“Mau bucin mau enggak, itu bukan urusan lo! Hush, sono balik lo ke habitat! Gue ngantuk, mau bobo!” usirku to the point. “Dasar adek laknat! Masa Abang sendiri diusir. Kualat baru tahu rasa lo!” Aku hanya menjulurkan lidah dan masuk ke dalam selimut untuk menyembunyikan tubuhku. Rasa kantuk dan juga lelah membuatku tertidur cepat malam ini. Keesokan paginya, aku tak menemukan siapapun di apartemen. Namun, aku menemukan sebuah note kecil yang ditempelkan di pintu kulkas. “Mama dan Papa membawakan makanan untuk kita. Jadi, kalau mau makan, kamu tinggal panaskan saja. Untuk nasi, saya sudah masak di magicom,” bacaku. Segera kubuang note tersebut ke tong sampah, lalu mulai membuka kulkas. “ASA!” seruku semangat. Mataku langsung berbinar ketika melihat ada rendang, ayam ungkep, dan samba

