11. Airell Shou (2)

1199 Kata
Chapter 11 : Airell Shou (2) ****** “OKE,” jawab Gin. Pria itu mulai mengambil botol-botol sake yang ia susun di rak yang ada di belakang bar counter. Gin pun mengambil sebuah gelas kecil, lalu menuangkan sake itu ke sana. Setelah itu, ia lantas memberikan gelas berisi sake itu—mendorongnya pelan—ke depan Kei. “Silakan.” Kei mengangguk. Pria itu lantas meminum sakenya dengan santai. “Tugas dari Shogun?” tanya Gin, agak berbasa-basi. “Tidak. Ada kriminal tingkat tinggi di area selatan,” jawab Kei. Pria itu menelan sakenya, lalu meletakkan gelas sake itu di atas bar counter. Namun, tiba-tiba ia menatap Gin dan berkata, “Bisakah aku menggunakan toiletmu, Danna?” Gin mengangguk, lalu menunjuk ke sebelah kanan dengan dagunya. “Masuk saja melalui lorong. Kau akan menemukannya di dekat dapur.” “Terima kasih,” jawab Kei. Pria itu pun bangkit dari duduknya dan menuju ke toilet. Tatkala Kei berjalan melewati lorong itu, Gin menatap Kei seraya mengerutkan dahinya samar. Namun, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara Shin. “Lho, ke mana Kei-san?” Gin pun menoleh kepada Shin yang kini sudah berdiri di depannya—dipisahkan oleh bar counter—seraya membawa gelas-gelas bir yang kosong. Hari ini, Shin harus bekerja lebih keras karena Ai sedang sakit. Seharian ini, Ai hanya beristirahat di dalam kamarnya. Gadis itu hanya keluar untuk makan sebentar—dengan pakaian yang menutup tubuhnya secara full—dan meminum obatnya. Oh, dia juga sempat membawa seluruh pakaiannya (serta selimut dan seprainya) ke kamar mandi, mencuci semua kain itu karena katanya ia tak sengaja muntah di kasur. Setelah itu, ia kembali ke kamarnya. Gin (dan Shin) sempat kembali menawarinya untuk pergi ke tabib, tetapi tawaran itu langsung ia tolak. Gin pun menjawab Shin, “Dia ke toilet.” “Oh…begitu,” Shin menatap lorong yang ada di samping kanan Gin. Sesaat kemudian, Shin lantas kembali menatap Gin dan tersenyum. “Gin-san, ada yang ingin menambah bir lagi!” Gin pun mengangguk. “Oke.” ****** Ini sudah siang dan Ai masih saja menangis di kamarnya. Ia berdiri di depan meja riasnya—yang sebenarnya tak begitu terpakai karena ia jarang berdandan—seraya memegangi sebuah perhiasan rambut (kanzashi) yang tergeletak di atas meja itu. Jempolnya mengusap kanzashi itu dengan pelan seraya menangis. Kanzashi itu Eric berikan padanya beberapa bulan yang lalu; kanzashi-nya sangat cantik karena berbentuk bunga yang berumbai-rumbai. Bunga-bunganya berwarna merah muda, cocok sekali untuk rambut Ai yang berwarna vermillion. Ai mendadak jadi merindukan Eric. Rasa sedihnya, rasa frustrasinya, membuatnya sangat ingin melihat Eric. Ia ingin bertemu dengan Eric…dan menangis di pelukan Eric. Namun, bila mereka bertemu pun…sebetulnya Ai tak bisa menangis begitu saja di depan Eric. Soalnya, Eric pasti akan mencari tahu akar masalahnya. Ai tak mau hal itu terjadi. Maka dari itu, Ai hanya bisa menangis. Meratapi semua yang telah terjadi padanya, segala sesuatu yang sukses membuat hidupnya berubah 180 derajat. Dia tak ingin Eric mengetahui ini; dia tak ingin menyusahkan Eric. Eric adalah pembunuh berantai yang dikejar-kejar oleh Shinsengumi dan jika Eric tahu bahwa Ai telah diperkosa oleh salah satu petinggi Shinsengumi, entah apa yang akan terjadi pada seluruh wilayah Edo. Ai tak bisa dan tak ingin membayangkannya. Ini benar-benar tidak keruan. Tiba-tiba saja, pintu kamar Ai terbuka. Tanpa ada ketukan atau peringatan apa pun sebelumnya. Sial! Ai lupa mengunci pintu kamar itu. Pakaian yang saat ini ia pakai masih terbuka di bagian lengan dan lehernya. Astaga, bagaimana ini? Ai tak ingin Gin atau Shin melihat kiss mark di tubuhnya! Ai pun kontan melihat ke arah pintu… …dan matanya membeliak. Di sana, ia melihat… …Kei. Kei Arashi, Kapten Iblis Shinsengumi, tengah berdiri di sana…seraya menutup pintu kamarnya. Sial! Sial! Mengapa—mengapa pria itu ada di sini?! Selain itu, dia—berani-beraninya dia datang ke sini setelah apa yang dia lakukan semalam!!! Tiba-tiba, seluruh rasa marah yang Ai pendam sejak pagi itu memelesat naik hingga ke ubun-ubunnya, lalu meluap. Ai langsung mengepalkan tangannya dan menggeram. Matanya memelotot; ia menggertakkan giginya. Darahnya serasa mendidih tatkala melihat Kei. “Apa yang kau lakukan di sini.” Nada bicara Ai terdengar sangat tajam hingga pertanyaannya tidak terdengar seperti pertanyaan. Meskipun murka, ia masih menahan suaranya agar tidak terdengar sampai ke luar. “Pergi kau sekarang. Jangan tampakkan wajahmu di depan mataku!!” Kei masih berdiri di sana; pria itu menatap Ai dengan lekat. Kedua tangannya ia masukkan ke saku celana seragamnya. “Aku ingin berbicara denganmu.” “Tidak ada yang perlu kita bicarakan,” jawab Ai. Mata Ai semakin memelotot. “Pergi!!” Kei mendadak menatap Ai dengan tajam. Pria itu mulai kesal; ia langsung berjalan mendekati Ai dengan cepat. Ai refleks mundur ke belakang saat melihat Kei mendekatinya dengan ekspresi kesal. Kini, rasa marah Ai mulai bercampur dengan rasa takut. “Apa yang mau kau lakukan, berengsek?! Menjauh dariku!!” Serius, Ai ingin berteriak sekencang mungkin, tetapi ia masih tak ingin Gin mengetahui seluruh kekacauan ini. Ai mengulurkan tangannya, ingin menghalangi dan mencegah Kei dari apa pun yang hendak pria itu lakukan. Namun, dengan gerakan cepat, Kei langsung menarik tangan itu dan mengangkatnya ke atas. Mencengkeram dan menahannya di sana. “Lepaskan aku, b******n!!!” teriak Ai, gadis itu langsung berusaha untuk menendang tubuh Kei dengan putus asa. Ia panik sekaligus murka. Ada setetes air mata yang hampir jatuh dari sudut matanya. “LEPAS!” “Dengarkan aku!!” ujar Kei, pria itu semakin mencengkeram sebelah tangan Ai yang ia angkat ke atas. Dia langsung meraih bagian belakang kepala Ai, membuat gadis itu jadi mendongak dan menatapnya lurus-lurus. Dia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Ai dan berkata, “Semakin kau memberontak, semakin besar risikomu untuk terdengar. Kau mau orang-orang di luar sana mendengar teriakanmu?!” Ai tetap memelototi Kei dan menggeram. “Lepaskan tanganku, keparat.” Kei menatap Ai dengan tajam. “Aku tidak akan lama. Aku hanya berkata pada Danna bahwa aku ingin pergi ke toilet. Aku datang ke sini untuk menemuimu.” Ai berdecak, gadis itu kembali memberontak. “Aku tak ingin bertemu denganmu, sialan!” Kini, gantian Kei yang dikuasai oleh amarah. Mata Kei memelotot, urat-urat di leher dan rahangnya tiba-tiba menonjol semua. “Ai!!” “Apa? Omong kosong macam apa yang mau kau katakan? Kau mau menjelaskan padaku bahwa seorang polisi sepertimu tidak sengaja memerkosaku semalam? Begitu?!” ucap Ai sinis. Hal ini sukses membuat Kei semakin marah. “Aku tak ingin bertengkar denganmu di sini,” ujar Kei, rahangnya terkatup rapat. “Agaknya, meskipun semalam kita sudah bercinta, meskipun aku telah mencium seluruh tubuhmu, kau masih belum mengerti apa pun.” Mendengar kalimat itu, ada sebuah gemuruh di d**a Ai yang langsung membuat kesabaran Ai habis. Menggunakan sebelah tangannya yang bebas, Ai pun menampar pipi Kei dengan kencang. Tamparan keras itu sukses membuat wajah Kei berpaling ke kanan bawah. “Pergi,” perintah Ai dengan tajam. “Aku tak ingin mendengar apa pun lagi darimu. Aku tak ingin mengerti apa pun yang kau lakukan.” Kei menggeram. Ia lantas menggertakkan giginya; ada sebuah kilat yang melintas di kedua bola matanya. Tatapannya begitu tajam. Ia pun menoleh kembali kepada Ai, lalu dengan tenaganya yang sangat kuat itu, ia langsung meraih kepala Ai dan mencium bibir gadis itu dengan ganas. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN