"Lo jangan cupu-cupu banget deh, Mayang. Kita ke starbucks aja, oke? Sekali-sekali lo harus ngerasain gimana rasanya nongki-nongki ala remaja kekinian." Rentetan kalimat tersebut terlontar, masih terkandung logat-logat bahasa Sunda yang lumayan kental. Membuatnya terdengar sedikit-banyaknya, menggelitik di telinga. Lagi pun mau bagaimana lagi, sejak lahir Uttari adalah rakyat Bandung. Wanita itu baru pindah ke Jakarta setelah sah menikahi Barend.
"Aku mah nggak tertarik ke tempatk begituan, Teh," balas Mayang. "Lebih bagus lamun kita tempat yang jual peralatan masak. Siapa tahu di sana lagi ada diskonan."
"Haduh." Uttari berujar dengan nada prihatin. "Lo ngapain jauh-jauh ke sini cuma buat liatin p****t panci. Mending kita ngopi-ngopi sambil cekrak-cekrek dikit terus bisa upload i********:. Iya kan, sweetheart?"
"Kenji bukan tipe anak yang suka main begituan, atuh." Mayang menyela, yang langsung mendapat delikan tak terima Uttari.
"Oh. Jadi maksud lo, gue nggak tau, apa yang anak gue sendiri sukain. Gitu?" Uttari serong sedikit mendekati Mayang, dengan gaya bicara sewot.
Mayang menoleh, mengernyitkan kening. "Aku teu ngomong kitu, Teh."
"Halah. Lo emang nggak ngomong gitu, tapi maksud lo ke sana 'kan?" serunya agak keras, sehingga beberapa pengunjung menaruh perhatian ke arah mereka.
Mayang menghela napas. "Mending kita tanya Kenji aja langsung, dia mau ke mana."
Uttari mendengkus, tetapi tetap mengikuti saran Mayang. "Sweetheart." Nada bicaranya seketika berubah lembut. "Menurut kamu, kita ke starbucks aja atau ke gerai peralatan masak?"
"Ke sini aja." Kenji berhenti di depan sebuah gerai yang di dalamnya penuh dengan pakaian perempuan. "Gimana?"
Uttari berdecak. "Kamu ini kalau disuruh milih satu atau dua, jawabnya selalu tiga."
Kenji tersenyum simpul. "Biar adil, Ma."
"Iya, deh. Anak Mama memang yang paling top," pujinya sembari mencubit gemas pipi tirus Kenji.
Kenji berpaling pada Mayang. "Nggak apa-apa 'kan, Mi? Kita ke sini?"
"Ya nggak apa-apa, atuh. Malah pilihan kamu tepat banget."
Begitulah ceritanya, kenapa Kenji bisa berakhir di salah satu toko yang menjual produk-produk khusus perempuan, di pusat perbelanjaan modern tersebut. Lantas bertemu seseorang yang sama sekali tidak dia sangka-sangka.
Daedalion.
"Ini siapa, Kenji?" tanya Mayang. Tangannya menenteng gaun merah mudah penuh motif bunga-bunga yang tadi telah dia coba.
Kenji melirik Dae. "Juniorku di Mandara Giri."
"Kebetulan banget bisa ketemu di sini. Siapa nama kamu, pretty?" Uttari bertanya kelewat antusias. Kenji sudah bisa memprediksi kalau Mamanya akan bereaksi demikian. Tidak jauh berbeda dengan Mayang yang mendedikasikan hampir sebagian hidupnya bersama tiga laki-laki di rumah. Uttari pun begitu. Walaupun kini dia memiliki Rasistha, tetapi Rasistha adalah jenis perempuan yang tidak tahan berdiam diri di rumah lama-lama. Waktunya lebih banyak dia habiskan bermain di luar.
"Nama saya Daedalion, Tante. Biasa dipanggil Dae."
"Gorgeous," pekiknya. "Sama kayak orangnya."
"Makasih, Tante."
Uttari menggeleng-geleng. "No. No. No. Jangan panggil Tante dong, pretty. Panggil aja, Kak Uut. Saya Mamanya, Kenji."
Mayang yang mendengarnya langsung menyela kalem. "Sadar, Teh. Udah hampir kepala empat loh."
Uttari menaikan alisnya sangsi. "Nggak apa-apa. Yang penting awet muda."
Mayang tak menanggapinya lagi, paham betul bagaiman karakter Uttari. Dia berpaling ke arah Dae. "Saya Maminya, Kenji."
Dae mengerjap-ngerjap bingung.
Sadar akan kebingungan gadis muda itu, Uttari menambahkan. "Mami tirinya. Saya Mama kandungnya." Kemudian senyum cerah Uttari terbit. "Jadi pretty, kamu ke sini sama siapa?"
"Sendiri Tan—maksudnya, Kak Uut."
"Bagus!" pekik Uttari tiba-tiba. Memandang silih berganti pada Mayang dan Kenji. "Kalau gitu, gimana kalau kamu ikut kita aja?"
Kenji amat terperanjat dengan keputusan tiba-tiba yang Mamanya ambil, tetapi sebisa mungkin dia mengontrol air mukanya agar tak ketara terlihat. Manik mata segelap bubuk kopi itu menalaah si gadis yang untuk sesaat sempat terkejut, tetapi perlahan-lahan senyum mulai menghiasi bibirnya. Dae beralih menatap Kenji sejemang, membuat kedua iris mereka beradu.
Kemudian dengan begitu, anggukan menjadi jawabannya. Sementara Kenji tak memiliki kuasa membantah ketika dua wanitanya menarik dirinya serta Dae melangkah menjauhi gerai tersebut.
*
"Jadi, kamu anak seni rupa?"
"Iya. Kak Uut, semester pertama."
"Cool banget, pretty," pujinya antusias, dibarengi senyum. Salahkah bila Dae katakan, bahwa Uttari merupakan salah satu jenis orang yang bila tidak tersenyum terlihat menyeramakan, dan bila tersenyum semakin menjadi-jadi menyeramkannya. Namun mau bagaimana lagi, begitulah kenyataannya. Beruntungnya, Mama Kenji ini memiliki pribadi yang jauh lebih ramah dari kelihatannya.
"Berarti kamu teh jago ngelukis? Mami mah udah lama banget punya rencana pengen punya lukisan sekeluarga sama Teteh Uut. Seru kali ya, Teh?"
Uttari manggut-manggut. "Hem... iya juga. Tumben lo pinter, May." Lantas dia berpaling pada Dae. "Gimana kalau kamu yang ngelukisnya, bisa 'kan, pretty?"
"Bisa kok. Bisa banget." Dae terdiam sebentar. "Tapi lukisanku nggak sebagus itu."
Uttari mengibas-ngibaskan tangan di udara. "Jangan merendah gitu dong, pretty. Kakak bisa nerawang kalau lukisan kamu itu luar biasa."
Percakapan mereka lantas terhenti begitu kaki mereka telah menapaki area timezone. Mamanya Kenji adalah yang terlihat paling bersemangat di antara mereka berempat. Wanita itu hampir mencoba seluruh permainan yang ada di sana. Selama itu, Dae mengamati Kenji yang tidak bersuara sedari tadi. Pemuda itu kalem serta tidak protes sedikit pun kala Mama-Maminya menyeretnya ke sana-ke mari.
Entah kenapa hal tersebut membuat perutnya terasa geli, dan akhirnya menimbulkan kikikan kecil yang ditangkap oleh Kenji. Namun pemuda tersebut hanya memalingkan wajahnya tak acuh.
Kemudian mendadak, Dae merasakan tarikan pada pergelangan tangannya. Rupanya Mayang, Mami Kenji itu membawanya ke depan photo box. Menyuruhnya masuk. Walaupun sempat dilanda kebingungan, Dae tetap menurutinya. Dan ternyata di sana ada Kenji, yang sedetik tampak terkejut dengan kemunculannya.
"Ma, Mi. Kenapa nggak masuk, katanya tadi mau foto bertiga?" Kenji menyembulkan kepala ke luar tirai.
"Udah. Kamu berdua aja dulu. Sana." Uttari mendorong wajah Kenji agar kembali masuk.
Atmosfer tiba-tiba saja berubah mendingin kala Kenji menatapnya. Ukuran photo box yang hanya berjarak beberapa senti dari pucuk kepala Dae, membuat Kenji harus menekuk lututnya agar kepalanya tidak membentur langit-langit.
"Aku atur dulu ya, Kak."
Dae mengutak-atik sesuatu dalam monitor, kala telah selesai dia menoleh ke arah Kenji. Tersentak mendapati Kenji yang kini justru lebih pendek darinya. Pemuda itu menggunakan lututnya untuk berdiri. Barangkali letih bila harus terus-terusan menekuk lutut.
"Makanya, Kak Kenji tuh jangan ketinggian." Dae berujar dengan tawa yang hampir menyembur. Lucu, sebab biasanya dia harus mendongak untuk bisa memandangi wajah Kenji. Sekarang justru harus merunduk agar dapat menemukan raut tampan itu. Posisi seperti itu mengingatkan Dae pada adegan di film-film romansa, ketika si laki-laki hendak mempersuntik pujaannya.
"Bukan saya yang ketinggian. Tapi kamu yang kependekan."
Dae spontan mendelik. "Enak aja. Di antara temen-temen cewekku yang lain, aku itu udah termasuk yang tertinggi tau. Lagian nih, jarak tinggi kita paling beda lagi beberapa senti."
Kenji mendongak, menaikan alis sangsi. Air mukanya terlihat tengil. Dae hampir-hampir terperangah dibuatnya. Mengenal sebatas senior-junior di kampus, tidak pernah sekalipun gadis itu lihat Kenji menunjukkan garis ekspresi serupa. "Apa pun itu. Kamu tetap lebih pendek dari saya." Kenji kemudian menekan sesuatu di monitor. "Cepet bergaya, kita mulai. Saya nggak bisa lama-lama diem di kotak sumpek begini."
"Loh. Kan aku belum siap-siap. Gimana sih."
Tanpa terduga, Kenji menarik lengannya. Membuat pandangan mata mereka beradu. Dae membatu sejenak, menyadari jarak yang menipis.
"Mama sama Mami saya itu, kalau mau sesuatu harus terjadi sesuai kehendak mereka. Kalau mereka lihat hasil fotonya nggak bagus, kemungkinan mereka akan suruh kita foto ulang. Jadi lebih baik kamu berpose yang benar."
Dae memalingkan mukanya yang memanas. Melihat monitor, sudah ada dua foto yang terambil dengan posisi mereka tadi. Hal tersebut kontan saja membuat jantungnya berdegub tidak keruan. Melirik Kenji, tawa Dae tak bisa terbendung saat mendapatinya berpose dengan jari membentuk V kaku.
Menyadarinya, Kenji langsung melempar pelototan tajam. Bukannya takut atau bagaimana, Dae malahan balik menujulurkan lidahnya. Pelototan Kenji tadi tidaklah tampak menyeramkan seperti biasanya, melainkan terlihat menggemaskan.
Menyentakan kepala. Kenji lagi-lagi melakukan tindakan di luar ekspetasi Dae, yang nyaris membuat jantungnya melompat kabur. Yaitu mengalungkan lengannya di leher Dae.
"Senyum," desisnya.
Dae tersedak ludahnya sendiri. Buru-buru mengikuti perintah pemuda itu.
Entah bagaimana caranya. Malam itu, hanya dengan satu malam, membuat Dae merasa lima puluh kali lebih dekat dengan Kenji.
•
Behind The Scripts
“OH MY GODDD,” pekikan nyaring Uttari langsung mencuri perhatian pengunjung time zone lainnya kala dia menatap pada hasil photo box antara Dae dan Kenji. Senyum wanita paruh baya tersebut, terkembang sangat lebar. Matanya yang berbinar-binar memandang silih berganti antara Dae yang mengulas senyum manis serta Kenji yang cuma mampu memalingkan wajah ke arah lain dengan kedua tangan yang di simpan di saku celana. “Kenapa kalian lucukkk banget sih di sini. Utuk-ututk.”
Uttari mencubit gemas pipi Dae serta Kenji. Reaksi serupa juga di tunjukan oleh Mayang. “Ya ampun. Kalian meuni gemesin pisan ih.”
Uttari mengangguka, jari-jemarinya membentuk pose kamera. Memerangkap dua insan pemuda pemudi yang berdiri sebelahan dengan jarak yang nyata. “Tinggi kalian juga nggak jauh beda. Ini kalau kalian nikah nggak kebayang anaknya bakal setinggi apa.”
Seketika Dae tersedak mendengarnya, sedangkan Kenji masih stagnan pada posisi tanpa memberi respon apa pun.
“Kalau cewek bisa jadi kandidat Miss Universe,” timpal Mayang menoleh pada Uttari.
“Kalau cowok bisa jadi pemain basket.”
Uttari serta Mayang mengadu tatapan sejemang, dan detik berikutnya kikik geli keduanya mengudara.
Di sisi lain Dae tak paham sama sekali, pada bagian mananya hasil photo box antara dia dan Kenji bisa di bilang menggemaskan. Padahal jelas-jelas baik si gadis maupun si pemuda, tampak sama-sama absurd nan awkward di sana.