Hidup Baru

1647 Kata
Aku mungkin akan terluka sedikit karena gadis itu sedang memegang pisau. Namun aku sudah terbiasa dengan pertarungan jarak dekat dengan senjata tajam seperti ini. Ia bukannya sedang menempelkan pisau itu di wajahku lagi. Kali ini, aku bisa menahan tangannya sebelum ia bisa mengangkat pisau itu ke udara. Gadis itu menatapku tanpa rasa takut. Namun kedua kakinya melangkah mundur untuk menghindariku. Ya, bagaimana pun, ia tahu bahwa aku lebih kuat darinya. Akan tetapi, keraguan langsung muncul di depan wajahku ketika aku melihat bibir manisnya membentuk sebuah senyum tipis yang sangat tidak aku sukai. Kemudian, itu disusul dengan ucapan yang keluar dari mulutnya, “Baiklah jika itu maumu,” Ia langsung berlari ke arah lain untuk kabur dariku hingga membuatku spontan langsung mengejarnya. Namun tiba-tiba.. “Ugh!” Aku merasa leherku tercekik keras hingga membuatku tidak mampu bernapas meski tidak ada apa pun di leherku. Langkah kakiku terhenti seketika dan aku tidak kuasa membungkuk seraya memegangi leherku dan memukuli dadaku dengan harapan ada lebih banyak udara masuk ke dalam paru-paruku. Rasanya sangat menyakitkan. Aku benar-benar kesulitan bernapas seakan bagian dalam kerongkonganku membengkak hingga menutup saluran pernapasanku. Tiba-tiba, aku merasakan seluruh bagian di tubuhku menjadi kebas parah hingga membuatku kehilangan keseimbangan tubuh dan terjatuh ke atas lantai dalam posisi berbaring. Rasa kebas itu semakin parah dan disusul dengan nyeri hebat pada setiap sendi dan ototku. Rasa sakitnya benar-benar parah seakan tubuhku sedang disetrum oleh tegangan listrik bervoltase tinggi sampai membuatku meringkuk ke samping dengan tubuh bergetar hebat. Rasa sakit parah ini tidak membebaskanku dari kesulitan bernapas. Bayangkan saja, aku harus merasakan sakit segila ini sambil berusaha menarik udara sebanyak-banyaknya namun udara tersebut tidak pernah sampai ke paru-paruku. Seakan, dari lima tarikan napas panjang, hanya secuil oksigen yang bisa masuk ke saluran pernapasanku untuk membuatku tetap hidup sehingga bisa terus merasakan penderitaan ini. Selang satu hingga dua menit penderitaan yang membuatku merasa lebih baik mati ini, perlahan rasa sakitnya menjadi semakin parah, bahkan hingga membuat seluruh kulitku sampai ke ujung jari-jariku terasa sakit. Aku merasa seakan ada sebuah mixer yang ditanamkan di dalam perutku dan dinyalakan untuk mengaduk seluruh isi perutku hingga hancur seperti jus. Rasa sakit ini disusul oleh ketidak mampuanku sama sekali dalam mengendalikan tubuhku lagi. Seluruh otot dan syarafku mulai menegang hingga membuat tubuhku kejang. Pengelihatanku yang sejak tadi sudah buram, menjadi setengah gelap meski aku yakin kedua kelopak mataku terbuka lebar. Ini menandakan bahwa kedua mataku sudah berputar ke atas karena kejang ini. Aku pun tidak dapat mengendalikan mulutku yang sepertinya sedang memuntahkan sesuatu. Ah.. Sial.. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku nantinya. Satu-satunya yang aku takutkan adalah menjadi dungu atau bahkan cacat setelah ini. Aku pernah melihat beberapa kasus di mana seseorang mengalami penyakit yang mengakibatkannya kejang dan malah merusak syarafnya sendiri hingga fungsi otaknya menurun drastis. Orang yang tadinya nampak normal itu menjadi seperti orang i***t yang tidak bisa berbicara dan merespon orang lain. Itu benar-benar mengerikan. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku mengalami kejang. Seperti yang seharusnya, otakku mengalami penurunan fungsi selama hal itu terjadi dan membuatku tidak bisa memikirkan apa pun selain merasakan sakit yang teramat hebat. Namun pada akhirnya, rasa sakit itu perlahan mulai mereda dan tubuhku juga tidak lagi kejang. Aku masih meringkuk kesakitan dan berusaha keras untuk bernapas. Beruntung, pernapasanku juga sudah mulai kembali normal. Rasa nyeri perlahan memudar. Dari perut, d**a, sendi, kulit, dan terakhir tulang. Aku terdiam dalam posisi berbaring menyamping dengan napas terengah. Kedua mataku menatap nanar ke depan. Aku bahkan bisa merasakan pipiku yang menempel pada lantai terasa basah karena kemungkinan besar aku memuntahkan cairan busa akibat kejang tadi. Sial.. Aku benar-benar tamat. Racun itu sungguh ada. Itu benar tertanam di tubuhku dan gadis psikopat itu yang mengendalikannya. Aku yakin benda yang tadi ia keluarkan adalah remot untuk mengendalikan benda berisi racun di dalam tubuhku ini. Astaga.. Hidupku benar-benar hancur berantakan. Aku mendengar suara langkah kaki yang mendekatiku, disusul oleh sepasang kaki kurus dengan kulit mulus berhenti beberapa langkah di depan wajahku. Gadis itu berjongkok untuk mengintip wajah tidak berdayaku. Dan yang lebih gilanya lagi, ia tersenyum sendu yang bisa aku baca sebagai senyum kemenangan. “Sekarang, apakah kau sudah mempercayaiku?” Tanyanya gadis itu pelan dengan mengubah posisi menjadi duduk bersila di lantai. “K-kau.. kenapa.. ke.. napa kau.. melakukan ini.. padaku?” Tanyaku, masih dalam posisi yang sama karena tubuhku terlalu lemah untuk bangkit duduk. “Adam. Kenapa kau terus menanyakan hal yang sama berulang-ulang? Aku sudah lelah menjelaskannya padamu. Aku, Dasha Saviera Dorma, memintamu untuk membantuku lari dari kejaran Tonny Dorma. Lindungi aku dengan segenap kemampuanmu. Kau pernah bekerja di dalam militer, bahkan mendapat berbagai penghargaan. Aku yakin kau bisa melindungiku.” Jelasnya pelan. “Ti.. tidak.. Aku.. tidak mau,” Jawabku putus asa. “Jika kau tidak mau, maka aku akan mengeluarkan semua dosis racunnya. Kau akan mengalami kesakitan berkali lipat lebih parah dari yang tadi hingga nyawamu melayang pergi ke awan.” “Aku tidak.. bisa.. Tonny Dorma.. terlalu hebat. Ia sangat kaya. Anak buahnya banyak.. Membawamu kabur.. sama saja aku bunuh diri.. Aku mohon.. lepaskan aku. Jangan lakukan ini.” Mohonku dengan menahan air mata. “Ah.. Adam. Aku sebenarnya merasa kasihan padamu. Namun di dalam hidup ini, aku belajar untuk mendahulukan kepentinganku sendiri sebelum orang lain. Ketika kau terjun ke medan perang, kau tidak memiliki jaminan bahwa kau akan selamat. Sebelum berperang, kau sudah tahu bahwa kau mungkin akan mati kapan saja. Namun dengan begitu, kau akan berusaha semaksimal mungkin untuk hidup. Anggap saja saat ini kau sedang berperang, Adam. Kau hanya perlu memilih, mati karena racun atau mati di tangan Tonny. Sebagai penyemangat, aku menjanjikanmu satu hal. Jika sampai aku tertangkap dan dikurung lagi oleh pria itu, maka aku akan melepaskan semua racunnya. Dengan begitu, kau akan berusaha keras untuk menjauhkanku darinya.” Penjelasan gadis itu membuat seluruh bulu kudukku merinding. Sumpah, aku tidak pernah bertemu, melihat, atau bahkan mengatahui ada manusia gila sepertinya. Ia berbicara padaku seakan kami sedang pesta minum teh dikelilingi oleh boneka-boneka kelincinya. Ia tersenyum ramah bahkan memberikan nada riang dalam kalimatnya, padahal ia sedang mengancam untuk membunuhku. Ia benar-benar adalah seorang psikopat! Ia adalah gadis psikopat! “Ke.. kenapa kau melakukan ini.. padaku? Aku tidak sejahat itu.. padamu. Kenapa.. kau tega melakukannya?” Tanyaku tidak mengerti. “Karena kau adalah pria yang baik, Adam. Kau membuatku merasa aman dan yakin bahwa kau bisa melindungiku dengan baik. Jangan khawatir. Aku tidak akan merepotkanmu lebih dari ini. Kau hanya perlu melindungiku saja, mencegah aku tertangkap oleh Tonny. Aku ingin hidup bebas.” Ucapnya pelan. “Lalu.. bagaimana denganku? Aku juga.. ingin hidup bebas. Sampai kapan aku harus.. menjagamu?” Tanyaku depresi, berusaha bangkit duduk karena merasa kekuatanku sudah mulai pulih, meski hanya sedikit. Gadis itu memeluk kedua lututnya seraya menatapku dengan ekspresi sedih yang ia tunjukkan pada dirinya sendiri. Ia menghela panjang dan terdengar berat, lalu menggidik bahu, “Aku tidak tahu. Mungkin.. hingga dia mati? Atau.. jika itu selamanya.. maka aku akan terus bergantung padamu,” “A-apa? Tidak.. kau tidak bisa.. melakukan ini.. padaku,” Aku berhasil bangkit duduk dan bersandar pada apa pun yang berada di belakangku. Aku tidak peduli jika aku terlihat menjijikan saat ini. Ketika aku melirik lantai yang sebelumnya aku tiduri, terdapat cairan putih kekuningan dan darah di sana. Segalanya sungguh berantakan. Rumah ini, diriku, hidupku. Persetan. “Aku tidak sedang melakukan negoisasi denganmu, Adam. Aku memintamu melakukan sesuatu untukku, dan jika kau tidak melakukannya, kau akan mati dengan cara mengenaskan. Aku tidak peduli kau keberatann atau tidak, namun itulah yang harus kau lakukan jika ingin tetap hidup. Jadi, bersiaplah menjalani hidup yang baru sebagai penjagaku. Aku berjanji aku akan mencoba tidak menyusahkanmu karena kau adalah pria yang baik.” Ia tersenyum lembut padaku tanpa sedikit pun ekspresi bersalah. Kemudian, gadis itu bangkit berdiri untuk mengambil handuk kecil di meja. Ia kembali menghampiriku dan mengusap pipi dan mulutku dengan benda itu tanpa ada raut jijik sama sekali di wajahnya. Aku hanya bisa tertegun. Aku pun bingung dengan apa yang harus aku rasakan sekarang. Aku merasa hidupku runtuh dan heran pada sikap gadis psikopat ini. Aku hanya bisa memperhatikannya dalam diam. Ia membersihkan lantai yang kotor oleh muntahan dan darahku yang menjijikan. Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam otaknya. Ia benar-benar aneh. “Luka jahitanmu masih mengeluarkan darah. Tubuhmu harus dibersihkan dan lukamu harus diperban agar tidak infeksi.” Gadis itu menyadarkanku dari lamunan. “Apa kau menjahitku menggunakan benang jahit biasa?” Tanyaku. Ia mengangguk, “Aku sudah mensterilkan jarum jahitnya menggunakan alkohol. Kau memiliki kotak obat yang lengkap. Aku akan merawat lukamu nanti sebagai ucapan terima kasih.” Penjelasannya membuatku tertawa kecil. Ia berbicara seakan ia adalah seorang malaikat dan sedang menolongku, padahal ia yang secara sepihak membuatku berada di tipi jurang kematian. Aku bangkit berdiri dengan linglung seraya memegang pinggiran meja untuk menopang tubuhku, “Bagaima jika tabung itu pecah di dalam? Aku akan mati.” “Aku berani menjamin itu tidak akan terjadi. Tabung itu terbuat dari silver khusus yang sangat kuat. Bahkan jika punggungmu terhantam batu pun, benda itu tidak akan bocor, mungkin hanya akan penyok sedikit. Karena itu, kau tidak perlu khawatir. Yang bisa melepaskan racunnya hanyalah diriku.” Ia tersenyum. “Kenapa kau sangat ingin kabur hingga berani menghancurkan hidup orang lain seperti ini?” Tanyaku dengan kedua mata menyipit. Gadis itu nampak menarik napas panjang dan melangkah dengan handuk-handuk kotor di tangannya. Ia beranjak menuju bilik cuci dan aku mengikuti langkahnya untuk mendengar jawaban apa yang akan ia berikan. Ia bahkan tidak takut sama sekali padaku yang berjalan di belakangnya. Seharusnya, aku bisa membunuhnya sekarang jika aku tega dan tidak berpikir panjang mengenai racun di punggungku. “Tonny Dorma. Pria itu memperlakukanku dengan tidak adil. Sejak kecil, aku selalu dikurung olehnya. Bahkan, keluar dari kamarku saja sudah membuatku merasa senang. Selama ini, duniaku hanyalah sebatas kamarku dan ruang belajar saja. Aku hidup sendirian bersama seseorang di cermina. Mengenal dunia luar hanya dari televisi.” Jelas gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN