Ketika pintu kamar tertutup, tanganku ditarik oleh Arka. Refleks, aku menepis tangannya dan balik badan, menatapnya dengan tatapan sengit. “Apa maksud Anda berkata seperti itu?” “Seharusnya saya yang bertanya seperti itu ke kamu!” katanya dengan suara lirih sambil melirik ke arah pintu. Dia kemudian kembali menatapku. “Apa maksud kamu berbicara seperti itu di depan orang tua kamu? Kamu sengaja mancing-mancing atau gimana? Huh!” Aku menyeringai. “Lupakan masalah itu! Sekarang, yang perlu kita bahas di sini adalah, kenapa Anda main ambil keputusan sendiri dan mengajakku tinggal di apartemen Anda?” tanyaku sengit. Sumpah! Aku gondok banget sama itu orang satu. Katanya pintar, tetapi kenapa malah bertingkah seenak udelnya sendiri. Buangke! Kening Arka mengernyit. “Keputusan yang mana?” D

