Chapter 16 :
Eric Shou (4)
******
DARI atas sebuah gedung yang tinggi, Eric memperhatikan dua orang berjaket hitam yang bergerak perlahan di bawah sana. Mereka bergerak menuju ke kanan (dari posisi Eric berdiri saat ini), lalu pelan-pelan belok dan masuk ke gang yang ada di samping gedung itu.
Rambut panjang Eric yang dikepang itu bergerak, sedikit melayang karena tertiup angin malam. Selendangnya juga melambai-lambai, tertiup ke belakang karena angin itu. Dia berdiri di atas salah satu gedung tinggi yang masih berada di kawasan Edo.
Eric memperhatikan apa yang ada di bawah sana. Tatapannya terlihat biasa saja, tenang, tetapi cukup lekat. Ekspresinya datar. Ia mengikuti langkah dua orang itu—hingga mereka menghilang di gang sebelah gedung—dengan sepasang mata birunya.
Di antara angin malam yang sepoi-sepoi itu, Eric terlihat sangat rileks.
“Apakah itu Shinsengumi?”
Eric menoleh. Itu adalah suara Atsushi. Atsushi sedang berjongkok agak jauh di sana, di sebelah kanannya.
Eric, pria tampan psychotic itu, mulai tersenyum sangat manis. Seperti senyuman tulus anak kecil.
“Eh, ada Sushi-kun, ya.”
Kontan saja Atsushi menganga. Matanya membeliak. “Oi! Aku bukan Sushi!! Lagi pula, aku sudah ada di sini sejak tadi!!!”
Bukannya memedulikan protesnya Atsushi, Eric justru kembali menatap ke depan dengan senyumannya itu. Membuat Atsushi jadi geram setengah mati.
‘Sialan. Kalau ancamannya bukan nyawa, sudah dari tadi bocah itu kuhajar,’ pikir Atsushi.
Yah, kalau Atsushi berencana untuk menghajar Eric, mungkin sebelum sampai di tempat Eric berdiri, dia sudah mati. Eric akan membunuhnya seketika.
Akhirnya, Atsushi menghela napas. Ia kembali menatap ke depan, mencoba untuk memaklumi tabiat psikopat gila itu.
Sabar sajalah. Daripada mati.
Cahaya bulan menerangi sosok Eric. Membuat wajahnya yang putih itu jadi semakin bersinar. Membuat matanya yang berwarna biru itu jadi seolah-olah berkilat. Membuat sosoknya terlihat semakin indah karena selendang dan rambutnya tertiup angin.
Namun, Eric diam saja. Dia hanya tersenyum dan memandang ke depan.
Mereka berdua sama-sama diam. Hanya terdengar suara angin yang berembus di sekitar mereka. Rambut Atsushi pun sedikit bergerak karena tertiup angin.
Keadaan itu bertahan hingga sepuluh detik lamanya.
Akan tetapi, tiba-tiba…Eric membuka suara.
“Adikku menyuruhku untuk berhenti menjadi pembunuh bayaran.”
Mata Atsushi membulat. Pria bertubuh tinggi besar itu langsung menoleh kepada Eric dan memasang ekspresi tak percaya. Tubuhnya mematung.
Sebentar, sebentar. Serius, nih?!!
“T—Tunggu. Apa kau serius?!” Atsushi tanpa sadar meninggikan suaranya. “J—Jadi, kau jawab apa?”
Well, Atsushi tahu seberapa senangnya Eric terhadap pekerjaannya. Pria gila itu tersenyum manis tiap kali membunuh orang. Selain itu, semua orang di organisasi juga tahu bahwa Eric bergabung karena ingin memperkuat dirinya. Atsushi tak pernah mendengar Eric mengatakan itu sendiri padanya, tetapi ada ‘rumor’ yang tersebar di antara para anggota organisasi bahwa Eric Shou bergabung hanya karena ingin menjadi kuat.
Meskipun menyimpang dari norma, bergabung di sebuah organisasi gelap yang besar memang adalah jalan tercepat untuk menjadi lebih kuat. Bergabung dengan organisasi pembunuh yang besar seperti ini akan membuatmu bertemu dengan manusia-manusia kuat lainnya. Kau juga akan diberi berbagai misi; misi-misi itu akan membuatmu semakin berpengalaman dalam bertarung. Selain itu, kau akan bertemu dengan banyak situasi di mana lawan atau targetmu ternyata adalah manusia kuat atau manusia yang punya pasukan-pasukan kuat.
Itu tentu akan membuatmu jadi terlatih. Jadi jauh lebih kuat dalam waktu cepat. Bonusnya, kau juga akan diberi bayaran yang supertinggi.
Namun, meskipun Atsushi mendengar rumor itu, Atsushi juga tahu sesuatu soal Eric. Kalau yang ini, bukan hanya rumor, melainkan sebuah fakta. Dia tahu bahwa Eric…
…adalah seorang siscon akut.
Eric adalah psikopat yang tergila-gila dengan adik perempuannya sendiri. Adik kandungnya. Sister complex akut.
Dari mana Atsushi tahu soal itu?
Ya bagaimana mungkin Atsushi tidak tahu?! Sepertinya, semua orang di organisasi tahu fakta itu meskipun mereka tidak sering bertemu dengan satu sama lain. Bayangkan saja, semua pembunuh di organisasi mereka biasanya datang ke markas hanya untuk menerima misi atau meeting, lalu pergi. Datang kembali hanya untuk melapor dan mendapat bayaran. Kadang-kadang dimarahi boss kalau pekerjaannya tidak bagus. Jadi, mereka tidak terlalu peduli dengan satu sama lain. Namun, soal Eric?
Semua orang di sana tahu siapa Eric Shou. Tangan kanan boss—yang sebenarnya bergerak seenaknya saja, tak peduli pangkat—dan merupakan manusia terkuat di organisasi itu. Mereka semua kenal Eric Shou meski tak berani berbicara dengannya. Lebih tepatnya, antara takut…dan tak mau mencari masalah. Diam-diam, mereka semua tahu kalau Eric adalah siscon. Soalnya, Eric sering beberapa kali membatalkan misi, meninggalkan misi di tengah jalan, atau tidak menghadiri meeting…
…hanya karena rindu pada adik perempuannya.
Alasannya sesimpel itu! Namun, jangan pernah bilang kalau itu simpel atau sepele di depan Eric. Dahulu, waktu Eric baru bergabung, ada senior yang mengucapkan itu padanya. Senior itu mati mengenaskan di tempat dengan leher yang tertancap katana satu detik kemudian.
Eric saat itu hanya tersenyum. Manis sekali. Matanya melengkung, tertutup, sangat ramah…
…tetapi begitu dingin. Sukses membuat bulu kuduk semua orang berdiri. Suhu di sekitar mereka seakan-akan langsung turun beberapa derajat. Tubuh mereka tak bisa bergerak.
Waktu itu, sambil tersenyum, Eric berkata, ‘Sepele, katamu?’
Sejak saat itu, tak ada yang berani pada Eric. Kekuatannya memang sinting, tetapi otaknya ternyata lebih sinting.
Lama-kelamaan, kekuatan Eric semakin besar. Dia semakin terlatih. Semakin gila. Dia mampu menghabiskan ratusan penjaga musuh dalam waktu singkat. Seperti hanya bermain-main. Seperti pemanasan kecil.
Karena Atsushi tahu kalau Eric adalah siscon akut, Atsushi jadi curiga.
Jangan-jangan, Eric benar-benar menyetujui permintaan adiknya meskipun dia cukup menikmati pekerjaannya selama ini.
Seolah-olah menjawab isi pikiran Atsushi, tiba-tiba Eric berbicara.
“Sebenarnya, aku tak terlalu punya niat untuk berhenti,” ujarnya. “Akan tetapi, aku tetap bilang pada Adikku bahwa aku akan memikirkannya.”
Sejujurnya, dibanding berhenti total, Eric lebih ingin bergerak sendiri. Namun, ia tak mengatakan itu pada siapa pun.
Mendengar jawaban itu, entah mengapa Atsushi menghela napas. Ternyata, respons Eric pada adiknya cukup normal (walaupun otaknya sudah tidak normal lagi).
“Aku tak tahu apa keputusanmu nantinya,” ujar Atsushi. “Namun, sepertinya, adikmu hanya khawatir padamu. Lihatlah betapa gencarnya Shinsengumi mencarimu, sampai-sampai rajin bergerak tengah malam tanpa penerangan. Itu mereka, ‘kan, yang kau perhatikan tadi?”
Eric hanya tersenyum.
“Sok tahu sekali, sih, Sushi-kun,” jawab Eric dengan nada bermain-main. “Siapa tahu itu cuma om-om yang mau membeli ramen.”
“Toko ramen mana yang buka jam segini, oi!!!” teriak Atsushi. Eric hobi sekali mempermainkannya. Eric akan pura-pura polos, padahal niatnya cuma mau membuat orang kesal. Memang manusia sadis. “Apa kau sadar jam berapa ini??!!! Hebat sekali toko ramen itu kalau buka sampai jam segini!!”
Iya, ini sudah jam dua pagi. Eric juga datang ke sini setelah tidur bersama Ai selama beberapa jam.
Bagaikan masuk kuping kanan keluar kuping kiri, Eric tak menghiraukan omelan Atsushi. Dia hanya tetap tersenyum, memandang ke depan seakan-akan tak punya salah.
Atsushi kembali menatap ke depan, lalu menghela napas kasar. Rasanya lelah sekali menghadapi monster sok polos bernama Eric Shou ini. “Yah, terserahmu sajalah. Intinya, ambillah keputusan yang terbaik untukmu dan juga adikmu. Shinsengumi adalah anjingnya pemerintah, jadi sudah bisa dipastikan bahwa pemerintah juga sedang mencarimu.”
Tepat setelah kata-kata itu, senyuman Eric pelan-pelan terhapus. Matanya yang melengkung itu pelan-pelan kembali ke bentuk asalnya. Ekspresi innocent dan bersahabatnya juga hilang seketika.
Kini, kedua matanya menatap fokus ke depan…
…dan berkilat tajam.
******
Kei membuka pintu geser kamarnya dengan cepat. Setelah itu, dia berdiri diam di depan pintu itu.
Gelap.
Melihat lampu kamarnya yang masih mati, sebenarnya hati Kei sudah sedikit kacau. Namun, tidak. Pria itu masih ingin memastikan kebenarannya.
Dia masih ingin berpikir positif.
Beberapa detik kemudian, dia pun mulai melangkah masuk ke kamarnya. Dia menutup pintu geser itu, lalu menghidupkan andon (lentera) yang berdiri di sudut kamar.
Setelah lentera itu menyala, mata tajamnya mulai melihat ke sekeliling kamar.
Tidak ada tanda-tanda orang masuk.
Hening. Rapi.
Tak ada wangi yang berbeda.
Kamar Kei sangat luas. Kamar itu ada di Markas Shinsengumi yang besar. Markas Shinsengumi adalah ‘kantor’ sekaligus tempat latihan bagi semua anggota Shinsengumi, tetapi khusus untuk komandan, wakil komandan, dan seluruh kapten, mereka tinggal di sana. Intinya, yang benar-benar ‘tinggal’ di sana adalah para petingginya.
…termasuk Kei.
Kamar Kei terbagi menjadi dua bagian yang dibatasi oleh dinding. Jika kau membuka pintu masuk dari koridor luar (seperti Kei saat ini), kau akan langsung dihadapkan dengan ruang kerjanya. Di depan sana, ada meja kerja Kei, lemari, dan lain-lain. Jika ada anggota atau petinggi Shinsengumi yang ingin menemui Kei secara pribadi (untuk mendiskusikan sesuatu), di sinilah tempatnya.
Namun, di ujung kiri ruangan, ada sebuah pintu geser lagi. Jika kau membuka pintu geser itu, kau akan melihat kamar Kei yang sesungguhnya. Tempatnya tidur. Ruangan pribadinya.
Karena di ruang kerjanya tak ada tanda keberadaan seseorang sebelumnya, Kei pun mulai melangkah ke ruangan sebelah. Ruangan pribadinya.
Dia berjalan hingga ke ujung, lalu membuka pintu geser yang ada di sana. Setelah itu, dia mulai menghidupkan salah satu lentera di dalam kamarnya, lalu memperhatikan seisi kamar itu.
Tak ada tanda-tanda keberadaan seseorang juga.
Kei spontan mendengkus. Tiba-tiba, rasa kecewa, marah, dan kalutnya bercampur menjadi satu. Pikirannya jadi tidak keruan.
Ai benar-benar tidak datang.
Kei mulai duduk bersandar pada pintu geser kamarnya. Sebelah kakinya terjulur lurus ke depan, sementara sebelahnya lagi dia tekuk hingga salah satu lengannya bisa bertumpu pada lututnya.
Dia menatap kamarnya dengan nanar.
Tadi siang, dia sudah menemui Ai secara personal. Dia datang ke bar milik Gin saat seharusnya dia sibuk dengan misi penangkapan. Dia ingin Ai tahu bahwa dia tidak bermain-main; dia ingin Ai benar-benar datang menemuinya malam ini.
Namun, gadis itu tidak datang.
Ini sudah jam tiga pagi dan Kei baru saja pulang dari patroli bersama Seichii. Dia berangkat patroli sekitar jam dua belas malam tadi, tetapi dia sudah menunggu Ai sejak jam tujuh malam.
Namun, Ai tak kunjung datang.
Dia sempat berdebat dengan Jun karena pria itu menyuruhnya patroli malam ini. Soalnya, dia pikir, mungkin saja Ai akan datang saat tengah malam. Mungkin saja, Ai sengaja datang lebih malam karena menunggu Gin tidur terlebih dahulu. Dia masih mencoba untuk berpikir positif, teguh, meski banyak bisikan di belakang kepalanya yang berkata bahwa Ai takkan datang.
Dia memang pergi patroli, tetapi hanya setelah menatap Jun dengan tajam dan berkata, ‘Kalau ada seorang gadis yang datang, bawa dia masuk ke kamarku. Aku akan membunuhmu jika kau tak membukakan gerbang untuknya.’
Namun, ternyata, Ai tak datang sama sekali.
Sial.
Apakah ada sesuatu yang membuat Ai tak bisa datang?
Apa?
Apa yang membuatnya tak bisa datang?
Apa dia masih tak mau?
Atau ada sesuatu yang lain?
Kei mengepalkan tangannya. Rahangnya mengetat.
Ai memang satu-satunya gadis yang bisa membuatnya gila. []