"Jangan biarkan air mata jatuh ke jenazah! Dilarang agama!" Mereka tahu, air mata yang jatuh ke jenazah adalah tanda penyesalan yang tidak baik.
Andi terus meronta, berusaha menggapai jenazah istrinya dengan tangannya. Namun, Hafidz memeluknya erat, menahannya, dan membisikkan kata-kata penenang. "Tenang, Andi. Kamu harus kuat. Semua akan baik-baik saja."
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Singkat cerita, jenazah Ani telah dikebumikan. Tanah merah di liang lahat masih basah, menyisakan duka mendalam di hati semua yang hadir. Hari itu, fokus semua orang beralih dari pemakaman ke kondisi Amang.
Amang masih membeku, tidak ada respons yang berarti, seolah jiwanya ikut terkubur bersama jenazah putrinya. Hafidz langsung membawa amang ke rumah sakit. Dia ingin general check up agar kondisi amang bisa terpantau.
"Bang, saya mau pulang ambil baju. Kunci rumah ada di saya," ujarnya pada Hafidz. Andi, yang kini sebatang kara, ingin kembali ke rumahnya untuk mengambil pakaian dan beberapa barang.
"Tidak bisa, Andi. Rumah kalian sudah diberi garis polisi. Pintu depan juga digembok oleh polisi."
Andi terkejut. "Digembok? Kenapa digembok, Bang? Saya kan suaminya."
"Itu prosedur, Andi. Rumah itu adalah tempat kejadian perkara ( TKP ). Sampai penyelidikan selesai, tidak ada yang boleh masuk," jawab Hafidz, tegas. Ia tidak menyebutkan bahwa ia dan Hanna juga memegang kunci gembok itu. Rahasia itu ia simpan rapat-rapat.
"Jadi, saya tinggal di mana, Bang?" tanya Andi, suaranya putus asa.
"Kamu tinggal di sini saja, bersama kami. Kami akan siapkan kamar untukmu," jawab Hafidz, berusaha menenangkan.
Andi menatap Hafidz, matanya sendu.
"Bang, setelah pengajian tiga hari ini, saya akan pulang ke rumah orang tua saya saja."
"Kenapa, Andi?"
"Tidak enak, Bang. Di sini terlalu banyak kenangan Ani. Rasanya janggal," jawab Andi, suaranya pelan.
"Lebih baik saya tinggal di rumah orang tua saya saja."
Sementara itu, Akbar dan Hanna memutuskan untuk tetap tinggal di rumah amang. Mereka tahu, orang tua mereka membutuhkan dukungan. Mereka akan berada di sana setidaknya sampai hari ketujuh, menemani inang yang masih sangat terpukul. Dan Amang yang berada di rumah sakit.
Hanna dan Akbar akan menemani inang yang tiap hari akan bolak balik ke rumah sakit.
Kalau yang menunggu 24 jam, akan ada anak buah Hafidz yang jaga bergantian.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Hari ke tiga dari pemakaman amang diperbolehkan pulang oleh dokter. Fisiknya sehat sesuai kondisi usia. Hanya jiwanya yang sakit dan dokter mempersilakan di rawat di rumah saja.
Hari keempat setelah pemakaman Ani, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah yang diselimuti garis polisi. Hafidz, Hanna, Tiur, dan Bik Asih keluar, wajah mereka serius dan hati mereka berat.
Hafidz membuka gembok, lalu perlahan membuka pintu. Aroma pengap dan duka langsung menyeruak, membuat mereka semua terdiam sejenak.
"Bik," kata Hafidz, suaranya pelan.
"Tolong buang semua makanan yang ada di dapur. Jangan ada yang tersisa."
“Sesudah itu packing semua barang Andi, sebab dia tak diperbolehkan masuk rumah ini lagi.”
“Atau dia bisa masuk dengan pengawalan polisi, dan meminta kunci secara resmi di Polsek pondok kopi.”
Bik Asih mengangguk, matanya berkaca-kaca. Ia melangkah ke dapur, tangannya gemetar saat mulai membuang sayuran yang mulai layu dan buah-buahan yang sudah membusuk. Setiap bungkusan yang ia buang terasa seperti membuang sepotong kenangan.
Semua isi kulkas yang masih baik dibungkus bik Asih, akan dia bawa ke rumah orang tua majikannya.
Sementara itu, Hafidz, Hanna, dan Tiur menuju kamar Ani. Kamar itu masih persis seperti saat mereka tinggalkan. Seluruh barangnya masih ada, seolah-olah Ani baru saja keluar untuk sesaat.
"Kita bagi tugas," kata Hafidz, suaranya tegas.
"Kita cari apa pun yang bisa memberi kita petunjuk. Catatan, diary, atau apa saja.”
“Aku akan periksa ruang tengah.”
“Tiur, kamu periksa meja dan buku-buku.”
“Hanna …."
Hafidz menoleh ke arah Hanna yang sudah terlihat lemas.
"Kamu periksa di kamar tidurnya, periksa lemari pakaian atau dimana saja yang terjangkau."
Hanna mengangguk. Ia tahu ini adalah tugas terberat baginya. Mencari petunjuk dari orang yang dicintainya sendiri.
Mereka mulai mencari dengan teliti.
Keheningan yang ada terasa mencekam, hanya terdengar suara napas dan gemerisik kertas. Mereka tahu, di balik keheningan ini, ada sebuah rahasia yang tersembunyi, menunggu untuk ditemukan.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Di bawah tumpukan kotak perhiasan di laci meja rias Ani, tangan Hanna yang gemetar menemukan sebuah amplop coklat.
Amplop itu tebal, seperti berisi banyak lembaran. Jantung Hanna berdegup kencang. Ia menarik amplop itu keluar.
Di depannya, dengan tulisan tangan rapi yang sangat ia kenal, tertulis Spesial untuk kekasih kecilku, bayangan kecilku."
Panggilan itu!
Panggilan yang hanya Ani gunakan untuknya. Panggilan yang berasal dari hati, bukan dari mulut. Panggilan yang merangkum persahabatan mereka, yang membuat selisih usia tujuh tahun di antara mereka seolah tidak ada. Mereka bukan sekadar kakak-adik, mereka adalah belahan jiwa.
Hanna memeluk amplop itu erat, tubuhnya bergetar. Ia menoleh, matanya mencari Hafidz.
"Abaaaaaaang!" teriaknya, suara serak dan penuh emosi.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Mendengar teriakan Hanna yang penuh emosi, Hafidz dan Tiur langsung berlari dari ruang tengah. Jantung mereka berdegup kencang, takut terjadi sesuatu yang buruk. Mereka berdua bergegas menuju kamar tidur Ani.
Sesampainya di sana, mereka melihat Hanna duduk di depan meja rias, tubuhnya bergetar sambil memeluk sebuah amplop coklat.
"Ada apa, Na? Kamu kenapa?" tanya Hafidz, suaranya cemas.
Hanna hanya mampu menunjuk ke arah amplop yang digenggamnya.
"Surat?”
“Surat dari Eda."
Hafidz menghela napas lega. Ia melirik ke seluruh sudut ruangan. Syukurlah, ia bersyukur tim forensik yang datang kemarin hanya fokus pada tempat tidur di mana jenazah ditemukan. Mereka tidak menyentuh barang-barang pribadi Ani.
Andai mereka lebih teliti, amplop ini sudah pasti disita sebagai barang bukti.
Hafidz membuka amplop coklat itu. Di dalamnya, ada beberapa lembar kertas tulisan tangan rapi dan beberapa lembar foto yang diselipkan.
Wajah Hafidz mengeras saat membaca baris pertama, dan ia menyerahkan salah satu lembar foto kepada Tiur.
Tiur melihatnya, matanya membelalak, ia terkesiap.
Hanna, yang berdiri di samping mereka, melihat reaksi keduanya. Ia meraih kertas itu, membacanya. Setelah membaca beberapa baris, lututnya lemas.
Hanna ambruk, terbaring di atas tempat tidur Ani, sprei yang belum diganti itu terasa dingin di punggungnya. Bau parfum Ani yang samar masih tertinggal.
Hafidz, yang sudah menyelesaikan bacaannya, melihat Hanna terbaring tak berdaya. Ia melipat kembali surat itu dan memasukkan foto-foto ke dalam amplop. Ia duduk di samping Hanna, merengkuhnya ke dalam pelukan. Air mata yang sejak kemarin ia tahan kini pecah.
"Kamu harus kuat, Na," bisiknya di sela isakannya.
"Kita harus kuat."
Hanna membalas pelukan Hafidz, menangis sejadi-jadinya. Kedua kakak beradik itu berpelukan erat, menumpahkan semua ganjalan di hati mereka. Kesedihan itu begitu dalam, begitu pahit, dan begitu nyata.
Tiur, yang menyaksikan adegan itu, perlahan-lahan mundur. Ia tahu, saat ini ia hanyalah orang luar. Meskipun dirinya istri Hafidz, ada ikatan dΔrah yang tak bisa dia ganggu. Tiur membiarkan dua kakak beradik itu menumpahkan semua isi hati mereka, merasakan duka yang hanya mereka yang bisa pahami.