Hari-hari berlalu dengan cepat di Desa Pelita. Setelah sosialisasi yang sukses, program perbaikan sanitasi air di Dusun Selatan mulai berjalan. Arjuna dan Kirana menjadi motor penggerak utama. Mereka memimpin gotong royong, mengawasi pembangunan saluran air sederhana, dan memberikan edukasi langsung kepada warga. Setiap tetes keringat yang mengucur di dahi Arjuna terasa lebih bermakna daripada semua keuntungan yang pernah ia hasilkan di Jakarta. Ia melihat langsung dampak pekerjaannya: senyum lega dari ibu-ibu, tawa ceria anak-anak yang kini bermain di area yang lebih bersih, dan rasa kebersamaan yang semakin erat di antara warga.
Selama proses ini, interaksi Arjuna dan Kirana semakin intens. Mereka menghabiskan berjam-jam bersama, tidak hanya membahas teknis proyek, tetapi juga berbagi cerita pribadi. Arjuna belajar tentang impian Kirana untuk memajukan desanya, tentang perjuangannya merawat nenek, dan tentang masa kecilnya yang sederhana namun penuh kehangatan. Kirana, di sisi lain, mulai memahami beban yang dipikul Arjuna sebagai pewaris keluarga besar, dan betapa besarnya pengorbanan yang ia lakukan untuk berada di Desa Pelita.
Arjuna menemukan bahwa Kirana adalah pendengar yang baik. Gadis itu tidak menghakimi, hanya mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia merasa bisa menjadi dirinya sendiri di hadapan Kirana, tanpa perlu menjaga citra atau memenuhi ekspektasi siapa pun. Perasaan nyaman itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuat jantungnya berdebar setiap kali Kirana tersenyum atau menatapnya dengan mata beningnya.
Suatu siang, saat mereka sedang beristirahat di bawah pohon setelah mengawasi pembangunan saluran, sebuah motor patroli desa berhenti tak jauh dari mereka. Seorang pria berseragam polisi turun dari motor. Tubuhnya tegap, kulitnya sawo matang, dan senyumnya ramah. Ia berjalan menghampiri mereka.
"Wah, Dokter Arjuna dan Kirana, sedang sibuk sekali ya?" sapa pria itu, suaranya bariton dan penuh kehangatan.
Kirana tersenyum lebar. "Eh, Mas Bima! Iya nih, lagi pantau proyek air bersih."
Arjuna sedikit terkejut melihat keakraban Kirana dengan polisi itu. Ia belum pernah melihat Kirana tersenyum sehangat itu kepada pria lain.
"Dokter, kenalkan, ini Mas Bima Wijaya. Beliau Kepala Pos Polisi di desa ini," Kirana memperkenalkan. "Mas Bima, ini Dokter Arjuna, dokter baru di Puskesmas."
Bima mengulurkan tangan. "Bima Wijaya, Dokter. Senang sekali Desa Pelita punya dokter seperti Anda. Kami sering dengar cerita bagus dari warga."
Arjuna menjabat tangan Bima. Jabatannya kuat, dan senyumnya tulus. Namun, Arjuna merasakan sedikit ketidaknyamanan yang tak bisa ia jelaskan. Mungkin karena keakraban Bima dan Kirana.
"Terima kasih, Pak Bima. Saya senang bisa membantu," jawab Arjuna, berusaha menjaga nada suaranya tetap ramah.
"Kirana, nanti sore ada rapat Karang Taruna di balai desa. Jangan lupa ya," kata Bima, tatapannya beralih ke Kirana, ada sorot mata yang lebih dari sekadar rekan kerja.
"Siap, Mas Bima! Nanti saya usahakan datang," jawab Kirana, mengangguk.
Bima mengangguk pada Arjuna, lalu berpamitan. "Kalau begitu saya lanjut patroli dulu. Selamat bekerja, Dokter, Kirana."
Setelah Bima pergi, suasana di antara Arjuna dan Kirana terasa sedikit berbeda. Arjuna merasa ada ganjalan kecil di hatinya. Ia tidak suka perasaan itu.
"Mas Bima itu memang sangat aktif di desa ya, Kirana?" tanya Arjuna, mencoba terdengar santai.
Kirana mengangguk. "Iya, Dokter. Mas Bima itu baik sekali. Dia sering bantu warga, aktif di Karang Taruna juga. Dulu waktu ada kasus pencurian ternak, dia yang paling sigap membantu warga."
Arjuna hanya bergumam "Oh" singkat. Ia tidak tahu mengapa, tapi mendengar Kirana memuji Bima dengan begitu antusias membuat perutnya sedikit mulas. Ia yang selama ini merasa nyaman dan menjadi pusat perhatian Kirana dalam proyek ini, kini merasa ada pihak ketiga yang masuk.
"Dia sudah lama bertugas di sini?" tanya Arjuna lagi, mencoba menggali informasi.
"Sudah lumayan lama, Dokter. Sekitar tiga tahunan," jawab Kirana, tidak menyadari perubahan ekspresi Arjuna. "Dia juga sering bantu nenek kalau ada apa-apa."
Arjuna mengangguk-angguk. Tiga tahun. Waktu yang cukup lama untuk membangun kedekatan dengan seseorang, terutama di desa kecil seperti ini. Rasa tidak suka itu semakin menguat. Bukan tidak suka pada Bima secara pribadi, tapi tidak suka pada fakta bahwa ada pria lain yang juga dekat dengan Kirana, dan sepertinya memiliki tempat khusus di hati warga, bahkan mungkin di hati Kirana.
Sisa hari itu, meskipun mereka tetap bekerja sama dengan profesional, ada sedikit perubahan dalam diri Arjuna. Ia menjadi sedikit lebih pendiam. Sesekali, ia mencuri pandang ke arah Kirana, memperhatikan setiap gerak-geriknya, dan bertanya-tanya tentang hubungannya dengan Bima. Kecemburuan, sebuah emosi yang jarang ia rasakan, kini mulai merayap pelan.
Malam harinya, di Puskesmas, Arjuna duduk sendirian di ruangannya. Ia mencoba fokus pada laporan medis, tapi bayangan Bima dan Kirana yang akrab terus mengganggu pikirannya. Ia tahu ini tidak masuk akal. Ia baru mengenal Kirana beberapa minggu, dan ia tidak punya hak untuk merasa cemburu. Namun, hatinya tidak bisa dibohongi. Ia menyukai Kirana, lebih dari sekadar rekan kerja. Dan kehadiran Bima, yang jelas-jelas juga memiliki ketertarikan pada Kirana, menjadi ancaman tak terlihat.
Ia menghela napas. Ini adalah hal baru baginya. Di Jakarta, ia terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Wanita-wanita yang mendekatinya biasanya tertarik pada status dan kekayaannya. Tapi Kirana berbeda. Kirana melihatnya sebagai Arjuna, sang dokter pengabdi, bukan pewaris Pratama Group. Dan itu membuatnya semakin berharga.
Arjuna menyadari, ia harus melakukan sesuatu. Bukan untuk menyingkirkan Bima, tapi untuk menunjukkan pada Kirana bahwa ia juga peduli, dengan caranya sendiri. Ia harus lebih dari sekadar dokter yang membantu desa. Ia harus menjadi seseorang yang bisa diandalkan Kirana, seseorang yang bisa memahami dunianya.
Ia mengambil ponselnya, mencari kontak Ibu Ida. "Bu Ida, apakah besok ada kegiatan di posyandu? Saya ingin ikut membantu lagi." Ia harus lebih aktif, lebih terlibat, dan lebih dekat dengan masyarakat, termasuk dengan Kirana. Kompetisi ini, meskipun tidak diucapkan, telah dimulai. Dan Arjuna, sang pewaris yang idealis, tidak akan menyerah begitu saja.
Malam itu, di rumah sederhana Kirana, suasana terasa hangat meski hanya diterangi lampu pijar yang redup. Nenek Warjo, dengan kain sarung yang membalut tubuh ringkihnya, duduk di bangku kayu, tangannya sibuk merajut. Kirana duduk di lantai beralaskan tikar pandan, tangannya cekatan memilah sayuran untuk makan malam. Aroma tumisan kangkung dan ikan asin mulai memenuhi dapur kecil mereka.
"Kamu tadi pulang malam sekali, Nduk," ujar Nenek Warjo, suaranya serak namun penuh perhatian. "Sibuk sekali ya sama Dokter Arjuna itu?"
Kirana tersenyum. "Iya, Nek. Tadi ada sosialisasi program air bersih di Dusun Selatan. Banyak warga yang datang. Dokter Arjuna memang semangat sekali."
Nenek Warjo mengangguk-angguk. "Syukurlah kalau begitu. Dokter Arjuna itu anak baik. Nenek lihat dia tulus membantu desa ini."
Kirana tak menjawab, hanya tersenyum tipis. Pikirannya melayang pada Bima, lalu kembali pada Arjuna. Ada perasaan campur aduk di hatinya. Bima adalah sosok yang sudah lama ia kenal, seorang kakak yang baik dan selalu siap membantu. Tapi Arjuna... kehadiran dokter kota itu membawa warna baru dalam hidupnya, sebuah percikan yang tak pernah ia duga.
"Dulu, almarhum Bapakmu juga begitu, Nduk," kata Nenek, seolah membaca pikiran Kirana. "Selalu ingin memajukan desa. Tapi nasib berkata lain."
Kirana menunduk. Kilas balik itu selalu menyakitkan, namun juga membentuk dirinya menjadi seperti sekarang.
Kilas Balik Kirana:
Kirana Dewi adalah anak tunggal dari pasangan yang sangat dicintai di Desa Pelita. Ayahnya, Pak Hadi, adalah seorang guru honorer yang berdedikasi dan aktif di berbagai kegiatan sosial desa. Ibunya, Bu Lastri, adalah penjahit rumahan yang ramah dan selalu tersenyum. Kehidupan mereka sederhana, namun dipenuhi cinta dan kehangatan. Kirana tumbuh besar di tengah-tengah kebersamaan warga desa, belajar tentang gotong royong, saling membantu, dan menghargai alam.
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Ketika Kirana berusia lima belas tahun, sebuah tragedi menimpa keluarganya. Banjir bandang yang tak terduga melanda Desa Pelita, menghanyutkan sebagian besar rumah di Dusun Selatan, termasuk rumah mereka. Dalam insiden itu, kedua orang tua Kirana menjadi korban. Mereka ditemukan tewas setelah berusaha menyelamatkan beberapa tetangga yang terjebak.
Dunia Kirana runtuh. Ia kehilangan segalanya dalam semalam: rumahnya, orang tuanya, dan sebagian besar masa mudanya. Ia hanya memiliki Nenek Warjo, yang saat itu sudah mulai sakit-sakitan. Dengan sisa kekuatan yang ada, Nenek Warjo dan beberapa tetangga yang berbaik hati membantu membangun kembali gubuk kecil untuk mereka tinggali.
Sejak saat itu, Kirana harus tumbuh dewasa lebih cepat dari usianya. Ia berhenti sekolah menengah atas di tengah jalan, karena tidak ada biaya dan ia harus fokus merawat neneknya yang kesehatannya semakin menurun. Ia mengambil alih tanggung jawab rumah tangga, mencari nafkah dengan membantu di kebun tetangga, menjual hasil panen kecil-kecilan, atau menerima upah dari pekerjaan serabutan apa pun yang bisa ia lakukan.
Meskipun hidupnya berat, Kirana tidak pernah menyerah pada keadaan. Ia mewarisi semangat pantang menyerah dari ayahnya dan ketulusan hati dari ibunya. Ia belajar banyak hal dari Nenek Warjo, mulai dari meracik obat herbal tradisional hingga memahami karakter unik setiap warga desa. Ia menjadi sosok yang dihormati di kalangan pemuda dan ibu-ibu, bukan karena kekayaan atau pendidikan tinggi, melainkan karena kerja keras, kejujuran, dan kepeduliannya.
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Kirana sudah bangun. Ia menyiapkan sarapan untuk neneknya, membersihkan rumah, dan kemudian berangkat ke kebun atau mencari pekerjaan. Malam harinya, setelah merawat nenek dan menyelesaikan pekerjaan rumah, ia sering membaca buku-buku lama milik almarhum ayahnya, mencoba mengisi dahaga akan ilmu yang sempat terputus. Ia bermimpi suatu hari bisa memajukan desanya, mewujudkan cita-cita almarhum ayahnya.
Kembali ke Masa Sekarang:
"Nduk, kenapa melamun?" suara Nenek Warjo membuyarkan lamunan Kirana.
Kirana tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Nek. Hanya teringat Bapak dan Ibu."
Nenek Warjo menghela napas. "Mereka pasti bangga melihatmu sekarang, Nduk. Kamu sudah jadi gadis yang kuat dan baik hati."
"Semua karena Nenek," balas Kirana, mendekat dan memeluk neneknya. Ia bersyukur masih memiliki Nenek Warjo. Nenek adalah satu-satunya keluarga yang tersisa, dan alasan terbesarnya untuk terus berjuang.
Malam itu, setelah neneknya tertidur, Kirana duduk di teras. Ia memandang langit yang bertaburan bintang. Pikirannya kembali pada percakapannya dengan Bima dan Arjuna. Bima adalah pelindung, sosok yang selalu ada untuk desa dan dirinya. Ia tahu Bima menyukainya, meskipun Bima tidak pernah mengatakannya secara langsung. Tapi Arjuna... dokter kota itu membawa aura yang berbeda. Ia adalah orang luar, namun memiliki semangat yang sama untuk desa ini. Ada tatapan di mata Arjuna yang membuat hatinya berdesir, sebuah tatapan yang belum pernah ia terima dari siapa pun.
Kirana tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi sejak kedatangan Dokter Arjuna. Desa Pelita, yang selama ini menjadi dunianya, kini terasa lebih luas, lebih penuh harapan, dan mungkin, lebih rumit dengan hadirnya perasaan-perasaan baru yang belum ia pahami.