Situasi Berbahaya

1735 Kata
Tubuh gadis bernama Dasha itu nampak bergerak naik turun. Napasnya tenang namun terlihat berat. Aku tahu ia sudah berkelana jauh di dalam alam mimpi. Namun, meski wajahnya nampak manis saat tidur, aku dapat melihat raut tidak tenang di sana. Ia terlihat seperti seorang anak kecil yang tertidur dalam kondisi ketakutan akan monster yang akan muncul dari balik lemari. Ya, kira-kira itulah yang aku alami ketika kecil. Di saat aku merasa takut pada monster, namun tidak ada Mama dan Papa yang bisa datang untuk menemaniku. Aku ingin membunuhnya. Aku ingin menakhiri semua ini. Namun rasanya.. aku tidak tega. Ia terlihat begitu lemah. Ia terlihat menderita. Ya, Dasha memang sudah memperlakukanku dengan keji. Ia bisa membunuhku kapan saja jika aku tidak menuruti permintaannya. Namun hatiku terus memberatkanku hingga membuat jariku tidak mampu bergerak untuk meledakkan pistol ini. Apakah aku benar-benar harus menyerah pada keadaan? Merelakan hidupku dikendalikan oleh gadis bernama Dasha itu? Namun aku tidak ingin menjalani hidup seperti ini. Terus melakukan pelarian dengan mengetahui aku bisa mati keracunan kapan saja atau dibunuh oleh Tonny Dorma. Namun jika aku benar-benar membunuh Dasha, aku akan menjadi seorang pembunuh, kan? Jika aku sudah membunuhnya, apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Apakah aku harus membuang mayatnya? Di mana aku bisa membuangnya tanpa ada yang mengetahui? Jika pada akhirnya mayatnya ditemukan dan aku tertangkap, aku akan dipenjara dan dihukum mati pada akhirnya. Ah.. Kelihatannya, apa pun yang aku lakukan akan tetap berujung pada kematian. Jadi, untuk apa aku melakukan ini? Lagipula, Dasha adalah manusia, sama sepertiku. Aku belum benar-benar mengenalnya. Bagaimana jika ternyata ia adalah orang baik yang terpaksa menjadi jahat, sama sepertiku? Aku pun, meski sudah melakukan tindakan kriminal, masih menginginkan kesempatan untuk hidup. Kenapa aku tidak dapat memberikan kesempatan kepada gadis itu? Tanpa sadar, aku mendapati kedua tanganku sudah bergerak turun. Pistol yang aku pegang pun sudah mengarah ke lantai. Ah.. jadi inilah keputusanku? Aku tidak mengambil kesempatan untuk membunuh Dasha. Sebaiknya aku tidak menyesali ini nanti. Akhirnya, aku kembali ke kamar untuk menyimpan pistolku. Sebelum benar-benar menyimpannya di dalam laci, aku mengeluarkan seluruh pelurunya dahulu. Kini langkahku tidak sepelan tadi. Aku keluar dari kamar dengan mambawa selimut untuk menyelimuti gadis bernama Dasha itu. Begitu sampai di depan sofa, aku membuka selimut perlahan dan menggunakannya untuk menutup tubuh kecil Dasha yang muat untuk tidur berselanjar di dalam sofa yang bahkan tidak dapat menampung tubuhku ketika aku menekuk kaki. Ya, fisik yang ia miliki memang membuat pria baik sepertiku tidak bisa menahan instingku untuk melindunginya. Sebagai pria sejati, sebenarnya lebih baik aku menyuruh gadis itu untuk tidur di ranjang, sementara aku tidur di sofa. Namun aku tidak tega membangunkannya, jadi untuk hari ini, aku akan berpuas-puas tidur nyaman di tempat tidur. Ah.. Sepertinya kata ‘Nyaman’ harus dihilangkan dari kalimat itu. Aku lupa bahwa ada luka basah di punggungku sehingga aku harus tidur dengan tidak nyaman. Begitu selimut tebal sudah tergelar menutup tubuh mungil itu, aku langsung berbalik dan melangkah menuju kamarku untuk tidur. Namun tiba-tiba, aku mendengar suara mengerang kecil dari belakang, “Hei..” Suara erangan itu disusul oleh panggilan pelan dari suara lembut yang agak serak. Aku berbalik kembali menghadap sofa untuk mendapati Dasha sudah terbangun duduk dari tidurnya. Ia nampak sedang mengusap matanya. “Kau sudah selesai mandi? Kelihatannya aku tertidur,” Tanyanya, disusul dengan gumaman. Ia kemudian melirik jam dinding, mungkin untuk memeriksa sudah berapa lama ia tertidur. Aku mengangguk tanpa berniat mendekatinya, “Ya, aku sudah selesai. Kau bisa kembali tidur. Malam ini, kau tidur di sofa.” Aku tahu aku terdengar dingin dan kejam. Namun aku hanya ingin sedikit menegaskan padanya bahwa aku adalah pemilik rumah ini dan akulah yang berwenang atas rumah ini, meski ia berwenang atas nyawaku.. sial. Dasha nampak mengangguk pelan, lalu membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Kemudian ia malah berjalan dengan langkah agak lemas menuju pintu rumahku dan membuka lemari obat. Sungguh, aku tidak percaya ia benar-benar mengeluarkan kotak P3K dari sana. “Sebelum kau tidur, lukamu harus diperban dahulu. Jika tidak, itu mungkin akan infeksi.” Ucapnya dengan suara lemah karena ia mungkin merasa lemas setelah tertidur sebentar. Ah.. Kenapa dia sebegitunya mempedulikanku? Sebenarnya apa yang ada di dalam otaknya itu? Ia nyaris membunuhku dengan sengaja. Ia menanamkan racun dalam tubuhku dan mengancam untuk membunuhku. Namun ia terus saja memperhatikanku dan berusaha mengurusku. Sikapnya membuatku kebingungan untuk menilai ia sebagai orang baik atau orang jahat. “Kau terlihat sangat kelelahan. Sebaiknya kau tidur. Lukaku bisa diobati besok.” Jawabku, masih berusaha dingin. Gadis bernama Dasha itu menggeleng, “Tidak. Aku sudah mengatakan akan mengobatimu dan aku akan melakukannya. Ini hanya sebentar. Aku berjanji.” ia melangkah mendekatiku, lalu.. memegang lenganku untuk menarikku menuju sofa. Sial.. Apakah aku sudah gila hingga bisa berdebar untuk gadis yang sedang mengancam nyawaku? Kau tidak waras, Adam. Apakah kau tidak mengingat apa yang gadis itu lakukan padamu dua jam yang lalu? Ia membuatmu kesakitan parah, kejang, dan merasa hampir mati. Ia juga adalah orang yang merobek punggungmu dan meletakkan racun mematikan di dalamnya. Kini kau berdebar padanya hanya karena ia memegang lenganmu dengan tangan lembut dan indahnya itu? Kau sungguh adalah pria berhati lemah, Adam! “Adam,” Panggilannya membuatku kembali tersadar. Sial.. tanpa sadar aku sudah ikut melangkah bersamanya dan berdiri di depan sofa. Dasha meletakkan kotak obat di atas sofa dan duduk di sana. Ia menepuk sisi kosong sofa yang masih luas, “Duduklah, Adam,” pintanya dengan mata sayu. Aku tahu ia sangat mengantuk. Kasihan sekali dia. Pada akhirnya, aku mengalah dan duduk di sana. Meski aku tidak melihat bagaimana wajah gadis bernama Dasha itu, entah mengapa aku bisa menebak bahwa ia merasa senang karena aku menurutinya. Aku bisa mendengar ia membuka kotak obat dan melakukan beberapa hal yang menimbulkan suara-suara dan gerakan kecil di belakangku. Ini terasa aneh karena ada seorang gadis sedang mengobatiku di rumahku sendiri. Rasanya semakin asing karena aku tidak sendirian di rumah, terlebih pada malam hari seperti ini, berbeda dengan hari-hari biasanya. Tiba-tiba, aku merasakan sensasi terbakar pada lukaku hingga membuatku menggeram menahan sakit. “Apakah itu sakit?” Tanya Dasha polos. “Apakah kau tidak pernah terluka?” Sahutku sarkas. “Jariku pernah tergores beling dan lututku pernah terluka,” Sahutnya dengan nada berpikir. Aku terkekeh kecil, “Bayangkan saja ini seribu kali lipat lebih sakit dari itu.” “Oh, itu pasti sakit sekali. Apakah aku perlu meniupnya? Apakah itu akan membantu?” Tanyanya dengan terus menempelkan kain kasa basah oleh cairan pada lukaku, yang aku yakini adalah antiseptik. Aku menggeleng tidak yakin karena rasa sakit itu, “Ya.. terserah padamu,” jawabku asal. “Baiklah.” Jawab gadis itu, disusul dengan sensasi dingin membuai luka dan kulit sekeliling lukaku. Dia benar-benar meniupi lukaku. Jujur saja, rasanya sungguh nyaman. Aku tahu, meniup luka tidak terlalu membantu mengatasi rasa sakitnya. Namun, apa yang ia lakukan sungguh membuat luka itu sangat jauh lebih baik. Jika aku ingat, terakhir seseorang meniupi lukaku adalah ketika aku masih kecil. Mama yang melakukannya untukku. Saat aku dewasa dan terluka, aku selalu mendapatkan perawatan profesional oleh tenaga medis. Tentu saja mereka tidak akan meniupi lukaku karena itu bukan termasuk prosedur. Namun, sekarang aku baru mengingat bahwa aku menyukai seseorang meniupi lukaku. “Aku harap lukamu terasa lebih baik karena aku meniupnya. Itu karena aku menyukai ketika seseorang meniup lukaku,” Ucap Dasha dari belakang punggungku. Aku termenung sebelum tersenyum tipis, “Kau benar. Itu terasa jauh lebih baik ketika kau meniupnya. Trimakasih,” “Selama ini, aku mempelajari berbagai hal dari internet dan buku-buku karena aku memiliki terlalu banyak waktu. Di jaman dahulu, manusia sering menggunakan berbagai benda untuk menyatukan luka sobek. Bahkan, nenek moyang menggunakan kepala semut besar untuk menyatukan luka dan memutus kepalanya,” Gadis itu mulai berceloteh. “Ini memang benang untuk menjahit baju. Aku harap itu tidak akan menimbulkan masalah pada tubuhmu. Jika luka robeknya sudah menyatu, aku akan melepaskan benangnya.” Lanjutnya. Keningku mengkerut. Aku menolehkan wajahku ke samping untuk bisa melihatnya meski tidak jelas karena masih memunggunginya, “Aku tidak yakin itu bisa dilakukan. Seberapa dalam kau melubangi punggungku?” “Aku tidak mengukurnya. Tapi itu mungkin sedalam setengah ruas jariku.” Jawabnya tidak yakin. “Hah.. Sudahlah. Aku tidak mau membahas itu lagi. Jika itu nantinya infeksi, aku akan ke rumah sakit untuk meminta bantuan.” Ucapku. “Tidak boleh. Mereka akan menyadari ada sesuatu di punggungmu.” Jawabnya tegas. Nada bicaranya seketika berubah menjadi dingin. Karena tidak ingin memperpanjang masalah, aku memutuskan untuk diam. Aku tidak suka beradu debat dengan seseorang, apalagi perempuan. Teman-teman priaku berkata bahwa perempuan tidak pernah mau mengalah dan akan mengamuk jika kami terus menjawab omelan mereka. Di kasus ini, Dasha memegang nyawaku. Karena itu, aku tidak akan mengambil resiko ia menjadi marah. Kesunyian menyelimuti kami. Suasana menjadi canggung setelah gadis bernama Dasha itu menjawab kalimatku dengan dingin. Sekarang, aku hanya bisa diam merasakan Dasha yang merawat lukaku, entah menggunakan cara apa. Sebenarnya, aku cukup gila untuk membiarkan seorang wanita muda manja yang bahkan tidak mengetahui cara menggunakan mesin cuci utuk merawat lukaku yang cukup parah. Ia mungkin merawat luka malangku ini sesuai dengan kekreatifitasannya. “Luruskan punggungmu. Aku akan memasang perban,” Gadis itu menyentuh kedua pundakku dengan tangannya, seketika membuat punggungku benar menegang secara insting. Sungguh, sentuhannya terasa aneh di kulitku layaknya sebuah sengatan listrik. Tidak sampai di sana. Jantungku langsung berdebar keras ketika tangannya menjulur dari atas pundakku, menuju perutku dengan menggenggam gulungan perban. Tentu saja tubuhku terlalu besar baginya untuk bisa melilit perban itu melintang dari pundak, dadaku, punggungku, hingga kembali pada pundakku lagi. Ia mengoper gulungan perban itu dari tangan kanan ke tangan kirinya yang ia julurkan dari samping pinggangku. Sial.. posisinya ini seakan ia sedang memelukku dari belakang dan membuatku terpaksa menahan napas agar tidak tegang. Akh.. bagaimana aku harus memperingatinya? Rasanya aku hampir gila menahan tubuhku sendiri untuk tidak bereaksi, terlebih ketika rambut panjang lembutnya mulai menyapu punggung dan pundakku hingga membuatku merasa tergelitik. Yang menjadi masalah besar, ia melakukannya berulang-ulang untuk membuat lilitan perban itu menjadi beberapa lapis. Astaga Neptune! Celanaku mulai terasa sesak hingga aku harus mengigit bibir bawahku untuk mengalihkan pikiranku yang mulai berkelana ke tempat yang liar. Bagaimana tidak? Aku adalah pria yang sangat sehat. Di tengah malam dan ruangan sunyi senyap seperti ini, aku terjebak berdua saja bersama seorang gadis cantik yang bernapas di belakang leherku dan menyentuh kulit terbukaku dengan jemari-jemarinya kecilnya. Meski ia adalah manusia psikopat, dia tetap adalah seorang gadis. Bagaimana caraku memberitahunya untuk berhenti? Aku harus kabur dari sini dan menenangkan diriku!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN