Bidadari Cantik

1836 Kata

Aku masuk ke dalam rumahku bersama Dasha dan menutup pintunya. Gadis itu melangkah pelan ke tengah ruangan, sedangkan aku hanya memperhatikannya dengan hati bingung dari belakang. Aku meletakkan belanjaan di atas meja konter dapur sebelum menghampirinya dengan langkah pelan. “Hei..” Panggilku selembut mungkin. Gadis yang tengah berdiri diam seperti patung itu berbalik untuk menatapku. Ia menarik napas panjang dan menghelanya seakan ia baru saja keluar dari hutan penuh binatang buas, “Akhirnya.. kita sudah sampai di rumah,” gumamnya dengan wajah lega. Aku hanya bisa tersenyum tipis. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kalimatnya yang mengatakan kami sudah sampai di rumah. Namun ia berbicara seakan ini adalah rumahnya juga. Apakah ia sungguh beranggapan bahwa ini adalah rumahnya? Seben

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN