"Mau!" seru Achsan, melupakan keinginannya untuk tidur dengan neneknya.
Janji melihat pemandangan fantastis Paris dari atas menara yang ikonik itu jauh lebih menarik daripada apa pun.
Hafidz, Tiur, dan kedua anaknya berpamitan. Mereka kembali ke hotel, sementara Amang dan Inang tetap tinggal di rumah Hanna.
Sebuah kompromi yang penuh kasih sayang, demi memastikan Hanna dan cucu baru mereka mendapatkan ketenangan dan dukungan penuh.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Selama satu minggu di Paris, keluarga Hafidz menghabiskan waktu mereka dengan cara yang penuh petualangan, memastikan Adam dan Achsan mendapat pengalaman yang tak terlupakan. Liburan mereka tidak hanya dipenuhi keindahan, tetapi juga pelajaran dan kesenangan yang cocok untuk anak usia 5 tahun.
Kedatangan mereka di rumah sakit dan kepulangan Hanna ke rumah baru membuatnya lelah, jadi Hafidz memberikan waktu luang anak-anak untuk istirahat.
Siang hari dihabiskan dengan menenangkan diri dan menikm@ti suasana rumah di pinggir kota Paris yang sejuk dan damai.
Malam hari adalah waktunya janji terbayar lunas. Mereka memulai makan malam di sebuah perahu di Sungai Seine, dengan pemandangan Menara Eiffel yang berkelip-kelip.
Anak-anak terpesona oleh gemerlap lampu kota. Setelah makan malam, mereka naik ke puncak Menara Eiffel.
Dari sana, mereka melihat seluruh kota Paris, dengan lampu-lampu yang terlihat seperti bintang-bintang di bawah mereka. Adam dan Achsan berseru gembira, merasa seperti berada di puncak dunia.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Hari kedua anak-anak dibawa mengunjungi Louvre Museum, tetapi tidak seperti turis lain yang mencoba melihat semuanya. Hafidz mengajak mereka langsung ke bagian yang paling menarik untuk anak-anak yaitu lukisan Mona Lisa, yang ukurannya mengejutkan, dan koleksi Mesir Kuno dengan mumi dan peti m@ti yang misterius.
Setelah itu, mereka bersenang-senang di Tuileries Garden, berlari-lari di halaman rumput yang luas, naik komidi putar, dan bermain perahu layar kecil di kolam.
Hafidz menutup hari kedua wisata di Paris dengan menikm@ti makan malam di sebuah restoran di Quartier Latin, area yang penuh energi dan suasana santai.
Hari ketiga di Paris Pagi harinya, Hafidz mengajak keluarganya menjelajahi Muséum national d'Histoire naturelle yaitu Museum Sejarah Alam.
Anak-anak terpana melihat kerangka dinosaurus raksasa yang berdiri tegak.
Mereka juga melihat berbagai diorama hewan dari seluruh dunia, yang membuat mereka serasa berada di hutan atau sabana.
Setelah itu, mereka berjalan-jalan di Jardin des Plantes, taman yang dipenuhi bunga-bunga indah dan rumah kaca besar, wisata khusus bagi Tiur pecinta tanaman, dan anak-anak terbiasa, mereka juga mulai menyukai.
Malamnya Hafidz kembali mengajak keluarganya ke rumah Hanna dan menghabiskan malam yang tenang, bermain dengan Axel dan berbagi cerita tentang petualangan mereka hari itu. Dan tentunya mereka makan malam yang sangat anak-anak suka sebab inang dan Bu Husna membuat menu Bebakaran, dan anak-anak sangat senang sebab dibiarkan ikut berpartisipasi memanggang aneka makanan yang inang siapkan.
Malam itu hafidz dan keluarga tak pulang. Mereka gelaran kasur dan tidur di ruang tamu.
Sungguh bahagia rasanya
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu anak-anak. Mereka menghabiskan sepanjang hari di Disneyland Paris.
Adam dan Achsan bertemu dengan karakter-karakter Disney favorit mereka, naik roller coaster, dan menonton parade. Pengalaman ini benar-benar membawa mereka ke dunia fantasi.
Pulang dari Disneyland, mereka makan malam di sebuah restoran pizza di dekat hotel. Anak-anak sangat lelah tapi wajah mereka penuh kebahagiaan.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Sebenarnya anak-anak malas bangun pagi, tapi Tiur bilang mereka harus semngat sebelum pulang ke Indonesia, maka Adam dan Achsan terpaksa bangun.
Hari ini mereka mengunjungi Montmartre. Alih-alih naik kereta gantung, mereka menaiki tangga curam, menganggapnya sebagai petualangan. Di atas bukit, mereka mengunjungi Basilika Sacré-Cœur yang megah.
Anak-anak menikm@ti pemandangan kota dari ketinggian. Di Place du Tertre, mereka melihat para pelukis jalanan.
Tiur meminta salah satu dari mereka untuk menggambar karikatur Adam dan Achsan. Juga mereka berempat.
Malamnya Hafidz mengajak makan malam di sebuah kafe kecil di Montmartre, menikm@ti suasana seni yang hidup.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Hari selanjutnya mereka melakukan perjalanan sehari penuh ke Istana Versailles. Meskipun istana itu sendiri mungkin membosankan bagi anak-anak, taman-taman yang luas dan megah membuatnya sangat menarik.
Mereka berkeliling dengan kereta mini, melihat air mancur yang indah, dan menjelajahi Marie Antoinette's Hamlet, sebuah desa kecil yang dibangun di dalam taman.
Malamnya Tiur memilih merayakan malam terakhir mereka dengan makan malam istimewa di sebuah restoran bergaya Prancis, mengingat semua momen indah selama seminggu terakhir.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Hari ini Tiur menghabiskan pagi hari untuk membeli oleh-oleh, seperti gantungan kunci Menara Eiffel dan miniatur busana Paris, di toko-toko kecil. Setelah itu, mereka makan siang sederhana, anak-anak tak mau ikut, mereka memilih tinggal bersama Axel
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Semalam di kamar hotel mereka, Hafidz dan Tiur sedang mengulas kembali semua foto yang mereka ambil di hari pertama. Senyum bahagia Adam dan Achsan saat berada di Menara Eiffel mengisi layar ponsel.
Saat Tiur hendak mengunggah beberapa foto, Hafidz menghentikannya.
"My love,” kata Hafidz, suaranya pelan tapi tegas.
"Ada satu hal yang harus kamu ingat, dan ini sangat penting."
Tiur menatap suaminya, wajahnya menunjukkan kebingungan.
"Kamu boleh memposting foto apa pun di Paris," lanjut Hafidz.
"Foto kita, foto anak-anak di depan Menara Eiffel, atau foto rumah Hanna. Semuanya boleh."
Hafidz menjeda, menatap mata Tiur dalam-dalam.
"Tapi, jangan pernah, sekali pun, memposting foto Hanna atau bayinya."
Tiur terkejut.
"Kenapa, Bang?" tanyanya.
"Ini rahasia besar, my love," jawab Hafidz, suaranya sangat serius.
"Tidak ada yang boleh tahu bahwa Hanna sudah melahirkan, apalagi bayinya. Kita harus melindungi privasi Hanna. Kita tidak bisa membiarkan siapa pun tahu apa yang terjadi. Mereka tidak perlu tahu, karena hanya akan membuat masalah bagi Hanna dan masa depan anak itu."
Tiur mengangguk, mengerti. Ia segera meletakkan ponselnya. "Aku mengerti, Bang. Aku tidak akan memposting apa pun tentang Hanna dan bayinya."
Hafidz duduk di samping Tiur, mengusap punggungnya. Ia menyadari ia harus lebih detail, agar istrinya tidak salah paham.
"Dengar, my love," kata Hafidz, suaranya lebih lembut, namun masih penuh ketegasan.
"Ada satu hal yang sangat penting. Pengungkapan jati diri anak itu, adalah hak Hanna. Hanya Hanna yang berhak memberitahu siapa ayahnya."
Tiur mengangguk, mengerti.
"Anak itu bukan anak haram. Dia lahir saat Hanna masih menikah resmi dengan Akbar. Dia sah di mata hukum dan di mata Tuhan."
"Keberadaannya saja yang masih kita sembunyikan. Bukan karena dia aib, tetapi karena kita ingin melindungi Hanna. Kita tidak ingin Akbar atau keluarganya datang dan mengambil anak itu. Kita tidak ingin Hanna kembali terluka."
Tiur menatap suaminya, air mata mengalir di matanya. Ia mengangguk. Ia mengerti. Anak itu bukan aib. Anak itu adalah sebuah rahasia, sebuah kehidupan baru yang akan dibesarkan dengan cinta dan perlindungan.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈