“Ok, lanjut!” kataku tegas. “Baiklah. Jika kamu–” “Tapi, tunggu dulu, Pak!” Aku memotong ucapannya. “Saya punya syarat buat Anda!” sambungku dengan tatapan serius. Dia menyilangkan kedua tangan di depan d**a tanpa mengalihkan perhatian dariku. Aku berdeham dan entah kenapa aku mulai gugup sekarang. “Apa itu?” tanyanya. *** Dalam balutan kebaya brukat berwarna putih menjuntai ke bawah, dipadukan dengan jarik batik yang memeluk kaki jenjangku. Aku berdiri di depan kaca besar, menatap pantulan diri sendiri yang terlihat begitu anggun dan cantiknya seorang Garwita Hara Jayasri. “Cantik … cantik sekali.” Pujian itu terlontar begitu saja dari mulutku. Namun, aku merasa raut kebahagian tak terpantau di sana. Seolah ada rasa yang mengganjal hingga membuat bibirku sulit untuk tersenyum. "G

