Dae membuka kelopak mata, serta mengurai kepalan tangan yang berada di depan d**a. Pandangannya pun langsung menemukan sebuah batu nisan yang terutup keramik dengan dua lilin di sebelah kanan dan kiri, serta tanda salib yang berada di tengah-tengah. Dae menatap sejenak pada nama seorang gadis yang tertera di sana. Manik Angkara. Semoga jiwa mu selalu tenang di sana, Manik. Gumam sang dewi batin sekali lagi. Dae lantas memalingkan wajah pada presensi pemuda yang kini rambutnya tercepol berantakan. Dia tampak masih memejamkan mata, dengan tangan yang menyatu di depan d**a. Raut wajah yang begitu tenang bagai tenangnya danau, tetapi Dae tahu betapa besar kegelisahan yang tersimpan di dalamnya. Dae memerhatikan sedikit lebih lama, begitu bulu mata Kenji bergetar terbuka, Dae ke

