SEMBILAN

1460 Kata
"Kenapa Kak? Kok tadi ngeliatinnya gitu banget? Ada yang aneh, ya?" Sekarang mereka dalam perjalanan pulang. Dae berakhir pulang bersama Kenji setelah mama-maminya menawarkan tumpangan. Dan selama itu pula, Dae dapat merasakan Kenji meliriknya sesekali dengan tatapan yang sulit di artikan ketika ia sibuk menikmati musik yang berdentum dari radio mobil. Lantas sahutan yang betul-betul ke luar dari ekspetasi Dae, hampir-hampir membuatnya tersedak ludah sendiri. "Nggak. Kamu lucu." "Lucu?!" Kenji menoleh sekilas. "Imut." "Imut?!" Dae melotot, memepetkan diri ke pojok kursi. Menjauhi Kenji. Merasa aneh dengan pujian yang tiba-tiba tersebut. Kenji menyentakkan kepala. "Saya muji kamu loh. Tapi kenapa reaksi kamu seakan-akan nunjukin kalau saya baru saja ngehina kamu?" Dae mengedip-ngedip cepat, sebelum duduk dalam posisi tegak yang terkesan kaku. Berdeham-deham singkat guna melegakan tenggorokannya yang tiba-tiba kering kerontang, Dae pun menyahut. "Waduh," Dae mendecap-decap, "Kak Kenji jangan gombal gitu, dong. Kalau aku baper 'kan jadi berabe urusannya." "Kapan saya gombal?" "Itu tadi. Lucu, imut." Dae melenturkan tulang punggungnya. "Untung aku udah tahan banting." "Kayak gitu aja dibilang gombal?" Kenji menggeleng-geleng takjub. Dae mengembuskan napasnya. Kenapa rasa-rasanya dia tengah berbicara dengan bocah laki-laki yang masih terlalu bau kencur untuk mengenali tabiat perempuan. "Cewek 'kan memang begitu, Kak. Dikasih omongan manis sama lawan jenis dikit aja, udah menggelepar kayak ikan di daratan. Apalagi yang punya love language words of affection," Dae menampilkan cengiran, "tapi nggak semua gitu, kok. Nih aku contohnya." "Antara bego atau terlalu emosional," tukasnya cuek. "Saya tadi nggak gombal. Saya jujur." Entah mengapa tiba-tiba Dae merasa hawa di sekelilingnya berubah panas, sampai-sampai bulir-bulir keringat bermunculan di permukaan kulitnya. Padahal suhu dalam mobil rendah akibat air conditioner yang menyala. Sedangkan di lain sisi, Dae benar-benar ingin membenturkan kepalanya saat ini. Tidak mengerti, apakah pemuda itu memang selalu mengutarakan isi pikirannya terang-terangan begitu. "Iya. Aku percaya. Cuma kaget aja, tiba-tiba muji kayak gitu. Tapi nggak apa-apa. Aku suka dipuji. Lain kali, sering-sering puji aku ya, Kak." Dae mengakhiri dengan cengiran. "Iya," jawabnya terkesan main-main. Dae tertawa kecil. "Kak Kenji gemesin, deh." Kenji spontan menoleh dengan kernyitan di dahi. "Gemesin?" "Kenapa, Kak? Tadi aku muji loh. Kok reaksinya kayak nggak terima gitu." Dae mengerling jenaka. Kenji mendengkus pelan. "Bukan gitu. Selama ini saya sering dapet segala bentuk pujian. Tapi nggak pernah ada yang make kata gemes buat muji saya." "Masa? Aku yakin waktu Kak Kenji bayi pasti banyak yang gemes-gemesin, Kakak." "Terus kamu kira saya bayi, yang masih bisa digemes-gemesin?" "Loh? Memangnya ada aturan kalau cuma bayi aja yang boleh digemes-gemesin? Setauku nggak ada tuh." "Oke. Terserah kamu." Dae kembali terkikik, sambil menutup mulutnya. Antisipasi agar Mama-Mami Kenji tidak terganggu olehnya. "Kak Kenji jangan ngambek gitu dong." "Saya nggak ngambek." "Terus kenapa bibirnya dimonyong-monyongin begitu?" Kenji mendelik, menoleh sekilas pada Dae. "Bibir saya nggak monyong-monyong." Dae hampir terpingkal akibat wajah Kenji yang mengerut sewot, menyahutinya. Tidak pernah menyangka jika menggoda pemuda itu akan sebegini menyenangkannya. Tidak lama kemudian mereka pun tiba di depan gerbang rumah Dae, dan tepat sedetik sebelum itu hujan deras datang mengguyur. Dae menatap sebentar hujan serta gerbang yang tertutup rapat lalu mengembuskan napas dalam. "Makasih ya, Kak. Udah repot-repot nganterin sampein juga ke Tante Mayang sama Kak Uut." Dae menengok ke belakang sebentar, melihat keduanya pulas tertidur tak terusik sedikit pun. Ketika hendak membuka pintu mobil, pergerakannya terinterupsi oleh suara Kenji. "Kamu pake jaket saya aja dulu." Dae berpaling pada Kenji. "Hujannya deres banget. Seenggaknya nggak bakalan basah-basah amat kalo pake jaket saya. Jaket saya jaket kulit." Kenji mengulurkan jaket kulit hitamnya yang tadi dia sampirkan di sandaran kursi. Dae menatapnya sejenak. "Nggak apa-apa, Kak?" Kenji berdecak. "Ya nggak apa-apa lah. Kalau apa-apa, ngapain juga saya nawarin kamu." "Oke." Dae meraihnya, dan langsung menyangkutkannya di pucuk kepalanya. Hendak membuka pintu, tetapi lagi-lagi harus terhenti. Kali ini karena dirinya sendiri yang teringat akan sesuatu. Untuk kedua kalinya dia berpaling pada Kenji, sambil memeluk tote bag. "Oiya. Soal omonganku tadi siang waktu di lift. Aku serius mau buktiin itu. Jadi mungkin beberapa hari nanti aku bakalan deketin Kak Kenji." Kenji terdiam sejenak. "Kenapa kamu ngotot banget." Dae mengehela napas. "Aku cuma ngerasa omongan orang-orang selama ini salah." "Terus kamu merasa bertanggung jawab karena itu? Gimana kalau seandainya hal yang selama ini kamu pikir salah adalah kebenarannya." Dae bungkam. Napasnya seketika tercekat mendengar nada suara Kenji yang mengintimidasi. Selama mengetahui perihal rumor-rumor tersebut, kasus Joana adalah yang pertama kali bagi Dae. Sebab perempuan-perempuan lainnya yang katanya korban, terjadi sebelum dia menjadi mahasisiwi di UK. Sampai sejauh itu pula Dae cuma menganggap hal tersebut hanyalah rumor yang dilebih-lebihkan. Sesuatu yang lantas membuatnya gemas untuk menunjukan betapa konyolnya hal yang mereka percayai selama ini. Namun rentetan aksara yang Kenji semburkan barusan, berhasil menyentil kotak keraguannya agar terbuka. "Loh. Udah sampai?" Dua kepala di depan serempak menoleh. Di sana Uttari telah terbangun, matanya menyipit-nyipit. Menyadari Mayang yang bersandar pada bahunya, dia seketika menggeser diri membuat kepala Mayang hampir terjatuh. "Lo ngapain sih segala pake nyender-nyender? Lo kira bahu gue bantal? Mana kepala lo berat banget kayak batu. Banyak dosa lo, ya?" Mayang mendesis, menguap sejemang. "Kepalaku berat kelebihan pahala." Uttari merotasikan mata. "Idih." Dia lalu berpaling pada dua anak di depannya, dan nada suaranya berubah 180 derajat lebih lembut. "Sweetheart, kenapa berhenti? Udah sampai?" "Udah kok, Kak Uut," jawab Dae. "Kalau gitu saya pulang dulu. Makasih buat tumpangannya Kak Uut, Tante Mayang." Uttari dan Mayang kompak mengangguk disertai senyum. Namun kemudian mendadak berseru mencegah Dae ke luar dari mobil. "Tunggu dulu, pretty." Uttari menerawang ke luar jendela. "Di luar hujan deres banget, loh. Kenji kamu nggak punya umbrella di mobil kamu?" Kenji menggeleng. "Nggak apa-apa kok, Kak Uut. Tadi Kak Kenji juga udah ngasih minjem jaketnya buat ganti payung." Dae menunjuk jaket yang menyangkut di kepalanya. "Hm. Oke kalau gitu, Kenji kamu anterin si pretty sampai depan pintu rumahnya. Ujan-ujan begini jalan biasanya jadi licin, Mama nggak mau pretty jatoh terus luka. Kalau ada kamu kan, jadinya bisa nolongin biar kayak di drama-drama begitu." Uttari tertawa sejenak. "Lagian kayaknya pretty juga repot kalau harus megangin jaketnya sendiri sambil dekep barang belanjannya." "Mami setuju sama Mamamu." "Kita nggak perlu persetujuan lo by the way." "Oalah. Teteh lupa kalau aku sekarang juga ibunya Kenji." "Barang tentu tidak, Mayang. Gini-gini gue belum kena penyakit pikun." Uttari menyilangkan tangan, "masalahnya, apa hubungannya sama kalimat gue tadi. Haduh, lo ini memang nggak nyambung kalau diajak ngomong." Sementara duo Mama-Mami itu kembali berdebat. Dae sudah mengambil ancang-ancang untuk menolak permintaan mereka tadi. Namun urung ketika Kenji menagih kembali jaketnya dan tau-tau sudah berdiri di luar mobil menunggunya. Dae pun buru-buru berpamitan lagi pada dua wanita itu yang dibalas ramah dua detik, tetapi setelahnya langsung melanjutkan perseteruan yang tertunda. Dae melangkah memasuki pekarangan rumahnya dengan Kenji yang menamengi tubuh mereka dari guyuran air hujan menggunakan jaket miliknya. Mereka dipaksa berjalan berdempet-dempetan akibat lebar jaket yang tak seberapa. Karenanya pula, beberapa kali pucuk kepala Dae terantuk dengan dagu lancip Kenji yang berjalan agak di belakang tubuhnya. "Ternyata Kak Kenji patuh banget yah sama Mama-Mami, Kakak." "Perintah mereka adalah sebuah keharusan." "Hm. Berarti kalau Mama atau Mami Kak Kenji nyuruh Kak Kenji lari-lari di jalan raya sambil telanjang. Kak Kenji mau dong?" "Mau." Spontan Dae menghentikan langkahnya, membuat tubuh Kenji menubruk punggungnya. Dae menengadah menatap Kenji tak percaya. Padahal tadi niatnya cuma bercanda, tetapi Kenji justru membalasnya dengan sungguh-sungguh. Sedangkan Kenji membalasnya dengan pelototan galak. "Beneran, Kak?" Kenji merotasikan matanya geram. "Tapi saya masih yakin kalau Mama saya masih seratus persen waras buat nyuruh anaknya sendiri ngelakuin hal konyol begitu." Dae nyengir. "Iya juga, ya." Kenji mendengkus masam. Menyuruhnya cepat-cepat menyambung langkah sembari tambah merapatkan tubuhnya dengan Dae. Hingga akhirnya mereka tiba di teras rumah Dae, dengan keadaan setengah basah pada area pinggang ke bawah. "Makasih ya, Kak. Maaf udah ngerepotin." Kenji mengangguk sekenanya. "Kak Kenji tunggu dulu di sini deh. Aku ambilin payung ke dalem buat balik ke mobil." "Nggak usah." Dae menjengit tak setuju. "Tapi, Kak—" "Saya bilang nggak usah." Kenji berujar tegas, enggan dibantah. Lantas irisnya memaku pada Dae, ada sesuatu yang elusif dalam pancaran matanya. "Soal yang tadi. Saya nggak pernah ngelarang siapa pun buat mendekati saya. Tapi kalau nanti terjadi sesuatu, itu bukan urusan saya. Jadi terserah kamu mau ngelakuin apa, seenggaknya saya sudah peringatin kamu. Satu lagi, gimana kalau seandainya hal yang selama ini kamu pikir salah adalah kebenarannya?” Hanya bungkam, dan Kenji pun sepertinya tidak merasa perlu untuk menunggu respon Dae. Lantaran tepat selesai menguntai kalimat-kalimat tersebut, kakinya memacu pergi membelah terjangan air hujan. Dae masih membatu ditempatnya berdiri, bahkan ketika raga Kenji tak dapat netranya tangkap lagi. Sudah banyak yang memperingati Dae agar tak mencari gara-gara. Serta-merta tak satu pun yang berhasil menggoyahkan logika bercampur rasa penasarannya, perihal rumor kutukan itu. Namun kalimat itu, yang Kenji lontarkan tadi dan kini asyik melayang-layang di benaknya. Mampu mempengaruhi sedikit kebulatan tekadnya dan membuatnya berpikir lebih rumit. Apabila orang lain yang mengatakannya, maka barang pasti Dae akan membantahnya mati-matian. Masalahnya, deretan frasa itu berasal dari tokohnya, Kenji. Dae pun tak bisa menampik bahwasannya ada emosi yang menyublim di baliknya setelah menilik dari cara pemuda itu menguntaikannya. Atau barangkali segalanya memang sesederhana kalimat itu sendiri, bahwasanya apa yang dia pikir salah adalah kebenarannya. Entahlah, Dae tak tahu. Dan tak akan pernah tau jika dia tak pernah mencari tahu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN