Asti termenung memikirkan sang suami. Ia terpaksa mengikuti permintaan sang ibu untuk pulang ke kampung. Hati nuraninya tidak bisa memungkiri kalau dirinya kini terus memikirkan Bayu. Baru saja merasa bahagia dengan kepergian Mawar, tetapi malah sang ibu datang dengan kemarahannya yang membuat Asti meninggalkan rumah Bayu. Entah bagaimana pernikahannya dengan Bayu, apa akan tetap berjalan, atau harus terpisah oleh gugatan perceraian. Tubuh Asti terasa lemas, untuk melakukan aktivitas pun rasanya berat. Pikirannya tidak karuan, bahkan saat sang ibu memanggilnya, dia hanya diam dan terbengong. "Ti, Ibu bicara, kok kamu diam saja?" tanya Ibu. "Eh, iya, Bu. Ada apa?" "Kamu masih mikirin suamimu itu?" "Bu, bagaimanapun, Aa Bayu masih suami Asti," ujarnya membela diri. "Kamu kok bodoh

