DUKA ANDI

1003 Kata
"Abang jangan bercanda. Mana mungkin? Ani …, tadi malam dia masih bilang kangen. Jangan…." suaranya tercekat. Hafidz tidak menjawab, hanya membiarkan keheningan itu sejenak. "Ani meninggal bunvh diri, Andi." "TIDAK! Abang bohong! Tidak mungkin! Ani tidak mungkin bunvh diri! Abang bohong!" teriak Andi. Terdengar suara teriakan histeris dari seberang telepon, yang disusul dengan suara benda terjatuh. "Abang tidak bohong, Andi," jawab Hafidz, suaranya tegas. "Sekarang kamu tenang. Abang butuh kamu ke Jakarta sekarang juga.” "Saya …, saya di mana? Saya …, saya ..." suara Andi terdengar panik. "Kamu tenang, Andi. Cari tiket yang paling cepat. Jangan pakai mobil. Jenazah Ani sudah dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi. Nanti akan langsung dibawa ke rumah amang. Jadi kamu langsung ke sini." "Saya ... saya akan cari tiket sekarang juga, Bang! Kenapa .... kenapa ini bisa terjadi?" suara Andi terdengar putus asa. "Nanti kita bicarakan setelah kamu sampai di sini. Sekarang kamu fokus cari tiket dulu," kata Hafidz, lalu menutup telepon. Hafidz menoleh ke arah Hanna dan Tiur. Kedua wanita itu memeluk satu sama lain, menangis tersedu-sedu. ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ Hafidz menghela napas panjang. Tadi adalah panggilan tersulit dari semua panggilan yang ia lakukan hari ini. Sekarang Hafidz menekan nomor telepon mertua Ani. Setelah beberapa dering, suara seorang wanita terdengar dari seberang. "Halo .... selamat siang," sapanya dengan suara yang lembut dan ramah. "Selamat siang, Tante," jawab Hafidz, suaranya dipaksakan setenang mungkin. "Ini Hafidz, kakak ipar Andi." Terdengar suara riang dari seberang. "Oh, Hafidz! Ada apa, Nak? Tumben telepon?" Hafidz menelan ludah. "Tante …, saya menelepon karena ada kabar buruk. Ini soal Ani." Suara di seberang sana langsung berubah tegang. "Ani? Ada apa dengan Ani, Nak? Dia baik-baik saja, kan?" "Tante, harus kuat, ya," kata Hafidz. "Ani sudah meninggal dunia." Hening. Tak ada suara. Hafidz menunggu, mendengarkan. Terdengar suara napas yang tercekat, lalu sebuah isak tangis pelan yang pecah. "Tidak, tidak mungkin," bisik Tante. "Tadi pagi Andi masih telepon. Dia bilang Ani baik-baik saja." "Tante, harap tenang," Hafidz mencoba menenangkan. "Ani ditemukan meninggal di kamarnya pagi tadi. Dugaan awal, bunvh diri." Suara di seberang telepon berubah menjadi tangisan histeris. Hafidz bisa mendengar suara suaminya, mertua Ani, bertanya ada apa. "Pakde, Pakde, saya minta maaf," kata Hafidz, suaranya bergetar. "Ani sudah meninggal. Andi sudah dalam perjalanan dari Semarang. Jenazah Ani sudah dibawa ke rumah sakit. Sekarang kami semua ada di rumah amang. Kami akan menyelenggarakan acara takziah di sini." Terdengar suara isak tangis yang semakin keras. "Kenapa, kenapa bisa begini? Kenapa?" tanya Pakde, suara tangisnya terdengar dari jauh. "Nanti kita bicarakan setelah Tante dan Pakde sampai di sini," jawab Hafidz. "Sekarang, Tante dan Pakde fokus ke sini dulu. Ke rumah Amang, bukan rumah Andi. Saya tunggu di sini." Hafidz menutup telepon. Air mata mengalir di pipinya. Ia memejamkan mata, membiarkan kesedihan itu menguasai dirinya. Hafidz sudah melakukan semua yang ia bisa. Ia sudah memberitahu semua orang. Sekarang, saatnya menunggu. ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ Deru sirine mobil jenazah yang perlahan berhenti di depan rumah orang tua Hafidz kalah telak dengan raung pilu Inang. Begitu keranda hijau itu diturunkan dari mobil, Inang menjerit histeris. Ia meronta, berusaha mendekat, namun ditahan oleh beberapa kerabat wanita. Raungan duka itu seolah menjadi komando bagi semua orang yang hadir. Isak tangis dan teriakan duka menggema, menciptakan suasana yang mencekam. Di tengah kegaduhan itu, Amang duduk kaku di kursi. Tubuhnya terpasang infus, matanya menatap kosong, tak berkedip. Ia bagai patung hidup yang tak bereaksi pada cahaya, pada suara, bahkan pada pemandangan keranda anak sulungnya. Dokter dan perawat yang siaga di sampingnya hanya bisa menatap cemas, mengawasi setiap perubahan kecil di tubuhnya. Sementara itu, jenazah Ani yang telah dikafani dengan rapi, perlahan diangkat dari keranda dan dibaringkan di dipan yang telah disiapkan di ruang tengah. Di sisi lain, Akbar yang baru saja tiba, langsung menghampiri Hanna yang hampir jatuh lemas. Ia memeluk erat istrinya, mencoba menyalurkan kekuatan. Hanna bersandar pada Akbar, tubuhnya lemas tak berdaya. Akbar, dengan satu tangannya memeluk Hanna, menatap ke arah jenazah kakaknya yang kini terbaring. Ia merasakan beban berat yang kini dipikul istrinya dan seluruh keluarga ini. Hanna terlalu hancur untuk melangkah, apalagi menyambut jenazah kakaknya. Di tengah badai duka ini, hanya pelukan Akbar yang mampu menopangnya. Tangan Akbar memeluk Hanna, menatap ke arah keranda yang perlahan dibawa masuk ke dalam rumah. ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ Saat jenazah Ani dibaringkan di dipan, orang tua Andi tiba. Raungan duka mereka menyusul, sama histerisnya dengan tangis Inang. Ibu mertua Ani, langsung ambruk dan harus ditopang oleh kerabatnya. "Anakku …, cucuku …, bagaimana ini? Dia cucu pertama kami, anak dari putra pertama kami …." Ayah Andi, yang biasanya tegar, kini hanya bisa menunduk, bahunya bergetar. Ia tak sanggup melihat pemandangan di depannya. Kesedihan yang mendalam terpancar dari setiap gerak-geriknya. Andi sendiri masih jauh. Pukul 10 malam adalah penerbangan tercepat yang bisa dia dapatkan dari Semarang. Menurut hitungan Hafidz, dengan waktu tempuh dari Bandara Soekarno-Hatta yang memakan waktu sekitar tiga jam, Andi baru akan tiba di rumah duka sekitar pukul dua dini hari. Bahkan di tengah malam sekali pun, lalu lintas Jakarta bisa saja tak terduga. Semua orang kini berada dalam ketidakpastian, menunggu kedatangan Andi. Namun, di tengah semua duka itu, pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab mulai bergelayut di udara. Kenapa Ani bunvh diri? Apa yang terjadi? Mengapa Andi tidak ada di samping Ani saat kejadian? Apa yang akan terjadi ketika Andi tiba dan mengetahui semua ini? ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ Sesuai perhitungan Hafidz, Andi tiba di rumah duka tepat pukul 02.37 dini hari. Suasana yang tadinya sedikit mereda kini kembali ramai. Sejak turun dari taksi bandara, tubuh Andi sudah lunglai. Ia dipapah oleh kerabatnya, tidak peduli dengan koper dan tas kerjanya yang tergeletak begitu saja di jalan. Pikirannya kosong, hanya satu tujuan utamanya melihat Ani. Andi berjalan tertatih, matanya mencari sosok istrinya. Begitu ia melihat jenazah Ani terbaring di dipan, ia berteriak histeris. Ia meronta dari pegangan kerabatnya, berusaha menubruk jenazah istrinya. "Ani!” “Sayang!” “Ani!" teriaknya, suaranya parau. Hafidz, yang sudah bersiap, segera menahan tubuh Andi. Ia memeluk Andi erat, mencegahnya menyentuh jenazah istrinya. "Tenang, Andi. Tenang!" bisik Hafidz. Suasana semakin tegang. Tangisan kembali pecah. Beberapa kerabat berteriak, mengingatkan yang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN