Bab 6. Bertemu Calon Suami

1203 Kata
“Sial!” umpatku. Aku lalu membuka pintu kamar, mendorongnya agar bisa masuk. Kuletakkan tas milikku di atas meja dengan perasaan gondok. Sambil merebahkan tubuh di atas ranjang, aku mengusap bagian yang nyeri karena terjatuh tadi. “Berani banget itu orang bikin p****t gue sakit begini. Awas aja, yah! Gue sumpahin itu orang bakalan cinta mati sama gue! Terus, habis itu bakalan gue tolak dengan kejam, sama seperti apa yang dia lakukan ke gue sekarang!” “Kenapa lo, Cil? Kayaknya lagi seneng banget.” Tanpa menoleh pun, aku tahu itu suara Abangku. “Apa sih, lo, Bang? Gue lagi gak mood, nih!” Aku berguling menjauh ketika dengan seenak jidat Abang rebahan di sampingku. “Ish, lo belum mandi yah, Bang? a***y, jijik banget, sih!” omelku sambil menendangnya menjauh dariku. “Apaan, sih, bau dari mananya? Orang gue wangi begini, kok, dibilang bau. Nih, cium ketek gue, kalau gak percaya!” Dia menyodorkan ketiaknya di depanku, tetapi aku langsung menutup hidung. “Mama! Abang rese, nih!” aduku. “Haish, mulut lo itu ya bener-bener! Masa dikit-dikit ngadu. Gimana lo mau jadi istri yang baik dan membanggakan suami, kalau kelakuan kek, bocil TK,” cibir Abang. “Apaan, sih? Kok, lo jadi bahas masalah pernikahan? Lagian, siapa juga yang mau nikah? Gak ada, ya. Kalaupun ada yang mau nikah, itu lo, bukan gue! Jadi, gak usah ngadi-ngadi, deh!” “Tapi, kenyataannya yang dilamar itu lo, bukan gue. Lagian, Nyokap sama Bokap itu bakalan santai karena gue masih ngejar cita-cita gue,” katanya sombong. “Najis!” umpatku, “terus, menurut lo gue nggak perlu gitu ngejar cita-cita gue? Lalu, yang boleh hidup bahagia di sini itu cuman lo, sementara gue sengsara gitu?” “Halah, cita-cita lo ge paling cuman jadi Princess doang, geh, bangga,” cibirnya. “Yakh! Mama … ini Abang rese banget, nih! Suruh pergi apa!” teriakku. “Lu mau teriak sekeras apa pun, Nyokap sama Bokap nggak bakalan datang ke sini,” kata Abang. Keningku mengernyit. “Emang Mama sama Papa ke mana, Bang? Jangan bilang … mereka lagi ngerencanain sesuatu hal buat gue lagi?” tanyaku horor. Abang menyeringai dan itu benar-benar membuatku kesal. “Ya, lo tahu sendirilah orang tua itu bakalan sibuk, kalau anaknya itu mau married.” Sial. “Nggak!” tolakku keras, “pokoknya nggak ada ya, married-married di sini! Kalaupun ada, itu elo, bukan gue. Titik!” Aku berjalan menuju kamar mandi, lalu keluar tanpa memedulikan keberadaan Abang di kamar. Langit masih terang, tetapi awan terlihat mendung. Kemungkinan sebentar lagi akan hujan. Pada saat melirik ke arah ranjang, ternyata Abang masih berada di sana, dan yang membuatku terkejut adalah dia sedang membaca buku diariku sambil ketawa-ketiwi nggak jelas. “Oh No!” Sontak, aku berlari dan merebut bukuku. Akan tetapi, sepertinya sudah ada beberapa lembar halaman yang sudah dibaca olehnya. “Yakh! Kok, lo rese banget sih, Bang. Abang tuh udah seperti squidward tahu nggak, sih, baca-baca buku diary-nya SpongeBob?” Aku menyembunyikan buku itu di belakang punggung dengan tatapan kesal. “Dan, Abang bisa dipidanakan tahu nggak?” Bukannya merasa bersalah, Abang justru tertawa, tetapi itu hanya sebentar. Dia lalu duduk sambil menumpukkan kedua tangannya di atas paha, kemudian menatapku dengan tatapan tak terbaca. “Dengerin ya, Dek! Gue harap lo lupain perasaan itu! Karena apa? Itu nggak akan pernah berhasil,” katanya seolah mengerti dengan siapa cinta yang kutunjukkan. “Ini gue ngomong sama lo karena gue Abang lo, ya!” Hatiku mencelos, tanganku mengepal dengan darah yang mendidih ketika Abang membahas seseorang yang selama ini aku cintai diam-diam. Namun, aku tidak boleh menunjukkannya langsung pada Abang. Bisa gawat. “Maksud lo apaan sih, Bang? Nggak jelas banget, deh!” kilahku tertawa hambar. Aku yang baru saja meletakkan tas di meja dikagetkan keberadaan Abang yang sudah duduk di meja belajarku. Tatapannya masih sama dingin, penuh peringatan, dan aku paling tidak suka jika ditatap seperti itu oleh Abang. “Itu salah, Dek! Lo nggak boleh menaruh perasaan itu pada dia, apalagi kalau sampai Nyokap dan Bokap tahu … lo bakalan habis! Bahkan, gue yakin Bokap bakalan ngirim lo ke tempat yang jauh, di tempat antah berantah. Lo mau?” Tubuhku bergetar hebat. Bayang-bayang semua kemewahan yang selama ini ku dapatkan hilang membuatku ketakutan. Namun, aku segera menepis semua perasaan itu dan menatap balik Abang. “Aku nggak ngerti sama apa yang Abang omongin,” kilahku sambil tersenyum kaku, “lagian Bokap nggak bakalan bisa ngelakuin itu ke gue, karena gue tahu betapa sayangnya dia sama gue!” Abang mengedikkan bahu, lalu menepuk puncak kepalaku sembarangan. “Oke, terserah lo, sih. Gue bisanya cuman ngasih tau, doang, buat jaga-jaga aja. Siapa tahu Bokap bakalan ngasih semua harta warisannya ke gue. Sementara lo jadi–” “Gak usah ngada-ngadi, deh!” Segera aku dorong bahu Abang, sementara diriku berjalan ke arah jendela. “Balik aja situ ke kamar! Gue lagi gak mood buat ngobrol sama elo!” “Eits! Santai aja, Cil! Kagak makan orang ‘kan lo?” Dia tergelak di belakang dan aku bisa merasakan langkahnya semakin mendekat padaku. Setelah itu, kurasakan usapan di rambutku, tetapi kutepis. “Diem, deh. Udah sono balik ke kamar sendiri!” usirku lagi. Jujur, aku memikirkan ucapan Abang masalah perasaan dan pengusiran Bokap jika sampai mereka tahu yang sebenarnya. “Woke! Kalau gitu gue cabut dulu, deh! Kayaknya nenek lampir butuh sendirian!” “Yakh! Sekali lagi lo ngatain gue, bakalan gue obrak-abrik kamar lo, Bang!” Aku menatapnya dengan deru napas yang memburu. “Utu-utu, ada yang lagi kebakaran jenggot, nih!” ledeknya, “oh, iya. Besok Bonyok bakalan janjian sama calon laki lo. Jadi, siap-siap dandan yang cantik karena kita bakalan berangkat bareng, Cil!” Beritahu Abang yang membuatku makin kesal. “Anjim!” umpatku tak bisa ditahan. “Heh, mulut lo kayaknya butuh di ruqyah, Cil!” “Bodo amat! Pokoknya gue gak bakalan mau datang ke acara itu!” tolakku keras. Faktanya, kini aku harus terkurung di antara kedua orang tuaku. Sepertinya, mereka tahu jika lengah sedikit aku bakalan kabur, lalu menghancurkan rencana perjodohan ini. Tapi, itu bagus karena memang hal tersebut yang aku inginkan. “Aduh, maaf, Jeng! Kami telat, ya.” “Gak apa-apa, kok, Jeng, kami juga baru datang. Bukankah begitu, Pah?” Aku mencibir, “perasaan kita udah datang sedari tadi, deh!” “Aya!” Mama mendesis di sampingku, tetapi aku tak peduli dan tetap sibuk dengan ponselku. “Eh, maaf. Ini anak saya kayaknya gugup, deh.” Suara Mama berdusta dan aku mulai muak berada di sini. “Iya gak apa-apa, Jeng. Namanya juga anak muda,” kata teman Mama. “Hai, Aya. Apa kamu masih inget sama Tante?” Aku mendongak. Mataku membelalak lebar dengan tangan menunjuk syok ke arah wanita dan sosok pria yang terlihat menatapku datar di sampingnya. “Ke–napa kalian ada di sini? Dan … kenapa Pak Dosen ada di sini?” Tiba-tiba aku menjadi gagap “Aya, jaga sikapmu di depan calon suamimu!” tegur Mama. “APA?” Aku tak bisa menutupi keterkejutanku. “Mah, apa kalian tidak tahu jika dia adalah dosenku di kampus? Dan, aku gak mau nikah sama dia!” tolakku keras tanpa peduli jika kami sedang menjadi pusat perhatian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN