“A–pa maksud kamu, Ay?” Pria itu beringsut mundur, lalu berdeham melihat kegilaanku. Aku menyeringai melihatnya yang balas ketakutan, padahal aku hanya menimpali aktingnya saja. Apa mungkin aku terlalu mendalami aktingku hingga membuatnya menatapku ngeri. Namun, aku belum selesai. “Aih, masa gitu aja kamu gak ngerti, sih, Mas.” Aku menepuk bahunya sambil berpura-pura tersenyum malu. Aku menyeringai melihat wajahnya yang shock. “Kamu bahkan menggigitku di bagian sini, Mas,” desahku sambil menunjuk ke arah bagian bahuku, lalu turun terus ke bawah dengan pelan. “Aya!” Arka dengan secepat kilat menghentikan tanganku dan menatap Mama dan Papa yang terkikik melihat kami. “Omo-omo!” Mama berteriak histeris. “Astaga, Pah. Ternyata anak kita nakal juga!” serunya memukul-mukul bahu Papa seola

