TIGA PULUH EMPAT

695 Kata
"Siniin kakinya. Biar saya obatin."   Ragu-ragu Dae menyodorkan kakinya. "Kak Kenji yakin bisa?"   "Kamu percayain aja sama saya. Tadi saya udah belajar dari si mbah google sama temennya kakek YouTube." Kenji memandang Dae sebentar. "Kamu tenang aja. Kaki mu bakal baik-baik aja di tangan saya. Seenggaknya nggak bakal sampai di amputasi kalau ada salah-salah obat dikit."   Dae memelotkan mata. Spontan menarik kasar kakinya. "Kak Kenji yang bener aja, dong. Masa kesiram air panas doang bisa sampe di amputasi."   Kenji mengedikkan bahu. "Bisa aja. Kata mbah google tadi kalau luka melepuh kayak gini nggak cepet-cepet di obatin, lukanya bisa di hinggapin banyak bakteri dan kuman. Nah, bakteri itu bakal makanin selsel kulit, jaringan, daging, sampai akhirnya infeksi. Terus membusuk. Setelah itu kaki mu harus di amputasi supaya pembusukan nggak menyebar."   Dae menyoroti Kenji penuh kengerian atas penjelasannya tersebut. "Kak Kenji bohong 'kan?"   Kenji mengembuskan napas. "Ya iya lah saya bohong. Kaki mu yang luka, tapi kenapa otak mu yang jadi lambat mikir. Atau jangan-jangan otak kamu adanya di kaki?"   "Enak aja. Mana ada sejarahnya otak manusia ada di kaki. Ngaco."   "Siapa tahu kamu manusia yang beda." Kenji meraih pergelangan belakang kaki Dae, menariknya secara lembut. "Sini. Saya obatin. Tadi saya memang bohong, tapi bisa aja kebohongan saya jadi nyata kalau ini nggak cepet-cepet di tanganin."   Dae menangguk. Membiarkan si pemuda meneliti sebentar lukanya, lalu mulai mengambil bahan-bahan antiseptik dari kotak obat. Selama Kenji melakukan pengobatan pada Dae. Si gadis sesekali meringis serta menjengitkan kaki kala benda asing menyentuh kulitnya yang memerah. Saat itu pula Kenji akan menghentikan kegiatannya sejenak, lalu beralih memandang Dae dengan binar mata sarat kecemasan. Kemudian selanjutnya dia akan melakukannya secara jauh lebih lembut.   "Kamu tahu." Kenji tiba-tiba buka suara di tengah-tengah kegiatan membalut kedua kaki Dae menggunakan perban. "Kejadian ini bikin saya makin yakin kalau kutukan itu memang nyata. Kalau saya cuma pembawa bencana bagi perempuan."   "Kak," panggil Dae sarat akan kelelahan. "Kutukan itu cuma omong kosong."   Kenji menyelesaikan pekerjaannya, lantas mengangkat kepala. Membuat si iris segelap bubuk kopi dan si iris sehitam jelaga bersibobrok. "Kenapa kamu selalu seyakin itu?"   "Karena memang kenyataannya kutukan itu cuma omong kosong," tegas Dae.   Kenji menatap Dae semakin dalam. "Kamu bahkan nggak tahu apa pun, Dae. Tentang gimana stigma kutukan itu di mulai."   "Bagaimana pun stigma itu di mulai. Aku tetap yakin kalau kutukan itu cuma omong kosong."   "Kamu memang keras kepala, ya. Jauh lebih keras kepala dari yang saya kira." Sebelah sudut bibir Kenji agak terangkat. "Jadi, jawaban atas pertanyaan saya kemarin apa? Kenapa kamu sepeduli ini? Bahkan sampai mempertaruhkan pertemanan mu sendiri. Di bandingkan sama teman kamu itu, saya jelas bukan siapa-siapa mu 'kan? Dan alasan kalau kamu peduli, saya rasa itu terlalu lemah untuk kamu jadikan alasan."   Dae tak langsung menjawab. Berpikir sejenak. Bolehkah dia katakan kalau hal yang di lakukannya ini berdasar pada campur tangan ego dalam dirinya? Selama ini cuma dia yang berani koar-koar perihal kemustahilan kutukan Kenji. Maka bila Dae dapat membuktikan kata-katanya, egonya akan terpenuhi. Ego akan keinginan pengakuan dari mereka yang memercayai kutukan tersebut bahwa selama ini Dae benar. Tidak. Itu pilihan yang buruk. Tak ada seorang pun yang suka di jadikan wadah pemuas ego. Menelan salivanya kuat-kuat. "Karena aku memang peduli, Kak. Aku peduli sama seseorang yang aku cinta." Dae meneliti mimik Kenji yang di aliri keterkejutan beberapa detik. "Karena aku cinta sama, Kakak."   Selepas Dae berkata demikian, Kenji tak segera memberi respon. Si pemuda bungkam dengan manik yang memaku manik Dae. Jakunnya naik turun lambat. Sementara Dae, dalam hati sudah ketar-ketir. Entah mengapa mulutnya malah mengeluarkan sebaris kata yang teramat keramat seperti itu dengan mudahnya. Cinta? Dae bahkan tak yakin.   "Sejak kapan?"   "Hah?"   "Sejak kapan kamu suka sama saya?"   Dae sama sekali tak menyangka bila Kenji akan mempertanyakan hal itu. Duh. Sekarang Dae harus jawab apa, ketika dia bahkan tak ada rasa pada si pemuda kecuali kekaguman akan ketampanan yang luar biasa itu. "Hng... aku... lupa."   "Lupa?"   "Iya, lupa."   "Gimana bisa lupa?"   "Ya mana aku tahu," sahut Dae sewot. "Rasa itu datangnya tiba-tiba. Bahkan tanpa aku sadar. Ya mana sempet liat kalender dulu terus di catet."   Kenji mengangguk-ngangguk paham. "Kalau gitu." Kenji memberi jeda. "Biarin saya mempermudah jalan kamu buat membuktikan ke omong kosongan ini."   “Maksudnya?"   "Saya akan membalas rasa mu, Daedalion. Untuk mempermudah segalanya."   Dae syok bukan kepalang.   Hah?! Apa katanya?! Membalas rasa mu?! ASTAGA! Maksudnya apa?!   Seseorang tolong jelaskan apa makna dari membalas rasa mu pada Dae.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN