Hari-hari pertama Hanna di rumah barunya terasa hangat dan penuh cinta. Amang dan Inang menolak bujukan Hafidz untuk berwisata. Mereka hanya ingin berada di sisi Hanna. Amang menemani Hanna dan Axel di ruang keluarga, kadang menggendong cucu barunya itu dengan bangga. Sementara Inang tak henti-hentinya membelai rambut Hanna, memastikan putrinya nyaman dan bahagia.
Dapur menjadi pusat keramaian baru. Inang, dengan tas besar berisi aneka bumbu dan bahan makanan dari Indonesia, bekerja sama dengan Bu Husna.
Aroma rempah-rempah yang harum mengisi seluruh rumah. Mereka berdua menyiapkan berbagai menu penggugah selera yang cocok untuk ibu menyusui, mulai dari sayur katuk hingga aneka tumisan lezat.
Hanna sangat senang, merasakan cinta dan perhatian tulus yang mengalir melalui setiap masakan yang mereka buat.
Namun, di tengah semua kebahagiaan dan kehangatan itu, ada yang hilang. Saat malam tiba dan semua sudah terlelap, Hanna terbangun untuk menyusui Axel. Di bawah cahaya remang-remang, ia memandangi putranya, lalu pandangannya jatuh pada ranjang kosong di dekatnya.
Tiba-tiba, ia merasakan ada sudut kosong di hati dan pikirannya. Sebuah kehampaan yang tak bisa ia jelaskan. Kehadiran keluarga besarnya adalah kebahagiaan yang tak terhingga, namun itu tidak bisa menutupi kekosongan yang ditinggalkan oleh satu orang. Seorang lelaki yang hanya bersamanya selama beberapa jam, tetapi meninggalkan bekas yang begitu dalam.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Satu minggu telah berlalu sejak malam di Paris. Di sebuah area tambang batu bara yang luas dan berdebu, jauh dari keramaian kota, Hatta duduk di depan jendela kantor sementaranya. Pikirannya tidak tenang. Ia terus memikirkan Hanna dan bayinya.
Hatta tahu, ia ingin kembali. Ia ingin melihat Hanna. Namun, ketakutan yang dalam membelenggunya. Perasaan itu terus bertarung di dalam benaknya.
"Apa aku kembali saat semua keluarga Lubis selesai kunjungan ke Paris?"
Pertanyaan itu terus berputar, berulang-ulang, tanpa henti.
Di satu sisi, ia memikirkan Hanna. Ia membayangkan Hanna, yang masih dalam masa pemulihan, sendirian dengan Bu Husna. Ia tahu Hanna hanya ditemani Bu Husna, dan seorang asisten rumah tangga yang hanya datang dua kali seminggu. "Kasihan dia hanya berdua mama," gumamnya. Hatinya teriris membayangkan Hanna dalam kondisi yang rentan seperti itu.
Namun, di sisi lain, ia teringat wajah Hanna saat ia berbisik "sayang". Ia teringat kebencian Hanna terhadap laki-laki. Bagaimana jika ia kembali, dan Hanna melihatnya bukan sebagai teman yang membantu, tetapi sebagai laki-laki lain yang akan melukainya? Bagaimana jika kehadirannya justru membuat Hanna semakin menderita?
Hatta menutup matanya, memijit pelipisnya. Ia terjebak dalam dilema yang tak berkesudahan. Hatinya menyuruhnya kembali, tapi otaknya memperingatkannya untuk tidak melakukannya. Ia tidak bisa mengambil keputusan. Ia hanya bisa duduk di sana, membiarkan pertanyaan itu terus menggodog, menimbang setiap kemungkinan, setiap risiko, dan setiap konsekuensi.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Hatta menutup matanya, membiarkan pikirannya kembali ke empat tahun lalu. Saat itu, ia masih seorang pria yang penuh idealisme dan keyakinan pada cinta. Ia memiliki kekasih, seorang gadis bernama Juwita, yang ia sayangi sejak gadis itu masih duduk di kelas 3 SMP.
Hubungan mereka begitu murni. Hatta sangat menghorm@ti Juwita, menjaganya. Ia tak pernah menyentuh Juwita, bahkan tidak berniat, sebab dia menghargai dan menghorm@ti Juwita, seorang gadis belia yang rencananya akan dia nikahi setelah Juwita lulus SMA.
Namun, semua idealisme itu hancur dalam satu malam.
Ia ingat sore itu. Ia datang ke rumah Juwita untuk menjemputnya. Pintu depan terbuka sedikit, dan ia mendengar suara-suara aneh dari dalam. Suara Juwita dan suara seorang laki-laki. Itu adalah guru mengajinya. Hatta berdiri membeku, mendengarkan percakapan mereka.
"Sudah enam bulan saja ya hubungan kita Sayangku?" kata guru itu.
"Iya, Kang," jawab Juwita.
Jantung Hatta hancur. Ia mendengar percakapan itu, mendengar kata-kata yang begitu menusuk, sebelum ia menggebrak pintu dan masuk. Ia memergoki Juwita sedang melakukan hal yang ia tak pernah berani sentuh, dengan laki-laki lain. Dengan guru mengajinya.
Sejak saat itu, hati Hatta tertutup. Ia tidak bisa lagi memercayai cinta. Luka itu begitu dalam, menghancurkan idealismenya dan membuat hatinya dipenuhi keraguan.
Itulah mengapa ia begitu mengerti Hanna. Itulah mengapa ia begitu takut.
Hatta takut jika ia kembali dan mendekati Hanna, ia akan menjadi laki-laki lain yang akan melukai hati wanita itu.
Hatta tahu, rasa sakit yang ia rasakan adalah rasa sakit yang sama dengan yang dirasakan Hanna.
Selama empat tahun itu, ia membangun dinding tinggi di sekeliling perasaannya, fokus pada pekerjaan, dan tak pernah lagi membiarkan siapa pun masuk.
Namun, sejak ia bertemu Hanna empat bulan lalu, sesuatu telah berubah.
"Tapi entah mengapa, sejak melihat kamu, hati ini kembali menghangat."
Hatta tidak bisa mengerti. Selama ini, ia menghindari wanita, menghindari cinta. Tapi dengan Hanna, rasanya berbeda. Sebuah pertanyaan muncul di benaknya, sebuah pertanyaan yang membuka mata hatinya.
"Apa karena Hanna dan aku sama-sama senasib, terluka oleh cinta?"
Hatta menyadari, luka mereka memiliki asal yang sama.
Hanna terluka oleh pengkhianatan yang keji. Cinta yang ia percayai hancur di tangan orang yang seharusnya ia percaya.
Pengkhianatan itu tidak hanya menghancurkan pernikahannya, tetapi juga mengambil nyawa kakaknya. Hanna membawa beban yang jauh lebih berat dari sekadar sakit hati.
Hanna membawa duka, dan aib di mata sebagian orang. Luka Hanna adalah luka yang terbuka lebar, yang bisa dilihat semua orang.
Sebaliknya, luka Hatta adalah luka yang tersembunyi. Ia tidak membawa aib, tidak membawa duka dari kematian orang terdekat. Namun, pengkhianatan yang ia alami sama dalamnya.
Cinta yang begitu tulus, yang ia jaga dengan penuh hormat, hancur oleh kebohongan yang telah berjalan selama enam bulan.
Kehancuran itu membuat hatinya beku, membuatnya tidak bisa lagi mempercayai siapa pun.
Di dalam diri Hanna, Hatta bisa melihat cerminan dirinya sendiri.
Di mata Hanna yang penuh kebencian terhadap laki-laki, Hatta melihat amarah yang sama dengan yang dia rasakan.
Di balik ketegaran Hanna, Hatta melihat kerapuhan yang sama dengan yang dia sembunyikan.
Mereka adalah dua orang yang sama-sama berjuang untuk kembali utuh setelah dihancurkan oleh janji-janji palsu.
Kesamaan inilah yang membuat hati Hatta menghangat. Ia tidak melihat Hanna sebagai wanita yang berisiko, melainkan sebagai jiwa yang terluka yang ia pahami.
Hatta tidak hanya merasakan iba, namun dia merasakan ikatan, sebuah pengakuan tanpa kata bahwa mereka tidak sendirian dalam rasa sakit.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈