“Apa?! Apa yang kau tanamkan di punggungku?!” Aku berusaha meraih luka yang masih terasa sakit itu.
“Kemari,” Gadis itu beranjak ke belakang punggungku, namun aku segera berbalik karena takut ia akan mencelakaiku dari belakang. Namun ia memiringkan kepalanya dengan tatapan polos padaku, “Aku hanya ingin membantumu meraih luka itu. Aku tidak akan membunuhmu.” ucapnya pelan.
“Aku memperingatimu. Jangan kau pikir aku tidak bisa melawanmu. Aku benar-benar akan menyakitimu jika kau berani mencoba.” Deisiku.
Ia tertawa kecil, “Kau menakutkan. Aku hampir merasa terancam.” sahutnya dengan melanjutkan langkahnya menuju belakang punggungku. “Jika aku benar ingin membunuhmu, ketahuilah.. aku bisa melakukannya dengan sangat, sangat mudah. Layaknya menggencet semut.” Ia melanjutkan dengan bisikan tepat di samping telingaku.
Jujur saja, suara dan aura yang gadis bernama Dasha itu pancarkan entah mengapa membuatku merinding. Dari segi fisik dan kekuatan, aku jauh lebih unggul darinya. Jika aku ingin menyakiti atau bahkan membunuhnya, aku bisa melakukan itu dengan mudah. Aku bisa menahan kedua kaki dan kedua tangannya hanya dengan tangan kosong. Aku bahkan bisa mematahkan tulang-tulangnya hanya dalam dua kali bantingan. Namun aku tidak bisa menyangkal bahwa entah bagaimana, aku merasa ngeri padanya.
Tangan mungil lembutnya meraih tangan kiriku. Kemudian ia mengarahkannya ke belakang punggungku. Aku meringis sedikit karena ia memaksa menarik tanganku lebih jauh ke belakang.
“Renggangkan jarimu,” Ucapnya dan aku lakukan.
Ia menggerakkan tanganku sedikit dan aku akhirnya bisa menyentuh luka itu sedikit dengan ujung-ujung jemariku. Sungguh.. ia benar. Gadis bernama Dasha itu benar bahwa ada jahitan di punggungku. Aku bisa merabanya. Itu sangat menonjol dan terasa tidak beraturan.
Selama bekerja sebagai tentara, tentu saja aku sering mengalami luka parah. Kakiku dan tanganku pernah patah, lenganku pernah tertembak, dan aku beberapa kali mengalami luka sobek, entah karena latihan atau dalam perang. Kulit yang dijahit bukanlah hal baru bagiku. Namun rasa jahitan seperti ini benar-benar baru aku alami. Tentu saja, itu karena penjahitnya adalah gadis manja aneh di belakangku.
Hanya beberapa detik memaksa tanganku terjulur ke belakang sudah membuatku merasa sangat pegal hingga aku terpaksa mengembalikan tanganku kembali ke samping, meski aku masih sangat ingin mengetahui seberapa parah kondisi jahitan bodoh itu. Namun, ada hal lain yang lebih penting untuk aku urus. Itu adalah alasan mengapa si gila itu menjahit punggungku.
“Aku bertanya padamu, apa yang kau tanamkan di punggungku, sial?!” Geramku dengan menatap gadis yang sudah kembali untuk duduk di hadapanku.
“Itu adalah sebuah tabung kapsul bersisi racun.” Jawabnya.
“Apa?!” Kepalaku terasa dihantam dari belakang hingga nyaris membuat kedua bola mataku melompat keluar dari rongga mataku. “Apa maksudmu?! Racun apa yang kau maksud? Kenapa kau melakukannya?” cecarku.
“Itu adalah pertanyaan yang cukup banyak dalam satu tarikan napas,” Gumam gadis itu seakan nyawaku adalah mainan baginya.
“Berhentilah bercanda!” Aku mencengkram kedua pundaknya dengan marah.
“Tolong, lepaskan aku.” Ucap gadis itu dengan tenang, namun kedua matanya menatapku tegas.
Aku tidak menggubris permintaannya. Ini sudah keterlaluan. Ia sudah gila! Ia adalah psikopat!
“Jawab aku sekarang! Kenapa kau melakukannya?!” Bentakku.
“Aku tidak akan menjelaskan apa pun jika kau tidak melepaskanku.” Sahutnya tegas dengan suara lembutnya yang mengerikan.
Demi mendengar penjelasannya, akhirnya aku menurut untuk melepaskannya. Aku tidak boleh terbawa oleh emosi. Mengambil sebuah keputusan dan melakukan tindakan berdasarkan emosi hanya akan membuatku menyesal di akhir. Sama seperti keputusanku untuk menculik gadis ini.
“Jelaskan sekarang. Aku benar-benar berharap kau hanya bercanda.” Ucapku menahan geram.
“Kebetulan, aku bukan orang yang suka bercanda. Aku tidak bisa membedakan apa yang namanya bercanda dan serius, karena hidup itu sendiri adalah lelucon. Apakah aku benar?” Ia tersenyum lebar.
“Berhenti mengatakan omong kosong! Berikan penjelasanmu!” Bentakku tidak sabar. Ia sungguh sedang mempermainkan emosiku.
“Tidak perlu berteriak-teriak, Adam Viggo. Kau akan membangunkan tetangga-tetanggamu. Ini sudah sangat malam,” Gadis gila itu bangkit dari duduknya dan melangkah pelan untuk berdiri beberapa langkah di depanku dengan lengan melipat di depan d**a.
“Itu adalah tabung kecil berisi racun khusus yang akan membuatmu kejang selama lima puluh menit sebelum tewas jika kau menerimanya dalam dosis tertentu. Dosis di dalam tabung itu adalah dua kali dosis yang dapat membuatmu mati seperti yang sudah aku jelaskan. Jika seluruh racun itu terlepas, maka kau akan mati kejang dalam.. lima belas sampai dua puluh lima menit, mungkin?” Ia nampak berpikir dengan mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk.
Rasanya aku hampir gila mendengar penjelasan itu. Jadi ada racun mematikan tertanam di dalam tubuhku? Aku bisa mati kapan saja, dengan cara yang mengerikan.
“Kenapa kau melakukannya? Aku tahu aku bersalah karena sudah menculikmu. Namun aku berjanji akan mengantarmu pulang besok, kan? Kenapa kau melakukan ini? Aku bahkan tidak melukaimu atau menyentuhmu sejauh ini!” Tanyaku frustasi.
Aku yakin wajahku saat ini terlihat sama seperti ketika aku baru mendengar berita bahwa hutang Papa sudah menjadi tanggunganku. Meksi wajah ini mungkin sudah nampak layaknya mayat yang terendam air asin, gadis itu malah tersenyum lebar seakan ia baru saja memenangkan lotre jutaan dollar.
“Semua yang kau tuduhkan padaku adalah salah, Adam. Aku tidak dendam padamu karena kau sudah menculikku. Namun aku melakukan ini karena kau berkata akan mengantarku pulang besok.” Jelasnya.
Keningku mengkerut, “Jangan bilang kau melakukan ini karena tidak ingin aku mengantarmu pulang?”
“Lebih tepatnya, karena aku tidak ingin pulang sama sekali. Yang aku inginkan adalah kau membantuku untuk terus kabur dari kejaran papaku. Kau adalah mantan tentara, sehingga aku yakin kau akan sangat membantuku.” Jawabnya.
“Tapi kenapa kau harus melakukan ini padaku? Kenapa tidak mengatakannya saja sejak awal? Kenapa kau harus berbohong bahwa kau ingin pulang dan malah menjebakku?” Tanyaku putus asa.
“Jika aku jujur padamu sejak awal, apakah kau akan melakukan apa yang aku inginkan? Aku yakin kau akan langsung menolak dan membuangku ke pinggir jalan untuk menghindari masalah. Bukankah aku benar?” Ia menaikkan satu alisnya dengan senyum tipis menantangku.
Tentu saja dia benar! Mana mungkin aku mau membantunya melarikan diri dari pria bernama Tonny Dorma yang jelas-jelas sudah membunuh teman Steven dengan keji? Aku sedang berusaha mengatasi masalah hutang yang mencekikku. Mana mungkin aku bersedia menambah masalah hidupku yang bahkan akan sangat mengancam nyawaku? Aku bahkan tidak mengenali gadis bernama Dasha ini!
Teman-teman pria di pangkalan militerku pernah berkata bahwa wanita adalah ular. Mereka bisa membuat seorang pria terlena menggunakan kecantikan dan mulut manis mereka, namun akan menggorok leher pria ketika pria itu sudah lengah.
Awalnya, aku tidak terlalu mempercayai mereka karena Mama adalah contoh wanita terbaik yang pernah aku lihat. Karena Mama, aku yakin tidak semua wanita jahat. Karena Mama, aku yakin masih banyak wanita berhati baik di luar sana yang sama sepertinya. Karena itu, selama ini aku selalu memperlakukan perempuan dengan baik karena aku sangat sayang pada Mama dan berharap mendapatkan pasangan yang sama sepertinya. Namun kenyataan menampar wajahku lagi dengan keras. Aku tertipu. Aku ditipu oleh seorang perempuan yang sangat jahat. Caranya benar-benar kotor dan licik. Aku tidak percaya bisa mengalami hal ini.
Ini sudah cukup. Tidak ada lagi pria baik hati yang lembut pada perempuan. Aku tidak peduli lagi pada istilah perempuan adalah makhluk yang lebih lemah dan lembut sehingga wajib untuk dilindungi. Gadis itu adalah iblis berkostum malaikat. Aku tidak boleh mengalah padanya. Aku pun tidak boleh begitu saja percaya padanya. Racun mematikan? Ia mungkin hanya merobek punggungku dan menjahitnya kembali untuk mengelabuiku! Ia pikir aku adalah pria bodoh karena aku selalu bersikap baik padanya.
“Kau pikir aku akan percaya begitu saja padamu?” Tanyaku dengan bangkit berdiri menghadapnya.
Gadis bernama Dasha itu jauh lebih pendek dariku. Ia bahkan tidak lebih tinggi dari pundakku dan tubuhnya jauh lebih kecil. Ia terlihat sangat kecil dan lemah ketika aku berdiri seperti ini hingga ia harus mendongakkan wajahnya untuk bisa melihat wajahku. Seharusnya, posisiku yang seperti ini sudah cukup untuk mengintimidasinya, dan itu memang sedang aku lakukan. Namun, aku tidak melihat raut takut sedikit pun pada wajahnya. Ia menatapku dengan wajah datar, seakan meremehkanku.
“Apa yang tidak kau percayai dari penjelasku?” Tanya gadis itu dengan satu tangan terus memainkan pisau cutter. Membuka dan menutupnya lagi.
“Kau pikir pisau itu akan menakutiku? Aku sudah sangat sadar sekarang dan aku bisa mematahkan tanganmu dengan mudah.” Ucapku dalam dengan menatap cutter yang berada di tangannya. “Racun mematikan. Akan membuatku kejang sampai mati. Kau menanamkan benda semacam itu di punggungku? Haha.. apakah kau terlalu banyak menonton film laga dan berpikir aku akan mempercayai hal bodoh itu begitu saja?”
“Oh, jadi kau membutuhkan bukti?” Ia tersenyum tipis padaku.
“Apa lagi yang ingin kau buktikan? Jika rancun yang kau katakan benar adanya, bukankah itu ada di dalam punggungku? Kau akan bertarung denganku untuk mengeluarkannya untuk memperlihatkannya padaku? Kau pikir kau bisa mengalahkanku dengan tubuh kecilmu itu?” Aku tertawa kecil.
“Aku tidak suka diremehkan.” Gadis itu menghela panjang. “Meski begitu, aku tidak menyangkal bahwa aku tidak mungkin melawanmu karena perbandingan ukuran tubuh kita yang terlalu jauh. Karena itu, aku memasukkan obat tidur pada minumanmu dan membuatmu tidur seperti orang mati.”
“Lalu sekarang kau berpikir bisa mengelabuiku lagi, hah?!” Tanyaku geram. Setiap mengingat caranya membuatku tertidur, aku merasa sangat kesal karena ia sudah mempermainkan perasaanku. Aku pikir ia benar-benar tulus ingin berbuat baik padaku.
“Tentu saja aku tidak bisa melakukannya lagi.” Jawabnya enteng seraya merogoh tangannya masuk ke dalam kaus yang ia kenakan.
Anggap saja aku pria lugu. Namun aku sungguh bukan pria yang akan mengambil kesempatan melihat tubuh wanita yang bukan pasanganku. Meski aku berteman dengan berbagai pria berengsek di pangkalan militer, pemahaman yang sudah orangtuaku ajarkan padaku ketika aku masih kecil sangat membekas hingga membuatku selalu menghargai orang lain. Karena itu, kelakuan gadis itu yang entah disengaja atau tidak, mengekspos beberapa bagian tubuh di balik kaus itu membuatku harus memalingkan wajah ke samping agar aku tidak perlu melihat apa yang seharusnya tidak aku lihat.
Namun, wajahku seketika kembali menatapnya ketika ia mengeluarkan sebuah benda berbentuk persegi berukuran kurang lebih delapan kali lima centimeter berwarna hitam dari dalam bajunya yang jika aku tebak, kemungkinan selama ini ia sembunyikan di dalam dalaman atasnya.
“Apa kau yakin ingin aku membuktikan bahwa racun itu benar-benar ada di dalam tubuhmu?” Tanya gadis itu dengan tangan menggenggam benda hitam tersebut dan jari jempolnya seakan siap menekan tombol yang ada di sana.
Keningku mengkerut keras. Apa yang ia katakan? Benda apa itu? Apakah itu remot kontrol? Apa yang bisa benda itu lakukan? Apakah itu hanyalah salah satu trik liciknya untuk mengelabuiku lagi? Apa yang harus aku lakukan sekarang?
“Jangan konyol! Hentikan itu sekarang! Kau menghabiskan kesabaranku!” Aku tidak mau mengikuti permainannya lagi. Karena itu, aku melangkah menghampirinya dengan tujuan untuk menangkapnya. Aku akan mengikatnya dan benar-benar membuangnya ke pinggir jalan. Aku tidak peduli jika ia akan mengadu pada ayahnya untuk mencariku dan membunuhku. Setelah ini, aku akan kabur sejauh mungkin ke kota lain dan memikirkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya.