Chapter 4 :
Invisible Red Thread (4)
******
AI yang baru saja berhasil mengeluarkan dirinya dari kolong meja itu lantas berdiri dan menghadap ke arah Kei. Dia mendengar Kei yang sedang mengolok-oloknya dengan cara memesankan dango untuknya. Sialnya pria paruh baya pemilik toko tersebut mendengar pesanan itu dan berkata, “Oke, Tuan!”
Bedebah!
Gadis itu kontan berdecak kesal; ia langsung memelototi Kei dengan tajam. “Diam kau, Sadis! Urusi pekerjaanmu sendiri sana! Apa yang polisi sepertimu lakukan di sini, siang bolong begini? Pergi sana kau! Danna, jangan dengarkan pesanan dari si Sadis ini!!”
Mendengar itu, emosi Kei spontan tersulut. Urat-urat di sekitar pelipis Kei tampak nyaris mencuat. “Kau pikir polisi tidak ada jam istirahatnya?! Aku sudah ada di sini sejak tadi, mengapa jadi kau yang mengusirku?!!”
Ai tahu benar betapa sadis, sombong, dan menyebalkannya pria itu. Kalau ditelusuri, sebetulnya dahulu Ai takkan benar-benar mengenal pria itu apabila dia bukan salah satu pelanggan di bar milik Gin. Pria itu memang terkenal; dia adalah kapten divisi satu Shinsengumi. Shinsengumi memiliki sepuluh divisi yang saat ini tiap-tiap divisinya memiliki ratusan anggota. Divisi satu atau divisi pertama Shinsengumi merupakan divisi yang terkuat. Mereka akan selalu berada di barisan terdepan saat terjadi sebuah peperangan. Akibat kemampuan berpedangnya yang luar biasa, Kei Arashi dicap sebagai pendekar pedang terbaik dan langsung diangkat sebagai kapten divisi pertama saat dia baru berusia 22 tahun. Namun, kata Gin…Kei itu seumuran dengan Eric. Jadi, seharusnya mereka berdua sekarang berusia 26 tahun. Berarti Kei telah menjabat sebagai kapten divisi satu Shinsengumi selama kurang lebih empat tahun.
Kei memiliki nama lain, yaitu Kapten Iblis Shinsengumi, akibat kekejamannya di medan perang dan sifatnya yang sadis bukan main. Dia adalah monster mengerikan yang tak memiliki empati. Makhluk abnormal yang menakutkan. Dia selalu menjadi orang yang membantai habis semua lawannya seperti tengah haus darah.
Dia adalah psikopat gila yang kurang lebih sama saja dengan Eric. Mereka sama-sama monster.
Satu hal lagi yang membuatnya sama gilanya dengan Eric, yaitu dia suka melihat orang lain menderita. Jika masokis adalah orang yang suka disakiti, maka sadis adalah keterbalikannya. Mereka suka melihat orang lain merasa sakit, terluka, dan menderita. Seperti ada kepuasan tersendiri.
Kei dan Eric dua-duanya adalah sadis, setidaknya di mata Ai. Mereka sama-sama punya kelainan. Sama-sama sinting. Namun, setidaknya Eric tidak pernah menyakiti Ai.
Beda dengan yang satu ini. Agaknya, dia senang sekali membuat Ai dongkol setengah mati. Kalau dipikir-pikir…meskipun Kei terkenal (terutama di kalangan wanita), kalau saja Kei bukan pelanggan Gin, maka mereka tidak akan saling mengenal dan jadi bertengkar terus-menerus seperti ini.
“Diam atau kupenggal kepalamu,” ancam Ai dengan tatapan tajam. Matanya memelotot sampai-sampai terlihat seperti mau lepas dari soketnya. Urat-urat di lehernya jadi keluar semua. “Anak buahmu tidak ada yang berani melakukan itu, ‘kan? Biar aku saja yang melakukannya. Oh, atau aku akan mengirimkan paket berisi tahi sapi ke Markas Shinsengumi, khusus untukmu.”
Setelah mengucapkan itu, Ai langsung menyodorkan jari tengahnya ke arah Kei, lalu ia berlari kencang dan menjauhi toko dango itu. Kei yang sedang kesal setengah mati itu spontan membalikkan badan, matanya melebar penuh tatkala menatap Ai yang tengah berlari menjauh. “KAU—OI!! KEMARI KAU!! MAU LARI KE MANA KAU SETELAH MENGHINA SEORANG POLISI?!!”
Sialan. Perempuan itu benar-benar sialan.
Ini benar-benar membuat Kei kehabisan akal. Kehabisan cara. Kehabisan kesabaran.
Dia melihat Airell Shou untuk pertama kalinya ketika mengunjungi bar milik Gin bersama dengan Jun beberapa bulan yang lalu. Apabila malam itu Jun tidak iseng-iseng ingin minum bir karena baru saja menyelesaikan tugas yang melelahkan, maka Kei tidak akan melihat sosok Ai yang malam itu tengah memakai piama panjangnya, masih membantu Gin untuk mengantarkan pesanan mereka meskipun wajahnya terlihat mengantuk. Gadis itu tampak menguap berkali-kali.
Gin, pemilik bar yang mereka kunjungi, terlihat masih cukup muda. Rasanya tidak mungkin gadis itu adalah anak kandungnya. Mereka juga memiliki warna rambut yang jauh berbeda; wajah mereka tidak mirip. Namun, gadis itu sepertinya juga bukan karyawan bar tersebut, mengingat dia membantu Gin untuk mengantarkan pesanan dengan hanya mengenakan piama. Gin malah sempat memarahi gadis itu karena hampir tertidur di bar counter. Gin tampak seperti sedang memarahi anaknya sendiri.
Apa gadis itu anak angkatnya?
Saat itu, baik Jun maupun Kei, mereka berdua sama-sama belum mengenal Gin. Setelah beberapa kali berkunjung, barulah mereka tahu bahwa pemilik bar itu bernama Gin Shuuji dan biasa dipanggil Gin. Namun, karena sudah kebiasaan, Kei tetap memanggil Gin dengan panggilan Danna yang berarti tuan rumah atau tuan pemilik toko.
Kei tak ingin mengakuinya, tetapi perempuan serampangan yang ia temui di bar malam itu telah sedikit menggelitik rasa penasarannya. Namun, Kei adalah jenis pria sadis yang tidak bisa memulai konversasi dengan normal. Dia mahir dalam menekan atau menghina orang lain. Kedua mata berwarna merah tuanya itu selalu menatap orang lain dengan keji. Seperti tatapan binatang buas. Alhasil, semakin sering Kei berkunjung ke bar itu, semakin Kei menjadi pelanggan di bar itu, percakapan yang ia lakukan dengan Ai justru berubah menjadi pertengkaran sengit.
Dari rasa penasaran yang awalnya hanya ‘sedikit’, setelah beberapa bulan berlalu, rasa penasaran itu berubah menjadi perasaan yang ambigu. Membingungkan. Bercampur aduk. Membuat pikiran Kei terasa kalut.
Antara penasaran, kesal, benci, serta…
…perasaan ingin meraih.
Dia jadi punya sebuah asa yang terpendam.
Dia ingin melihat perempuan itu diam. Mengerti isi pikirannya. Melihat dirinya. Menatapnya lurus-lurus. Terkurung di dalam penjaranya. Terjebak di bawah kuasanya. Menangis di bawah kungkungannya.
Dia ingin perempuan itu mendengarnya; dia ingin berhenti bermain kucing dan anjing dengan perempuan itu. Kalau begini caranya, mereka akan bertengkar selama-lamanya. Mereka tidak akan pernah akur. Bisa jadi suatu hari nanti Ai akan menodongkan pisau ke arahnya. Kucing dan anjing tidak mungkin bisa bersetubuh, bukan?
Perempuan itu harus tahu bahwa mereka bukanlah seekor kucing dan anjing. Mereka berdua sama-sama manusia. Manusia yang berbeda jenis kelamin. Seorang pria dan wanita.
Kei menggeram. Rahangnya mengeras; giginya bergemeletuk. Ia menatap Ai yang sudah berada jauh di depan sana, masih berlari seraya menggendong kucing yang seingat Kei sering bermain di bar milik Gin. Cahaya merah tua yang begitu kelam seakan terpancar dari kedua mata Kei yang menatap sosok Ai dengan begitu dalam. Intens. Tajam. Memenjarakan gadis itu dari jauh dengan tatapan matanya. Iris berwarna merah tuanya itu tampak seperti cairan gelap yang mampu menelan apa pun. Membuat setiap orang yang menatapnya merasa seolah-olah tenggelam, terjebak, dan takkan mampu kembali lagi ke permukaan. Layaknya black hole.
Malam ini, Kei akan membuat perempuan itu mengerti. []