Dasha nampak termenung beberapa saat, “Itu terlihat seperti pohon. Tapi seingatku, bukankah seharusnya bentuknya jauh lebih kecil?” Gumamnya dengan menatap isi troli kami. “Bentuk awalnya memang seperti itu. Itu akan menjadi kecil setelah aku memotong-motongnya. Apakah nanti kau mau membantuku memasak?” Tanyaku meski tahu ia mungkin akan mengacau. Dasha segera mengangguk, “Aku mau.” Aku tidak bisa menahan senyumku. Dasha sungguh adalah gadis yang manis. Terkadang aku melupakan bahwa ia adalah seorang gadis psikopat. “Apa makanan kesukaanmu?” Tanyaku. “Aku tidak yakin,” Jawabnya. Keningku mengkerut, “Tidak yakin? Kenapa?” “Semua makanan terasa sama saja bagiku.” Jawabnya datar. “Itu.. cukup aneh.” Gumamku. Dasha hanya diam. Sejujurnya, membawanya terasa seperti membawa anak anjing.

