TIGA PULUH DELAPAN

972 Kata

"Aku masih nggak paham. Kenapa tante tadi bisa nganggap aku Manik. Bahkan sedikit pun aku sama dia nggak ada mirip-miripnya. Kecuali kalau fakta kita berdua adalah perempuan."   Dae beru teringat untuk menanyakan hal aneh tersebut pada Kenji detik ini. Kala dua pemuda-pemudi itu tengah dalam perjalanan menuju kediaman Dae. Membelah adimarga Kota Bandung yang tampak tenang di pagi menjelang siang ini, dengan kecepatan rata-rata.   "Ibu memang begitu, sejak kematian Manik." Kenji memutar setir, membawa mobil membelok. "Ibu akan menganggap siapa pun gadis muda yang terlihat seumuran dengan Manik, sebagai anaknya. Manik itu layaknya pusat kehidupan Ibu setelah suaminya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Perginya Manik, apa lagi dengan cara yang nggak pernah dia bayangkan sebelumnya, jelas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN