“Hai, Ay.” Javas terlihat berdiri canggung di depanku dan bodohnya, aku hanya diam tanpa melakukan apa pun. Seperti ada lem yang membuat kakiku sulit bergerak. “Conggratulation, yah!” sambungnya sambil menyodorkan tangan ke arahku. “O–om!” Tanganku bergetar ketika hendak menjabat tangannya, tetapi sesesorang lebih dulu memeluk pinggangku. Aku menoleh, menatap Arka yang terlihat memasang wajah datar ke arah depan. “Apa yang Anda lakukan, Pak?” Aku berbisik setengah menggeram padanya. Arka mengabaikanku, tetapi pelukannya di pinggang semakin mengerat. “Thanks, Bro, karena sudah datang ke acara pernikahan kami.” Keningku mengerut tatkala melihat Arkalah yang menjabat tangan Javas. Aku melengos, kesal dengan sikap seenak udelnya yang tiba-tiba berlaku layaknya suami takut ditinggal istri

