Dua pria itu hanya saling diam, menatapku dengan kening mengernyit. Aku balas mengedikkan dagu, tetapi mereka justru melakukan hal yang sama. Bibirku menyeringai sinis. Sepertinya aku tak perlu menunggu sore untuk pulang ke rumah. Karena aku merasa sudah baik-baik saja. Semalam aku hanya mengalami panic attack. Makanya pingsan. Sekarang, aku sehat bugar hanya sekadar untuk mengusir orang-orang yang ku anggap mengganggu mentalku. Aku menyilangkan kedua tangan di depan d**a, lalu berkata sambil menatap matanya. “Kenapa masih diam saja?” “Tapi, Ay–” Aku memegang lengan Arka dan memintanya untuk diam. “Pulanglah, Om!” usirku pada pria yang sedari tadi juga tak mengalihkan pandangan dariku. Javas tersenyum kecut, tetapi dia sempat terkejut karena aku berani mengusirnya. Aku tak peduli. B

