"Ma...."
Waktu pertama kali membuka pintu kamar tempat Uttari menginap malam ini, Kenji langsung di suguhkan oleh tarian lemuh gemulai Uttari. Amat kontras dengan alunan musik metal yang berderit-derit nyaring sebagai latar belakangnya.
Akibat derasnya hujan yang tiada menunjukan tanda-tanda akan reda. Kenji kemudian memutuskan agar Uttari bermalam di rumahnya. Sebab Kenji tidak mungkin membiarkan Mamanya menyetir malam-malam di tengah licinnya jalanan yang diguyur hujan. Karenanya, sesaat setelah Kenji selesai membersihkan dirinya, dia langsung bertandang ke kamar yang kemarin baru saja berubah kepemilikan atas namanya.
"Sweetheart... kemari. Biar Mama ajarkan caranya berdansa." Tanpa tedeng aling-aling, Uttari menarik pergelangan tangan putranya. Wajahnya berseri-seri kala membawa kedua lengan Kenji untuk melingkari pinggangnya, sementara dia menumpukan tangannya pada bahu Kenji.
Uttari memimpin setiap pola gerakan dansa yang bukannya di iringi musik romantis, tetapi justru musik beraliran rock n roll yang di nyanyikan oleh pria berwarna suara serak melengking nyaring.
"Gerakanmu kaku banget, sweetheart. Lain kali Mama bakal lebih sering ngajarin kamu cara dansa."
Kenji tak menjawab. Hanya pandangannya yang menyorot lembut—jenis sorotan yang tak pernah dia tunjukan pada siapa pun, kecuali orang-orang paling berharga dalam hidupnya, yaitu, Mama dan Maminya—pada muka Uttari yang natural tanpa polesan bahan-bahan kecantikan. Kerut-kerut itu, tanpa dia sadari telah beranak pinak meramaikan wajah wanita yang melahirkannya.
Kenji tersenyum tipis, melirik ponsel pintar milik Uttari yang tergeletak di atas ranjang. Tempat bersumbernya musik. "Mama, musiknya sama sekali nggak cocok buat dansa."
Uttari menjengit tak setuju. "Bagi Mama. Musik ini adalah musik yang paling cocok buat dansa, sweetheart."
Kenji cuma mengangguk mengiakan. Tidak dapat di pungkiri lagi, bahwa Mamanya yang satu ini memang memiliki selera yang unik untuk beberapa hal.
"Sejak kapan Mama mahir berdansa begini?"
Uttari menyunggingkan senyum jemawa. "Tentu saja setelah Mama menikahi si duda bule. Jangan berharap apa pun sama Papamu yang sekaku papan tripleks itu. Jangankan berdansa, dulu sewaktu kita belum berpisah, suap-suapan manja pun nggak pernah." Jemari tangan kanannya menguncup, lantas terkembang meniru-niru letupan kembang api. "Very, very, very serasi sama Mayang yang kuno itu."
"Ma...."
"Apa?" Uttari memundurkan leher sehingga lipatan di bawah dagunya terekspos. "Mama berbicara kenyataan."
Kenji menggeleng-geleng kecil. Uttari memang selalu blak-blakan seperti itu bila berkomentar. Salah satu hal yang kemudian dia turunkan pada Kenji. Tak ayal kadang-kadang sanubarinya menyuarakan tanya yang akan selalu dia pendam. Entah bagaimana kedua orang tua kandungnya sampai bisa memutuskan mengikat diri dalam janji pernikahan. Bukankah sedari awal seharusnya, mereka menyadari kalau ada perbedaan yang melintang lebar di antara keduanya. Sesuatu yang pada akhirnya mengantarkan mereka pada jalur perpisahan. Kenji pun tahu betul bahwa tak ada unsur perjodohan atau pun paksaan yang mendasari keduanya untuk saling mengikat. Kalau begitu untuk apa mereka menikah, jika akhirnya harus berpisah?
Tidak. Walaupun pertanyaan itu kerap kali muncul, tetapi Kenji tidak betul-betul menginginkan jawabannya. Lantaran baginya, perpisahan kedua orang tuanya bukanlah sebuah momok. Jika dengan adanya perpisahan bisa membuat mereka lebih nyaman, Kenji jelas tidak bisa untuk tak setuju.
Saat itu terjadi, usia Kenji baru menginjak delapan tahun. Dalam pikiran polosnya, kedua orang tuanya memang berpisah. Namun hal itu tidak lah lantas mengubah status mereka sebagai Papa dan Mamanya menjadi orang asing. Hingga sekian tahun berlalu, Kenji pun sadar. Bahwasannya dia beruntung. Beruntung sebab kedua keluarga orang tuanya masih dapat menjalin hubungan yang baik. Ketika di luar sana banyak anak-anak yang menerima imbas malang akibat jalan yang di pilih orang tuanya.
"Sweetheart... Daedalion itu, dia baik, ya?"
"Hm. Kayaknya begitu."
"Mama suka dia."
Kenji menyimpul senyuman. "Mama jangan lupain Papa Barend."
Uttari berdecak gemas. "Mama nggak ada niat buat belok dan jadi p*****l, sweetheart. Lagian Mama yakin, kamu pasti paham betul maksud Mama bukan itu."
Kenji mengangguk singkat. Menghentikan gerakannya, dan melepas tangannya dari pinggang Uttari. Beralih meraih pergelangan tangan Mamanya, lantas menuntunnya ke sisi ranjang. "Udah malam. Sebaiknya Mama tidur sekarang. Papa Barend bilang, Mama sering begadang? Ma, begadang nggak baik buat kesehatan."
Uttari memberengut tak terima. "Mama begadang juga gara-gara Papa Barend mu itu. Setiap malam dia selalu ngajakin buat dansa, terus kadang berakhir panas dansa di atas ranjang." Uttari mengibaskan tangannya di udara. "Kenapa jadi ngomongin soal Mama. Kenji kamu jangan ngalihin topik pembicaraan. Mama beneran suka si pretty, sweetheart."
"Mama bahkan baru kenal beberapa jam sama dia."
"Insting Mama itu kuat, sweetheart. Beberapa jam cukup buat, Mama."
Terlepas dari apakah insting Mamanya yang benar-benar kuat atau tidak. Kenji tahu, jika bukan itu alasan utama Uttari yang tampak berusaha membuatnya dekat dengan gadis itu. Sebab Dae bukan lah yang pertama kali. Permasalahannya adalah, kekhawatiran Uttari yang tumbuh semenjak apa yang menimpa seseorang dari masa lalu.
Seseorang itu bernama, Manik Angkara. Tunangan Kenji.
Uttari mengusap-usap puncak kepala Kenji, hingga berakhir di pipi tirus pemuda itu. "Sweetheart...." Pancaran mata keibuan seorang Uttari terbit hangat. "Mama udah bilang ini berkali-kali. Kalau apa yang terjadi sama Manik, bukan kesalahan kamu. Jadi berhenti menghukum dirimu sendiri begini."
Kenji meraih tangan yang menempeli pipinya. Menggenggamnya di atas pangkuan. Kepalanya tertunduk sejenak, disusul hela napas yang terdengar berat. Sesak tiba-tiba menghimpit rongga dadanya, kala raut polos nan ayu Manik bersiluet di benaknya. "Percayalah, Ma. Aku selalu berharap begitu." Senyum getir tak bisa Kenji samarkan, membuat hati wanita di depannya terasa bagai teriris pisau saat melihatnya. "Tapi, aku nggak akan pernah bisa membohongi kenyataan. Mungkin ada banyak orang yang bisa nutupin suatu kenyataan pakai kebohongan manis. Sayangnya, aku bukan bagian dari mereka."
"Sweetheart...."
"Sekarang Mama istirahat. Besok Mama harus balik ke Jakarta, kan?"
Uttari tampak siap untuk mendebatnya lagi. Namun arah pandang Uttari tak sengaja melewati posisi Kenji. Air mukanya mendadak berubah. Kemudian dia berseru, mau tak mau Kenji menengok ke balik tubuhnya. "Heh, Mayang. Ngapain lo ngintip-ngintip? Udah kayak maling jemuran aja."
Jelas sekali Mayang terlihat gelagapan. "Teu nanaon. Cuma nggak sengaja lewat." Mayang langsung berlalu setelahnya.
Kenji pun menyusul Mayang ke luar, setelah sebelumnya berhasil membuat Uttari tidur dan meninggalkan kecup selamat malam di kening wanita itu. Mayang berada di dapur, tengah mengambil segelas air saat Kenji menghampirinya.
"Mami belum tidur?"
Mayang menggeleng sambil meletakan gelas air minum ke atas meja makan. "Mami mau nunggu Papa pulang."
Kenji mengangguk. "Kalau Papa pulangnya kemaleman. Mami tinggal tidur aja. Jangan begadang."
Mayang tak menjawab. Namun mimik mukanya ketara sekali seperti seseorang yang ingin menyampaikan sesuatu, tetapi tertahan. Hal itu pasti karena Mayang tidak sengaja mencuri dengar perbincangannya dengan Uttari barusan. Pandangan wanita itu menyiratkan rasa bersalah, dan Kenji membencinya. Mereka berdua memiliki sebuah rasa bersalah terhadap satu sumber yang sama. Melalui itu, mereka seakan-akan berlomba-lomba untuk saling menyalahkan diri sendiri.
Kenji menarik tungkai kakinya mendekati Mayang. Senyum si pemuda tersemat, lantas kecupannya hinggap di kening Maminya. "Selamat malam, Mi."
Mayang membalasnya dengan hela napas yang di akhiri senyum hangat andalannya. Setelahnya, Kenji langsung melenggang menuju kamar adiknya, Randu. Lantara malam ini kamarnya digunakan oleh Uttari, mau tak mau Kenji harus mengungsi di sana. Kenji memasuki kamar Randu tanpa mau repot-repot mengetuk pintunya terlebih dahulu. Kenji mendekati Randu yang tampak fokus menatapi layar gawainya, sampai-sampai tidak menyadari kedatangan Kenji. Telinga Randu disumpat headphone disertai keningnya yang mengerut dalam. Tak sengaja Kenji melihat tampilan layar adiknya dan saat itu juga bibirnya terangkat membentuk seringai.
"Oh... nonton bokep."
Randu sontak mendelik, terlonjak dari posisi tengkurapnya. Hampir saja benda elektronik di genggamannya terpental saking kagetnya. Randu memberikan tatapan horor pada Kenji yang dengan santainya menaiki ranjang, merebahkan dirinya di sana.
"Aa... Aa ngapain masuk kamar aku?!"
Kenji menoleh sebentar. Melihat bagaimana tenggorokan Randu bergerak naik dan turun, menelan saliva. Kenji mengedik tak acuh sebelum menyahut, "Mau mengenang masa lalu?" tanyanya retoris. "Udah lama kita nggak tidur bareng begini."
Randu makin memelototkan bola mata. "Hah?!"
Kenji mengubah posisi menjadi miring, sehingga kini dia telah menghadap Randu sepenuhnya. "Kenapa? Kamu mau tidur sambil dipeluk kayak dulu?" Kenji menepuk-nepuk ranjang. "Sini deketan."
Randu spontan menimpuk Kenji menggunakan guling, sembari berseru nyolot. "Ari sia eusleum, hah?!" (Kamu rada gila, hah?!)
Kenji beralih memeluk guling yang menghantamnya itu, lalu memejamkan mata. Total mengabaikan Randu yang misuh-misuh di dekatnya. Memaksa diri untuk tidur. Berharap satu nama yang menghantuinya selama ini, mau beristirahat sejenak.
Manik Angkara....