MENGHUBUNGI ANDI

992 Kata
Inang meraih tangan Amang, seolah mencari kekuatan. Mereka tahu, saat ini mereka tidak hanya akan mendengar kabar biasa. "Inang, Amang," kata Hafidz, suaranya pelan dan bergetar, memecah keheningan yang menyesakkan. "Kami, kami ingin bicara serius." Hafidz meraih tangan Amang, sementara Tiur mengusap-usap punggung Hanna. Dengan hati-hati, Hafidz memulai ceritanya, menyusun kata-kata seolah sedang menyusun bom yang siap meledak. "Tadi pagi, kami mendapat kabar duka. Dari Bik Asih, pembantu eda Ani," Hafidz berhenti sejenak, menelan ludah. "Bik Asih menelepon Hanna, memberitahu bahwa Eda sudah ditemukan tidak bernyawa di kamarnya." Wajah Inang dan Amang memucat seketika. Amang mencengkeram erat tangan Hafidz. Inang menutup mulutnya dengan tangan, matanya melebar tak percaya. "Bik Asih curiga karena sejak pagi, tidak ada suara dari kamar Eda Ani. Padahal, biasanya Eda Ani sudah sibuk sejak subuh." "Dia, bik Asih maksudku masuk ke kamar Eda," suara Hafidz tercekat. "Eda sudah terbaring kaku dengan dua botol obat tidur di dekatnya. Tubuhnya sudah dingin." Air mata mulai mengalir di wajah Amang dan Inang. Isak tangis pelan mulai terdengar dari Inang. "Kami langsung ke sana," lanjut Hafidz. "Kami melihat semuanya. Dan sekarang, jenazah Eda Ani sudah dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi dan dimandikan.” “Kami tidak menyentuh apa pun di sana, agar polisi bisa menyelidikinya dengan baik." Hafidz berhenti bicara. Ia membiarkan informasi itu meresap perlahan, memberi waktu bagi orang tuanya untuk mencerna berita mengerikan ini. Di antara isak tangis, Amang dan Inang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Mereka tak percaya, anak sulung mereka telah pergi untuk selamanya, dengan cara yang begitu tragis. ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ Inang bangkit dari kursinya, tangannya gemetar, wajahnya yang tadi memucat kini memerah. Ia berteriak, suaranya parau, "TIDAK! TIDAK MUNGKIN! Anakku! Anakku hamil! Tidak mungkin dia tega!" Inang berjalan mondar-mandir tak tentu arah, tangannya mengacak-acak rambut, matanya penuh dengan air mata. Hanna mencoba menenangkan, namun Inang menepis tangannya. "Hanna! Kamu bohong! Kamu bohong! Kakakmu masih hidup! Dia tidak mungkin pergi!" Hanna hanya bisa menangis, tidak mampu mengeluarkan suara. Hafidz berdiri kaku, menatap ibunya yang histeris. Ia merasa tak berdaya. Sementara itu, Amang, sang ayah, hanya bisa duduk diam, wajahnya kaku seperti patung, matanya menatap kosong ke depan. Lelaki tua itu tidak menangis, tidak berbicara. Tubuhnya tegang, seolah-olah ia sedang menahan beban yang tak terbayangkan. Dokter dan timnya, yang sejak tadi sudah siaga, kini melangkah maju. Namun, Hafidz mengisyaratkan mereka untuk berhenti. "Biar saja dulu," bisiknya pada dokter. "Biar mereka meluapkan emosi mereka. Kita biarkan mereka tuntas dulu." Hafidz tahu, luapan emosi ini harus dikeluarkan. Jika tidak, akan menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Ia membiarkan Inang berteriak, membiarkan Amang membatu. Ia akan menunggu sampai mereka tenang, baru ia bisa berbicara dengan mereka. ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ Dokter yang sejak tadi mengam@ti dari jauh, mendekat dan berbisik kepada Hafidz, "Komandan, saya lebih mengkhawatirkan bapak Anda. Responnya yang kaku dan diam seperti ini jauh lebih berbahaya daripada ibu yang histeris." Hafidz mengangguk, ia paham. Ia telah membaca laporan medis ayahnya. Ia tahu, ayahnya adalah seorang yang tenang. Namun, di balik ketenangan itu, ada emosi yang terpendam. "Saya mengerti, Dok. Kita biarkan mereka meluapkan emosi mereka dulu." Dokter dan timnya mundur kembali, namun mereka tetap siaga. Mereka tahu, luapan emosi Inang yang histeris adalah hal yang wajar. Sementara itu, respon Amang yang diam dan kaku, justru bisa menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ Secepat kilat, tubuh Amang membeku, tangannya yang tadi mencengkeram lengan Hafidz perlahan-lahan mengendur. Matanya yang tadi menatap kosong kini terpejam rapat. Seluruh tubuhnya tegang, kaku, seolah-olah seluruh energinya habis terkuras. Hafidz, yang menyadari hal itu, langsung berteriak, "Dokter! Sekarang!" Tim medis langsung bergegas, melepaskan Amang dari genggaman Hafidz. Mereka segera memberikan suntikan, memasangkan selang oksigen, dan memeriksa kondisinya. Amang tak bergeming, napasnya teratur, namun tubuhnya masih kaku. Hafidz meminta tim dokter agar tidak membawa Amang ke rumah sakit. "Tidak, Dok. Ayah tidak akan mau di sana. Jenazah kakak saya akan datang malam nanti. Kita rawat saja di sini," ujarnya. “Bisa bahaya bila dia tak melihat jenazah kakak saya.” “Saya tak bisa membayangkan dia di rumah sakit seperti apa. Saya akan bawa dia dirawat setelah pemakaman saja.” “Akan saya bawa dia dari pemakaman.” Sesuai permintaan Hafidz, dokter memberikan suntikan penenang kepada Inang yang masih meraung histeris. Perlahan-lahan, Inang menjadi tenang dan tidak sadarkan diri. Sementara kedua orang tua mereka terbaring lemah, Hafidz dan Tiur langsung bergerak cepat. Mereka tahu, ada banyak hal yang harus mereka urus. Hafidz mengeluarkan ponselnya dan menghubungi timnya. "Pasang tenda duka, kursi, dan sound system sekarang juga," perintahnya. "Pastikan semua sudah siap sebelum jenazah tiba." Tiur, dengan sigap, mulai mengurus persiapan di dalam rumah. Ia meminta Bik Asih untuk mempersiapkan kamar tidur, membersihkan rumah, dan mengatur hidangan untuk para tamu takziah. Ia juga menghubungi beberapa kerabat untuk memberi tahu mereka tentang berita duka ini, namun tanpa menyebutkan detail kematian Ani. Hafidz dan Tiur bekerja sama, saling bahu-membahu. Mereka tahu, saat ini mereka adalah tumpuan bagi keluarga mereka. Mereka harus kuat, meskipun hati mereka sendiri hancur. Mereka harus memastikan semua berjalan lancar, agar mereka bisa memberi penghormatan terakhir yang layak untuk Ani. ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ Hafidz meraih ponselnya, mencari nama kontak "Andi". Ia mengaktifkan fitur speakerphone agar Hanna dan Tiur bisa mendengar. Tangannya gemetar sedikit, tetapi suaranya ia paksa setenang mungkin. Setelah beberapa dering, suara Andi terdengar dari seberang, terdengar riang. "Halo, Bang Hafidz! Tumben telepon? Ada apa, Bang?" tanya Andi. Hafidz menghela napas, matanya menatap Hanna yang sudah kembali menitikkan air mata. "Andi. Abang ada kabar penting. Kamu lagi di mana sekarang?" "Saya lagi di Semarang, Bang. Ada urusan proyek. Kenapa, Bang? Suara Abang serius sekali," jawab Andi, nada suaranya mulai berubah menjadi cemas. Hafidz menelan ludah, mencari kata-kata yang tepat. "Andi, ini soal Ani. Ada musibah." Terdengar hening sesaat di seberang sana. Hanya suara napas Andi yang terdengar berat. "Maksud Abang apa? Ani baik-baik saja, kan? Tadi malam kami masih teleponan …." Hanna tidak bisa menahan tangisnya. Ia memegang tangan Tiur, matanya tertuju pada ponsel. "Andi, dengarkan Abang baik-baik," kata Hafidz, suaranya kini terdengar seperti perintah. "Ani sudah meninggal."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN