Entah pulang jam berapa Arka semalam karena ketika aku bangun, tubuhnya sudah terlelap di atas sofa. Aku menyeringai sinis, lalu melihat penampilan diriku yang mengenakan piyama. “Kayaknya gue gak jelek-jelek amat, deh. Tapi, gak main pergi ninggalin gue sendiri kali di hotel. Buangsul banget emang itu Pak Tua,” dumelku kesal, “apa semenjijikan itu gue makanya dia gak mau nyentuh gue?” “Tapi, bukan karena gue yang pengin disentuh sama lo, yah!” Mataku melirik sinis pada tubuh yang terlelap di sofa. “Dih, gue juga ogah disentuh sama kulkas kek elo!” “Tapi ….” Aku menghela napas berat dengan kepala tertunduk. “Walaupun gue gak cinta sama dia, tapi di dalam lubuk hati gue yang paling dalam, gue ngerasa insecure juga sakit hati dengan sikapnya yang semena-mena.” Kepalaku terangkat, menen

