Marvella!

2074 Kata
Sesuai apa yang dikatakan Fred sebelumnya, seorang penjaja itu datang begitu saja. Dia menggunakan pakaian khas dan topi bundar merah dengan senyum ramah lalu mengucapkan beberapa kata seperti ‘selamat datang’ untuk mereka dan mulai menawarkan makanan-makanan ringan yang di bawanya sampai penjaja itu berkeliling, Neron sama sekali tidak terganggu. “Apa anak disebelahmu itu tidak ingin membeli sesuatu?” Fred menoleh pada Neron saat ditanyai hal itu. Dia sendiri sudah membeli beberapa roti manis dan minuman untuk dia makannya. “Dia bilang tadi, dia lapar tapi,… dia tertidur susah dibangunkan.” “Oh, baiklah!” “Apa harus kubelikan saja?” tanyanya pada si Penjaja. “Terserah, tidak apa-apa membelikannya lalu, minta ganti uangnya nanti padanya.” “Kau yakin, dia akan mengganti uangnya?” tanya Fred lagi, kali ini dia melirik Neron yang sedang membuka mulutnya. “Tidak tahu, sudahlah aku pergi!” Bosan si Penjaja yang langsung menghilang begitu saja. Akhirnya, Fred juga mengangkat bahunya tidak peduli lalu mulai membuka salah satu roti manisnya melahapnya sampai habis. Sampai Fred menghabiskan makanannya barulah Neron kembali membuka matanya. Tubuhnya terasa pegal-pegal setelah tertidur dengan hanya bersandar dibangku saja. “Aaah, leherku sakit sekali!” keluhnya sambil memegangi lehernya yang sejak tertidur terkulai ke samping. “Akhirnya, kamu bangun juga.” “Fred, leherku sakit. Kamu bisa memijitnya?” Bugh! Tanpa berkata-kata Fred langsung memukulkan buku tebal di tangannya kena bahu Neron. “Aku bukan pembantumu.” “Aish,” desah Neron kecewa, dia hanya bisa melenturkan lehernya sendiri. Tak lama hidungnya mengendus sesuatu yang manis, dia juga melirik teman barunya Fred menelitinya dari atas ke bawah. “Aku mencium bau roti manis? Fred, kamu menyembunyikan makanan, kan sampai aku tertidur?” “Aku tidak menyembunyikannya, aku baru saja membelinya setelah kamu tertidur, aku sudah mencoba membangunkanmu, Neron tapi, kamu tidak bangun sama sekali.” “Hah? Kamu beli di mana? Aku semakin lapar sekarang?” “Tidak ada lagi, penjualnya sudah menghilang…sebelum tidur aku sudah memberitahumu tapi, kamu tidak mau dengar.” Neron menghela napas dengan wajah menunduk lesu. “Kalau begitu kapan kita sampai? Apa kita bisa langsung bisa makan malam?” Fred menggeleng. “Tidak tahu peraturan selalu berubah-ubah tapi, benar-benar jangan khawatir tidak lama lagi kita akan sampai.” ** Dan benar saja tidak butuh waktu dari satu jam kereta kuda itu mulai melambat dan berhenti di sebuah padang rumput di mana dari tempat tersebut sudah terlihat sebuah bangunan besar dan luas layaknya castle istana. Entahlah ini juga pertama kalinya Neron melihat bangunan mewah seperti itu, sudah terlalu lama dia hanya tinggal di sebuah dusun di bawah lereng dan hanya bepergian ke kota-kota kecil disekitar wilayah tanpa pernah datang ke pusat kota di mana istana kerajaan berada. Neron turun dengan wajah sedikit tak percaya, dia menarik jubah Fred bertanya padanya, “Apa bangunan di sana itu Academi yang akan kita masuki?” “Yah, kamu baru melihatnya, kan? Sebentar lagi kamu bakal memasukinya di sana bukan hanya sangat luas dan mewah. Bersekolah di sana menyenangkan sekali banyak hal yang akan kita pelajari.” “Sungguh?” “Tentu saja.” “Nadamu aneh, seperti … kenapa rasanya kamu sudah bersekolah di sana?” “Memanga, aku ini sudah jadi murid tingkat dua.” Mulut Neron membulat, tidak percaya. Dia hanya mengira Fred sepertinya, hanya seorang murid baru. “Kamu sungguh murid tingkat dua?” “Iya, kamu tidak tahu? Lihat!” Tunjuknya pada jubahnya yang sebenarnya jelas berbeda. Tidak seperti yang dimiliki Neron adalah hitam, sedangkan jubah milik Fred itu warna coklat. “Sekarang aku tahu.” Fred tersenyum lebar, “aku akan pergi duluan! Kamu ikuti Tn. Mony dari sini. Aku akan pergi ke arah berbeda,” ujar Fred cepat sambil berjalan dan melambaikan tangannya untuk segera menjauh. Neron masih berdiri di tempatnya sampai melihat Fred menghilang di tengah kegelapan. Melihat sekitar ini sudah cukup petang, matahari sudah sejak tadi tenggelam jadi, penerangan yang ada hanya bola lampu yang melayang di sudut-sudut lapangan dan yang paling terang tentu saja bangunan academi yang tampak tinggi dan megah di sana. “Semua anak baru berkumpul di sini!” Sebuah seruan terdengar di semua penjuru lapangan. Neron dengan segera mengikuti asal suara dan sebisa mungkin menyembunyikan keberadaannya karena entah apa perasaanya mulai was-was seolah sesuatu akan terjadi. Melihat puluhan anak-anak remaja seusianya berkerumun. Neron masih takjub dengan banyaknya orang memiliki bakat sihir dan mungkin cuman hanya dia di antara mereka yang tidak punya bakat sungguh, sangat membuat iri hati. ‘Ternyata banyak sekali murid di sini… sepertinya semua orang berasal dari seluruh negeri.’ Diam- diam kali ini, Neron memerhatikan semua orang. Kali ini semua orang masih belum menggunakan jubah resmi academi, mereka masih menggunakan pakaian yang mereka pakai dari rumah. Jika, seperti ini Neron cukup bisa menilai dari keluarga seperti apa mereka sebelumnya. Tetapi, tidak terlalu mengejutkan Neron bisa menebak bukan cuman anak para bangsawan banyak dari mereka juga anak-anak biasa juga sepertinya. “Berbarislah!” Suara itu datang lagi. Seorang pria dengan rambut pirang panjang sebahu, berwajah pucat dengan mati dingin, juga hidung dan dagu lancip, Neron tidak bisa menyebut pria itu tampan atau cantik. Yah, hanya dia terlihat luar biasa. Di tangannya dia memperlihatkan bola api biru yang berputar-putar jelas cukup menerangi sekitarnya menambah aura di sosoknya yang berada di tengah kegelapan. “Aku Sir Mony yang akan jadi pembimbing kalian,” ucapnya menatap semua orang dari ujung ke ujung. “Sebelumnya, aku ucapkan ‘selamat datang’ pada kalian semua murid-murid berbakat yang akan menjadi kebanggaan Academi Big’Tunes kami di masa depan. Academi yang akan menjadikan kalian orang-orang hebat dan berguna untuk kesejahteraan kita semua.” Setelah mengucapkan beberapa patah kata lagi Sir Mony segera menyiapkan barisan kembali dan tidak butuh waktu lama semua orang dengan cepat mengambil langkah tersebut. Neron memilih yang menututnya cukup aman, biasanya di saat-saat seperti ini, dulu tanpa ragu akan menonjolkan diri memilih tempat terdepan. Tidak peduli dia bisa atau melakukan apapun dia tidak suka berada di belakang orang lain tetapi, saat ini. Tidak ada kata … lebih baik baginya menunggu dan melihat di belakang di tempat tergelap yang tidak bisa terlihat orang lain. Pria itu tampak puas melihat barisan para murid sudah rapih lalu, satu tangannya terangkat ke atas sambil berbalik dia bersuara kembali, “Kalian murid baru berjalan rapih dan tetap mengikutiku!” Tidak sampai lima belas menit berjalan, mereka memasuki sebuah bangunan luas dan terang tidak hanya itu dihadapan mereka berdiri banyak orang lain, yang menggunakan jubah warna coklat bahkan, Neron sangat mengenali orang paling depan di antara mereka itu semua. “Bukannya itu … Fred?” “Semua sudah berkumpul.” “Apa yang akan kita lakukan di sini?” Beberapa anak bertanya di samping Neron yang hanya diam mengamati tidak ikut berbisik seperti yang lain jelas saja dia tidak punya banyak kenalan. “Semua diam!” Sir Mony berbicara dengan lantang lagi. Akhirnya ruangan itu menjadi tenang kembali. “Sebelum kalian memasuki pintu Academi Sihir BigTunes secara alami … Para Siswa Baru, perkenalkanlah diri kalian pada murid-murid unggulan BigTunes kami.” Sir Mony merentangkan sebelah tangannya pada orang-orang di sudut kiri. Pada murid-murid yang sudah menggunakan jubah resmi academi tetapi, dengan beragam warna disesuaikan dengan tingkat ke-academi-an mereka. Semua orang yang berada di sisi kanan di mana Neron berada tampak sangat antusias melihat kakak-kakak tingkat mereka. Seseorang berjubah hijau maju ke depan dengan senyum sopan santunya dia menyapa Sir Mony terlebih dulu sebelum akhirnya, melihat ke arah mereka. “Selamat malam teman-teman baru di Academi, namaku William praktisi Mage Tanah. Untuk menyambut kedatangan kalian, kami sudah mempersiapkan sebuah penyambutan menyenangkan… dengan melakukan latihan duel!” Neron mencibir dalam hati dan tidak berharap akan ada hal-hal seperti ini terjadi ketika, dia baru saja akan memasuki Academi. Haruskah mereka melakukan seperti duel? Sesuai pengamatannya orang-orang yang berlawanan dengannya pastinya sudah melewati satu atau dua tahun pelatihan di Academi jika, seperti ini bukankah itu curang? Remaja-remaja yang berada disisinya masihlah anak baru dan mungkin belum banyak berlatih apalagi harus dengan bertarung. Tidakkah itu cukup berbahaya. Yah, terutama untuk orang sepertinya yang tidak bisa menggunakan sihir sama sekali. Saat ini Neron segera mengamati penampilan orang-orang disekitarnya. Benar saja tidak hanya dia tetapi, banyak orang gugup dan berwajah seolah tengah menahan sembelit, hanya sedikit dari mereka yang malah tampak bersemangat mendengar akan mengadakan pertarungan. Sulit bagi Neron memikirkannya, apa yang akan terjadi padanya? Dia tidak bisa menggunakan sihir sama sekali. Hal seperti ini bukan tidak mungkin memaksanya mengaku sebagai murid yang menyelinap masuk. Apa yang diharapkan Neron saat ini hanya berharap duel yang berlangsung hanya akan memanggil perwakilan saja tanpa memerintah semua murid harus berduel terlebih dulu sebelum secara resmi jadi, siswa BigTunes. Saat ini mata Neron kembali menjelajah, yang terduga tampak semakin banyak orang bersemangat. Jadilah, seharusnya dia tidak bisa meremehkan orang lain. Neron mendesah akan pikirannya ini, dia yang tidak bisa bukan berarti orang lain juga sepertinya. Neron sadar, apalagi dia teringat dengan Oris. Terakhir kali dia melihat kemampuan temannya itu saat berusia tiga belas tahun. Oris yang dua tahun lebih muda darinya dengan kemampuan sihirnya bisa membanting dua orang remaja pemalak, yang lebih tua dari mereka. jadi, mungkin tidak ada salahnya kali ini jika, dua kekuatan lama dan pendatang baru untuk berduel. Akhirnya, Neron hanya bisa menelan ludah pahit berharap tidak akan pernah ada gilirannya untuk maju ke depan. Ternyata, setelah sedikit banyak waktu beberapa anak-anak yang berdiri paling depan melangkah maju satu langkah. Dilihat bagaimana mereka berdiri, orang-orang itu tampak percaya diri. Bahkan, Neron cukup terkejut dia bisa melihat orang yang mengganggunya terakhir kali saat akan berangkat kemari. Anak sombong di Kereta kuda itu. “Ternyata dia bukan hanya sombong tetapi, percaya diri juga beruntung… anak itu tidak melawannya menggunakan sihir,” bisik Neron pada diri sendiri. Anak bernama Tulois itu dengan bangga maju ke depan dengan tiga orang lainnya. Melihat tidak ada lagi yang melangkah lagi, dia dengan senyum palsunya bergerak terlebih dulu. “Namaku Tulois Hurgen! Aku yang akan maju terlebih dulu,” ujarnya menatap Sir Mony juga anak berjubah hijau yang tadi memimpin teman-temannya di sisi seberangnya. Tulois Hurgen tidak sembarang percaya diri dengan kemampuan sihirnya. Sudah sedari kecil dirinya telah dipersiapkan sebagai seorang Mage/ penyihir cakap dan dikenal diseluruh kerajaan. Ayahnya, Sinias Hurgen, seorang Mage dengan gelar Marquis juga pengusaha kaya akan mendapatkan hal-hal baik yang ada. Bahkan, cukup dengan gelarnya saja orang-orang dibawah mereka akan segan padanya juga tidak perlu khawatir tentang seorang guru sihir yang bisa mengajar mereka di rumah sejak dini. Remaja berjubah hijau mengangkat bibirnya seolah mencibir Tulois yang bisa tampil begitu percaya diri. Dia memanggil salah satu temannya yang berada dibarisan kedua. Saat itu Neron tidak bisa untuk tidak membuka matanya lebar-lebar bahkan, bibirnya tidak bisa dikendalikannya dengan membentuk garis senyum yang lebar. “Marvella!” panggilnya tak percaya. Kekasih cantiknya yang sudah lama tidak dilihatnya, Alasan kuat kenapa dirinya berada di sini! Hampir dua minggu berlalu. Saat itu, Marvella yang akan kembali ke Academi sihir mengatakan ingin putus saja dengannya. Alasannya, karena mereka harus berhubungan jarak jauh lagi dengan hanya bisa saling mengirim surat selama sepuluh bulan tanpa bertemu membuat gadis itu tidak nyaman dan, Neron juga tahu bahwa banyak anak-anak laki-laki lainnya yang lebih baik darinya. Neron cukup putus asa, dia benar-benar sangat menyukai Marvella. Cinta masa kecilnya sejak dulu. ‘Marvella, aku di sini,’ ujarnya dalam hati, yang sebenarnya sangat ingin berteriak dan dilihat kekasihnya itu. Yah, mereka masih berpacaran meski, Marvella meminta putus tetapi, Neron dengan tegas menolaknya. Dia tidak mau kehilangan gadis pujaanya. Jadi, setelah itu Neron hanya bisa berjanji akan memikirkan acara agar mereka tidak hanya akan saling mengirim surat tetapi, juga bertemu. Dan, tentu saja. Hasilnya adalah seperti sekarang. Dirinya harus melakukan hal jahat seperti mencuri dan kesalahan terbesar adalah akan menipu orang-orang di sini jika saja, sampai akhir tidak ada yang tahu atau curiga. ‘Apa aku bakal ketahuan, gak yah? Ini bakal jadi makin sulit hah… tapi, aku senang bisa melihat Marvella,’ ucapnya dalam sambil memerhatikan pujaan hatinya secara sembunyi-sembunyi. Setelah, seperti ini tiba-tiba saja perasaan Neron sangat tidak nyaman. Dia benci dirinya yang tidak bisa menggunakan sihir, tidak bisa menegakkan wajahnya dan bersembunyi seperti pengecut. Tidak bisa berdiri di samping atau melihat wajah kekasihnya, hanya karena dia bukan siswa resmi di Academi. Dia sudah seperti tikus kecil, yang bersembunyi karena takut dibunuh. Helaan napas terdengar dari mulut Neron. Sungguh membuatnya sangat marah dan akhirnya hanya bisa membenci diri sendiri karena ketidakmampuanya untuk membangun tubuh yang bisa mengendalikan sihir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN