Jelas, bukan lawan yang bisa diremehkan anak baru macam Tulois yang sombong dan bahkan, dirinya sendiri masih harus mengontrol sihirnya menggunakan tongkat sebagai perantara.
Di dunia ini, Inti Mana merupakan dasar setiap orang untuk bisa menggunakan sihir dan akan mengontrolnya seperti apa. Mana ini berada dipusat tubuh seseorang, lapisan dasar Mana adalah warna putih. Sebagai lapisan utama yang bisa berubah sesuai kemampuan si Pemilik Mana untuk menyerap element apa yang bisa dikelola tubuh. Jika itu si Pemilik sihir element tanah maka, Mana dalam tubuh akan berubah menjadi hijau. Element Api menjadi merah, Air menjadi Biru dan Angin menjadi abu-abu.
Kemampuan menyerap element sihir tidak bisa tergantung, apa yang diinginkan diri sendiri tetapi, melalui kualifikasi Mana yang tercipta di dalam tubuh dan hal ini pun termasuk dari gen yang diberikan orang tuanya dan untuk memperkuat sihir itu sendiri adalah dengan pembudi dayaan diri sendiri serta tentu penting tentang kualifikasi tubuh. Seorang penyihir yang sudah berada di level tiga dengan budi daya yang kuat mereka tak perlu lagi menggunakan tongkat, cukup hanya dengan ujung jari atau seperti Duron, dia hanya perlu menginjakan kakinya ke tanah kekuatannya sudah terkonsentrasi di sana dan gelombang kekuatanya muncul.
Berbeda Tulois baru saja mencapai level ke dua tipe angin meski, dia anak marquis yang bisa saja memiliki cara untuk membudidayakan kekuatannya selama lima tahun ini ternyata, itu tak cukup karena kualifikasi tubuhnya yang rendah di tambah sifat malasnya untuk berlatih. Belum bisa ia melancarkan sihirnya, dia sudah terpelanting jauh dengan seperti ini cukup mengkonfirmasi dia sudah kalah hanya dengan satu tembakan.
Neron sedikit terperangah, melihat apa yang terjadi di atas panggung. Dia jadi teringat Oris temannya itu pasti tidak akan mudah dikalahkan hanya dengan satu trick seperti itu. Neron tahu, Oris sudah mencapai level tiga di usianya yang masih sangat muda. Bakatnya sangat luar biasa bahkan, ayah maupun ibunya tidak keberatan saat mengajarinya beberapa ilmu mantra untuknya. Dan, seharusnya Neron tidak lupa jika Oris Darel temannya itu mendapatkan undangan khusus karena bakatnya juga.
Beberapa waktu berlalu, semua orang pun tampak terkejut hanya dalam satu serangan Tulois sudah kalah setelah itu terdengar tepuk-tangan dan seruan kemenangan. Neron hanya dengan malas bertepuk tangan sambil memutar bola matanya seolah mencibir, bukankah sejak dari awal sudah terlihat kekuatan mereka tidak seimbang tetapi, Neron yakin jika Oris yang berdiri di atas panggung sana dia tidak akan mudah kalah.
“Ini tidak adil! Bagaimana bisa sebelum aba-aba dia menjatuhkan serangan?” Tulois bangkit berdiri dengan susah payah punggung juga bokongnya yang paling banyak terkena dampaknya. Dia jatuh terlentang membentur lantai. Itu menyakitkan tetapi, yang paling sakit adalah menahan rasa malu hanya dengan satu spuan seperti itu dia kalah. Tulois tidak mau mengakuinya.
“Terus kamu mau apa?” Baru kali ini Duron mengeluarkan suaranya. Dia menatap Tulois dengan datar dan dingin sangat tenang. “bertanding lagi?”
Tulois meremas tangannya yang sedang memegang tongkat sihir, berpikir keras. Tidak mau kalah tetapi, dia juga lawannya lebih kuat dari dia. ‘Tapi, jika bisa menyerangnya sekali saja itu tidak akan terlalu memalukan … orang masih akan berpikir aku mampu berjuang melawannya. Jika, kalah seperti ini akan sangat memalukan.’
“Ayo bertanding satu kali lagi! Kupastikan aku akan menyerangmu terlebih dulu,” ujar Tulois sudah mengambil keputusan.
Bodoh!
Neron tidak tahu sebodoh apa orang di depannya tetapi, dia cukup senang bisa melihat anak sombong itu terluka dan kalah berkali-kali. Kali ini, melihat jika Tulois sudah bersiap mengacungkan tongkatnya, Neron juga mulai ingat dengan miliknya sendiri. Entah kenapa dia juga cukup penasaran, selama ini dia tidak pernah memegang tongkat sihir.
Di bukannya tas ransel usangnya. Mengeluarkan sebuah kotak biru yang penyok dan lecet di mana-mana, dibukannya. Neron menemukan tongkat kayu berwarna hitam pekat sangat ringan ketika di genggam. Tidak pernah ada mantra atau apapun tentang sihir yang dipelajarinya kecuali hal-hal yang pernah terlintas di depan matanya. “Aku benar-benar bodoh,” bisik Neron sambil memukul kepalanya sendiri.
Saat ini ada hal yang disesali Neron ketika melihat tongkat kayu sihir ditangannya itu. Dia lupa jika ada tongkat sihir yang juga bisa dipakai oleh orang yang tidak memilili Mana … harganya cukup mahal tetapi, juga cukup efektif untuk orang-orang biasa. Tongkat itu sendiri sudah dialiri mantra juga mana sehingga bisa dipanggil begitu saja meski, hanya untuk dua kali pemakaian. Bahkan, penggunaan tongkat sihir yang paling mudah pun ada.
“Kenapa juga aku harus membeli tongkat sihir murni ini? Padahal jika aku beli yang palsu … mungkin saja bisa memperlihatkannya sesekali pada orang-orang bisa membuatku lebih aman di sini. Sekarang aku harus apa? Hah!?” gumam Neron, sibuk dengan dirinya sendiri tidak memerhatikan jika sekali lagi Tulois sudah kalah untuk kedua kalinya.
“Ouh, dia kalah lagi!”
“Kalau dia kalah memangnya kamu bisa menang kalau melawan senior itu, hah?” sahut remaja di samping Neron yang mendengar kata-katanya barusan, orang itu juga melirik dengan matanya penuh cibiran. “Dia sudah cukup berani melawan seorang senior pergi ke depan meski, kalah. Tidak seperti seseorang yang bisanya banyak bicara omong kosong dan sangat jelas seorang pengecut.”
“Bukankah mulutmu juga terlalu banyak bicara omong kosong, kamu juga pasti sorang pengecut.”
“Apa kamu bilang?”
“Aku bilang sesame pengecut diamlah!” Neron tidak mungkin akan kalah dengan kata-kata seperti itu, dia tidak bisa membiarkan dirinya direndahkan meskipun, dia memang hanya anak biasa.
“Aku akan maju ke depan setelah ini? Bagaimana denganmu?” tantang anak itu tiba-tiba.
Neron tercengang, otaknya tengah berpikir dengan keras. “A-aku ….”