"Dae anterin perpus, yuk."
Seketika Dae mengerutkan alisnya sangsi mendengar ajakan Zee. Mereka baru saja terbebas dari sumpeknya kelas dan sekarang temannya itu ingin ke perpustakaan. Bukan apa-apa seandainya Zee termasuk salah satu golongan pelajar maha rajin. Namun masalahnya, Zee itu sebelas-dua belas dengan Dae. Cuma mengambil buku saat ada tugas atau ujian. Itu pun kalau ingat.
"Kesambet apaan kamu mau ke perpus?"
"Kesambet ini." Zee menunjukkan layar gawainya pada Dae. Menampilkan beranda YouTube. Satu hal yang menarik perhatian Dae, yaitu deretan tulisan yang sangat dia kenali.
Duta SagaraP
Itu nama YouTube channel Duta.
"Mini seri favorite ku baru aja update. Tapi kuotaku nggak cukup buat nonton. Kamu tau sendiri kan wi-fi di perpus kenceng banget."
Sepatutnya Dae tahu itu sejak awal. Kalau ada dua golongan orang yang menjadikan perpustakaan tempat tongkrongan. Yang pertama anak-anak kutu buku, yang kedua anak-anak tukang numpang internetan. Satu hal yang membuat Dae tidak menyangka adalah, Zee yang ternyata pengikut YouTube channel kakaknya.
"Harus banget di perpus? Di kafe biasa juga ada wi-fi."
"Kenapa nyari yang jauh kalo ada yang di depan hidung."
Dae sudah ingin melontarkan penolakan, andaikan tidak ada yang menyenggol bahunya hingga dia hampir terhuyung ke belakang sebab tidak siap. Buru-buru Dae mengejar si pelaku, dan langsung menarik tas punggung yang dipakai pemuda itu.
"Enak banget, ya. Abis nyenggol langsung pergi gitu aja."
"Duh. Maaf-maaf. Aku cepet-cepet."
"Kenapa sih? Udah kayak dikejar-kejar anjing gila tahu nggak."
"Ini jauh lebih berbahaya dari anjing gila."
"Apa? Setan?"
Pemuda itu berdecak. "Bukan. Kakakku lagi di perpus. Dia nyuruh aku cepet-cepet ke sana. Kalau nggak." Dia mengarahkan jempolnya melintasi leher. "Nyawaku bisa melayang."
"Kakak mu?"
"Iya." Si pemuda melepaskan cengkaraman Dae dari tasnya. "Udah, ya. Aku buru-buru. Sekali lagi, sorry."
Kakaknya? Itu berarti Kak Kenji ada di perpustakaan? Dewi batinnya menerka.
Selepas kepergian si pemuda, Dae langsung berpaling pada Zee yang sedari tadi cuma menonton. "Tadi kamu bilang mau ke perpus, kan? Hayok."
Zee menyipitkan mata. "Tadi katanya nggak mau."
"Loh. Kapan aku bilang gitu?"
Zee memutar bola mata malas. Pasrah tatkala Dae menarik tangannya menuju perpustakaan. "Aku sakit hati loh, Dae."
"Kenapa?" Dae menyahut setengah tidak peduli.
Zee mencebikkan bibir. "Pas aku ajakin aja, kamu kayak ogah-ogahan gitu. Tapi pas denger Randu disuruh ke perpus sama kakaknya, kamu langsung semangat empat lima. Jadi, cowok itu lebih penting ya, dari pada aku?"
Dae spontan tertawa mendengar rajukan Zee. Tangannya melingkari leher temannya. Dia perlu sedikit menjinjit sebab Zee lebih tinggi darinya. "Apaan nih? Kamu cembukur ceritanya?"
"Tahu ah. Gelap."
Zee mengambil langkah lebih cepat. Dae terkekeh di belakangnya, mencoba menyusul. Temannya itu, tidak biasanya bertingkah seperti itu.
*
"Aku mau ngembaliin buku dulu. Sana cari tempat duduk."
"Loh? Kamu pernah minjem buku di sini?" Pertanyaan Dae tak mendapat jawaban. Gadis itu cuma mengedikkan bahu lalu menghilang di balik rak-rak penyimpan ratusan buku.
Dae tak ambil pusing. Segera mengambil tempat duduk di dekat sosok yang dia cari, Kenji. Tidak sulit menemukannya. Dalam sekali edaran pandangan tepat saat Dae melewati pintu perpustakaan, Dae dapat langsung menangkap presensi pemuda itu yang tengah duduk bersama Randu dan Aroo.
Maunya, Dae duduk di meja yang sama dengan Kenji. Namun Zee pasti akan menolak mentah-mentah. Karenanya, Dae cuma bisa mengamati dari jarak beberapa meter. Tak lama Zee datang, senyumnya terbentang lebar. Tidak membuang waktu, dia langsung mengeluarkan ponsel dan t***k bengeknya.
Tak menghiraukan Zee yang asyik menonton. Dae mengamati Kenji yang sedang meladeni pisuhan Randu malas-malasan. Berharap Kenji akan menyadari keberadaannya, tetapi alih-alih justru Aroo—sobat Kenji—yang menoleh padanya. Sudut bibir Aroo tertarik, Dae membalasnya dengan cengiran dan lambaian tangan singkat. Lalu tanpa terduga, senior beda departemennya itu memberitahu Kenji untuk menoleh pada Dae menggunakan isyarat.
Dae mengembangkan senyum lebih lebar saat Kenji memenuhi arahan Aroo. Pemuda itu hanya mengangkat sebelah alisnya, dan mengalihkan pandangan kala menemukan Dae yang cuma senyum-senyum tidak jelas sambil melambai.
"Eh, mau ke mana?"
"Udah. Kamu fokus aja nontonnya. Aku mau main ke sebelah bentar."
Dae berlalu, mengabaikan ekspresi penuh tanya Zee.
"Dae? Ngapain kamu di sini?" Randu bertanya keheranan kala Dae mendaratkan bokongnya di sebelah kiri Kenji, sementara Randu berada di kanan Kenji.
"Yang pasti, bukan buat ketemu kamu."
Randu mencebik, beralih meraih ponsel.
"Tumben kamu ke perpustakaan?"
Dae berpaling pad Aroo. "Hehe. Iya, Bang. Tuh nganterin temen numpang wi-fi." Pandangan Dae lantas jatuh ke atas jajaran buku di atas meja. "Bang Aroo baca ini semua?"
Aroo mengangguk.
"Wah. Luar biasa. Kalau aku pasti udah pingsan duluan. Baca cerpen aja bisa habis seharian." Dae meraih salah satu buku yang memiliki ketebalan paling tipis—meskipun notabennya tetap cukup tebal bagi Dae. "Mana isinya bahasa alien semua lagi."
Aroo tersenyum semanis madu. "Emang kamu tahu bahasa alien kayak gimana?"
"Nggak." Dae nyengir. "Makanya aku nggak ngerti ini bacaannya apaan."
Atensi Dae lantas tercuri pada Kenji yang pergi menuju rak penyimpan novel.
"Aku pergi ya, Bang. Bang Aroo lanjut belajarnya." Dae mengepalkan jemari, menghentakan ke depan. "Semangat!"
Aroo tertawa tanpa suara. "Kamu juga, semangat!" Aroo meniru gayanya barusan. Kemudian sudut matanya terlempar ke arah Kenji pergi barusan. "Semangat buat misinya. Semoga berhasil."
Dae jadi semakin semangat mendengarnya. Setidaknya ada satu orang yang mendukung misinya. Dae bergerak hormat bak komandan upacara. "Siap, laksanakan."
"Dasar aneh."
Dae pun langsung melenggang menyusul Kenji, tetapi sebelumnya menyempatkan menarik sejumput rambut belakang Randu atas komentarannya. Tak dia indahkan ringisan Randu. Di sana Dae pun Menemukan Kenji tengah membaca sebuah novel yang lumayan tebal. Dae memiringkan kepala, mendapati air muka Kenji yang tampak tidak seperti biasanya.
"Kenapa, Kak?"
Kenji menutup buku keras. Terkejut dengan presensi Dae yang mendadak berada di sampingnya.
"Cie... kaget, ya? Jadi makin gemes, deh." Dae memerhatikan buku yang Kenji pegang. Ada tulisan Dan Brown-Origin tertera di sampulnya. "Kak Kenji baca novel ini juga?"
"Iya."
"Kakakku juga baca. Katanya isinya berat. Dia bela-belain baca buat pedekate sama cewek. Eh, ujung-ujungnya ceweknya malah kepincut sama kakakku yang lain. Tragis."
"Terus hubungannya sama saya apa?"
"Ya biar Kak Kenji lebih kenal sama aku. Walau cuma hal kecil kayak gitu. Katanya kalo makin kenal jadi makin sayang."
"Emangnya, kamu mau saya sayang?"
"Eh?" Dae mengedip-ngedip cepat. Kenji selalu memberikan jawaban bertolak belakang dengan ekspetasinya. "Emang Kak Kenji mau sayang sama aku?"
"Tergantung."
"Tergantung?"
"Tergantung kamu mau saya sayang atau nggak," ujarnya santai.
Bola mata Dae rasanya hampir meloncat ke luar. "Kalau aku bilang mau?" Dae berkata begitu bukan berarti dia benar-benar mau. Dia penasaran akan jawaban apa yang akan pemuda itu berikan.
Kenji menatapnya intens sejemang. Bibirnya tertarik ke atas. "Liat nanti. Saya sanggup atau nggak." Kenji pun berbalik, melangkah pergi.
Dae mengembuskan napasnya lega. Gila, bahan bercandaan Kak Kenji bahaya banget. Pikirnya.