"Astaga! Udah jam setengah sepuluh!" Dae memegangi kepala, kepanikan tercetak nyata pada wajah bulatnya. Bola matanya bergulir ke sana ke mari, mencari-cari keberadaan ponsel pintar miliknya. Namun dalam hitungan detik Dae pun teringat bahwa ponselnya itu agaknya masih tertinggal di dalam mobil. Dae langsung merutuki. Kemudian buru-buru bangkit, hendak mengambil ponselnya yang tertinggal. Akan tetapi, Kenji menahan pergelangan tangannya.
"Kak, ih. Lepasin. Ini tuh darurat lapan enam."
"Mau ke mana?"
"Mau ngambil hape. Kayaknya ketinggalan di mobil. Aku belum ngabarin Aa-Aa dari tadi. Nanti mereka panik kayak waktu itu."
"Duduk," perintah Kenji seraya bangkit. "Biar saya yang ambilin. Kamu lupa kaki mu masih begitu? Apa lagi hujan di luar masih deres banget walau nggak ada petirnya."
Dae pasrah. Selepas itu, si pemuda melenggang pergi. Dae mengikuti punggung Kenji sampai hilang tertelan daun pintu. Kala Kenji membuka pintu, bunyi gemericik hujan menerobos masuk sesaat. Pun bersama hawa dingin yang mendadak terembus, menjangkau Dae yang terduduk di lantai ruang tamu.
Dae melenturkan punggung, untuk kemudian dia sandarkan pada dudukan panjang bambu di belakangnya. Napas si gadis terembus berat, di susul belah bibirnya yang membuka lebar, menguap.
Dae melarikan pandangan ke arah pintu masuk, berharap Kenji muncul dari baliknya. Namun nihil. Untuk kesekian kalinya, Dae menguap. Kelopak mata Dae benar-benar memberat. Tak memiliki daya untuk tetap bertahan terbuka. Lebih-lebih di tambah dengan suara rinai hujan yang terdengar bak orkestra pengantar tidur. PHingga dalam hitungan detik, Dae sudah menyelami lautan alam bawah sadar.
Dae memang segampang itu untuk tertidur.
*
Semenit telah berlalu dari pertama kali Kenji menemukan si gadis yang tertidur dalam posisi duduk. Kepala Dae menunduk, dengan belah bibir yang sedikit membuka. Garis-garis wajah si gadis yang tampak tenang berhasil menjadi alasan bagi bibir Kenji agar mencipta segaris senyum. Selama itu pula Kenji cuma mengahabiskan detik waktu untuk menyoroti setiap inci wajah di depannya. Namun anehnya, Kenji sama sekali tak merasa bosan.
Detik berikutnya, kepala Dae mendadak terhuyung ke samping. Dengan sigap, Kenji menahan menggunakan sebelah telapak tangannya, sedangkan tangannya yang lain memegangi pundak si gadis.
Sejurus kemudian si pemuda menumpukkan kepala Dae pada d**a bidangnya. Selang sedetik dari itu, dia hampir-hampir di bikin memekik geli lantaran si gadis yang tanpa sadar mengusak wajah di sana, seraya menggumam lirih, "Hmm... wangi...."
"Kamu bener-bener punya bakat buat saya makin takjub sama kamu, Daedalion." Dengkur halus Dae pun menanggapi penuturan si pemuda.
Kenji mengangkat tubuh si gadis ala bridal style. Kemudian menidurkannya di atas sofa. Kenji beranjak pergi mencari selimut, bantal serta selembar kain untuk alas baginya sendiri. Kemudian Kenji mengangkat pelan kepala Dae, menyelipkan bantal di sana. Lalu beralih menebarkan selimut di atas Dae, menutupi seluruh tubuh kecuali bagian kepala.
Dae menggeliat kecil, mengeratkan selimut pada tubuh. Berusaha memperoleh kehangatan lebih banyak.
Kenji yang masih betah menatapi raut tenang tersebut, detik berikutnya tangan si pemuda tergerak guna menyingkirkan anak-anak rambut yang mengusik tidur si perempuan.
"Selamat malam, Daedalion. Saya harap setelah ini baik kamu atau pun kita, akan selalu baik-baik saja." Kenji mengusap pelan puncak kepala si gadis. "Selamat tidur. Semoga kamu nggak mimpi buruk."
Sejurus kemudian, Kenji beralih membentangkan selembar kain di atas ubin, di antara tempat so gadis tidur serta meja kecil bambu.
Yah. Rupa-rupanya malam ini Kenji tak memiliki pilihan lain selain menginap di sana. Cuaca di luar sana masih betah buruk, menerjang bumi dengan ribuan amunisi air. Kenji tak yakin berkendara di tengah-tengah hujan serta kegelapan yang pekat. Lebih-lebih tubuhnya saat ini yang terlanjur letih untuk di ajak berkendara lagi. Kenji enggan mengambil resiko. Apa lagi dia membawa nyawa lain bersamanya.
Kenji tak mau membuat orang lain celaka lagi karena dirinya.
Kenji kemudian membukanya. Mempelajari cara Dae mengetik pesan sesaat, agar saudara si gadis tak curiga bahwa bukan Dae yang mengirim pesan.
Dae : A, hari ini aku nginep di rmh tmn
Tak berselang lama balasan muncul
AaDuta Shampoo lain : Tmn siapa?
Kenji menggaruk kepala. Bingung harus menjawab bagaimana.
Dae : Tmn ku
*
Astaga?! Aku masih di sini?! Itu artinya dari semalem aku nggak pulanb dan malah nginep di sini?!
Dae buru-buru mencoba bangkit, tetapi sayangnya tempat si gadis terbaring saat ini ternyata tidak begitu lebar—hanya seukuran tubuhnya saja. Tubuhnya pun terhempas ke bawah. Dae refleks memekik, dia pikir tubuhnya itu akan membentur ubin. Namun si gadis justru mendarat di bidang empuk.
Kala kepalanya terdongak, Dae tiada mampu untuk mencegah bola matanya agar tak semakin membulat. Bagaimana tidak, saat ini wajahnya dengan wajah Kenji cuma terselat oleh spasi tiga senti. Sedangkan si pemuda tak terusik, begitu jauhnya tenggelam dalam lelap.
Dae mencoba bangkit. Namun gagal lantaran kedua lengan Kenji yang mendadak melingkari tubuhnya, menarik tubuh Dae sehingga kembali menempeli si pemuda. Bukan hanya itu. Sesuatu yang sukses membuat bibirnya menempel ke bibir si pemuda.
Kemudian secepat insiden tersebut terjadi, secepat itu pula Kenji membuka kelopak mata. Seakan-akan bibir mereka yang menempel telah mengirim rangsangan kesadaran padanya.
Dua pasang bola mata itu memelotot. Dae pun terburu-buru menarik diri. Sedangkan si pemuda yang tadinya masih berbaring, kini telah turut duduk kaku.
Plisss, plisss, plissss. Yang tadi cuma mimpi. Yang tadi cuma mimpi. Yang tadi cuma mimpi. Nggak nyata. Nggak nyata. Nggak nyata.
"Kalian, kunaon ieu teh? Kenapa mukanya pada tegang begitu?"
Mendengar suara wanita yang mendadak merangsek, kekompakan kedua terjadi. Baik Dae mau pun Kenji sama-sama spontan menoleh menuju sumber suara.
"Mana mukanya pada merah. Kepanasan? Ah, nggak ah. Begini dinginnya masa kalian kepanasan? Atau kalian sakit? Pasti gara-gara ketiduran di luar begini. Ya ampun, Kang Kenji maaf yah. Saya kemarin ketiduran. Kalian jadi bobok di sini. Kalau gitu saya buatin bubur sama teh anget dulu, ya."
Belum sempat perawat itu mengangkat kaki kanan, gerakannya terlebih dahulu terinterupsi oleh cegahan Dae dan Kenji.
"Nggak usah."
"Nggak usah."
"Kenapa? Nggak apa-apa saya bikinin aja, muka kalian merah banget ini. Kayaknya demamnya tinggi. Ulah sungkan-sungkan kitu sama saya, mah."
"Nggak apa-apa, Mbak. Saya nggak sakit, kok."
"Saya juga," timpal Dae yang entah mengapa nada suara yang ke luar terdengar tinggi. Dae buru-buru melegakan tenggorokan. "Ekhm. Saya juga nggak sakit, Mbak."
"Tapi muka kalian merah banget loh. Beneran nggak apa-apa?"
"Iya. Nggak apa-apa. Ini gara-gara kemarin kita main dandan-dandanan. Iya, kan Kak Kenji?"
"Eh—uh. Oh, iya."
"Bener begitu?"
"Bener."
"Suer?”
"Suer."
Memperoleh kekompakan sepasang pemuda-pemudi itu, si perawat pun tersenyum geli. "Ya ampun kalian berdua teh, meuni gemesin pisan." Dae jadi semakin mengkeret akibat malu karenanya. "Jawabnya kompak pisan. Saya tehberasa ngomong sama murid TK." Selepas berkata demikian, si perawat pun melenggang pergi. Entah harus Dae syukuri atau tidak. Sebab menghilangnya perawat tersebut dari sekitar Dae, membuat Dae dan Kenji lagi-lagi terjebak kebisuan yang super canggung.
Detik berlalu, Dae kemudian memutuskan untuk memecah keheningan dengan mengucap sepatah kata terlebih dahulu. Namun di saat yang sama Kenji jua memiliki niat yang serupa.
"Maaf."
"Maaf."
*
"Nggak! Kamu nggak boleh pergi, sayang. Ibu masih kangen sama kamu, tapi kamu udah mau pergi gitu aja? Kamu nggak kangen sama ibu?"
Dae mengelus-elus lembut tangan mungil di genggamannya. Mencoba menyalurkan ketenangan. Dae melempar tatapan sendu pada Kenji yang duduk tak jauh dari mereka. Membuat kedua iris mereka beradu dalam diam. Sudah hampir sepuluh menit terlewat sejak Dae serta Kenji memutuskan untuk pulang.
"Ibu, Manik bakal kembali lagi, kok. Manik nggak akan pergi lama. Manik cuma mau ke kampus. Masa nggak boleh, nanti Manik nggak lulus-lulus gimana?"
Dae terus berupaya membujuk sosok itu agar mau melepaskannya. Sejujurnya dia sendiri pun tidak tega bila harus meninggalkan sosok ibu itu. Mengingat betapa menyakitkannya kala Dae menyaksikan si wanita paruh baya histeris memanggil sang anak. Akan tetapi, Dae tak bisa berdiam diri di sana. Di samping kegiatan perkuliahannya, ada kakak-kakaknya yang harus Dae temui.
"Nggak! Tetep nggak boleh!" Nada suara si wanita paruh baya meninggi, merengek selayaknya anak kecil. "Kamu lebih mentingin kuliah dari pada ibu? Kamu udah nggak sayang lagi sama ibu, ya? Makanya selama ini kamu nggak pernah pulang." Kini si wanita paruh baya mendadak berujar lirih, dengan getar-getar suara. Tanda-tanda kalau sebentar lagi akan ada air mata yang melumcur.
Dae membasahi bibirnya yang tiba-tiba saja mengering. "Nggak, Ibu. Bukan gitu. Manik sayanggg banget sama Ibu. Ibu jangan ngomong gitu, Manik jadi sedih." Dae memberi jeda sejenak untuknya menarik napas. "Tapi kuliah Manik juga penting. Dae harus kuliah sekarang, supaya bisa cepet-cepet lulus dan nggak harus ninggalin Ibu lagi. Setelah itu, Manik bisa sama Ibu terus."
Si wanita paruh baya memandangi Dae lemah. "Manik sedih?" Kepala wanita tersebut tergeleng. "Jangan sedih. Putri Ibu nggak boleh sedih... maafin Ibu...."
Jantung Dae seketika mencelos mendengarnya. "Nggak, Ibu. Ibu jangan minta maaf kayak gitu. Ibu nggak salah." Tenggorokan Dae tercekat. Entah mengapa begitu sulit rasanya untuk melanjutkan kalimat.
"Ibu...." Bola mata Dae spontan tergulir pada presensi Kenji yang duduk di sebelah Ibu Manik. "Manik perginya nggak lama kok. Nanti siang Manik juga udah pulang. Kenji janji langsung anter Manik pulang setelah kelas selesai, terus habis itu kita bisa pergi jalan-jalan. Ibu mau jalan-jalan, kan? Kita pergi ke pusat kota atau Ibu mau ke gedung sate? Ibu suka suasana di sana, kan?"
Lama wanita paruh baya itu terdiam. Dae dan Kenji pun saling mengadu pandangan. Kemudian kala anggukan pelan nan singkat dia berikan, senyum Dae kontan terulas tipis.
Membiarkan Mbak Perawat mengambil alih Ibu Manik, Dae bersama Kenji beranjak menuju mobil yang terparkir di pekarangan.
"Kak Kenji." Kenji menatap Dae dari sudut mata. "Aku nggak keberatan kok kalau kapan-kapan kita beneran ngajak Ibu jalan-jalan."
"Saya senang mendengarnya, Daedalion."
•
Behind The Scripts
Sepanjang malam itu, Kenji beberapa kali di bikin terbangun. Entah itu karena dengkuran si gadis, tangan si gadis yang mendadak terhempas pada wajah Kenji, kaki si gadis yang ke luar dari haluan dan tak sengaja menendang perut Kenji, atau selimut si gadis yang mendadak menutupi wajah Kenji.
Kalau suda begitu, Kenji tak punya pilihan lain selain bangun dan membetulkan posisi selimut dan gadis itu lagi.
Sedangkan di sisi lain, Dae tertidur pulas tanpa menyadari sedikit pun apa yang telah dia lakukan pada Kenji.
Kenji yang malang.