Bab 5. Bisik-Bisik

1080 Kata
“Jangan bicara sembarangan pada anak saya!” Setelah berkata dengan sarkas, tubuh kecil itu sudah berpindah dalam gendongan sang ayah. Iya, Pak Arka datang dan langsung menjauhkan bocil itu dariku. Aku berdiri, lalu menatapnya dengan pandangan menyipit. “Ok, maaf jika ucapan saya sedikit sarkas di depan putra Anda. Tapi, saya sebagai seorang anak merasa apa yang sudah Anda lakukan padanya itu berlebihan,” kataku. Pak Arka menyeringai. “Saya tidak butuh penilaian dari siapapun, apalagi itu kamu!” “What? Apa katanya tadi?” Mataku menatap kepergian Pak Arka dan anaknya dengan pandangan tak percaya. “Jadi menurutnya, gue ini bukanlah orang yang pantas untuk menasehati seseorang? Sial! Siapa dia sampai berani berbicara seperti itu!” Aku mendengus kesal sebelum akhirnya pulang ke rumah. Ketika melewati rumahnya, tanpa sadar kepalaku menoleh dan kali ini menemukan seorang wanita paruh baya yang sedang menyiram tanamannya. Mungkin itu ibunya. “Batu pulang jalan-jalan, Neng?” tanya wanita paruh baya itu padaku. Aku mengangguk sopan sambil tersenyum ketika orang tersebut menyapaku. “Iya, Bu. Permisi,” jawabku balik. Sambil terus berjalan, otakku mulai memikirkan maksud dari keberadaan Pak Arka di kompleks perumahanku. Besar kemungkinan kami akan menjadi tetangga. Memikirkan hal tersebut membuatku pusing. “Sial! Kenapa gue jadi mikirin itu Pak Tua, sih? Aish! Kalau begini, kan, gue jadi puyeng!” Aku menghentakkan kaki kesal sebelum masuk ke dalam rumah. *** Keesokan paginya, aku melewatkan sarapan, bahkan makan siang bersama Mama dan Papa. Bang Anjar sendiri sudah pergi sedari kemarin, tetapi aku gak peduli. Intinya aku sedang mogok bicara pada mereka. Jelas sekali niatku adalah untuk memberitahukan pada mereka jika keputusanku sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Kantin siang ini terlihat ramai dan diisi oleh anak-anak kampus yang kelaparan setelah berjibaku dengan angka, ataupun huruf-huruf yang membuat mata, dan perut mereka berteriak. Seperti halnya kami. “Lo lagi bete kenapa sih, Bestie? Muka lo butek banget, njir!” ujar Michi sewot. Aku mengedikkan bahu sambil memainkan sedotan di tangan. “Gue,” jedaku, lalu tiba-tiba menggeleng, “gak, kok. Gue baik-baik aja!” “Lah, si Markonah malah gak jadi ngomong,” timpal Dian, “ngomong gak lo sekarang! Atau, lo mau gue doain biar jodoh sama Pak Arka!” “Njir! Gak usah bawa-bawa dia kali! Nanti gue malah kena sial, Blay!” “Ekhem!” Baru sedetik aku selesai bicara, seseorang yang baru saja kami bicarakan sudah berdiri di depan meja. “Kan, apa gue bilang,” bisikku. Aku dan ketiga temanku langsung tersenyum lebar dan menyapanya. “Selamat siang, Pak Arka.” Bukannya membalas sapaan kami, Pak Arka justru hanya berdiri diam sambil menatapku. Aku yang merasa bingung segera bertanya padanya, “maaf, Pak. Apa ada yang bisa saya bantu?” “Kamu ke ruangan saya!” “Lah? Apa salah saya, Pak?” Akan tetapi, pertanyaan ku seperti dianggap angin lalu karena pria tua itu sudah keburu minggat. “Buangke! Gue bilang apa tadi, Blay. Jangan pernah nyebut itu nama di depan gue! Bikin apes doang!” seruku frustasi. “Sorry, Bes. Tapi, emang kayaknya kalian itu jodoh, kok!” “Hooh!” “Diem gak lo pada! Atau, lo-lo pada mau gue gibeng?” Tanganku terangkat bersiap untuk menghajar mereka. “Ampun, Nyonya! Kami hanya seorang hamba saja. Tolong ampuni kami!” “Aish, diamlah! Kalian hanya membuat kepalaku makin cenat-cenut!” Dian dan kedua temanku hanya mengedikkan bahu sambil mendorongku untuk segera pergi, sebelum panggilan dari neraka itu kembali berkumandang. “Awas aja kalian bertiga! Kalau sampai gue diapa-apain sama itu Pak Tua, gue bakalan gentayangin kalian!” Dian memegang lenganku dengan pandangan memelas. “Peace! Damai, Bestie!” “Oh, My God! Ini benar-benar menyiksa jiwa dan raga gue,” keluhku mulai gila. Ketiga sahabatku dengan kompak mengepalkan tangan dan berkata, “semangat!” Namun, aku memilih mengabaikan. Aku menarik buku paketku di atas meja dan membawanya pergi ke ruang dosen killer itu berada. Sepanjang jalan beberapa teman, junior, bahkan senior menyapaku di lorong. Iya, seperti inilah kehidupanku di kampus, penuh dengan cinta dari banyak orang, kecuali sosok yang akan aku temui. Ruang Pak Arka sudah terlihat dan kakiku semakin berat untuk melangkah ke sana. Namun, ancamannya yang akan mengurangi nilai membuatku mau tidak mau harus tetap mengetuk pintu kayu di hadapan. “Masuk!” sahut dari dalam. Sebelum masuk, aku mencoba menarik napas dan mengeluarkannya dari mulut. “Permisi, Pak. Ini saya Aya,” kataku. “Hem.” “Ham-hem ham-hem, dikira kucing kali,” dumelku sambil berjalan masuk. Namun, ketika sudah berhadapan dengan Pak Arka, aku memberikan senyuman semanis mungkin. “Selamat siang, Pak. Jadi, apa ada yang bisa saya bantu, Pak?” “Apa kamu membicarakan saya?” “Huh!” “Saya tanya ke kamu, apa kamu membicarakan saya di depan teman-teman kamu?” Aku mendengkus. “Maksud Bapak apa, sih? Saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan.” Pak Arka tiba-tiba berdiri dan berjalan setengah melingkar, lalu duduk di atas meja kerjanya. Aku melengos melihat otot lengannya yang timbul karena kemejanya digulung hingga siku. “Cih! Dasar tukang pamer,” gerutuku lirih. “Kamu pikir saya akan diam saja setelah kamu tahu rahasia saya?” *Rahasia?” Kepalaku dimiringkan dan seketika ingatan akan anak kecil kemarin langsung memenuhi memoriku. Bibirku menyeringai menyadari sesuatu. “Ah, tentang an–” “Stop sampai di situ!” potongnya cepat. Aku melihat kecemasan pada wajah Pak Arka dan hal tersebut seolah membuatku semakin bersemangat untuk menggodanya. “Kalau saya bilang gak mau gimana, Pak? Lagian, saya dan teman-teman saya itu sudah best friend forever. Jadi, tidak ada rahasia di antara kita,” jelasku. “AYA!” katanya dengan menahan geram, “jika sampai kamu memberitahukan pada mereka, saya gak segan untuk–” “Untuk apa, Pak?” Entah keberanian dari mana, kini aku sudah berdiri di depan Pak Arka. Tatapan mata kami saling bertemu untuk beberapa saat dan akulah yang pertama memutuskannya. Manik hitamnya benar-benar memabukkanku. Namun, segera ku enyahkan pikiran gila itu. Aku tidak boleh belok, apa pun yang terjadi. “Apa Bapak akan mengurangi nilai saya? Hm!” bisikku tepat di samping telinganya. “s**t! Menjauh dariku!” “Arghh!” Tubuhku yang tidak siap, akhirnya terjatuh. “Kok, Bapak dorong saya, sih?” tanyaku tak terima. “Saya tidak akan berbuat kasar jika kamu tak kurang ajar pada dosenmu sendiri, dan asalkan kau tau, yah! Saya ini bukanlah lelaki yang bisa kau rayu, apalagi bisa kau dekati! Kamu terlalu bocil untuk bisa bersanding dengan saya!” katanya angkuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN