Gadis Psikopat

1697 Kata
Jadi, ayah gadis bernama Dasha itu telah mengurungnya seperti hewan peliharaan selama ini? Jika apa yang ia katakan adalah benar, tentu saja aku merasa kasihan padanya. Manusia mana yang mau dikurung seperti itu? Aku pun tidak akan mau menempati rumah mewah seperti miliknya, tapi harus terus terkurung di dalam. “Kenapa ia melakukan itu? Kenapa kau tidak protes padanya?” Tanyaku penasaran. “Kau tidak perlu mengetahui alasannya. Namun apa pun yang aku katakan, ia tidak akan pernah mendengarkanku.” Jawabnya. Entah mengapa, rasanya aku bisa mendengar nada sedih di dalam kalimatnya itu. Ia memasukkan semua cucian ke dalam mesin cuci dan menutup pintu kaca bulatnya, lalu berbalik menghadapku, “Bagaimana cara menyalakan benda ini?” Aku tertegun sejenak menatapnya, lalu berdehem seraya melangkah mendekat dan memencet beberapa tombol pengatur sebelum memulai proses pencucian. Aku tidak percaya aku melakukan ini, seakan tidak ada yang terjadi barusan. “Apakah kau bisa menjelaskan padaku cara kerjanya? Jadi aku harus menekan tombol itu?” Tanyanya polos dengan menatap jajaran tombol mesin cuci yang baru aku tekan. “Ini adalah tombol pengatur dan ini tombol mulai. Jika kau ingin mencuci pakaian, kau tinggal menekan tombol ini, lalu ini. Tapi sebelumnya, kau harus memastikan sudah ada ditergen dan pelembut pakaian di dalam kotak ini.” Jelasku dengan menunjuk tombol-tombol mesin itu, seperti seorang ibu yang sedang mengajarkan kepada anak remajanya bagaimana cara menggunakan mesin cuci. Ia mengangguk-angguk, “Baiklah. Aku mengerti.” “Kenapa kau bersikap seakan tidak terjadi sesuatu di sini? Kau sedang mengancam nyawaku dan kau pun tidak tahu apakah aku akan membunuhmu. Kenapa kau sangat santai?” Akhirnya aku mengutarakan keherananku. Gadis itu menatapku setelah berkedip polos beberapa kali, “Bukankah semuanya sudah jelas? Mulai sekarang, hidupmu dan hidupku akan seperti ini. Aku tidak takut kau akan membunuhku karena aku yakin kau tidak mungkin melakukannya. Kau bahkan tidak mengetahui bagaimana cara mengendalikan tabung racun itu. Remotnya ada padaku dan aku bisa membunuhmu kapan saja jika aku merasa terancam. Aku pikir kau sudah mengetahui itu?” “Apakah kau pernah menemui psikolog? Apakah kau sadar apa yang kau lakukan sekarang sama seperti seorang psikopat?” Tanyaku. Aku tidak peduli jika ia mungkin merasa tersinggung. Aku yakin ia tidak akan membunuhku hanya karena pertanyaanku ini. Lagipula, ia juga membutuhkanku untuk melindunginya. Jika aku mati, maka ia akan sendirian. “Psikopat?” Ia tersenyum tipis, “Apa itu?” “Aku yakin kau tidak sebegitunya bodoh untuk tidak mengetahui apa itu Psikopat.” Sahutku sinis. “Aku sering mendengarnya, namun hingga sekarang, aku tidak bisa mengerti makna yang dibuat oleh orang-orang sok tahu itu.” Ia terkekeh kecil seraya melangkah melewatiku keluar dari bilik cuci. “Apa maksudmu? Psikopat adalah orang jahat yang melakukan hal keji tanpa perasaan seperti yang kau lakukan padaku,” Aku mengejar langkahnya lagi. Aku berakhir menjelaskan makna Psikopat padanya. “Hal jahat dan keji. Seseorang yang tidak memiliki perasaan.” Ia mengulang kata-kataku dengan nada mengejek, “Aku rasa semua manusia memiliki hal itu di dalam diri mereka. Namun kebanyakan tidak memiliki alasan untuk menampakkannya. Dan terkadang, ada yang menggunakannya, namun bisa menutupinya dengan baik.” “Kau menilaiku sebagai psikopat karena kau adalah korbannya. Sedangkan, bagiku ini adalah hal yang benar, karena aku jika tidak melakukannya, itu artinya aku menjadi orang jahat untuk diriku sendiri.” Lanjut gadis itu dengan tenang. “Apa..?” Aku hanya bisa tertegun lagi. Ia benar-benar sudah gila. Pola pikirnya saja sangat menyimpang. Nasibku sangat berantakan karena aku harus hidup bersama orang seperti dia. Aku tidak tahu hal lain apa yang nantinya akan ia lakukan padaku. Aku harus sangat berhati-hati padanya. “Hah.. Aku sangat mengantuk..” Gadis itu menguap lebar sebelum berbalik punggung untuk menatapku lagi, “Apakah kau akan mandi? Aku menunggu untuk mengobati lukamu, setelah itu aku akan tidur. Bisakah kau membantuku dengan itu?” Ini bukanlah keadaan yang aku inginkan. Sesungguhnya, aku sama sekali tidak bisa menerima hal ini menimpaku. Aku tidak bisa menerima perlakuan gadis psikopat ini yang menjadikanku sebagai korbannya. Namun bukankah pada akhirnya aku harus menerima semua ini? Segalanya sudah terlanjur terjadi. Sejak aku memutuskan untuk melakukan tindakan penculikan itu, sesungguhnya aku sudah melempar hidupku sendiri ke dalam jurang. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan selain menjalani apa yang sudah tersedia di depan mataku. Gadis itu memang adalah psikopat. Ia menjebakku, menyakitiku, dan berakhir mengancamku untuk melakukan hal yang tidak ingin aku lakukan. Namun setidaknya, aku bisa melihat sifatnya tidak seburuk itu. Ia bahkan membereskan rumahku dan bersedia mengobatiku, yah.. meski lukaku adalah hasil dari perbuatannya sendiri. Tapi, dari semua kejadian ini, aku mengambil sebuah kesimpulan sementara tentang gadis bernama Dasha ini. Pada dasarnya, ia hanya begitu ingin kabur dari ayahnya hingga berani melakukan berbagai cara, bahkan dengan membahayakan orang lain. Ia hanya memintaku untuk melindunginya tanpa menuntut hal lain padaku. Meski ia tidak pernah mengatakannya, aku bisa melihat bahwa ia mungkin merasa sedikit bersalah padaku, sehingga ia berusaha membantuku dengan hal-hal kecil. Aku tahu aku adalah orang yang naif. Tapi aku tidak bisa mencegah hatiku untuk, entah mengapa, merasa iba padanya. *** Aku melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Tadi, aku sempat melihat kaus yang terakhir aku pakai tengah berada di dalam tempat sampah dalam kondisi tergunting-gunting. Tentu saja, yang melakukan itu pasti adalah Dasha. Aku bisa menebak bahwa ia kesulitan membuka bajuku ketika aku sedang tidak sadarkan diri dan memilih jalan cepat, yaitu dengan menggunting habis kausku. Setelah menutup pintu dan menguncinya, aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya panjang seraya menutup mata. Rasanya, sedikit lagi aku akan gila atas semua ini. Hingga detik ini pun, aku masih berharap ini semua hanyalah mimpi dan aku akan segera terbangun. Tapi sayangnya, semua ini terlalu nyata untuk dikategorikan sebagai sebuah mimpi. Baiklah, Adam. Kau tidak boleh seperti ini. Yang terpenting sekarang adalah tetap hidup dan mencegah gadis psikopat bernama Dasha itu membunuhmu, dengan cara melindunginya. Kau pun pernah melindungi beberapa orang penting saat menjadi tentara. Seharusnya ini tidak sesulit itu. Aku menatap cermin di atas wastafel dan mendapati wajahku benar-benar berantakan, “Kau benar-benar terlihat seperti mayat yang bangkit lagi dari kuburnya dalam semalam.” Gumamku sendiri. Kemudian aku meneguk liur dan menarik napas panjang sebelum memutar badanku ke samping untuk menghadapkan punggungku pada cermin. Ah.. Aku hanya bisa meringis pada pemandangan menyayat jiwa ini. Sekarang, rasa sakit pada punggungku bertambah parah karena aku melihat lukanya yang sangat aneh. Itu adalah luka yang sepanjang jari telunjukku dan dijahit asal menggunakan benang jahit besar berwarna hijau yang sudah berubah menjadi kehitaman karena terkena darah. Gadis itu menggunakan benang hijau karena hanya benang itu yang aku punya yang biasa aku gunakan untuk menjahit seragam tentaraku. Aku harap luka ini tidak akan infeksi karena dijahit menggunakan benang untuk menjahit pakaian. Dengan perasaan miris, aku masuk ke dalam bathtub dan berdiri di bawah pancuran. Aku mengatur suhu airnya sebentar sebelum menggeser tubuhku untuk berdiri di bawah air yang terus mengalir. Ketika lukaku terkena air, sungguh, rasanya benar-benar menyakitkan. Namun, aku herus mencuci luka itu agar nanti bisa diobati. Meski aku sering terluka dan menjalani berbagai oprasi, ini adalah pengalaman mandi paling menyakitkan karena lukaku dirawat secara tidak profesional. Aku bisa melihat darah ikut mengalir bersama air menuju lubang saluran air. Setelah mandi, aku hendak keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana tidur. Aku tidak mengenakan baju karena lukaku masih basah dan harus di perban. Namun begitu aku melangkah keluar dari kamar mandi, aku mendapati keadaan rumahku sangat sunyi, layaknya seperti biasa, karena aku memang tinggal sendirian di rumah. Ke mana gadis itu pergi? Apakah ia kabur? Mungkinkah itu terjadi? Aku harap begitu. Tapi, rasanya itu tidak mungkin karena ia sudah menanamkan racun pada tubuhku dan bersikeras tinggal bersamaku. Seraya mengeringkan rambut dengan handuk kecil, aku melangkah pelan menuju ruang tengah untuk memeriksa apakah ia mungkin berada di sana. Ternyata dugaanku benar. Gadis itu berada di sofa. Ia sedang berbaring tidur di sana. Jika aku pikir, ia memang sudah seharusnya merasa kelelahan sekarang. Ia diculik kemarin malam dan harus tetap terjaga seharian. Tentu saja ia tidak akan bisa menahan kantuk jika harus duduk di sofa nyaman itu untuk menungguku selesai mandi. Kedua matanya tertutup rapat. Rambut panjang pirangnya yang bergelombang terlihat sangat halus, dan memang terasa halus karena aku pernah beberapa kali tanpa sengaja menyentuhnya. Ketika tertidur seperti ini, ia benar-benar terlihat seperti malaikat. Wajahnya kecil dan nampak polos. Jika aku tidak mengetahui dia adalah orang seperti apa, aku tidak akan percaya bahwa ia adalah gadis psikopat yang bisa membunuh orang tanpa merasa bersalah. Tapi.. Daripada kecantikan itu, bukankah ini adalah kesempatan emas untukku? Aku menyimpan senjata tajam dan beberapa pistol di kamar. Aku bisa membunuhnya dan merebut remot kontrol itu. Jika aku membunuhnya ketika ia sedang tidur seperti ini, tentu saja ia tidak akan sempat mengambil remot itu untuk melepaskan racunnya. Aku hanya perlu mengendap-endap ke kamar, mengambil pistol dan menembak kepalanya, tepat di otaknya. Ia akan mati seketika bahkan tanpa sempat membuka matanya atau terjaga dari tidurnya. Itu benar. Ini adalah kesempatanku. Asalkan remot itu sudah berada di tanganku, aku bisa ke rumah sakit untuk meminta perawat mengeluarkan tabung berisi racun itu dari punggungku. Ini adalah kesempatan emas! Dengan berjinjit, aku melangkah sepelan mungkin menuju kamar tidurku. Di sana, aku membuka laci lemari dan mengambil satu buah pistol tangan. Sambil terus melirik ke luar pintu, aku memastikan peluru pistol ini sudah terisi penuh dan mengokangnya sesunyi mungkin agar nantinya aku hanya perlu menarik pelatuknya saja untuk menghabisi gadis itu. Jantungku berdegub keras, seakan itu bisa meledakkan rongga dadaku. Masih dengan langkah pelan seperti tadi, aku keluar dari kamar menuju ruang TV di mana gadis bernama Dasha itu masih tertidur pulas di sofa. Langkahku terhenti dua meter dari sofa itu dengan pistol di tanganku. Aku meneguk liur dengan susah payah karena mendadak tenggorokanku seakan sedang mengalami radang parah yang membuatnya terasa sangat gersang dan nyeri. Perlahan, aku mengangkat pistol yang sedang aku pegang, membidiknya lurus ke depan, tepat pada kepala gadis itu. Ini sangat mudah. Aku sudah sangat sering menggunakan senjata api. Aku sudah menghilangkan banyak nyawa musuh menggunakan berbagai jenis senjata api dan aku sangat bangga dengan posisiku sebagai seorang Sniper di dalam tim. Ini sangat mudah. Aku tidak akan meleset melubangi kepala gadis itu. Aku hanya tinggal menarik pemicu pistol ini dan semuanya akan selesai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN