Chapter 5 :
Kei Arashi (1)
******
“KAU mau ke mana, Gin? Sekarang sedang hujan, lho!” ucap Ai ketika ia melihat Gin yang sedang membuka pintu depan rumah mereka. Ruang depan rumah mereka itu telah dijadikan sebagai bar sehingga untuk sampai ke pintu depan, kau harus melewati bar terlebih dahulu. Namun, walau pintu depan masih tertutup, suara hujan deras yang jatuh ke genting rumah tentulah bisa terdengar dengan sangat jelas.
Tatkala Gin sudah membuka pintu depan rumah mereka, terlihatlah air hujan di luar sana; hujan itu turun dengan begitu derasnya dari langit gelap malam itu.
“Gin??” panggil Ai, gadis itu langsung berjalan dengan cepat ke pintu depan demi mendekati Gin yang kini sedang bergerak memakai mantel tebalnya. Ai mendekati Gin karena berpikir bahwa mungkin saja Gin tidak mendengarnya karena kuatnya suara hujan.
Gin menoleh. Sembari memakai mantelnya, Gin lantas sedikit melebarkan mata tatkala melihat Ai yang berjalan ke arahnya.
“Oh, Ai,” ujarnya. “Kau belum tidur?”
“Ini masih jam delapan malam, buat apa aku tidur secepat itu?” Ai memasang poker face. Ini memang masih jam delapan malam, tetapi bar milik Gin tutup malam ini. Makanya, rumah mereka tidak ramai. “Lagi pula, kau mau ke mana hujan-hujan begini?!”
Pantas saja bar ditutup malam ini, rupanya Gin ada rencana mau ke luar.
Ai melihat Gin yang ternyata sedang memegang sebuah payung yang masih tertutup. Dia seriusan mau ke luar hanya dengan mengandalkan payung? Hujannya deras, lho! Seharusnya dia tidak usah pergi dulu!
“Dasar bocah. Justru lebih bagus kalau kau tidur cepat,” ujar Gin seraya menggeleng tak habis pikir. “Tidur sana. Kau, kan, masih dalam masa pertumbuhan.”
Ai berdecak kesal. “Siapa yang kau panggil bocah, oi! Masa pertumbuhan apanya? Pertumbuhan rambut?!”
Sekarang giliran Gin yang memasang poker face, ekspresi wajahnya betul-betul datar. “Siapa lagi bocah di sini kalau bukan kau? Kan kau yang suka menghabiskan nasi di panci sampai-sampai tak menyisakanku sedikit pun.”
“Gin, aku sudah 22 tahun!! Bocah apa yang umurnya 22 tahun?!” protes Ai dengan suara kencang. Gadis itu lantas berjinjit, berencana untuk semakin mendekati Gin dan memanjat tubuh ayah angkatnya itu; dia mau mengapit kepala Gin dengan kedua tangannya. Namun, rencana Ai itu gagal total karena Gin langsung memegang kepala gadis itu dan menekannya agar tetap berada di tempat. Hal itu membuat Ai jadi tak bisa maju mendekati Gin dan hanya bisa mengulurkan kedua tangannya ke depan, mendayung-dayungkan tangannya di udara karena tubuh Gin tak bisa ia capai. Ya…mau bagaimana lagi? Soalnya Gin sudah tahu isi otaknya Ai itu seperti apa.
“G—GIN!!! LEPAAS! GINNNN!!!” teriak Ai kencang seraya masih terus mendayung-dayungkan tangannya ke depan, sementara kepalanya dicengkeram dan ditahan di tempat oleh Gin hingga ia tak bisa maju sama sekali.
Gin menyeringai. Cengkeramannya pada kepala Ai tampak semakin kuat hingga membuat Ai mengaduh kesakitan. “Mau apa kau, hmm? Kau pasti mau mencekik leherku, ‘kan? Bocah Tengil.”
“OIII!!!” teriak Ai lagi. Kedua tangannya kini mencengkeram lengan kekar milik Gin, mencoba untuk melepaskan tangan Gin dari kepalanya. “LEPAAAS! Baiklah—baiklah!! Ampun! Sakiiiit!! Sudah, aku tidak jadi memanjat tubuhmu!!! Lepaskan aku!!”
Gin tersenyum penuh kemenangan. Pria itu pun melepaskan cengkeramannya pada kepala Ai, menyisakan gadis itu yang mulai merintih, mengusap-usap kepalanya, serta mengernyitkan dahinya karena merasa sakit. Dia langsung merapikan rambut berwarna vermillion-nya yang malam itu hanya digerai.
Gin lalu berkata, “Aku pergi dulu. Hiroshi baru pulang dari luar kota dan ingin mentraktir kami makan malam, katanya.”
Meski masih mengernyitkan dahi dan memajukan bibirnya ke depan karena merajuk, Ai tetap menoleh kepada Gin dan bertanya, “Hujan-hujan begini?”
“Iya, soalnya besok dia mau pergi ke luar kota lagi. Jadi, dia cuma punya waktu malam ini,” jawab Gin. Pria itu pun mengacak rambut Ai seraya tersenyum. “Kau diam di rumah saja dan tidurlah. Kunci semua jendela dan pintu.”
Kemungkinan Gin akan pulang besok pagi, mengingat biasanya pertemuan dengan Hiroshi dan teman-temannya yang lain akan selalu berakhir dengan minum bir seraya mengobrol tentang banyak hal.
Namun, tiba-tiba saja—bagai tersambar petir—ekspresi Ai berubah. Dia mendadak terlihat bersemangat, matanya berbinar-binar. “Gin! Kira-kira Hiroshi bawa oleh-oleh dari luar kota tidak?!”
Kontan saja pertanyaan itu membuat Gin sedikit melebarkan mata. Dia lalu melihat ke lain arah dan mulai mengerutkan dahinya; dia sedang berpikir. “Hm…entah juga, ya.”
Ai tampak semakin bersemangat. Dia langsung mendekati Gin dan memegangi sedikit bagian dari mantel Gin, di bagian perut. Mata birunya tampak berkilat seolah dipengaruhi oleh sesuatu.
Gin menatap Ai dan mengangkat sebelah alisnya. Wah, ini anak pasti ada maunya, nih.
Tanpa tedeng aling-aling, Ai pun lantas mengeluarkan cengiran andalannya, memamerkan barisan gigi putihnya. “He he he he! Kalau Hiroshi bawa oleh-oleh, terutama snack, bawa pulang ke rumah, ya!!”
Tuh, kan.
Ekspresi wajah Gin langsung datar sedatar-datarnya. “Dasar bocah. Makanan saja yang kau pikirkan.”
Ai mencebikkan bibirnya, lalu menjulurkan lidahnya pada Gin. “Lah, bukannya katamu aku masih dalam masa pertumbuhan?”
Gin menggeleng tak habis pikir. Hidup bersama dua bocah dengan rambut berwarna vermillion ini benar-benar sukses menghabiskan seluruh persediaan makanannya. Yang tadinya dia belanja seminggu sekali, semenjak memungut Ai dan Eric, dia jadi belanja dua hari sekali. Walau yang satunya sudah mengembara entah ke mana, yang satu lagi tetap mampu untuk menghabiskan semua makanan di rumah Gin. Anehnya, tubuh kedua anak itu bukannya gemuk; tubuh mereka justru tumbuh dengan proporsional. Rasanya kurang bisa diterima oleh akal sehat, tetapi mungkin saja Gin sudah memungut anak-anak ajaib.
Meskipun begitu, akhirnya Gin hanya mengulurkan jari telunjuknya untuk mendorong kening Ai ke belakang dengan pelan. “Suatu saat aku akan mencari seseorang untuk menghilangkan black hole di dalam perutmu itu. Bisa-bisa suatu hari nanti kau akan memakanku kalau persediaan makanan di rumah kita sudah benar-benar habis.”
Ai tertawa keras, tak tanggung-tanggung kepalanya sampai mendongak. Dia lalu menatap Gin dan menjawab, “Malas, ah! Dagingmu mungkin alot, soalnya kau sebentar lagi akan menjadi om-om tua!”
Sontak saja Gin jadi kesal. Ekspresi pria itu langsung berubah; keningnya berkerut. Dia berdecak dan langsung menjewer telinga Ai. “Siapa yang kau sebut om-om, hah?! Dasar bocah tidak sopan!!”
“A—AAAAH!! HUAAA!” teriak Ai, memegangi lengan Gin seraya mengaduh kesakitan. “Bercanda!! Aku bercanda—ampun!!! GIINN!!”
Gin lalu melepaskan tangannya dari telinga kiri Ai dan kembali berdecak. “Ya sudah. Aku pergi dulu. Nanti aku bawa ke rumah kalau Hiroshi bawa oleh-oleh.”
Ai yang sedang mengusap-usap telinganya itu mendadak langsung melebarkan matanya. Dia menatap Gin dengan antusias. Matanya kembali berbinar-binar; mulutnya terbuka lebar. “SIIIP! HORE! Bawa yang banyak, ya!!”
Gin langsung memasang poker face. “Sudah minta, malah tidak tahu diri.”
Ai tertawa kencang.
Gin mendengkus, lalu pria itu tersenyum. Sebetulnya, meskipun dia bilang begitu, dia yakin bahwa Hiroshi pasti akan membawa oleh-oleh. Hiroshi—yang pekerjaannya memang selalu bolak-balik ke luar kota itu—juga kenal dengan Ai; Hiroshi tahu bahwa Ai orangnya memang suka makan. Makanya, tiap mengajak Gin ke luar buat nongkrong, dia pasti akan memberikan sebuah bingkisan kepada Gin dan berkata, ‘Ini, oleh-oleh untuk para bocah di rumahmu. Si Ai apa kabar?’
Gin pun menepuk pundak Ai dua kali dengan pelan, lalu berbalik dan berkata, “Kunci semua pintu dan jendelanya.”
Ai tersenyum lebar—dia senang sekali—lalu mengacungkan jempolnya dan menyahut, “Okeee!!!” []