Chapter 6 :
Kei Arashi (2)
******
GIN mulai memasang sepatu botnya dan membuka payung yang sedang ia pegang. Ia lalu memosisikan payungnya dengan benar di atas kepalanya dan berlari ke luar, tetapi sambil berlari ke luar pagar, ia tetap menyempatkan dirinya untuk berteriak, “Kunci semua pintu dan jendela, Ai!!!”
Ai tertawa kecil. Ia lalu balas berteriak, “Iya, iyaaa!!!!”
Ai melihat Gin—yang sedang berlari, lalu belok ke kanan itu—seraya tersenyum. Ketika sosok Gin sudah tak terlihat lagi di matanya, Ai pun mundur ke belakang dan menutup pintu rumah mereka.
Setelah pintu utama rumah itu ditutup, suara hujan mulai sedikit teredam. Meskipun suaranya masih terdengar keras dari atas genting, tetapi tidak seberisik saat pintu rumah terbuka.
Ai lalu bergerak mengunci pintu rumah itu; Ai memasang palang pintunya. Setelah pintu rumah itu terkunci, ia lalu bergerak ke samping, menuju ke jendela-jendela yang ada di area bar, lalu mengunci semua jendela-jendela itu. Setelah memastikan seluruh jendela telah terkunci, Ai pun mematikan lampu bar, lalu mulai berbalik dan masuk ke bagian tengah rumah mereka.
Saat Ai sampai di bagian tengah rumah yang ada meja makannya—sebelum masuk ke kamar—Ai memutuskan untuk membiarkan lampu ruang tengah itu hidup. Ia akan mematikan lampu itu nanti, ketika ia sudah benar-benar mau tidur. Untuk saat ini, berhubung dia lagi sendirian di dalam rumah, dia hanya ingin berbaring-baring saja di dalam kamarnya sampai akhirnya nanti dia mengantuk.
Namun, tatkala Ai baru saja belok dan mau masuk ke kamarnya, mendadak ia mendengar pintu depan rumahnya diketuk.
Suara ketukan pintu itu terdengar dengan jelas meskipun di luar sedang hujan. Ai langsung menoleh ke kiri—ke arah pintu depan—dan mengernyitkan dahi. Siapa? Apa Gin meninggalkan sesuatu?
Ai lantas menuju ke pintu depan, gadis itu melangkah dengan cepat. Ia membuka palang pintu depan itu dan langsung membuka pintunya seraya berkata, “Ya? Siapa—”
Ketika pintu depan itu sudah terbuka separuh, Ai mulai mengangkat wajahnya untuk menatap orang yang sedang berdiri di depan pintunya itu. Akan tetapi, betapa terkejutnya Ai tatkala mendapati bahwa ternyata,
…yang berdiri di depan pintunya saat itu bukanlah Gin.
Itu adalah Kapten Divisi Satu Shinsengumi.
Kei Arashi.
Pemuda itu tampak masih memakai seragam Shinsengumi miliknya. Seragam berwarna hitam itu tampak lumayan basah akibat terkena air hujan. Ia agaknya baru saja berlari dari jarak yang lumayan dekat…sebab bajunya tidak sepenuhnya basah. Rambut pria itu juga agak basah; ada tetesan air hujan yang jatuh ke pipi hingga melewati rahangnya yang tajam. Akan tetapi, di kegelapan malam itu, di suasana hujan itu, mata merah miliknya bercahaya terang seperti mata predator. Ia tengah menatap Ai dengan mata merahnya itu tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.
Kontan saja Ai menyatukan alis. Gadis itu mengerutkan dahinya; ia lantas berbicara seraya meninggikan suaranya, “Kau?! Buat apa kau ke sini?”
Mendengar sambutan Ai yang sama sekali tidak ramah (dan justru kasar) itu, Kei lantas jadi mengernyitkan dahinya kesal dan berdecak. “Kau tidak bisa menyambut tamu dengan benar, ya, Gadis Barbar?!”
Mendengar hinaan itu, Ai kontan jadi ikut-ikutan kesal. “Siapa juga yang bertamu malam-malam begini?! Bar kami tutup! Apa kau tidak waras?! Atau kau ada urgensi mau melahirkan?!”
Kei kembali berdecak, lalu ia memilih untuk berhenti mendebat Ai sebab jika ia terus-terusan menjawab gadis itu, niscaya mereka akan bertengkar di depan pintu ini sepanjang malam. Kei lantas mengulurkan tangannya, memberikan sebuah bingkisan berbentuk kotak yang ada di sebelah tangannya kepada Ai. Ai langsung melihat bingkisan itu dan mengernyitkan dahi; Ai bahkan baru sadar bahwa pria itu sejak tadi tengah memegang sebuah bingkisan.
“Ini. Danna memesannya dari temanku. Kupikir aku akan membantu temanku untuk mengantarkan ini kepada Danna, sekalian aku mau minum di bar ini. Aku tidak tahu kalau barnya tutup malam ini,” jelas Kei.
Ai mengangkat alisnya, lalu gadis itu menatap Kei. “Apa ini? Bukan bom, ‘kan?!”
Kei spontan kembali berdecak kesal. “Ya makanya, setidaknya biarkan aku masuk dahulu agar bisa kujelaskan! Sampai kapan kau akan membiarkanku berdiri di depan rumahmu, hujan-hujan begini?!”
Ai lantas mengerutkan dahinya dan cemberut karena kesal. Seraya mendengkus, ia pun membuka pintu rumahnya semakin lebar dan berbalik. “Iya, iya. Masuklah cepat.”
Setelah diberikan izin oleh Ai, Kei pun lantas masuk ke rumah itu. Berhubung bagian depan rumah itu adalah bar, maka begitu masuk ke sana melalui pintu depan, kau akan langsung berada di dalam bar.
Begitu berada di area bar itu, Kei lantas mengikuti Ai yang mulai duduk di salah satu kursi pelanggan. Jadi, area bar itu sebetulnya tidak terlalu sempit, tetapi tidak terlalu luas juga. Jika kau berdiri di pintu depan, maka kau akan langsung bisa melihat bar counter beberapa langkah dari posisimu. Di depan bar counter itu tersusun kursi-kursi bar yang tinggi sebanyak empat buah. Kursi itu berwarna coklat kehitaman.
Di balik bar counter itu ada sebuah ruangan untuk bartender. Biasanya yang berdiri di sana adalah Gin atau Shin.
Namun, kursi yang diduduki Ai sekarang bukanlah kursi tinggi yang ada di depan bar counter. Ai duduk di salah satu kursi pelanggan yang berbaris dengan teratur di dalam bar itu. Ada sekitar sepuluh meja persegi yang tersusun di dalam bar itu dan di tiap-tiap mejanya terdapat dua buah kursi.
Ai duduk di salah satu kursi dari meja persegi yang ada di tengah-tengah ruangan. Tatkala melihat Ai duduk di sana, Kei pun lantas melangkah mengikuti Ai ke meja itu dan duduk di seberangnya.
Begitu duduk berhadapan dengan Ai, Kei pun meletakkan bingkisan berbentuk kotak yang sedang ia pegang itu di atas meja. Kotak itu ditutupi dengan sebuah kain berwarna merah muda yang diikat membentuk pita.
“Jadi, apa ini?” tanya Ai sekali lagi.
Kei tidak langsung menjawab. Pria itu mulai bersandar di kursi, membiarkan tubuhnya rileks, lalu menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Setelah itu, pria itu mulai mengembuskan napasnya dan berkata, “Itu isinya imagawayaki. Danna memesannya pada salah satu temanku tadi sore.”
“Imagawayaki?” Ai melebarkan matanya. Itu adalah panekuk berisi pasta kacang merah. Gin adalah penggemar nomor satu kacang merah. Jadi, wajar saja Gin memesan kue itu. “Kok Gin tidak memberitahukannya padaku?”
Kei menatap Ai; ekspresi wajahnya datar dan ia mendengkus. “Ya mungkin kalau dia memberitahukannya padamu, pasti kau akan menghabiskan semua—oi!!”
Kei langsung tersentak tatkala ia melihat Ai yang sudah membuka kotak itu dan mulai memakan imagawayaki yang ada di dalamnya. Entah sejak kapan kotak itu sudah terbuka; agaknya, Ai membuka ikatan kain serta penutup kotaknya dengan sangat cepat begitu mengetahui bahwa isinya adalah imagawayaki. Terlepas dari apa pun rasa pasta yang ada di dalam panekuk itu, Ai pasti akan memakannya karena pada umumnya dia tidak membenci makanan apa pun selagi masih bisa dimakan dan tidak membuatnya keracunan.
“Oi, Gadis Barbar! Pelan-pelan!!” Kei meninggikan suaranya; tubuh pria itu sampai maju ke depan tatkala melihat Ai yang langsung memakan kue itu dengan lahap.
“Tidak apa-apa. Aku lapar soalnya,” jawab Ai sekenanya.
Kei mendengkus lagi. Ia menatap Ai yang sedang makan itu dengan dahi yang berkerut. Ia menggeleng tak habis pikir. “Apa kau tidak takut dimarahi Danna? Nanti dia malah menyalahkanku!”
Dengan mulut yang penuh dan pipi yang menggelembung, Ai pun menjawab, “Tak apa, nanti Gin bisa beli lagi.” Ai pun menelan kue yang sudah ia kunyah barusan. Dalam waktu singkat, satu imagawayaki sudah lenyap dan masuk ke dalam perutnya.
Akan tetapi, saat Ai baru saja mau mengulurkan tangannya untuk mengambil satu imagawayaki lagi, mendadak gadis itu mengerutkan dahinya.
Ai mengerjap pelan, dua kali. Kepalanya mendadak terasa pusing.
Perlahan Ai memundurkan tubuhnya. Sebelah tangannya yang tadi terjulur ke depan karena mau mengambil imagawayaki itu kini refleks ia tempatkan di dahinya. Ia memijit dahinya, merasakan pusing yang teramat sangat. Tatapannya pada kotak kue yang ada di atas meja itu mendadak jadi kabur; semuanya terlihat berbayang-bayang.
“Kok…kepalaku…” gumam Ai pelan, ia mencoba untuk mengerjapkan matanya berkali-kali, memfokuskan pandangannya, tetapi semakin lama semuanya terlihat semakin kabur. Berputar-putar. Dunia seakan terlihat seperti kumpulan lingkaran abstrak tanpa warna yang semakin lama semakin tidak jelas. Ai kehilangan kendali tubuhnya; tubuhnya mulai terasa oleng. Dunianya terasa berayun ke kiri dan ke kanan.
Hingga akhirnya, tanpa bisa dicegah, tubuhnya lantas kehilangan kendali sepenuhnya. Semuanya anggota tubuhnya mendadak terasa seakan tak berfungsi dan ia pun terjatuh ke lantai. Bunyi berdebum dari tubuhnya yang menghantam lantai itu terdengar cukup kencang ditambah dengan bunyi kursi yang terdorong karena ia jatuh ke samping. Gadis itu terjatuh ke lantai dan tergeletak dalam posisi menyamping; kedua matanya masih mampu melihat ke arah Kei yang sedang duduk di depannya.
Namun, tepat sebelum kedua mata Ai tertutup sepenuhnya, dalam pandangan matanya yang kabur itu, Ai sempat melihat wajah Kei. Anehnya, meskipun Ai jelas-jelas sudah terjatuh di depannya, pria itu sama sekali tidak bergerak; ia tetap duduk dengan tenang di kursinya.
Di detik-detik terakhir kesadarannya, Ai melihat bahwa dari atas sana, Kei hanya memperhatikannya dengan tanpa ekspresi. Namun, perlahan-lahan kedua kelopak mata pria itu mulai turun; dia mulai menatap Ai dengan dingin. Tatapannya sangat dalam, sangat elusif, serta sedingin dan sedalam lautan.
…dan setelah itu, semuanya jadi gelap. []