Jahitan

1693 Kata
Gadis itu menatapku dengan kening mengkerut, sedangkan aku berusaha menahan emosi. “Apakah itu tidak boleh? Apakah itu dianggap tidak sopan? Jika iya, aku ingin menjelaskan bahwa aku tidak mengetahuinya karena tidak ada yang mengajarkan mengenai ini padaku.” Jelas gadis itu dengan menuangkan air sirup jeruk ke setiap gelas. “Kapan kau membuat minuman itu dan kenapa kau melakukannya?” Tanyaku. “Saat kau pergi tadi, aku merasa bosan. Aku berpikir kau pasti lelah mencari makanan untukku. Karena itu, aku memeriksa apakah ada yang bisa aku lakukan untukmu dan menemukan sirup ini di kulkas.” Jelasnya seraya menyodorkan gelas yang sudah terisi untukku dengan wajah polosnya. “Aku berpikir untuk membalas kebaikanmu. Tapi sepertinya caraku salah, ya?” Hah.. Dia memang aneh. Aku sungguh merasa kesal atas kelancangannya. Namun dari penjelasannya barusan, aku bisa mengambil kesimpulan bahwa ia jarang diberikan edukasi kesopanan, atau yang lebih parah.. ia mungkin memang tidak diperhatikan sama sekali oleh keluarganya. Ia pun berkata bahwa ia selalu makan sendirian. Aku memang kesal, namun aku juga merasa kasihan pada gadis bernama Dasha ini. Melihatnya sama seperti melihat diriku sendiri saat Mama sudah meninggal. Aku harus mengurus diriku sendiri sementara Papa selalu mengabaikanku. Gadis itu.. Dasha. Dia sudah berniat baik padaku, berpikir membalas kebaikanku dengan melakukan apa yang bisa ia lakukan. Sejujurnya itu cukup manis. “Sebenarnya, aku tidak terlalu senang kau membongkar rumahku seenaknya. Sebagai tamu, kau tidak boleh sembarangan menyentuh barang orang lain. Namun aku menghargai niat baikmu. Trimakasih,” Ucapku sebelum meraih gelas pelastik biru itu dan meneguk isinya yang manis dan menyegarkan. “Baiklah. Aku akan mengingat hal itu. Terimakasih sudah…” Kedua mataku mendadak menjadi buram diikuti oleh sensasi berputar pada kepalaku. Pengelihatanku bergoyang parah dan aku tidak dapat mendengar suara apa pun, termasuk apa yang sedang Dasha ucapkan. Aku kehilangan keseimbangan tubuhku dan mendadak segalanya menjadi gelap. *** Kepalaku sangat sakit. Rasanya seperti ada sepuluh palu yang menghantam tengkorakku hingga otakku akan lompat keluar. Kedua mataku terasa sangat berat, seakan aku belum tidur selama tiga hari hingga membuat kedua kelopak mataku enggan terbuka. Aku sudah sadar. Aku terbangun, namun seluruh tubuhku terasa lumpuh. Bahkan lidahku tidak dapat aku gerakkan. Apa yang terjadi? Apakah aku pingsan? Atau aku tertidur? Aku pernah mengkonsumsi obat tidur beberapa kali setelah menjalani perang besar hingga membuatku stress ketika pulang ke rumah dan mengalami insomnia parah. Saat itu, dokter meresepkan obat tidur untukku. Pengalamanku mengkonsumsi obat tidur kurang lebih terasa seperti sekarang, meski lebih ringan. Setelah mengkonsumsi obat tidur, aku akan langsung kehilangan kesadaran berjam-jam lamanya. Terkadang jika aku salah menakar dosisnya, aku akan terbangun dalam kondisi kepala agak sakit dan berputar. Setelah terbangun dalam keadaan lumpuh selama hampir satu menit, aku mulai bisa berpikir jernih dan mulai mampu menggerakkan jari-jariku. Gadis itu! Dasha! Apakah dia yang melakukan ini? Jangan katakan ia mencampurkan obat tidur ke dalam minuman tadi?! Ya! Itu benar. Hal yang terakhir aku ingat adalah meminum air sirup buatan gadis itu! Ah.. aku bisa gila. Jika ini benar seperti yang aku pikirkan, kelihatannya aku harus kembali sekolah untuk mengobati kebodohanku ini! Perlahan, aku sudah bisa menggerakkan tubuhku. Kedua mataku pun juga sudah mulai dapat terbuka. Aku melihat kaki-kaki meja dan kursi. Cahaya televisi juga nampak di kejauhan dan aku bisa mendengar suara samarnya yang semakin jelas. Aku sedang terbaring di lantai kayu rumahku dalam posisi menyamping ke kiri. Gadis itu ada di sana. Ia duduk di atas sofa, sedang menonton TV. Ruangan rumahku agak gelap karena nampaknya hari sudah malam. Gadis itu hanya menyalakan satu lampu dapur. Ugh.. Punggungku. Punggungku terasa sakit. Meski belum bisa duduk, kedua tanganku sudah bisa aku gerakkan. Sial.. rasa nyeri parah ini berasal dari punggung kanan atasku. Tubuhku memiliki masa otot yang besar sehingga aku tidak bisa mengarahkan tanganku terlalu jauh ke belakang. Aku segera bangkit duduk saat kekuatanku sudah berangsur pulih. Meski tidak mampu meraih posisi yang sakit itu dengan benar, aku bisa merasakan basah pada punggungku dan.. di mana kaosku? Aku tidak mengenakan pakaian! Begitu aku meraba punggungku dan menarik tanganku kembali, aku melihat darah segar melumuri jemariku. Punggungku berdarah! Darahnya banyak sekali! Aku segera menatap lantai yang dari tadi menjadi tempat tidurku. Ternyata darah sudah menggenang di sana. Aku juga mendapati tubuhku tertutup selimut. Kelihatannya Dasha yang menyelimutiku, namun ini bukan saatnya merasa tersanjung atas itu! Gadis sial itu! Apa yang ia lakukan padaku? “H-hei.. Kau!” Seruku dengan suara purau. Gadis itu segera menoleh ke belakang karena mendengar suaraku. Ia segera bangkit berdiri dan menghampiriku, “Apa kau baik-baik saja?” tanyanya sebelum melirik lantai yang sudah penuh dengan darah, “Hah?! Ternyata kau sudah berdarah sebanyak ini? Tunggu sebentar. Aku akan membersihkannya lagi..” “Lagi?” Ulangku tercekat sebelum dengan cepat menarik pergelangan tangan gadis yang hendak beranjak itu, “Apa yang kau lakukan padaku?” tanyaku geram. “Sstt.. Tenanglah dahulu, Adam. Kau baru saja siuman. Jangan banyak bergerak atau jahitanmu akan terbuka. Sekarang, tolong lepaskan tanganku agar aku bisa membereskan ini. Hem?” Jelasnya dengan wajah tenang. “Jahitan? Apa maksudmu? Apa yang kau lakukan padaku? Apa kau menjahit punggungku?” Tanyaku tidak percaya. Wajah gadis itu mengerinyit, namun ia mengulum senyum tipis padaku, “Adam, kau menyakitiku,” ia melirik tangannya. Tanpa sadar, aku sudah mencengkram pergelangan tangan kurusnya terlalu kuat. Namun aku tidak berpikir untuk melonggarkannya. Apa yang ia lakukan padaku?! “Jelaskan apa yang terjadi padaku sekarang!” Bentakku. Aku tidak mampu bersabar lagi. Ini adalah pertama kalinya aku membentak perempuan. Aku pun mengakui bahwa aku mengeluarkan suara yang besar. Namun anehnya, gadis di depanku ini tidak bereaksi. Ia bahkan tidak tersentak atau setidaknya nampak terkejut. Ekspresi lembutnya yang dari tadi ia tampilkan, kini berubah menjadi datar dan dingin. Tiba-tiba, aku mendengar suara pisau cutter yang digeser terbuka. “Bisakah kau melepaskanku, Adam? Atau aku mungkin akan terpaksa merombak hidung dan matamu menggunakan ini,” Dengan cepat, ia sudah mengarahkan cutter terbuka itu tepat di pinggir hidungku. Sisi tajamnya bahkan sudah menyentuh kulitku. Ini tidak benar. Ini sungguh buruk. Tubuhku terasa agak lemas karena kehilangan banyak darah dan baru saja terbangun dari tidur yang disebabkan oleh obat tidur. Gadis ini memiliki senjata tajam di tangannya, sementara aku bahkan tidak mengenakan pakaian, apalagi memegang senjata. Aku sedang berada dalam posisi tidak menguntungkan. Aku tidak bisa menerima resiko akan kehilangan bola mataku jika melawan. Aku yakin gadis ini cukup gila untuk menancapkan pisau ini ke mataku tanpa berpikir sama sekali. Baiklah Adam.. Dia hanya seorang perempuan kurus dengan berat badan setengah berat tubuh berototmu. Jika bukan sekarang, kau bisa melumpuhkannya nanti. Untuk saat ini, sebaiknya kau mengalah agar selamat. Akhirnya aku melepaskan tangan gadis itu. Ia tersenyum tipis dan menjauhkan pisau cutternya dari wajahku. “Aku akan terus memegang benda ini untuk berjaga-jaga. Sebaiknya kau tidak perlu mencoba untuk menyerangku karena kau bahkan belum mendengarkan penjelasanku, benar?” Tanyanya. Aku tidak menjawab gadis itu. Namun ia tidak nampak keberatan dan senyum mengerikan itu masih awet di wajahnya. Karena aku sudah tidak menahannya lagi, ia melangkah pergi ke ruang laundry dan segera kembali dengan dua buah handuk. Sial.. ia bahkan mengetahui di mana aku menyimpan barang-barang rumahku. Kelihatannya ia sudah puas membongkar-bongkar isi rumahku. “Aku akan menekan punggungmu dengan ini untuk menghentikan pendarahannya, oke?” Tanya gadis itu begitu sudah menghampiriku. Aku memijat keningku yang terasa pening dan mengangguk pasrah. Ia tersenyum dan beranjak ke belakang punggungku. Ugh! Kelihatannya ia menekan tepat di lukaku hingga rasanya cukup sakit. Ketika aku menoleh ke belakang, aku mendapatinya sedang membersihkan lantai dari darah menggunakan tangannya yang lain. Apakah sebelumnya aku salah sudah menuduhnya yang melakukan ini semua padaku? Jika ia memang mau membunuhku, seharusnya ia sudah melakukannya dari tadi, bukan? Sekarang, ia bahkan merawatku dan repot-repot membersihkan lantai. Hal ini membuatku sangat bingung. Sebenarnya apa yang terjadi? “Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa pingsan dan punggungku terluka?” Tanyaku pelan. “Aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang, apakah kau bisa berdiri?” Tanyanya. Aku mengangguk lalu beranjak berdiri. Gadis bernama Dasha itu langsung melepas handuk yang ia gunakan untuk membersikan lantai dan beralih untuk memegangi lenganku, sedangkan satu tangannya lagi masih menekan lukaku dengan handuk. Ia menuntunku menuju sofa dan mengarahkanku untuk duduk. “Tunggu sebentar. Aku akan mengambilkanmu air.” Ia meninggalkan handuk di punggungku. Aku meraih handuk itu dan melihatnya sudah setengah basah oleh darah. Namun setidaknya, darahnya sudah tidak sebanyak yang tadi. Aku sungguh kesulitan menekan lukaku sendiri karena tangan kananku tidak bisa berputar ke belakang dan tangan kiriku sulit meraih luka yang tepat berada di titik punggung kananku yang tidak bisa aku sentuh. Bahkan untuk membersihkan punggung, biasanya aku menggunakan tongkat sikat mandi karena otot pada punggungku cukup besar dan lebar. Selama ini aku memang melakukan olahraga yang cukup berfokus pada kekuatan otot lengan dan pundak. Gadis bernama Dasha itu kembali dengan membawakanku segelas air. Aku menerima gelas itu tanpa berniat meminumnya sama sekali, melainkan meletakkannya di atas meja tamu di depanku. “Oh..” Gadis itu bergumam seraya duduk di sampingku dengan kedua mata menatap gelas yang sudah berada di atas meja. Aku terkejut ketika melihatnya mengambil gelas itu dan meminum isinya hingga hampir tersisa setengah. Kelihatannya, ia mengetahui bahwa aku tidak mau meminum apa pun yang ia berikan lagi. Kini, ia sengaja membuktikan bahwa aku akan baik-baik saja jika meminum air dari gelas itu. “Kau tidak perlu mencurigaiku,” Ucapnya dengan menyerahkan gelas itu padaku lagi. “Aku sudah mengambilkan ini untukmu. Alangkah baiknya jika kau menghargai usahaku dengan meminumnya.” Seraya menghela gusar, aku menerima gelas itu kembali dan meneguk isinya yang langsung melegakan tenggorokanku yang memang terasa sangat gersang. Tanpa terasa, air di dalam gelas itu sudah kosong hanya dalam tiga kali tegukan. Aku meletakkan gelasnya kembali ke atas meja dan menghadap gadis itu. “Sekarang, apa kau bisa menjelaskan apa yang terjadi padaku?” Tanyaku, berusaha sabar. “Kau baru saja menjalani operasi kecil.” Jawabnya dengan wajah serius. Aku langsung tertawa sinis, “Kau bercanda.” “Apakah wajahku terlihat begitu?” Tanyanya dingin. Tawaku seketika menghilang, “Apa yang kau lakukan padaku?” tanyaku nyalang. “Aku menanamkan sesuatu di punggungmu. Mungkin kau akan merasakan benda itu di dalam dagingmu ketika sakit luka jahitan pada punggungmu sudah cukup mereda.” Jelasnya enteng.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN