Dae sungguh tak mengerti. Entah jin atau genderuwo dari tanah mana yang telah merasuki Kenji. Akan tetapi, mari kesampingkan hal tersebut barang sejenak terlebih dahulu. Dae perlu memberi asupan bagi kotak kuriositasnya terkait gadis bernama Manik Angkara.
"Jadi, Manik ini tunangan Kak Kenji?" Itu merupakan pertanyaan pertama yang Dae lempar begitu si pemuda kembali dari acara cuci mencuci mangkuk kotor.
"Iya."
"Kenapa diam? Kamu cuma mau nanya itu aja?"
Napas Dae terhela pelan. "Apa nggak masalah kalau aku nanya terlalu jauh? Apa lagi ini hal yang sangat privasi."
"Sekarang ketika saya ngasih kamu kesempatan, kamu malah ragu? Ke mana perginya gadis yang dari tadi ngotot nuntut jawaban sama saya?" Dae kontan cemberut. Dia cuma ingin menjadi sosok yang lebih pengertian. Menilik dari bagaimana mimik Kenji yang menunjukkan ketidaknyamanan saat Dae mulai pembicaraan ini. "Sebelumnya saya udah bilang bukan, kalau saya akan bekerja sama untuk mematahkan stigma kutukan ini sama kamu. Itu artinya saya sudah siap kalau kamu mau masuk lebih dalam ke kehidupan saya."
Dae tercenung sejemang. Mulai mampu memproses. Jadi ini lah maksud si pemuda dari ungkapannya menit-menit yang lalu, kala mengatakan kalau dia mau mempermudah jalan Dae untuk membuktikan bahwa kutukan Kenji tidak lain tidak bukan cuma omong kosong belaka. Tentunya hal tersebut ialah kabar bagus buat Dae. "Kenapa? Kenapa Kak Kenji tiba-tiba berubah pikiran begini, dan mau bantu aku buat buktiin kalau kutukan Kak Kenji nggak nyata?"
"Saya juga ingin semua ini berakhir, Daedalion. Bukan cuma kamu yang muak sama kutukan ini, tapi saya juga." Kenji menurunkan pandangan. "Tapi selama ini saya memilih diam. Karena saya juga nggak punya bukti apa pun untuk menyangkal. Sama kayak yang kamu lakuin soal rumor foto kita, kamu diam karena kamu nggak punya bukti buat menyangkal rumor itu, kan?"
Kini dia mulai memahami kenapa Kenji tak pernah memberi komentar apa pun terkait kutukan yang melekatinya. Segalanya pasti lah jua pelik bagi Kenji. Ketika dia bungkam, mereka justru menganggap bahwa kebungkamannya adalah sebuah afirmasi kebenaran.
"Kalau Kak Kenji memang muak, kenapa selama ini nggak pernah nyari cara buat buktiin kalau kutukan ini nggak bener."
"Seandainya semuanya memang semudah itu." Kenji mengangkat tatapan untuk lantas dia adu dengan iris sehitam jelaga Dae. "Karena saya sendiri pun ragu, gimana kalau Manik memang benar-benar sudah mengutuk saya, atas perlakuan saya padanya."
"Maksud Kak Kenji apa?"
"Manik... barangkali aja dia masih hidup sampai sekarang kalau saja saya nggak mengabaikan dia, dan seorang ibu nggak harus kehilangan separuh jiwanya karena kebodohan saya."
Dae memejamkan kelopak mata sejemang. Berusaha mengontrol diri. Dae tak mau lagi tenggelam dalam lautan asumsi yang belum tentu benar.
"Kenapa diam? Apa sekarang kamu mulai menyesal karena sudah menceburkan diri ke masalah ini?"
"Nggak. Aku sama sekali nggak menyesal," tandas Dae penuh keyakinan. "Lagi pula, dari foto yang aku lihat. Manik nggak mungkin setega itu ngelakuin hal seperti ini sama Kak Kenji."
"Kamu tahu dari mana, Daedalion? Kamu bahkan nggak pernah ketemu dia, kan?"
"Aku mungkin memang nggak pernah ketemu Manik secara langsung. Tapi hanya dengan lihat fotonya saja. Aku bisa bilang dia gadis yang baik."
"Saya nggak pernah bilang kalau Manik gadis yang nggak baik." Kenji melirik sekilas ke sebuah foto yang di dalamnya terdapat gadis itu. "Manik memang gadis yang terlampau baik. Tapi kekecewaan tidak terkecualikan untuk orang baik. Bahkan mereka memiliki potensi paling besar untuk di kecewakan. Dan saya sudah memberi dia hal itu, Daedalion. Kamu pikir apa yang membuat dia sampai memutuskan mengakhiri hidup?" Dae diam atas pertanyaan retoris itu, dan Kenji menyambung dengan suara lirih. "Karena saya, Daedalion. Karena saya sudah membuat gadis baik itu mengecap kekecewaan."
"Bukan kah itu terlalu jahat, Kak." Pelan-pelan Dae melempar tatapan pada Kenji kembali. Menemukan si pemuda menampilkan raut bingung. "Bukan kah terlalu jahat, kalau Kak Kenji sendiri bahkan ikut menuduh seseorang yang sudah beristirahat dalam keabadian atas segala omong kosong ini."
"Kekecewaan memang nggak pernah mau repot-repot buat pandang bulu, ke siapa mereka akan singgah. Tapi menjadikan kutukan sebagai buah kekecewaan itu, di zaman sekarang. Logika ku tetap nggak bisa menerima itu semua."
Dae lantas mengembuskan napas, bersamaan dengan sorotannya yang melembut, tangan kanannya yang mengepal terangkat, bergerak mendekati d**a Kenji. Berakhir melekat di sana, setelah Dae mengembangkan jemarinya. Melabuhkan tatapan pada punggung tangannya itu. "Kalau Kak Kenji memang benar-benar mau melepaskan semua stigma kutukan itu. Setidaknya Kak Kenji harus mulai dari sini." Dae mengangkat pandangan. "Kak Kenji harus bisa yakin. Yakin dan percaya kalau kutukan itu memang nggak nyata. Karena kalau Kak Kenji sendiri nggak yakin, gimana caranya Kak Kenji meyakinkan orang lain?"
Detik berikutnya, dapat Dae rasakan kehangatan menimpa tangannya. Kala melihat ke d**a Kenji, si gadis menemukan tangan lebar Kenji menempel di sana. Hingga detik berikutnya berubah menjadi sebuah genggaman lemah. "Saya sedang mengusahakan itu, Daedalion. Karena saya juga nggak mau berakhir menjadi lebih jahat lagi dengan menjatuhkan segalanya ke Manik. Itu lah sebabnya kenapa saya mau turut serta mematahkan stigma kutukan ini."
Senyuman Dae merambat terbit.
"Daedalion,"
"Iya?"
Butuh waktu sedetik untuk seutas lengkungan nyata terulas di belah bibir Kenji. Sesuatu yang entah mengapa membuat d**a Dae seakan di lewati angin hangat musim semi. "Terima kasih." Kenji menjeda. "Terima kasih karena mau memedulikan saya, dan tetap bertahan meski saya sudah mendorong kamu menjauh berulang kali."
Senyum Dae melebar. Kepalanya terteleng ke samping. "Maka aku harus terima kasih sama kepala ku yang keras melebihi batu ini."
Si pemuda kontan di bikin terkekeh kecil. Sebelah tangannya yang bebas, menepuk-nepuk puncak kepala Dae.
"Tentu saja. Tanpa bantuan ini mungkin saja kamu udah kabur sejak lama."