15. Eric Shou (3)

1107 Kata
Chapter 15 : Eric Shou (3) ****** PIPI Ai merona tatkala mendengar suara Eric. Semakin bertambah usia, suara kakaknya itu terdengar semakin seksi. Menurut Ai, justru kakaknyalah yang tumbuh dengan sempurna. Akan tetapi, sedetik kemudian, tiba-tiba Ai menarik telinga Eric. Menjewer pria itu. Sambil cemberut, Ai pun berkata, “Kalau memang tak bisa hidup tanpaku, mengapa kau meninggalkanku hanya untuk berakhir menjadi pembunuh?!” Eric tersenyum miring, lalu mencium kedua mata Ai dengan lembut. “Sayang…bukannya kau sudah tahu bahwa itu kulakukan agar menjadi lebih kuat? Aku ingin lebih bisa melindungimu.” Ai berdecak; ia menarik telinga Eric lebih kencang. Namun, Eric hanya tersenyum. Pria itu tidak merasa sakit sama sekali. Dia justru gemas melihat Ai yang protes dengan imut begitu padanya. He’s intoxicated. Feeling high. Ai memasang ekspresi kesal. “Kan tidak harus jadi pembunuh juga, Kakaaaak!” “Terus jadi apa, dong?” tanya Eric. “Jadi suamimu?” Pipi Ai merona. “Kak!!! Astaga!!! Suami apanyaaa?!!” Eric tertawa kecil, lalu melumat bibir Ai. Ai sempat memejamkan mata—terlena—akibat perlakuan Eric yang sangat lembut dan penuh cinta itu, tetapi dua detik kemudian, Eric melepaskan ciumannya. Pria itu lalu berkata pelan, “Kau sudah dewasa sekarang. Aku sudah menunggu cukup lama untuk menikahimu.” Ai menganga. “Kak, kau benar-benar sudah gila. Ayo kita berobat sekarang. Kakak mana yang mau menikahi adiknya sendiri?!” Eric tersenyum manis. Pria itu menciumi seluruh bagian wajah Ai seolah-olah tak mendengar apa yang baru saja Ai katakan. Saat dia telah selesai menciumi wajah Ai, mereka pun kembali bertatapan. Jarak antara wajah mereka sangatlah dekat. Kamar yang lampunya tidak dihidupkan (hanya mengandalkan sinar rembulan), suasana yang sangat sunyi… Semuanya terasa begitu intim. Dalam jarak yang sedekat ini, Ai bisa melihat wajah Eric yang sangat tampan dan maskulin. Ai tahu kalau Eric sudah tampan dari kecil, tetapi saat tumbuh menjadi pria dewasa seperti ini… …Eric tampak seperti sesuatu yang ilegal. Fatal. Dia setampan makhluk surgawi, tetapi berhubung jati dirinya adalah pria yang sadis dan mampu membunuh orang sambil tersenyum, dia lebih cocok disebut sebagai iblis yang bangkit dari api dan datang menemui Ai di kamar gadis itu. Dia terlihat seperti dosa. Tubuhnya juga tinggi dan berotot. Bukan berotot yang berlebihan, tetapi solid. Kuat. Hot. Fungsional. Otot petarung. Urat-urat di tangan dan lengannya pun tercetak dengan sempurna. Itu akan membuatmu berpikir bahwa dia bisa memutar leher seorang pria dewasa hanya dengan satu tangannya. Oh, kalau dipikir-pikir lagi, dia juga sering menggendong Ai hanya dengan satu tangan. Selain itu, rahangnya tajam. Hidungnya mancung. Mata biru lautnya tampak terang, tetapi tajam. Dia adalah tipe pria yang mampu membuat lututmu lemas tiap kali melihatnya. Membuat seluruh logikamu hilang. Senyum manisnya juga mampu membuatmu pingsan kalau kau tidak kuat. Senyumnya itu manis, tetapi entah mengapa, saat kau melihatnya…kau merasa seolah-olah akan disantap. Itu seperti membisikkan, ‘Kau tidak aman, Sayang.’ dan tentunya lututmu akan lemas seketika. Dia berbahaya, tetapi kompas moralmu akan mati saat ditatap olehnya. Dia adalah predator yang bermata biru, bersuara rendah, dan selalu tersenyum manis. Dia adalah mimpi buruk yang entah mengapa akan selalu kau rindukan karena terlalu gagah dan seksi. Kau takut dan bergetar di bawah tatapan matanya, tetapi kau juga ingin menyerahkan dirimu padanya. Ai kadang-kadang bersyukur karena Eric masih menyembunyikan wajahnya dari orang-orang. Kalau ada wanita yang melihat Eric, mungkin Eric akan langsung jadi terkenal akibat ketampanannya. Wanita akan memujanya, sama seperti bagaimana mereka memuja Kei Arashi. Tanpa sadar, Ai pun membelai rahang Eric. Eric yang merasakan perhatian lembut dari Ai itu spontan memejamkan matanya, lalu semakin menempelkan wajahnya ke telapak tangan Ai. Dia ingin merasakan sentuhan itu lebih dalam. Tatapan Ai pelan-pelan jadi lembut. Kelopak matanya sedikit turun. Dia menatap Eric dengan penuh kasih sayang, tetapi sendu. Ada rasa prihatin yang terkandung di kedua matanya. “Kak…” panggil Ai pelan. Eric membuka matanya. Ai menarik napas dalam. Setelah itu, dia kembali membuka suara. “Bisakah kau berhenti menjadi pembunuh, Kak?” Eric terdiam. Matanya sedikit melebar. Situasi itu bertahan selama beberapa detik. Saking menegangkannya situasi itu, Ai sampai bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Akan tetapi, tiba-tiba saja… …Eric tersenyum manis. “Aku akan memikirkannya, Sayang.” Ai membulatkan mata. Eh? Sebentar. Betulan, nih? Yah…Ai tahu kalau tak semudah itu untuk membuat Eric berhenti dari profesinya selama ini. Namun, fakta bahwa Eric ‘akan memikirkannya’ saja sudah membuat Ai senang bukan kepalang. Ai sudah lelah diserang rasa takut kalau-kalau suatu hari nanti kakaknya akan menghilang selamanya. Kalau kakaknya berhenti melakukan pekerjaan yang berbahaya, Ai akan tenang. “Sungguh, Kak?!!” ujar Ai. Nadanya tanpa sadar meninggi karena kaget sekaligus senang. “Uh-hm,” deham Eric seraya tersenyum. Pria itu kemudian bangkit dari atas tubuh Ai, lalu berbaring di samping Ai. Dia memeluk pinggang Ai dengan posesif. “Tidur, yuk. Ini sudah malam,” ucap Eric dengan lirih dan seksi di depan wajah Ai. Napasnya menerpa permukaan pipi Ai, lalu ia mulai menciumi bibir Ai dengan sensual. Melumat dan menggigitnya sesekali. “Aku akan memelukmu.” Mata Ai melebar. “Kakak sudah mengantuk, ya?” Eric tersenyum manis lagi. “Belum, Cinta. Namun, kalau aku lanjut mencumbumu, aku tak yakin aku bisa berhenti. Bisa-bisa, kita bercinta di kamar ini. Mau, hmm?” “KAK!” Wajah Ai memerah. Ia langsung menepuk d**a Eric dengan kencang. Alisnya menyatu; ia tak habis pikir dengan apa yang baru saja Eric katakan. “Kakak mana yang mengatakan itu pada adiknya sendiri?!! Otakmu sudah pindah ke otot, ya?!! Apa kau gila?!!” “Hmm,” deham Eric. Pria itu tersenyum miring, lalu menggigit telinga Ai. “Gila karenamu.” “Tsk!” decak Ai kesal. Gadis itu langsung mencubit pipi Eric dengan kencang. “Sudah gila, m***m pula!! Mau kubunuh, ya?!!” Eric hanya tersenyum. Matanya tertutup, melengkung, seolah-olah ikut tersenyum. Namun, dia tak menjawab apa-apa. Karena kesal, Ai pun kembali memukul d**a bidang Eric. Dia jadi malas mengomeli Eric kalau responsnya begitu. Yah, walaupun sebenarnya…respons Eric memang selalu begitu tiap kali Ai memprotes kemesumannya. Akhirnya, karena ngambek, Ai pun menenggelamkan kepalanya di d**a bidang Eric. Gadis itu mencengkeram baju Eric (di bagian d**a) dan berkata, “Terserahmu sajalah!” Pelan-pelan, Eric mulai mencium kening Ai. Pria itu mengusap punggung Ai dengan lembut. Dia mencium pipi, mata, dan hidung Ai secara bergantian. Well, Ai sudah sering tidur berdua sambil pelukan begini dengan Eric. Sudah sejak kecil dahulu. Namun, bedanya, sekarang…ciuman-ciuman yang Eric berikan jadi lebih sering dan lebih intens. Dia jadi semakin haus akan Ai. Untuk sejenak, Ai bisa melupakan lukanya. Keberadaan Eric, kehangatan yang Eric berikan, semuanya mampu membuat Ai terdistraksi sejenak dari kepiluan yang Kei sebabkan. Setidaknya, untuk saat ini…Eric ada di sini. Kakaknya ada di sini…dan memeluknya. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN