bab 6

1806 Kata
​Pagi setelah hujan, Desa Pelita kembali berseri. Langit biru membentang luas, dan sisa-sisa embun menari di ujung daun. Hari itu adalah jadwal pertama gotong royong massal untuk perbaikan sanitasi di Dusun Selatan. Arjuna, dengan seragam lapangan sederhananya, sudah berada di lokasi lebih awal, mengawasi persiapan alat-alat dan material. Semangatnya membara, namun tidak lagi murni terfokus pada proyek. Ada bayangan Kirana yang menari-nari di benaknya, bercampur dengan sosok Bima yang muncul sesekali. ​Warga mulai berdatangan. Para bapak-bapak membawa cangkul dan sekop, ibu-ibu dengan kudapan dan minuman, sementara pemuda-pemudi desa siap membantu apa pun. Suasana riuh rendah dengan tawa dan obrolan hangat. Arjuna mengamati semuanya, merasa senang dengan antusiasme yang tercipta. ​Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti di pinggir jalan setapak. Bima Wijaya turun dari motornya dengan seragam polisi yang rapi, namun ia juga sudah berganti sepatu bot yang cocok untuk medan berlumpur. Dan di belakangnya, menuruni motor dengan anggun, adalah Kirana. ​Kirana mengenakan kaus oblong berwarna cerah dan celana longgar, rambutnya diikat satu. Ia tampak segar dan ceria. Begitu turun dari motor, ia langsung tersenyum lebar ke arah Bima. ​"Terima kasih banyak ya, Mas Bima, sudah mengantar. Nanti repot balik lagi," kata Kirana, suaranya terdengar manja dan penuh rasa terima kasih. Tanpa ragu, ia menepuk lengan Bima pelan, seperti seorang adik kepada kakak laki-lakinya. ​Bima tertawa. "Santai saja, Ran. Kebetulan searah kok. Lagipula, kamu kan motornya lagi dipakai Nenek." Tatapannya pada Kirana penuh kehangatan, jelas menunjukkan perhatian yang lebih dari sekadar teman biasa. ​Arjuna yang melihat interaksi itu dari kejauhan, merasakan hatinya mencelos. Sikap Kirana yang begitu luwes, senyum lebarnya, sentuhan di lengan Bima—semuanya terasa seperti sengatan listrik baginya. Ia belum pernah melihat Kirana semanja itu dengannya, atau bahkan dengan pria lain. Rasa panas mulai merayap di dadanya, seperti bara api yang perlahan menyala. ​Ia mencoba bersikap biasa saja. Ketika Kirana dan Bima berjalan mendekat, Arjuna memaksa dirinya untuk tersenyum. "Selamat pagi, Bima, Kirana," sapa Arjuna, suaranya sedikit lebih kaku dari biasanya. ​"Pagi, Dokter!" Bima membalas dengan ramah, lalu langsung beralih ke warga, memberikan instruksi dengan nada komando yang biasa. Kirana mengangguk pada Arjuna, senyumnya tidak selebar saat ia bersama Bima. Itu semakin membuat Arjuna merasa kesal. ​Sepanjang gotong royong, Arjuna berusaha fokus pada pekerjaannya. Ia mengarahkan warga, ikut mengangkat batu, dan sesekali memberikan masukan teknis. Namun, matanya tak bisa lepas dari Kirana dan Bima. Mereka berdua tampak bekerja sama dengan sangat baik. Kirana sering meminta bantuan Bima untuk hal-hal yang membutuhkan kekuatan, dan Bima selalu sigap membantu, kadang sambil melemparkan candaan yang membuat Kirana terkekeh. ​Ada momen ketika Kirana kesulitan mengangkat karung pasir yang berat. Tanpa perlu diminta, Bima langsung mendekat. "Sini, Ran, biar Mas saja. Kamu kan tenaganya kecil," katanya sambil tersenyum geli. Kirana tertawa, lalu menepuk punggung Bima pelan. "Makasih, Mas Bima, tahu saja aku butuh bantuan." Arjuna yang melihat itu dari jauh, merasa ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. "Tenaga kecil?" pikirnya tajam. Ia merasa seperti ada dinding tak kasat mata yang menghalangi dirinya dan Kirana, sementara Bima bisa dengan mudah melewatinya. ​Arjuna merasakan rasa kesal yang aneh. Ia yang selalu dihormati, bahkan disegani di Jakarta, kini merasa seperti orang asing di tengah keakraban Kirana dan Bima. Ia yang datang jauh-jauh untuk membantu desa, merasa posisinya sebagai "pahlawan" sedikit tergeser. Ia tahu ini pikiran yang kekanak-kanakan, tapi ia tidak bisa menahannya. ​Saat makan siang tiba, Ibu-ibu PKK sudah menyiapkan hidangan sederhana: nasi bungkus dengan lauk ayam goreng dan sambal. Semua warga berkumpul, duduk lesehan menikmati santapan. Arjuna duduk di sisi Kirana, namun Bima datang dan langsung duduk di sisi Kirana yang lain, di antara Kirana dan seorang warga lain. ​"Kirana, nanti sore jadi ikut rapat di Balai Desa kan? Ada pembahasan soal kegiatan 17 Agustusan," tanya Bima sambil menyuap nasi. ​"Oh, iya, Mas Bima. Jadi kok," jawab Kirana, menoleh ke arah Bima. "Nanti aku siapkan laporannya." ​Arjuna hanya diam, pura-pura fokus pada makanannya. Ia mendengar percakapan mereka, mendengarkan bagaimana Kirana begitu akrab bercerita kepada Bima tentang rencana kegiatan remaja desa, sementara Arjuna hanya bisa menjadi pendengar pasif. Ia merasa terasing. Ia adalah dokter yang membantu, tapi Bima adalah bagian dari mereka. ​Sikap Arjuna pun mulai berubah. Ia tidak lagi seceria biasanya. Senyumnya lebih tipis, bicaranya lebih irit. Ketika Kirana bertanya padanya tentang sesuatu terkait proyek, ia menjawab dengan ringkas dan profesional, tanpa kehangatan yang biasa ia tunjukkan. Kirana merasakan perubahan itu, ia melirik Arjuna dengan raut bingung. ​"Dokter Arjuna kenapa?" bisik Kirana pada Ibu Ida saat Arjuna sedang pergi mengambil minum. "Tiba-tiba jadi pendiam begitu?" ​Ibu Ida tersenyum maklum. "Mungkin Dokter lelah, Nduk. Dari tadi pagi dia paling semangat bekerja." ​Kirana tidak sepenuhnya yakin. Ia tahu Arjuna bukan tipe orang yang mudah kelelahan. Ada sesuatu yang lain, tapi ia tidak bisa menebaknya. Ia hanya merasa ada jarak yang tiba-tiba muncul. ​Melihat interaksi Kirana yang manja, bahkan perhatian kecil Kirana pada Bima (seperti saat Kirana menawarkan kue pada Bima duluan sebelum ke Arjuna, padahal Arjuna duduk di sebelahnya), membuat hati Arjuna semakin panas. Ia tahu Kirana menganggap Bima sebagai kakak, tapi itu tidak mengurangi rasa tidak sukanya. Ia ingin menjadi "kakak" itu bagi Kirana, atau bahkan lebih. Ia ingin Kirana menunjukkan kenyamanan dan keakraban yang sama padanya, jika bukan lebih. ​Pada akhir hari, setelah semua pekerjaan gotong royong selesai, Arjuna buru-buru berpamitan. Ia tidak menunggu Kirana dan Bima. Hatinya terasa berat, diliputi perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: sebuah kombinasi kompleks antara hasrat, kekaguman, dan cemburu yang membakar. Ia datang ke desa ini mencari kedamaian, tetapi justru menemukan gejolak emosi yang lebih besar dari yang pernah ia alami di kota. Dan pemicunya adalah seorang gadis sederhana, yang kini berbagi perhatian dengan pria lain. ​Malam tiba di Desa Pelita. Setelah hari yang panjang dan melelahkan, Arjuna kembali ke Puskesmas. Kehangatan yang ia rasakan selama berinteraksi dengan warga desa terasa memudar, digantikan oleh ganjalan di hati yang disebabkan oleh interaksi Kirana dan Bima. Ia mandi air dingin, berharap bisa menyegarkan pikiran dan hatinya, namun bayangan senyum Kirana pada Bima tak kunjung hilang. ​Ia mencoba membaca jurnal medis, seperti kebiasaannya, namun tidak ada satu pun kalimat yang bisa masuk ke otaknya. Ponselnya berdering. Nama "Ayah" tertera di layar. Arjuna menghela napas panjang. Ia tahu panggilan ini akan datang cepat atau lambat. Sejak ia ke Desa Pelita, komunikasi dengan orang tuanya sangat jarang, dan setiap kali terjadi, selalu diwarnai ketegangan. ​"Halo, Yah," sapa Arjuna, suaranya berusaha terdengar normal. ​"Arjuna, bagaimana kabarmu di sana? Baik-baik saja?" Suara berat Bapak Dharma Pratama terdengar, tidak sehangat sapaan warga desa, melainkan formal dan berwibawa. ​"Baik, Yah. Semuanya lancar. Proyek sanitasi juga sudah mulai berjalan," jawab Arjuna, mencoba fokus pada hal-hal positif. ​"Baguslah kalau begitu. Ayah sudah dengar laporan dari asisten Ayah. Jadi kau benar-benar betah di 'desa' itu?" Ada nada skeptis dalam pertanyaan ayahnya. ​"Saya melakukan apa yang menurut saya benar, Yah," balas Arjuna tegas. ​Hening sejenak. Lalu suara ibunya, Amara, terdengar dari sambungan telepon, lebih lembut tapi tetap dengan nada khawatir. "Arjuna, Sayang. Ibu khawatir. Di sana tidak ada siapa-siapa yang mengurusmu. Kami di sini selalu memikirkanmu." ​Arjuna merasakan sedikit kehangatan dari suara ibunya, namun tahu ada udang di balik batu. "Saya baik-baik saja, Bu. Ada Ibu Ida dan warga yang sangat peduli di sini." ​"Itu bagus," kata Dharma lagi. "Tapi, Arjuna, kami ingin kau tahu. Kami selalu memikirkan masa depanmu. Kau adalah pewaris kami. Bisnis ini tidak akan selamanya bisa ditopang oleh Ayah." ​Arjuna mengernyitkan dahi. Ia tahu arah pembicaraan ini. "Saya tahu, Yah. Tapi saya sudah katakan, saya ingin fokus di sini dulu." ​"Dengar, Arjuna," suara Dharma menjadi lebih serius. "Ayah dan Ibu sudah memikirkan ini matang-matang. Kau butuh pendamping hidup. Seseorang yang sepadan, yang bisa mendukungmu dalam karier dan bisnismu kelak." ​Jantung Arjuna berdebar keras. Perasaannya tidak enak. "Maksud Ayah?" ​"Kami sudah menemukan calon yang tepat untukmu," sambung Amara dengan nada antusias yang dipaksakan. "Namanya Karina Larasati. Dia seorang pengacara sukses, lulusan luar negeri, dan dari keluarga terpandang. Sangat cocok denganmu." ​Dunia Arjuna terasa berhenti berputar. Perjodohan? Di tengah perasaannya yang sedang bergejolak pada Kirana, kini muncul masalah baru yang jauh lebih besar. Karina Larasati, seorang pengacara. Otaknya langsung membayangkan sosok wanita elegan, cerdas, berpendidikan tinggi, dan sangat mapan. Tipikal wanita yang selalu diharapkan orang tuanya untuk menjadi istrinya. ​"Perjodohan?" suara Arjuna tercekat. "Ayah, Ibu, saya tidak bisa. Saya tidak mau." ​"Ini bukan soal mau atau tidak mau, Arjuna," kata Dharma, suaranya kembali mengeras, tak ada lagi basa-basi. "Ini masa depanmu. Ini demi nama baik keluarga. Kami sudah mengatur pertemuan minggu depan saat kau pulang ke Jakarta." ​"Pulang? Saya tidak akan pulang," balas Arjuna, emosinya mulai terpancing. Rasa cemburunya pada Bima, kini ditambah dengan paksaan perjodohan, membuat hatinya benar-benar panas. ​"Jangan kekanak-kanakan, Arjuna!" bentak Dharma. "Kau tidak bisa selamanya lari dari tanggung jawabmu. Pulanglah, temui Karina. Berikan dia kesempatan. Ayah dan Ibu tidak akan memaksamu jika kau benar-benar tidak cocok. Tapi temui dulu." ​"Arjuna, dengarkan Ibu. Karina itu gadis yang baik, pintar, cantik. Dia akan menjadi pasangan yang sempurna untukmu," bujuk Amara. ​Arjuna menutup mata. Kata "sempurna" itu menusuknya. Sempurna di mata orang tuanya, mungkin, tapi bukan di matanya. Bagaimana dengan Kirana? Gadis sederhana yang jauh dari kata "sempurna" menurut standar sosialita Jakarta, namun telah mencuri hatinya. ​"Saya akan pikirkan, Yah, Bu," kata Arjuna akhirnya, suaranya lelah. Ia tahu berdebat lebih lanjut hanya akan memperburuk keadaan. Ia perlu waktu untuk mencerna ini. ​"Pikirkan baik-baik, Arjuna. Kami berharap kau membuat keputusan yang tepat. Keputusan yang akan membanggakan keluarga," pesan Dharma sebelum menutup telepon. ​Arjuna menjatuhkan ponselnya ke kasur. Hatinya kacau balau. Rasa cemburu yang tadinya hanya sebatas pada Bima, kini berubah menjadi rasa frustrasi yang mendalam. Ia lari ke desa untuk mencari kedamaian dan makna hidup, namun masalah dari masa lalunya justru mengejarnya. Dan yang paling menyakitkan adalah, ia tidak bisa membayangkan Kirana di tengah pusaran kehidupan yang ingin dijodohkan orang tuanya. Kirana tidak akan cocok dengan dunia itu, dan Arjuna tidak ingin Kirana terkontaminasi olehnya. ​Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu. Di satu sisi, ada Kirana yang sederhana, tulus, dan membuatnya merasa utuh. Di sisi lain, ada tuntutan keluarga, warisan, dan perjodohan yang sudah disiapkan. Jarak antara Jakarta dan Desa Pelita seolah sirna, berganti dengan jarak antara dua takdir yang berbeda. ​"Tidak," gumamnya. "Aku tidak akan membiarkan ini terjadi." Tapi bagaimana caranya? Di satu sisi ada cinta yang baru bersemi, di sisi lain ada kewajiban yang menghantui. Perjodohan itu adalah ancaman nyata bagi semua yang baru ia bangun di Desa Pelita, dan yang terpenting, bagi perasaannya pada Kirana. ​Ia harus berjuang. Tapi bagaimana caranya memperjuangkan Kirana, jika orang tuanya bahkan tidak akan pernah memandang gadis desa itu? Sebuah keputusan besar menanti Arjuna, dan ia tahu, jalan di depannya tidak akan mudah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN