10. Airell Shou (1)

1330 Kata
Chapter 10 : Airell Shou (1) ****** SINAR matahari yang masuk melalui ventilasi jendela itu membuat kelopak mata Ai bergetar pelan. Gadis itu mulai menggeliat; dia sedikit meregangkan otot-ototnya. Akan tetapi, ada sebuah hal yang tiba-tiba berkecamuk di dalam benaknya, memelesat bak kilat di langit malam, yang sukses membuat matanya langsung terbuka sempurna. Ai spontan bangkit dari tidurnya. Napasnya langsung terengah-engah. Suasana kamarnya saat itu sudah terang karena sinar matahari berhasil masuk melalui ventilasi jendela, tetapi tidak, masalahnya bukan itu. Jantung Ai berdegup kencang. Wajahnya mendadak pucat; dadanya sesak. Tubuhnya bergetar. Matanya melebar. Ah. Iya. Tadi malam, dia telah diperkosa. Ai langsung menunduk dan melihat tubuhnya sendiri. Selimutnya yang berwarna putih itu jatuh ke perutnya karena ia baru saja bangkit dari tidurnya. Lengannya, perutnya, dan payudaranya…dipenuhi oleh kiss mark. Warna merah dari kiss mark itu tampak begitu terang. Meski Ai tidak sadar, sebetulnya area leher, bahu, punggung, paha, pinggul, serta bokongnya pun dihiasi dengan warna merah itu. Napas Ai tersekat di tenggorokan. Matanya mulai berkaca-kaca. Di sekeliling lantai kamarnya, pakaiannya berserakan. Pakaian-pakaian itu robek dan semuanya tergeletak begitu saja di lantai. Kei merobek semuanya semalam. Kontan saja, Ai menoleh ke samping kirinya. Ternyata, Kei sudah tidak ada di kamarnya. Ai langsung menyingkap selimut itu dengan panik, ia hampir menangis. Meskipun ia tahu bahwa semuanya sudah jelas, meskipun ia tahu bahwa memastikannya lagi justru akan membuatnya semakin trauma, entah mengapa ia ingin melihatnya. Ia ingin mengecek sesuatu. Begitu selimut itu tersingkap, wajah Ai langsung semakin pucat. Tubuhnya mematung di tempat. Jantungnya seakan berhenti berdetak selama beberapa saat. Ia bahkan lupa bernapas. Di sana, di seprai kasurnya, ia melihat ada noda darah. Tanpa disadari, air matanya langsung mengalir deras. Hatinya sakit sekali. Saat itu, ia menangis dengan napas yang tersengal-sengal. Sebelah tangannya langsung menutup mulutnya, mencegah suaranya agar tidak keluar. Ia memukul-mukul dadanya sendiri saat menyadari bahwa tiba-tiba ia sulit bernapas. Sesak. Rasanya sesak sekali. Akibat kacaunya pikirannya saat itu, perut Ai tiba-tiba terasa mual. Dia mendadak diserang oleh stres yang berlebihan sampai dia ingin muntah. Air matanya membasahi seluruh wajahnya hingga ke lehernya, ia menangis sampai terbatuk-batuk. Matanya terbuka penuh, masih tak percaya dengan apa yang telah terjadi padanya. Meskipun rasanya sesakit itu, ia masih berusaha untuk menahan suara tangisnya. Gin pasti sudah ada di rumah. Ai tak ingin Gin mengetahui semua ini. Ai tak ingin Gin melihat semua ini. Ai akhirnya duduk meringkuk di atas ranjangnya. Sebelah tangannya memeluk lututnya, sementara sebelah tangannya lagi mulai mencengkeram rambutnya sendiri, menekan kepalanya seakan-akan isi kepalanya itu benar-benar tak berguna. Seakan-akan ia adalah gadis terbodoh di dunia yang telah membiarkan dirinya diperkosa. Kei, Kaptan Divisi Satu Shinsengumi, telah memerkosanya. Mengambil keperawanannya, lalu meninggalkannya begitu saja. Mengapa pria itu memerkosaku? Apa salahku padanya?! Apakah rasa bencinya padaku memang sedalam itu hingga dia memilih untuk memerkosaku? Apakah aku serendah itu di matanya?! Ternyata, aku… …serendah itu di mata pria… Ai menangis terisak-isak. Gadis itu semakin tenggelam akan kesedihannya sendiri. Dunianya seakan runtuh. Ia takkan bisa melihat orang-orang di sekitarnya dengan tatapan yang sama lagi. Mungkin, akan sulit baginya untuk mengangkat wajahnya setelah semua ini. Dia telah kotor. Bagaimana jika Gin…atau Shin…mengetahui semua ini? Apakah Gin akan mengusirku dari rumah ini karena telah membuatnya malu? Apa yang akan terjadi padaku? Aku tak ingin dibuang. Aku tak ingin ditinggalkan. Selain itu, bagaimana jika…Kak Eric tahu? Aku harus merahasiakan ini. Mereka tidak boleh mengetahui ini selamanya. Namun…bagaimana kalau aku…hamil? Kei…mengeluarkannya di…dalam tubuhku… “AI!!” panggil Gin tiba-tiba, membuat Ai tersentak. Mata Ai langsung membeliak, tubuhnya menegang. Ia langsung menoleh ke pintu kamarnya dan terdengarlah suara Gin dari balik pintu itu; suara Gin agak redam karena terhalang pintu. Gin mengetuk pintu kamarnya. “Kau sudah bangun belum? Ayo sarapan!!” Ai langsung panik. Gadis itu meneguk ludahnya dan tanpa sadar tubuhnya mundur ke belakang karena takut. Apakah pintu itu terkunci? Dari mana Kei keluar semalam? Jam berapa Gin pulang? Kepala Ai serasa mau pecah. Ia sangat gelisah, sangat panik. Dengan tubuh yang bergetar—dan napas yang tertahan—Ai pun berusaha untuk menjawab Gin meskipun suaranya tersendat-sendat, “A—Aku su—sudah bangun, Gin. Aku—aku...” Sungguh, saat ini Ai belum ingin keluar dari kamarnya. Banyak hal yang harus ia sembunyikan. “Hm?” Gin ingin mendengar suara Ai dengan jelas. “Aku buka pintunya, ya.” “JA—JANGAN!!” Gin, yang berdiri di balik pintu, kontan mengernyitkan dahinya. “Ada apa denganmu?” “A—Aku…” Suara Ai terdengar agak pelan dari dalam sana. “Aku…tidak enak badan. Kau duluan saja, Gin.” “Kau bergadang, ya?” tanya Gin. Pria itu kemudian berdiri tegap dan menghela napasnya. “Bocah satu ini. Ya sudah, aku akan sarapan duluan. Setidaknya keluarlah sebentar untuk sarapan, kau mengerti? Mau minum obat saja atau pergi ke tabib?” “Mi—minum obat saja,” jawab Ai dari dalam sana. Gin pun mengangguk. “Baiklah. Istirahatlah terlebih dahulu.” “Hm.” Ai berdeham. Akhirnya, Ai pun mendengar Gin melangkah menjauh. Gin tidak mempertanyakan apa pun yang mengandung…rasa curiga. Berarti, keadaan pintu depan sudah kembali seperti semula tatkala Gin pulang. Biasanya, Gin akan masuk lewat pintu belakang kalau ada pertemuan dengan teman-temannya. Kursi yang tadi malam Kei seret ke kamar Ai pun…sudah tidak ada lagi. Kemungkinan besar, tadi malam Kei merapikan segala hal yang terusik di depan sana (kursi bar, pintu depan, sekaligus imagawayaki yang ia bawa), lalu keluar dari…jendela kamar Ai. Jendela kamar Ai itu cukup lebar; Eric juga sering masuk melalui jendela itu. Kei benar-benar mengembalikan segalanya seolah-olah tak terjadi apa pun, tetapi tidak dengan kamar Ai. Pria itu meninggalkan kamar Ai dalam keadaan apa adanya. Seolah-olah…pria itu ingin Ai mengingat semuanya saat pagi tiba. Tangan Ai terkepal. Mendadak, ia dikuasai oleh rasa marah yang luar biasa. Ia menggertakkan giginya. Darahnya serasa mendidih. Kepiluan yang ia rasakan itu kini bercampur dengan kemurkaan. Ai sangat membenci Kei. Ai ingin membunuh pria itu dengan tangannya sendiri. ****** Kei menyibak tirai berwarna hijau tua yang menutup pintu bar milik Gin dengan sebelah tangannya. Pintu bar milik Gin kadang-kadang dibuka begitu saja, tetapi kadang-kadang ditutup dengan sebuah tirai berwarna hijau tua apabila cuaca di luar terlalu panas. Begitu tirai itu terbuka, Kei dapat melihat Gin dan Shin yang berdiri di balik bar counter. Gin sedang menuangkan bir ke dalam beberapa gelas, sementara Shin sedang mengelap gelas-gelas yang baru saja dicuci. Saat Kei melangkah masuk, Shin langsung menyadari keberadaannya. Pria berkacamata itu pun menyapa Kei, “Ah, Kei-san! Selamat datang!” Gin pun akhirnya melihat ke arah Kei karena mendengar teriakan Shin. Namun, Gin hanya memasang ekspresi datar. Well, dia sudah biasa melihat Kei datang ke barnya. Ini juga sudah siang, mungkin Kei ingin istirahat. Kei mengangguk pelan, tidak menunjukkan ekspresi apa pun. “Hm.” Saat Kei berjalan mendekati bar counter, banyak pelanggan yang langsung melihat ke arahnya. Pelanggan Gin biasanya adalah para lelaki (baik tua maupun muda); jarang ada perempuan yang datang ke sana. Para pelanggan itu melihat Kei dan banyak di antara mereka yang tadinya berisik tiba-tiba jadi mengurangi suara mereka. Well, mereka tahu bahwa pria yang barusan masuk itu adalah salah satu petinggi Shinsengumi yang terkenal buas. Wajah tampannya seakan-akan hanyalah topeng untuk menutupi monster haus darah yang bersembunyi di tubuhnya. Jangan sampai mata berwarna merah gelapnya itu menatap kita semua dengan tajam karena kita terlalu berisik, pikir para pelanggan itu. Namun, berbeda dengan para pelanggan di sana, Shin justru menyambut Kei dengan riang. Well, Kei memang tak pernah jahat pada Shin. “Mau minum apa hari ini, Kei-san?” “Sake,” jawab Kei, pria itu mulai duduk di salah satu kursi tinggi yang ada di depan bar counter. “Okeee!” jawab Shin. Pria berkacamata itu mulai mengantarkan gelas-gelas bir yang Gin siapkan tadi ke pelanggan-pelanggan yang memesannya. Sepeninggal Shin, Gin pun menatap Kei seraya mengangkat alisnya. “Sudah selesai patroli?” “Tidak,” jawab Kei. “Aku tidak patroli hari ini. Ada tugas khusus. Sakenya sedikit saja, Danna. Aku masih ada pekerjaan setelah ini.” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN