TIGA PULUH LIMA

873 Kata
"Mulutnya jangan mangap-mangap kelamaan. Nanti lalat salah masuk."   Dae mengerjap-ngerjapkan kelopak mata. Menarik kembali kesadaran yang tadi melalang buana. Sedangkan pemuda yang tadi berkata demikian, tanpa aba-aba bangkit dan langsung pergi begitu saja sembari membawa kotak obat. Tak lama Kenji kembali, seraya menenteng ember serta alat pel. Dae berniat membantu. Namun belum lagi b****g Dae benar-benar terangkat dari tempat duduk, Kenji telah terlebih dahulu melotot galak.   "Kamu diem aja di situ. Nggak usah ke mana-mana."   Dae praktis mengerucutkan bibir ke samping. "Kenapa? Aku kan mau bantu...."   "Kamu nggak liat kaki mu udah kayak abis di rebus begitu? Eh. Bukan kayak lagi. Tapi memang abis di rebus. Bukannya bantu yang ada kamu malah tambah bikin ribet. Lagian gimana mau bantu, kalau jalan aja, saya yakin kalau kamu balapan sama keong pun yang menang pasti keongnya."   Dae merengut tak terima. "Jalan ku nggak selambat itu!"    Kenji mengedikkan bahu tak acuh. Lima menit berlalu, lokasi insiden jatuhnya panci telah selesai Kenji bersihkan. "Masih laper?" Dae menoleh. Melipat bibir ke dalam. Lantas mengangguk-nganggukan kepala pelan. "Ya udah. Kamu tunggu dulu di sana. Biar saya masakin mi lagi."   Tanpa mau repot-repot menanti balasan Dae, si pemuda melenggang menjauh. Kurang dari semenit muncul lagi, dan langsung bertandang menuju area dapur. Memulai kegiatan masak-memasaknya, lagi. Sementara Dae cuma duduk mengawasi dari jauh, sebab tadi Kenji telah mewanti-wantinya. Begini katanya, "Jangan ke mana-mana. Kalau mau bantu cukup duduk anteng di sana aja. Itu sudah sangat membantu. Paham?"   Dae spontan mengangguk. "Paham, Kak."   "Bagus, gadis pintar."   Selama menanti makanannya selesai di masak. Dae mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Hingga manik matanya jatuh pada sebuah bingkai foto yang memuat seorang gadis remaja mengenakan seragam siswa menengah atas, terpajang di sebuah meja kayu. Tidak hanya satu, wajah gadis itu juga tercetak di beberapa bingkai foto lainnya.   Dae lalu memilih bangkit. Meraihnya serta merta mengamati garis wajah ayu yang terbekukan dalam diam. Dae seperti pernah melihat wajah itu. Ah, ya benar juga. Wajah gadis dalam foto ini mempunyai gurat wajah sebelas dua belas dengan wanita paruh baya yang menganggap Dae anaknya tadi.   Manik. Apa gadis ini yang bernama Manik?   "Kamu ternyata memang susah banget di kasih tahu, ya?"   Dae refleks menoleh menuju sumber suara. Menemukan Kenji yang tengah melangkah mendekatinya, lantas terhenti tepat di sebelahnya. Pandangan si pemuda langsung terlabuh pada bingkai foto dalam genggaman Dae. Detik itu juga ada sesuatu yang berubah dari sorotan si pemuda. Sesuatu yang elusif. "Gadis ini yang namanya Manik?"   Kenji mengangkat kepala. Membuat dua iris mereka bersibobrok. "Iya." Kenji tak mengedip. "Namanya Manik Angkara. Putri satu-satunya Ibu yang tadi meluk kamu."   "Di mana dia sekarang?"   Kenji terdiam. Tak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu, baru lah belah bibirnya terbuka. "Di suatu tempat." Napas si pemuda terembus pelan. "Di suatu tempat yang nggak akan pernah bisa kita jangkau sebelum jantung kita berhenti berdetak."   Detik berikutnya, kala Kenji lagi-lagi buka suara. Dae tak bisa untuk tak di bikin terperanjat karenanya.   "Dia gadis yang selama ini anak-anak kampus bilang, sebagai gadis yang sudah mengutuk saya."   *   “Kak Kenji tadi udah janji mau jawab semua pertanyaan ku.”    “Saya memang bilang gitu,” ujarnya setelah mulutnya kosong, dan makanan telah meluncur ke lambung. “Tapi nanti, setelah makan selesai. Saya bukan tipe orang yang suka di ajak ngobrol kalau lagi makan.”   “Ikat rambut mu. Kalau kamu makan kayak gitu, yang ada rambut mu ikut-ikutan masuk ke mulut.”   Dae mengerjap-ngerjap. Beralih mengenyampingkan helai rambut yang jatuh ke depan dan mengumpulkan jadi satu di sebelah kiri. “Nggak apa-apa aku pakai karet Kak Kenji? Nanti Kak Kenji sendiri gimana?”   Kenji mendecak. “Kamu kenapa suka banget nanyain hal-hal yang nggak perlu di tanyain begitu?” Kenji menggeser ikat rambut ke samping mangkuk Dae. “Kalau saya udah kasih kamu, itu artinya nggak apa-apa.”   Dae menggembungkan pipi, membuat si gadis terlihat mirip tupai yang tengah mengumpulkan makanan di mulut. Meraih ikat rambut berwarna hitam pemberian Kenji. “Ya, kan aku cuma mau memastikan.” Dae berujar sembari mengikat rambut di belakang leher.   “Lain kali, kalau sama saya. Nggak usah ngelakuin hal itu lagi. Nggak guna.”   “Baik lah, Yang Mulia,” ujar Dae seraya menundukkan kepala, meniru-niru tindak tanduk seorang bangsawan.   Mendengar hal tersebut Kenji kontan di bikin menghentikan kunyahan. Pandangannya terpaling menuju Dae yang rambutnya telah terikat. Memperlihatkan leher jenjang, yang di hiasi bintik-bintik bulat hitam di beberapa titik. Sementara si gadis sibuk menghabiskan makanannya cepat-cepat, tanpa menyadari Kenji yang menatapnya intens. Dalam hitungan semenit, Dae sukses menandaskan makanan. Sentuhan terakhir, si gadis mengangkat mangkuk. Memasukan bibir mangkuk ke dalam mulut, dan menyeruput habis kuahnya.   Kala Dae meletakan mangkuk ke atas meja, sendawa besar nan panjang mengudara. Dae buru-buru menutup mulut, sembari meringis kecil. “Ups. Maaf.”   Kenji mengulum bibir, tampak sedang menahan tawa. Kemudian menunduk, mengikuti cara Dae menyeruput kuah tadi. “Nggak heran sendawa mu bisa sebesar itu,” tukas Kenji lantas, seraya meletakan mangkuk kembali.    “Kenapa? Ini artinya aku menikmati dengan sangatttt makanan yang udah Kak Kenji buat.” Dae mengulas senyum, mengatupkan tangan di depan d**a. “Terima kasih atas makanannya Yang Mulia.”   “Yang Mulia nggak memasak untuk orang lain.”   “Bisa aja. Memasak buat permaisurinya contohnya.”   Ada jeda sejenak sebelum si pemuda membalas. “Benar juga,” Kenji menyetujui, seraya mengambil dua mangkuk kosong. “Kamu kan permaisuri saya. Jadi apa saya harus manggil kamu, Yang Mulia Ratu? Oh. Atau Adinda?”   Selepas berkata demikian, Kenji segera pergi menuju dapur membawa mangkuk kotor tersebut. Detik berikutnya tawa kering Dae terbuang ke udara. “Haha. Humor Kak Kenji udah meningkat nih. Ciee.”   Tanpa menoleh sedikit pun, si pemuda membalas. “Humor? Saya nggak lagi bercanda.” Atma Dae seketika kabur dari raganya. “Saya serius.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN